Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 12


__ADS_3

Tanpa Cassie sadari, ternyata sistem sudah mengatur agar majikannya itu benar-benar mendapatkan Devon. Laki-laki yang dipilih Cassie tersebut sangat tepat karena hanya dengan bersentuhan saja, aliran energi mengalir deras di tubuhnya.


...[Jika Nona tidak suka, maka sistem akan tetap melanjutkan rencananya. Bagaimana pun kebahagiaan Nona adalah hal utama]...


Sejenak Cassie bisa merasakan sistem Bug di kepalanya. Namun, hal itu tidak membuatnya kesakitan apalagi mengganggu semua aktivitasnya. Sehingga Cassie membiarkan semuanya terjadi, asalkan masih dalam tahap normal.


Di salah satu tangannya masih terdapat sebuah undangan makan malam dari Devon. Di tatapnya dalam-dalam wajah lelaki berparas opa-opa Korea tersebut.


"Cukup tampan, apalagi kamu adalah sumber utama energi bagi sistem. Jadi tunggu apa lagi," ucapnya mantap sambil melihat ke arah Devon.


Di sisi lain, senyuman Devon merekah sempurna ketika Cassie menyambut baik undangan makan malamnya. Ia sangat yakin jika Cassie tidak akan mengecewakan dirinya. Buktinya ia justru melangkah pelan ke tempat duduk di sampingnya.


"Sudah bisa dipastikan jika wanita itu akan jatuh ke dalam pelukan saya," gumam Devon sambil mengulum senyumnya.


Entah sihir apa yang digunakan Cassie hingga membuatnya bisa mendapatkan dua lelaki kaya sekaligus. Salah satunya adalah brondong, yang satu lagi lelaki kaya berusia matang dengan anugrah wajah awet muda.


"Bagaimana wanita aneh ini disukai paman?" gumam Brian tidak suka.


Jika Devon bahagia, hal itu tidak terjadi pada Brian. Keponakan Devon itu justru merasa kecewa karena pamannya berubah sejak mengenal Cassie. Ia yang awalnya sangat anti perempuan kini justru lebih terlihat genit.


"Setelah berhasil mencuri ciuman pertama dariku, kini dia justru menjerat paman. Sepertinya menyelidiki indentitasnya tidaklah sulit," gumam Brian sambil mengusap bibirnya yang telah kembali normal.


Seolah mendapatkan angin segar, kini Cassie melirik sekilas ke arah Brian. "Apakah brondong ini juga sudah menaruh asa kepadaku? Hm, sangat menarik. Akan tetapi lebih menarik untuk balas dendam pada lelaki brengsek itu daripada mengurusi percintaan. Ingat Cassie kamu hidup kembali untuk balas dendam, bukan untuk bermain cinta."


Merasa jika gerak-gerik Brian diawasi, ia segera menyelesaikan sarapan paginya. Bahkan hidangan di hadapannya dengan cepat ludes. Devon yang melihat pergerakan Brian yang cepat sedikit mengeryitkan dahinya.


"Tumben-tumbenan nih anak makam cepat? Ada apa sebenarnya ini?"


Belum sempat Devon bertanya, terdengar sebuah derit kursi yang baru saja di geser. Lalu setelahnya Brian membungkuk hormat.


"Maaf, Paman. Saya kembali dulu ke kamar. Masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan segera!"


"Oh, baiklah kalau begitu."


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, kini Brian segera berlalu dan bergegas pergi kembali kamarnya. "Sebaiknya segera menyelidiki siapa Cassie yang sesungguhnya."


Gerak-gerik Cassie yang aneh semakin membuat tidak tahan untuk membuka laptop miliknya. Keinginan untuk mencari jati diri Cassie lebih besar daripada tugas sekolah.

__ADS_1


Setelah berhasil membuka sebuah web, ia begitu tercengang dengan berita yang tertera di sana. Sebuah berita tentang kematian seorang CEO wanita akibat memergoki suami selingkuh membuat kedua mata Brian membola.


"Tunggu dulu, kenapa ciri-cirinya sama persis dengan Cassie? Bahkan namanya pun sangat mirip."


Hampir semua ciri-ciri yang terlihat pada diri Cassie mirip dengan CEO yang meninggal di halaman hotel itu.


