Gairah Sekertaris Tuan Zico

Gairah Sekertaris Tuan Zico
Bab 25 : Kita ke kotamu


__ADS_3

"Lisa, semua itu hanya fitnah. Kita harus segera ke sana dan mengembalikan keadaan. Kamu juga sudah cukup sukses untuk pulang ke kotamu sendiri dan membuktikan pada mereka jika kamu tidak bersalah," jelas Zico. 


"Saya masih malu untuk pulang, tuan. Saya seperti tidak ada harga dirinya di hadapan mereka terutama ayah saya," jawab Lisa. 


"Jika begitu, kamu akan terus dianggap kalah oleh mereka. Ingat! Kamu diam berarti kamu akan dianggap salah. Tenang saja, aku akan ada dibelakangmu dan kita harus bilang pada mereka jika kita akan menikah secepatnya," jawab Zico. 


Zico memeluk Lisa dengan erat, baru kali ini Lisa mau menerima pelukannya dan semakin melunak di depan Zico. Betapa Zico sangat mencintai Lisa sampai mau sabar menunggu wanita itu untuk menerima cintanya dan terbukti hari ini Lisa luluh juga dengan sikap Zico yang manis. 


"Saya takut, tuan," ucap Lisa. 


"Tidak apa-apa, aku akan ada bersamamu, aku janji," jawab Zico. 

__ADS_1


Hari ini juga mereka menuju ke kota sebelah, untung saja pekerjaan Zico masih bisa dihandel oleh bawahannya. Mereka diantar ke sana bersama Jack dan sejak tadi Zico menatap dua buah tespek yang menunjukan dua garis merah. Dia juga harus menunjukan jika Lisa hamil kepada keluarganya sendiri dan semoga saja keluarga Zico setuju jika mereka akan menikah secepatnya. Sejak tadi Lisa hanya diam, dia masih trauma untuk pulang ke kota. Lagi-lagi dia teringat tatkala ayahnya memaki di depan semua orang lalu mengusirnya. Lisa merasa sakit hati akan hal itu dan tentunya membuat Lisa takut untuk pulang. 


Tiba-tiba tangan Zico mengenggamnya dengan erat dan menyemangatinya dengan baik, Lisa tersenyum kecil dengan sikap Zico yang selalu perhatian kepadanya. 


"Saya dulu sangat cuek dan acuh pada anda, kenapa anda malah baik kepada saya?" tanya Lisa dengan heran. 


"Bongkahan batu es akan mencair jika terus menerus terkena sinar matahari," jawab Zico. 


Zico tersenyum kecil. "Lalu apa jika bukan itu? Kamu wanita terdingin yang pernah aku temui." 


Lisa tertawa membuat Zico merona, baru kali ini Lisa bisa tertawa lepas apalagi bibir yang ranum itu membuatnya menjadi tidak tahan untuk digigit. Dengan percaya diri, Zico menciumnya dengan beringas dan tidak lupa memasukan lidahnya ke dalam mulut Lisa. Lisa mencoba tidak menolak bahkan malah merasakan nikmat yang tiada tara. Zico mengajari Lisa berciuman seluwes mungkin supaya bisa menambah gairah yang tertahan selama ini. 

__ADS_1


"Mmhh...." 


Suara Lisa mulai terdengar dan Jack yang sedang menyetir mobil pura-pura tidak mendengarnya. Tangan Zico mengusap punggung Lisa serta mencoba masuk di seragam yang dikenakan wanita itu, Lisa hanya diam saja seolah mengikuti permainan dari Zico. 


Lidah mereka saling beradu menentukan pemenangnya apalagi Zico sangat menikmati permainan ini. Sungguh dia tidak bisa menahan gairah yang menggebu. Lisa pun juga sepertinya memiliki gairah yang sama dengan sang tuan. Tak membutuhkan waktu lama, Lisa naik ke pangkuan Zico dan mengambil alih permainan ciuman tersebut. Bibir mereka sama-sama basah dan membuat permainan semakin asyik saja. 


Setelah beberapa saat berciuman, Lisa melepaskannya dan menatap wajah Zico. Pada akhirnya Lisa kalah dengan gairah yang selama ini dia simpan. 


"Aku masih takut bertemu dengan ayah. Dia semakin akan memakinya dan menganggapku hina," ucap Lisa. 


"Lisa, kamu datang bersama Zico Abraham. Apa yang kamu takutkan? Mereka sangat takut dengan keluargaku," jawab Zico. 

__ADS_1


__ADS_2