Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 4


__ADS_3

Tentu saja jiwa membunuh dari Cassie bangkit. Apalagi mantan suaminya begitu ketakutan dengan ancamannya.


"Lihatlah pisau ini, Tuan Andrew yang terhormat! Jika kau bergerak sedikit saja maka akan menggores leher Anda!"


Andrew tersenyum, "Lakukan Nona Cassie, jika itu bisa membuatmu tenang."


Tawa Cassie menggelegar, tetapi ia sudah tidak punya hati. Tanpa ragu Cassie mencekik leher mantan suaminya lalu dilemparkan tubuh Andrew hingga menabrak dinding rumah.


"Bahkan semua penderitaan yang Anda alami saat ini, tidak sebanding dengan perlakuan kalian pada Nona! Apa kalian paham!" teriak Cassie penuh amarah.


"Apakah seorang istri yang begitu besar pengorbanannya harus berakhir dengan kematian yang tragis!"


Andrew tampak meringis kesakitan, ia masih berusaha bangkit. Bahkan ia hendak menembak Cassie dengan pistol yang diraihnya dari saku sebelah kiri. Beruntung Cassie bisa menghindar dan kini pistol tersebut sudah berpindah tangan padanya.


...[Jangan takut, Nona. Meskipun disakiti seperti apapun Nona tidak akan terluka]...


Sejenak Cassie teringat jika di ruangan tersebut terpasang CCTV, maka dari itu ia meminta bantuan sistem untuk segera mematikan kamera di ruangan tersebut.


"Sistem, matikan semua kamera di dalam rumah ini dan hancurkan rekaman data dengan virus yang sudah disiapkan!"


...[Siap, Nona. Perintah dari Nona segera dilaksanakan]...


Selepas memberikan perintah, maka dengan cepat Cassie meneruskan aksinya. Mendatangi Andrew dengan sebuah todongan pistol ke arah kepalanya.


"Jangan pernah memandang remeh ucapan sistem, Tuan!"


Tampak sekali jika wajah Andrew begitu ketakutan melihat sosok istrinya yang berubah menjadi psikopat. Antara percaya dan tidak ia masih menganggap jika Cassie adalah hantu yang ingin balas dendam kepada mereka.


"Tolong, tolong ampuni kami!" Andrew tampak kesakitan tetapi Cassie tidak mempunyai belas kasihan dan terus menarik rambutnya sama seperti yang dilakukan pada Brigita tadi.


"Teriaklah sekuatmu! Ruangan ini kedap suara, Sayang! Nikmati saja pembalasan dendam dari Sistem Balas Dendam Dewi Kematian!"


Ucapan Cassie memang terdengar lembut, tetapi sampai menusuk ke dalam relung hati Andrew. Ia tahu perbuatannya salah, tetapi semua sudah terjadi.


"Cassie, please ampuni kami."


Suara merdu dari lelaki yang pernah mengisi hati, rupanya tidak mempan lagi. Di tambah lagi penghianatan cinta membuat Cassie mematikan rasa cinta di dalam hatinya. Kini saatnya balas dendam pada suaminya.


Tangan kanan Cassie menekan nomor kedua orang tua beserta mertuanya. Suara Andrew yang meminta tolong jelas terdengar di sana. Hingga kedua orang tua Cassie dan juga Andrew memutuskannya untuk pergi ke rumah Cassie.


"Selamat menikmati hari-hari kamu yang indah, Tuan Andrew!"


Setelah puas menyiksa pelakor dan mantan suaminya, Cassie kehilangan energi yang cukup banyak. Alarm sistem tiba-tiba muncul.


...[Peringatan! Energi Nona hanya tersisa 10% untuk mengoptimalkan daya segera isi ulang sistem]...

__ADS_1


"Sial! Aku harus segera meninggalkan tempat ini!"


Cassie memegang kepalanya, lalu sesaat kemudian menghilang dari balik tirai jendela. Saat itulah tubuh Andrew luruh. Dengan tertatih ia berhasil sampai di tempat Brigita yang tampak sangat mengenaskan.


Wajahnya penuh cairan kental berwarna merah pekat. Sama halnya dengan kedua kakinya yang bernasib sama. Air matanya luruh ketika menyadari jika sudah pasti calon anak mereka sudah meninggal.


"Kenapa dia bisa melakukan semua ini. Padahal kami saling mencintai, tapi kenapa kau merusak segalanya!"


......................


Jika Andrew bersedih, tetapi tidak dengan Cassie. Setidaknya awal pembalasan dendam miliknya berakhir sempurna. Semuanya memang terlihat sangat keji, tetapi itulah hukuman yang tepat bagi para pelakor dan tukang selingkuh.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Sistem Balas Dendam Dewi Kematian]]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi utama: berhasil]...


