
Keesokan harinya.
Lisa tetap berangkat bekerja seperti biasanya. Dia mengaggap semua kejadian kemarin sudah berlalu namun dia tetap akan membalas dendam pada Violet jika penjebakan dengan pria tua itu memang benar.
Zico yang ada di ruangan Lisa terus meliriknya, dia tentu saja terus memikirkan kejadian kemarin. Pasalnya, itu juga malam pertama bagi Zico yang terkenal selalu dekat dengan perempuan. Zico yang harus menyelesaikan pekerjaannya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak bisa berkonsentrasi.
"Lisa! Lisa!"
Lisa menoleh.
"Buatkan aku kopi!"
Lisa mengangguk, dia masuk ke ruangan sang tuan dan membuatkan kopi yang enak. Saat itu dia lupa menaruh gula maka dari itu rasanya sangat pahit sekali. Zico terus melihat gerak-gerik dari Lisa dan cara berjalan Lisa yang berbeda dari biasanya.
"Masih sakit?" tanya Zico.
Lisa heran dengan pertanyaan itu.
"Anumu," jawab Zico sembari menunjuk bagian sensitif dari Lisa.
Lisa sangat kaget sekali. "Tuan Zico memang tidak sopan."
"Kamu 'kan sudah tahu jika aku tidak pernah berbasa-basi."
Zico menyeruput kopinya dan rasanya lebih baik dari yang sebelumnya. Lisa menunduk hormat lalu kembali ke ruangannnya dengan berjalan seolah biasa saja namun ketika Zico melihatnya malah menjadi sangat lucu sekali.
"Jika sakit ya bilang sakit. Tidak usah berpura-pura baik-baik saja. Aku memainkannya dengan pelan namun kamu yang sangat beringas sampai aku kewalahan," ucap Zico membuat Lisa terhenti dari langkahnya.
Lisa lalu membalikan badannya. "Maaf, anda yang sadar seharusnya bisa mengontrol diri."
__ADS_1
"Lisa, kamu memang lucu sekali. Jika ada tanda-tanda hamil kamu boleh bilang padaku."
Lisa terdiam sejenak. Hamil? Kenapa dia baru kepikiran sekarang? Lisa kembali ke ruangannya dan melamun tidak jelas. Lisa meraba perutnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hamil? Suatu rencana yang aku tidak dapat bayangkan. Batin Lisa.
Zico masih memperhatikan ekspresi Lisa yang lucu. Zico tentu saja tak mau egosi, dia mengeluarkannya di luar setelah bercinta dengan Lisa. Lisa adalah wanita yang kolot apalagi jika ada keinginan maka harus terpenuhi. Maka dari itu Zico masih paham tentang cita-cita yang masih ingin Lisa kejar.
Brak...
Pintu ruangan terbuka, dua anggota polisi tiba-tiba saja masuk tanpa permisi. Di belakangnya terdapat Violet yang tidak terima dengan aksi penamparan kemarin. Lisa langsung ditangkap dengan bukti yang kuat. Zico menghampiri mereka dan menyuruh polisi untuk melepaskan Lisa karena Lisa tidak bersalah sama sekali.
"Tolong lepaskan Lisa! Lisa tidak bersalah apapun."
"Maaf, Pak Zico. Nona Lisa sudah melakukan kekerasan kepada Nona Violet dan bukti ini sudah jelas ada."
Jack yang ada di sana tidak ingin ikut campur, dalam hati dia senang dengan aksi penangkapan itu dan membuatnya tidak susah-susah untuk menyingkirkan Lisa.
Benar saja, tak sampai 10 menit kemudian mereka datang. Pria-pria tua yang hampir saja merebut kehormatan Lisa karena memang disuruh oleh Violet. Awalnya mereka tidak mau namun Violet memang pandai bersilat lidah dan pria-pria tua itu terhasut dengan Violet juga.
"Maaf, Nona Lisa memang tidak salah. Nona Violet yang bersalah karena sudah menjebak Nona Lisa dengan cara memasukan obat perangsang pada minumannya. Ketika kami akan menuju kamar itu tiba-tiba saja Tuan Zico mencegah kami dan menyuruh membatalkan Niat kami. Kami mohon maaf Nona Lisa atas perilaku tidak terpuji kami."
Lisa meminta dilepaskan, dia menatap wajah Violet dengan wajah penuh kemenangan. Violet bergetar ketakutan dan langsung memeluk Zico untuk meminta pertolongan. Zico mendorongnya dan meminta polisi untuk menangkap Violet secepatnya. Pada akhirnya Violet ditangkap atas kasus tersebut dengan bukti-bukti yang Lisa kumpulkan sendiri termasuk bekas gelasnya yang sengaja belum dicuci.
Kecerdasan Lisa memang tidak ada duanya, hanya malam itu saja dia lengah. Sebagai wanita dia memang merasa sangat bodoh sekali apalagi kehormatannya diambil Zico yang merupakan bosnya sendiri.
"Secara tidak langsung kamu sudah menyingkirkan Violet dariku. Terima kasih. Setidaknya beban hidupku sedikit berkurang."
"Maaf, saya melakukannya untuk diri saya saja." Lisa sudah duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Cih! Gayamu kaku sekali, Lisa."
Zico masuk ke dalam ruangannya dan tak berselang lama kemudian Lisa berteriak kencang.
"Aaaaaaah...."
Zico kaget, dia menghampiri Lisa lagi dan Lisa langsung memeluknya dengan erat. Dia merasa ketakutan akan sesuatu.
"Lisa, ada apa?" tanya Zico.
"Itu!" Lisa menunjuk dibawah mejanya.
Zico mengintip yang ternyata adalah seekor tikus putih yang lucu. Lisa menjauh dari sana dan masuk ke dalam ruangan Zico.
Zico mengambil tikus putih yang lucu itu menggunakan tangan dan masuk ke ruangannya.
"Tuan, anda jorok sekali! Singkirkan itu!"
"Ternyata Nona Lisa Mariana Clark yang dingin sedingin es batu takut dengan tikus yang lucu ini?"
"Tuan, itu kotor! Tikus mengandung bakteri yang jahat. Singkirkan dari tangan anda! Buang!"
Zico semakin mendekat membuat Lisa semakin terpojok di tembok. Zico mendengar suara hembusan Lisa yang terengah-engah menandakan ketakutan.
"Lisa, satu persatu fakta tentang dirimu akan terbongkar juga. Fakta yang mengejutkan ialah Lisa takut dengan hewan kecil ini."
Zico mendekatkan wajahnya pada wajah Lisa dan tangannya masih memegangi tikus putih itu.
"Kamu milikku, Lisa!"
__ADS_1
Cup!
Zico mencium bibirnya sekilas.