
Lisa diam, dia menatap air mata ayahnya yang mengalir dan kini beliau pun malah bersimpuh di depan Lisa. Lisa tentu saja kaget dengan sikap ayahnya yang mendadak menjadi seperti ini. Hati Lisa menjadi cair tatkala melihat ayah yang selalu disayangi menangis di depannya. Sedingin-dinginnya Lisa, dia tetap ada rasa iba.
"Aku saat itu tidak pernah bercinta di taman kota dengan pria itu. Itu hanya fitnah saja dan pastinya ayah menganggap itu benar terjadi apalagi Aleana memprovokasi ayah," ucap Lisa.
"Ayah minta maaf, ayah sangat khilaf sudah memfitnahmu. Maafkan, ayah!" jawab Morgan dengan penuh penyesalan.
Lisa mencoba membangunkannya dan memeluk beliau dengan erat. Walau bagaimanapun Lisa sangat menyayangi ayahnya sepenuh hati. Pada akhirnya Lisa memaafkan Morgan, dia tidak tega dengan ayahnya yang menangis untuk pertama kalinya di depan Lisa. Zico senang jika mereka pada akhirnya berbaikan.
"Ehem! Maaf, aku menganggu pelukan hangat kalian. Jadi bagaimana? Tuan Morgan mau merestui kami?" tanya Zico.
Morgan melepaskan pelukan Lisa dan tersenyum kecil, dia senang jika Lisa sudah mendapatkan pria yang baik. Lisa tentunya berharap Morgan menolak lamaran Zico namun tidak disangka sang ayah menerima lamaran itu. Kini menatap Zico yang seolah mengejek penuh dengan kemenangan. Pada akhirnya Lisa jatuh pada pelukannya juga.
__ADS_1
"Kalian akan menikah kapan? Ini harus diumumkan secepatnya," ucap Morgan.
"Sebelum mengumumkan hal itu harusnya Tuan Morgan membersihkan nama baik Lisa," pinta Zico.
Morgan terdiam sejenak lalu menyanggupi hal tersebut, dia akan mengumumkan pada warganya jika Lisa tidak bersalah dan itu hanya pengalihan isu saja atas korupsi yang ada di keluarganya. Apapun yang akan terjadi beliau akan menerima konsekuensinya yang terpenting Lisa bisa senang dan bahagia.
Kini Zico dan Lisa saling bertatapan, Lisa mulai tersenyum ke arah Zico, sepertinya Lisa memang mulai membuka hati pada Zico. Morgan ingin mereka beristirahat di sini apalagi Lisa sudah lama tidak melihat kamarnya. Lisa lekas masuk ke dalam kamar dan tentunya bersama Zico juga. Lisa menyadari jika kamarnya masih terawat dan semakin indah saja. Morgan tak serta merta melupakan Lisa, dia juga berharap jika suatu saat ini Lisa akan pulang ke rumah dan memakai kamar ini lagi.
Zico menutup pintu kamar Lisa dan tak lupa mengunci pintunya.
"Kenapa malah ditutup?" tanya Lisa.
__ADS_1
Zico tidak menjawab malah mencium bibir ranum itu lagi. Ya, mereka melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Lisa tidak menolak dan membalas ciuman panas tersebut. Lidah mereka menyatu dan saling bergulat penuh kenikmatan. Gairah Lisa semakin keluar saat dia membuka segel di dalam hatinya yang sekeras batu. Lidah mereka saling bertarung menentukan siapa pemenangnya dan guratan nafsu sudah membentuk jelas diantara mereka.
"Mmmhhh...." Lisa melenguh keenakan sampai Zico dengan berani menyentuh bagian intimnya.
Lisa melepaskan ciuman dan mendorong Zico untuk berbaring di atas ranjang yang luas tersebut. Lisa mulai naik ke pangkuan Zico dan menarik dasi yang dikenakan pria tersebut sampai lepas. Rambut panjang Lisa terurai dengan indahnya dan dielus oleh Zico.
"Berani liar ya sekarang ini?" tanya Zico.
"Kenapa? Bukankah anda menginginkan ini?" tanya Lisa.
"Ya, aku menginginkannya."
__ADS_1
Zico melepaskan kancing kemeja milik Lisa yang di hadapannya. Lisa tersenyum kecil dan merasakan batang yang dudukinya semakin berdenyut. Dia sudah cukup dewasa untuk melakukannya apalagi ini adalah negara barat yang bebas untuk melakukannya walau tidak ada ikatan pernikahan.