Ganti Istri

Ganti Istri
Berharap dia tidak selamat


__ADS_3

"Ibuuuk." terdengar suara Ani dan Agung memanggil namaku, ku alihkan pandangan kearah pintu, ternyata kedua anakku dan anak sambung kang Bagus datang menjengukku bersama Wiwin. Wanita memang benar benar baik, gak heran sih, karena memang keluarganya pak Bram semua orang orang baik.


"Sini, nak." aku tersenyum bahagia menyambut kedatangan anak anakku. Begitu juga dengan kedua orang tuaku, mereka terlihat terharu saat kamu berpelukan. Terimakasih Tuhan, hubunganku dengan mereka menjadi lebih baik.


"Adiknya di kasih nama siapa, buk?" tanya Agung antusias.


"Masih belum, ibu belum cari nama.


Agung sama Ani mau kasih nama adik?" tanyaku dengan wajah ceria.


"Memang boleh, buk?" sahut Ani kegirangan.


"Boleh dong. Kan kalian juga kakaknya."


"Namanya Akbar saja, biar nanti jadi orang besar yang hebat." Ani sangat bersemangat, dan iyakan juga sama kakaknya.


"Muhamad Akbar. Bagus kan buk?" agung ikut menimpali, terlihat semua orang ikut tersenyum dengan celoteh kedua anakku yang begitu semangat memberi nama untuk adiknya.


"Boleh, kita kasih nama Muhamad Akbar ya, Alhamdulillah, semoga nanti jadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang, Aamiin." sahutku yang langsung di Amini semua orang.


"Selamat ya, mba!


Maaf tadi buru buru gak sempat beli kado, mau mampir tapi anak anak katanya sudah gak sabar pingin cepet ketemu mbak sama adiknya.


Terima ini ya mba, buat ganti kadonya.


Sehat sehat ya!" Wiwin mendekatiku, menyelipkan amplop ke tanganku lalu memelukku seperti keluarga. Kang Bagus beruntung mendapatkan istri sebaik Wiwin, cantik, muda dan juga shaleha.


"Makasih ya mba Wiwin. Harusnya gak repot repot begini. Anak anak sudah diantar kesini buat jenguk saja, saya sudah sangat berterima kasih. Maaf kalau sudah ngrepoti sampean." balasku tulus, entah kenapa hatiku selalu merasa tenang saat berdekatan dengan wanita itu, anak anak bersamanya aku yakin mereka akan di didik dengan baik juga.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sudah satu Minggu ini, aku pindah kembali pulang kerumah orang tuaku. Meskipun Bu Rukmini sama sekali tak keberatan aku tatap tinggal dirumahnya. Tapi pulang kerumah orang tua jauh lebih baik. Selain bisa kumpul keluarga, aku juga merasa tidak enak kalau terus merepotkan keluarganya pak Bram.


Hampir dua hari sekali Almira datang kerumah yang diantar sama sopirnya, katanya dia rindu sama Akbar. Almira sangat menyukai anakku itu, Bahkan setiap hari Sabtu dia pasti akan menginap disini, dan pulang Minggu sore. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri, dia gadis yang baik dan sangat sopan. Berasal dari keluarga kaya tidak merubah sifatnya jadi orang sombong, justru Almira tumbuh jadi gadis sederhana yang sangat tau sopan santun.


Tok tok tok


Terdengar pintu di ketuk dari luar, dirumah hanya ada aku dan Almira yang baru saja sampai. Ibu dan bapak masih berada di sawah, sedangkan adikku lagi keluar, tadi aku suruh untuk membeli buah buahan buat suguhan Almira.


"Biar Mira yang bukain, Bu!" gadis cantik itu berdiri dan membuka pintu yang tidak terkunci.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukanmu, Tuti!" mas Warno tersenyum jahat ke arahku, tubuhku seketika lemas, laki laki itu masih berani muncul di hadapanku bahkan dengan santai datang kerumah orang tuaku.


"Pergi kamu, mas.


Jangan mendekat, atau aku teriak biar warga menangkap mu. Pergi!" teriakku ketakutan, sedangkan Almira terlihat mengetik sesuatu di ponselnya dengan tangan gemetaran. Entah siapa yang dia hubungi.


"Kamu masih istriku, Ti.


Aku berhak membawa kamu dan anakku pergi dari rumah ini. Paham ?" sahut mas Warno dengan tatapan mengerikan.


Ya Tuhan tolonglah aku, semoga ada seseorang yang Sudi menolongku untuk lepas dari niat jahat laki laki ini.


"Kita sudah tak ada hubungan apa apa, mas.


Lebih dari tiga bulan kita tak saling Berhubungan, dan kamu juga tidak pernah memberiku nafkah sepeserpun, pernikahan kita sudah tidak sah. Aku bukan istrimu lagi. Pergilah dari sini sebelum keluargaku menyeret kamu ke kantor polisi." memberanikan diri untuk melawannya.


Untung saja, tadi anakku aku taruh ke dalam kamar dan aku meminta Almira untuk masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam dengan bahasa isyarat mata, dia anak cerdas sehingga langsung mengerti dengan apa yang aku maksud.


"Hahahaaa, aku tak perduli, yang aku inginkan kamu ikut denganku dan lakukan tugasmu seperti dulu. Mendapatkan banyak uang untukku, hahahaa." mas Warno tertawa lebar tanpa sedikitpun rasa takut mengatakan semua itu, sungguh laki laki ini sudah tidak waras.


"Ayo, ikutlah denganku. Ambil anakmu, kita hidup satu atap lagi seperti dulu." Tanganku ditariknya kasar, meskipun aku berontak tatap tenagaku kalah juga.


"Apa yang kamu lakukan pada kakakku, keparat?" adik lelaki datang dengan beberapa warga dan terlihat ada sopirnya Almira juga. Apa mungkin Almira tadi menghubungi laki laki itu juga. Syukurlah, banyak orang yang datang menolongku.


Bugh! Bugh!


Adikku memukul wajah Warno dengan emosi yang membuncah, terlihat bagaimana dia begitu membenci laki laki itu.


"Sialan, kamu sudah cari gara gara denganku, bocah!" mas Warno melepaskan tangannya yang mencekal lenganku.


Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Urusan diluar sudah banyak warga yang akan membantu adikku mengurus Warno gila itu.


Terdengar keributan pindah keluar halaman, aku mengintip dari jendela kamar yang sudah terpasang teralis. Warno masih berniat memukuli adikku, tapi warga sigap membantunya.


"Laporkan polisi saja, karena dia bisa saja terus mengancam keselamatan Tuti nantinya. Dia bisa dilaporkan dengan tuduhan berlapis." pak RT memberikan komentarnya, terlihat Warno mulai ketakutan.


"Sialan, aku pasti akan kembali membuat perhitungan dengan kalian." Warno berusaha kabur, tapi warga terus menghalanginya, hingga akhirnya braaak, terdengar suara mesin mobil berderit dengan kencang.


Mas Warno kari ke arah jalan raya tanpa melihat situasi, akhirnya tubuhnya tertabrak truk yang tengah melaju kencang dari arah timur.


Tubuhku langsung lekas bukannya karena dia tertabrak, tapi karena rasa takut dengan tingkah gilanya tadi. Bahkan saat ini aku berharap dia tidak selamat, astagfirullah.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2