
"Apa mau melakukannya lagi?" tanya Zico.
Lisa melepaskan rok span miliknya dan melemparkan ke lantai. Zico menatap wanita dingin tersebut dengan heran, sikap Lisa mendadak berubah bahkan semakin liar saja.
"Kenapa harus ditanyakan?" tanya Lisa menyentuh batang panjang yang sudah mengeras.
"Nanti kamu marah jika aku melakukan itu padamu lagi," jawab Zico.
Lisa melepaskan be ha yang dia pakai dan melempar ke wajah Zico. Gairah Zico kini yang mulai keluar. Wow... sungguh pemandangan gunung kembar yang indah. Tangan nakalnya mulai meraba dan memainkan dengan lembut.
"Katanya kamu calon suamiku dan aku juga sudah terlanjur tersentuh olehmu sampai hamil," ucap Lisa.
Rambut Lisa yang sejak tadi diikat tinggi kini dia lepas sampai membuat Zico semakin gerah.
Bibir Zico mulai mendekat ke bibir Lisa lalu memasukan lidah ke dalamnya. Mereka bermain-main di dalamnya untuk menentukan siapa pemenangnya. Tidak ada pemenang karena mereka sama-sama puas dalam permainan lidah satu sama lain.
Ya, Lisa sudah menunjukan taringnya dan tak akan melepas Zico begitu saja. Zico menarik tangan Lisa untuk berbaring di ranjang namun bibir mereka masih tertaut satu sama lain. Air liur pun sesekali keluar dari dalam bibir mereka.
"Mmhh...."
__ADS_1
Zico melepaskan ciuman tersebut, wajah mereka sama-sama merah bahkan dengan jelas Zico melihat Lisa yang penuh gairah.
"Yakin mau melakukannya?" tanya Zico sekali lagi.
Lisa menggeleng. "Aku takut dan masih trauma."
"Trauma? Bukannya ini adalah anugerah? Dari hal itu kita bisa dekat seperti ini?"
Lisa memukul bahu Zico dengan kuat, dia kesal sekali dengan ucapan Zico yang seenaknya jidat.
Zico tertawa renyah, dia meminta maaf karena malah berbicara ngawur pada Lisa. Lisa terduduk, dia baru menyadari jika sudah setengah tidak mengenakan pakaian. Dia merasa seperti terhipnotis oleh Zico.
"Kenapa perempuan tidak mau merasa salah? Kamu tadi yang lebih dulu yang memulai. Kamu lupa?" tanya Zico kembali.
Lisa tak menjawab ucapan Zico dan beranjak dari atas ranjang tapi Zico mencegahnya lalu menarik tangan Lisa supaya tidak menjauh darinya. Tubuh Lisa terjatuh pada dada Zico, mereka bertatapan apalagi gunung kembar itu menempel sempurna di dada Zico.
"Lisa, kamu jangan munafik! Kamu sebenarnya sudah tidak tahan 'kan?"
"Apa maksudmu Tuan Zico?"
__ADS_1
Tangan Zico memelintir pucuk coklat yang rasanya empuk itu. Lisa menahan gumaman pada bibirnya. Wajahnya pun juga memerah karena malu.
"Maaf, Tuan Zico. Saya khilaf. Kita tidak usah melanjutkannya dulu sebelum menikah."
Lisa bangun dan memakai semua pakaiannya. Dia sangat malu karena bersikap seperti itu pada Lisa. Lisa kini sudah memakai pakaiannya dan keluar dari kamar. Dia berlari kecil menuju ke balkon terdekat dan rasanya ingin berteriak kencang mengeluarkan rasa malunya.
Kamu bodoh, Lisa! Bisa-bisanya seperti itu di depan Tuan Zico. Batin Lisa.
Lisa melirik di sampingnya yang ternyata adalah Aleana. Gadis itu rupanya masih membenci Lisa karena mendadak pulang.
"Entah pelet apa yang membuat Tuan Zico terpikat padamu," ucap Aleana.
Lisa tersenyum kecil. "Itu namanya jodoh dan aku tidak pernah melakukan hal aneh dalam masalah percintaan."
"Oh ya? Aku benci kamu, Lisa! Jangan sok baik di depanku."
Lisa menatap wajah Aleana yang sangat cantik. Dia mendekatinya dan memeluk adik tirinya dengan erat. Aleana memberontak namun Lisa semakin memeluknya dengan erat.
"Aleana, tolong! Cukup sudah untuk tidak bermusuhan denganku! Aku lelah dan ingin berbaikan denganmu. Kamu adikku walau berbeda ibu. Apa kamu tidak lelah terus bermusuhan denganku? Sudahi permusuhan ini!"
__ADS_1