
Selepas makan, kini Cassie berjalan mendekati Asep yang pura-pura membantu Mbok Sarinah. Padahal lelaki muda tersebut sesekali mencuri pandang ke arah Cassie.
"Ya, Tuhan. Kenapa Mbak Cassie begitu cantik paripurna. Apakah suatu saat Asep bisa mendapatkan wanita cantik seperti dia?"
Asep terlihat beberapa kali menggelengkan kepala, tentu saja Cassie yang membaca pikiran Asep menjadi sedikit terhibur.
"Sep, Asep, kamu bisa mendapatkan wanita lebih cantik di luar sana. Kenapa justru terpesona dengan kecantikan janda Tuan Andrew ini?"
Selepas mendapatkan firasat yang pas, Cassie memantapkan hati untuk meminta tolong pada Asep.
"Kang Asep ... Kang Asep ... Maaf, bisa minta tolong, nggak?"
Asep menoleh, "Ya ampun, Tuhan ... kenapa bidadari secantik ini bisa turun ke bumi?"
Mbok Sarinah yang sadar segera menabok bahu Asep hingga mau berjingkat. "Sep, ditanya Mbak Cassie."
"Eh, iya, mau dibantu apa, Mbak?"
"Jadi begini ...."
__ADS_1
Cassie dengan segera bercerita tentang apa yang menjadi keinginannya lalu Asep hanya mengangguk sesekali tanda ia paham. Di sisi lain Brian semakin cemburu ketika melihat pengawalnya justru terlihat sangat dekat dengan orang yang baru saja ditemui.
...[Kluntang ... klunting]...
...[Diskripsi : Update terkini tentang perkembangan Perusahaan CIE. Penurunan harga saham sebesar 70% telah membuat perusahaan tersebut pontang-panting dalam mencari asupan dana. Mereka sangat membutuhkan investor dana untuk menyelamatkan perusahaan. Jika tidak mendapat dana tepat waktu maka bisa dipastikan perusahaan tersebut colaps]...
...[Misi utama dan tidak dapat ditolak : mencari/menjadi investor utama Perusahaan CIE, membuat Andrew gila]...
...[Hadiah : menjadi pemilik Perusahaan CIE, kepercayaan Tuan Dave akan meningkat 100%]...
...[Selamat menjalankan misi dan semoga sukses]...
Cassie sudah mendapatkan 80% kepercayaan Devon. Bahkan bisa dipastikan lelaki tampan berkulit seputih giok kaca tersebut sudah bertekuk lutut padanya.
"Semoga saja, hasilnya memuaskan dan perusahaan milimu akan segera jatuh ke dalam tangan yang tepat. Hasil yang terus merugi sudah dipastikan setiap detiknya akan membuat nafasmu semakin berat dan mungkin saja berhenti," doa Cassie di dalam hatinya.
Kini Cassi berniat menghubungi Devon agar bisa membantunya memberikan pendanaan besar-besaran pada Andrew. Tentu saja bunga yang diberikan jauh melambung tinggi dan berharap ketika Andrew sadar ia akan langsung terkena serangan jantung.
...[Kluntang ... klunting]...
__ADS_1
...[Selamat, Nona mendapatkan uang Rp,8 juta rupiah dari sistem dan hadiah sudah ditransfer ke saldo sistem]...
...----------------...
...Empat hari berlalu....
Kini Cassie bisa tersenyum lebar. Di sampingnya ada Devon yang terbaring lemas karena semalaman tidur dipeluk Cassie. Jika ia bisa sangat bertenaga, lain halnya dengan Devon yang terlihat pucat.
Senyum Cassie semakin merekah, saat melihat data statistik perusahaan CIE yang terus merosot. Meskipun mereka sudah mendapatkan pendanaan yang besar, tetapi rencana yang dilakukan Cassie cukup berhasil.
“Oh, ya bagaimana kabar Brigita? Apakah ia juga merasakan hal yang sama setelah ini?"
Cassie tersenyum ketika melihat penampilan Brigita yang semakin hancur berantakan. Penampilan yang semula sangat cantik, kini berubah seperti orang gila.
"Good, rasakan dan nikmatilah setiap pembalasan ini. Jika kurang maka sistem akan mengabulkan dengan pembalasan yang jauh lebih indah."
Cassie terlihat tertawa dengan sangat jahat. Apalagi ketika ia membayangkan orang-orang yang telah membuatnya menderita dan bahkan mati kini akhirnya menjadi gila. Efek jera yang ditimbulkan dari setiap pembalasan dendam Cassie sungguh tidak terkira dan jauh dari kata manusiawi.
......................
__ADS_1
..."Karma itu tidak bisa ditolak, apalagi yang kau sakiti adalah wanita. Maka bisa dipastikan doanya kabul dan menyentuh langit."...
..."Aamiin."...