"Kenapa wajahnya begitu mirip dengan wanita itu? Bedanya hanya sedikit yaitu pada potongan rambutnya."


"Ya salam, apakah dia hantu?"


Brian menutup mulut dengan kedua tangannya karena tidak terlalu percaya dengan penglihatannya. Tidak lupa ia juga mengusap gusar wajahnya.


Meskipun curiga sejak awal, tetapi jiwa kelakiannya justru merespon setiap tindakan Cassie waktu itu. Bahkan menikmati ketika Cassie mencuri ciuman pertamanya tempo hari.


"Nyaman, benar-benar nyaman sekali."


"Sial, kenapa wajahnya terus membayangiku!"


Cassie yang bisa merasakan respon dari Brian tersenyum menyeringai. Awalnya ia hendak kembali ke apartemen yang sudah dihadiahkan padanya, tetapi setelah mengetahui ada yang merindukan dirinya Cassie bergegas melesat terbang ke kamar Brian.


"Asupan energi darinya memang tidak terlalu banyak, tetapi buat pengisi daya cadangan boleh juga."


Kebetulan hari itu keponakan Mbok Sarinah berkunjung. Spesial datang karena ingin merayakan ulang tahun bibi yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.


"Ya ampun kasep, ngapain datang ke kota nggak ngabarin Bibi?"


"Punten, Bi. Maunya kasih kejutan makanya nggak kasih kabar dulu."


"Ya sudah, masuk nggih!"


"Hayuk!"


Percakapan antara bibi dan keponakan itu akhirnya terhenti karena ada Brian yang turun dari lantai dua. Namun, Brian adalah sosok yang acuh sehingga ia mengabaikan keberadaan Mbok Sarinah dan Asep.


"Den Brian mau makan, biar Mbok siapin."


"Hm."

__ADS_1


Tanpa banyak membuang waktu Cassie yang semula sudah berada di depan pintu segera masuk. Brian maupun Asep begitu terkejut dengan kehadiran wanita cantik bertubuh kecil tersebut.


"Selamat siang, Brian. Apa kabar?"


Tidak mau terlihat cupu, Brian membetulkan suaranya. "Kabar baik, darimana aja Tante? Bukankah paman sudah memberimu tugas untuk menjadi pengawal untuk--?"


Dengan cepat Cassie memotong ucapan Brian. "Maafkan untuk keteledoran yang satu itu, Brian. Beberapa hari ini saya harus mengurus beberapa dokumen penting, sehingga tanpa memberitahukannya terlebih dahulu kepada, Anda."


"Ck, baiklah kalau begitu jangan kabur-kaburan lagi setelah ini!"


"Baiklah."


Di sudut ruangan Asep menatap penuh kagum kepada Cassie. Ia belum pernah melihat wanita secantik itu, sehingga pesona Cassie mampu membuat Asep tersepona eh terpesona.


"Walahiyung, ada bidadari turun dari surga," batin Asep sambil menelan salivanya dalam-dalam.


Mbok Sarinah yang kebetulan melihat keponakannya seperti itu segera menepuk bahunya. "Jaga pandanganmu! Itu Nona Cassie, pengawal Tuan Muda Brian."


"Iya, iya Bik. Cuma ngeliat aja masa nggak boleh, hu ... nggak seru!"


Cassie yang sempat memperhatikan Asep dari tadi tersenyum. Namun, tiba-tiba sistem muncul dan memberikan perintah yang tidak terduga.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi sampingan hadir dan tidak bisa ditolak]...


...<>...........<>............<>...


...[Misi : Mencuri ciuman dari pemuda desa dan membuat ia patuh untuk Nona. Mungkin sekarang belum terlalu berguna, tetapi di kemudian hari ia akan membantu misi-misi Nona setelahnya]...


...[Batas waktu: 1 hari]...


...[Hukuman: kesulitan buang air besar, nafsu makan bertambah besar]...


...[Hadiah: Kemampuan membaca pikiran lawan, skill lari sprint dan uang 5 juta rupiah]...


...<>..........<>.........<>...

__ADS_1


Cassie yang baru saja menyuapkan satu sendok sambal ke mulutnya segera terbatuk dan hal itu sukses membuat kedua lelaki di ruangan itu mendekat ke arahnya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Brian yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Cassie.


__ADS_2