
"Mbak, ibu sama bapak sudah tau. Dan mereka mau ketemu sama, mbak!"
Pesan dari adikku masuk, dan membuat mata ini memanas, teringat bagaimana aku melawan bapakku waktu itu, sama sekali aku tidak menghiraukan peringatannya. Harga ngga nasib buruk menimpa, menikah dengan mas warna adalah sebuah musibah. Sungguh aku menyesal.
"Kamu, nangis, nduk?
Masih ingat dengan suami kamu?" mbok Darmi menatapku sendu, ada gurat khawatir di wajah tuanya. Selama tinggal dirumah pak Bram, aku sebenarnya punya kamar sendiri.
Namun aku lebih nyaman tidur bersama mbok Darmi, dengannya rindu pada ibuku terobati.
"Bukan, mbok!
Aku cuma ingat orang tuaku!
Mereka sudah tau keadaanku disini, Adikku sudah mengatakannya!" lirihku pekan dengan air mata yang sudah terjatuh bebas membasahi pipiku.
Aku sudah megang ponsel lagi, Almira yang memberikan ponselnya padaku, karena dia dibelikan yang model terbaru sama papa nya.
"kalau mereka ingin ketemu kamu, ya gak papa to.
Suruh saja kesini, nanti kamu ijin sama nyonya. Pasti di kasih ijin, ketemu keluarga pasti sesuatu yang kamu rindukan, Iyo to?" sahut mbok Darmi yang mengusap bahuku lembut.
"Yasudah, kamu tidur gih. Istirahat, besok kita mau ada acaranya pak Bram, harus masak pagi pagi.
Bilang saja sama adik kamu, ajak orang tuamu kemari, mereka pasti rindu anaknya. Apalagi perutmu sudah besar kayak gini, nduk!" sambung mbok Darmi dengan penuh perhatian.
"Iya, mbok!
Terimakasih ya, karena mbok Darmi sudah sangat baik sama Tuti." sahutku pelan, lalu mulai merebahkan diri disampingnya, kamu sama sama memejamkan mata, ngantuk sudah mendera.
Selama tinggal disini, aku merasa tenang dan sangat nyaman. Meskipun hanya jadi seorang pembantu di rumah ini.
Setidaknya, orang orang dirumah ini, memperlakukan ku dengan sangat baik.
Almira juga begitu dekat padaku, anak itu sering bermanja dan suka sekali bicara dengan perut buncit ku. Sedangkan Bu Rukmini, juga sangat perhatian dan Perduli dengan kehamilan ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi pagi sekali aku sudah bangun, terlihat mbok Darmi sudah selesai mandi, dan akupun juga segera membersihkan diri dan mulai melakukan pekerjaan.
Karena hari ini, pak Bram sedang ada acara syukuran, karena salah satu usahanya akan membuka cabang baru di kampung ini.
Hari ini yang di dapur bukan aku dan mbok Darmi saja, tapi akan dibantu oleh beberapa tetangga.
__ADS_1
Ada yang sudah rewang dari kemarin untuk membuat kue.
"Mbak Tuti, perutnya makin besar saja.
Sudah berapa bulan itu?" Bu Ayu menanyakan kehamilanku dengan suara lembutnya.
"Sudah tujuh bulan Bu, Alhamdulillah!" sahutku sopan.
"Semoga sehat terus ya, mbak!
Dan persalinannya nanti juga dilancarkan, ibu dan bayinya selamat juga sehat, Aamiin!" sahutnya dengan mata menatap iba.
Karena para tetangga disini, semua mengira aku ditinggal mati suamiku, sehingga harus kerja banting tulang demi menghidupi diri.
"Aamiin, terimakasih ya, Bu!" sahutku ramah, dan tidak tau harus bicara apa lagi.
"Mbak Tuti, sama nenek, kalau mbak Tuti capek istirahat saja. Kasihan sama dedeknya!" tiba tiba Almira sudah ada di sampingku.
"Gak papa kok, non!
Mbak Tuti masih kuat, lagian cuma bantu iris iris saja." sahutku, sambil menatapnya sendu. Terus teringat dengan Ani, anak perempuan ku dengan kang Bagus!
Entah bagaimana kabarnya mereka sekarang. Untuk menemuinya sudah tak mungkin untuk saat ini. Aku takut, ketemu dengan mas Warno lagi.
"Ada tamu, non?" tanya mbok Darmi sama Almira yang sedang membuat minuman untuk tamunya.
"Iya, mbok!
Ada Tante Wiwin dan suaminya juga anak anaknya!" sahut Almira menjelaskan dengan wajah sumringah.
"Oh mbak Wiwin, datang sama suami barunya gitu?" tanya mbok Darmi antusias, terlihat binar bahagia terlukis di wajah tuanya.
"Iya, mbok!
Ayo ikut ke depan, barangkali mbok Darmi ingin kenalan sama suaminya Tante Wiwin.
Mereka sedang ngobrol diruang tengah sama nenek dan papa!" sahut Almira santai, masih dengan wajah berbinar.
Terlihat mbok Darmi membawakan nampan berisi makanan dan sedangkan Almira membawa minuman untuk mereka suguhkan pada kerabat Bu Rukmini. Tapi kenapa, aku menangkap ada suaranya Ani, Agung dan kang Bagus ya.
Karena penasaran, aku pun mengintip, dan ya Alloh, seketika tubuh ini bergetar, air mata meluncur begitu saja, saat mata menatap sosok kedua anakku yang tengah duduk melingkar dengan anak perempuan seusia Ani dan juga ada Almira diantara mereka.
"Apakah, kang Bagus menikah dengan saudaranya pak Bram?
__ADS_1
Kenapa dunia begitu sempit, aku harus ketemu mantan di tempat pelarian ku, menyimpan perih oleh duka penyesalan.
Kang Bagus nampak bahagia, senyum dibibirnya terukir sedari tadi. Sepertinya dia sudah menemukan perempuan yang pantas mendampinginya. Alhamdulillah!" lirihku pilu yang sanggup diutarakan hanya di dalam hati saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say❤️
__ADS_1