...[Hadiah sudah masuk akun]...


...<>...........<>...........<>...


...[Umur: 23 tahun]...


...[Saldo: Rp 27.800.000,00]...


...[Level sistem: Beauty (10.000/100.000)]...


...[Kecerdasan : 45]]...


...[Pesona: 60]...


...[Inventaris: pesona kecantikan Dewi]...


...[Skill: 250 poin skill membunuh,...


...10 poin tebar pesona, 50 poin skill bertahan,...


...skill bela diri, skill senyuman maut]...


...<>...........<>..........<>...


...[Selamat bersenang-senang, Nona]...

__ADS_1


Meskipun banyak hadiah yang ia dapatkan, tetapi Cassie tetap harus segera mencharge ulang daya di dalam tubuhnya. Alarm peringatan sudah datang, Cassie harus segera menemukan mangsa untuk memulihkan kekuatannya.


Ia kembali mengaktifkan sistem pelacak, tetapi sayang daya yang terlalu lemah membuatnya kesusahan dan ia harus mencari mangsa secara manual. Langkah kakinya teramat cepat untuk ukuran manusia biasa.


Kedua mata terkoneksi dengan baik, hingga ia pun memilih untuk kembali ke rumah Devon. Di sana ia bisa mendapatkan dua sumber asupan energi gratis.


Sementara itu, Devon sedang merapikan jas miliknya. Hari ini kebetulan ada rapat penting dengan para pemegang saham. Maka dari itu penampilannya harus perfect.


Beberapa kali ia memastikan penampilan di depan cermin. Hingga di saat terakhir, ia hampir saja terlonjak karena ada bayangan hitam melintasi kamarnya dengan cepat.


Cassie sekarang sudah berada di langit-langit kamar Devon. Beberapa kali ia menelan salivanya dalam-dalam saat melihat bibir Devon yang begitu menggoda.


"Harus dengan cara apa aku mendapatkan ciuman Tuan Devon? Kalau aku tiba-tiba muncul di dalam kamarnya, nanti diusir gimana? Ah, masa bodoh!"


Tiba-tiba perang batin berkecamuk di dalam hati dan pikiran Cassie. Akan tetapi kekuatannya semakin melemah jika tidak segera mendapatkan ciuman tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk memutus urat malu dan segera mengisi kekuatan sistemnya.


Cassie segera turun dari atas dan sudah berdiri tepat di belakang Devon. Tentu saja Devon terkejut karena tiba-tiba saja Cassie di dalam kamarnya.


"Cassie! Kenapa kamu ada di sini?"


"Tuan, tolong!"


Wajah Cassie yang cantik terlihat menyeramkan dan pucat bahkan hampir jatuh, untung Devon berhasil meraih tubuhnya lebih dulu.


"Kamu sakit?"


Cassie mengangguk lemah hingga akhirnya Devon segera menggendong tubuh Cassie dan membaringkannya di atas tempat tidur. Cassie yang hanya tersisa daya 5% segera meraih kerah kemeja Devon lalu memaksanya untuk berciuman.


Kedua mata Devon membola, tetapi tubuhnya sangat menikmati ciuman dari Cassie yang memabukkan itu. Entah mengapa Devon justru memperdalam dan memainkan lidahnya agar leluasa mengeksplor kedalaman rongga mulut gadis tersebut.


Ciuman Cassie seolah menjadi candu untuk Devon. Ke-empat mata mereka bahkan terpejam karena saling menikmati setiap gerakan yang terjadi di sana. Semakin dalam hingga membuat keduanya kehabisan oksigen hingga terbatuk-batuk.


"Sorry," cicit Devon.


Sementara itu Cassie tertunduk malu, kedua pipinya muncul semburat merah yang membuatnya semakin manis ketika berada di dalam manik mata Devon. Anehnya wajah yang semula pucat kini sudah kembali berseri.


...[Peningkatan daya berhasil]...


...[Sistem bisa bekerja lebih optimal lagi]...


...[Selamat Nona, misi telah berhasil selesai dengan sempurna. Hadiah akan segera dikirimkan melalui akun]...


Meskipun masih belum bisa menyesuaikan diri dengan sistem balas dendam miliknya, tetapi Cassie seolah lebih bahagia dengan kehidupan yang baru ini.


"Ini baru permulaan, setelah ini bisa dipastikan kehidupan kalian berdua akan lebih berwarna," ucapnya penuh seringai dari balik punggung Devon.

__ADS_1


__ADS_2