
Setelah waktu itu, hubunganku dan kedua anakku membaik, kami sering mengobrol lewat telepon saat menjelang malam. Sungguh aku sangat senang dengan mencairnya hubungan kami.
Melihat wajah anak anakku yang selalu ceria, mendengarkan semua cerita mereka, adalah hal paling menyenangkan saat ini. Dulu aku melewatkan semua itu, sehingga aku tidak pernah tau apa saja yang mereka inginkan dan butuhkan.
Perutku sudah membesar dan hanya menunggu waktunya saja. Semua kebutuhan melahirkan sudah disiapkan sama mbok Darmi atas pemintaan Bu Rukmini. Beliau memang orang baik, baru saja mengenalku tapi sudah begitu sangat membantuku.
Hari ini, bapak, ibu dan adikku akan datang. Rencananya mereka ingin menemaniku saat melahirkan nanti, mereka berniat cari penginapan sampai aku melahirkan, karena tidak mungkin ikut menginap di rumah Bu Rukmini, sungkan dan seperti tidak tau malu, itu kata bapak saat aku menyampaikan tawaran Bu Rukmini yang meminta mereka menginap di rumah ini.
Keluargaku bukan tidak menghargai tawaran Bu Rukmini, tapi lebih mereka sungkan karena sudah terlalu banyak direpotkan olehku selama ini, ibu dan bapak tidak ingin menambah beban lagi pada keluarga baik yang sudah menolongku dengan iklas seperti keluarga ini.
Pukul lima sore perutku rasanya sakit, sepertinya waktunya akan tiba. Ya Tuhan, semoga persalinan ini diberi kelancaran dan aku berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk anakku kali ini. Tak mau mengulangi dosa yang sama, karena penyesalan pasti meninggalkan rasa sakit dan luka yang dalam.
"Ti, apa kamu sudah mau lahiran?
Wajahmu pucat gini, ya Alloh.
Sebentar, mbok mau panggil nyonya." mbok Darmi tergopoh gopoh mau memberitahukan Bu Rukmini, sedangkan aku sudah gak tahan dengan rasa campur aduk ini, bahkan ketuban sepertinya sudah pecah, karena aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari jalan lahirku. Bismillah, ya Robby.
"Mbok, bantu Bram bawa Tuti ke mobil." Bu Rukmini nampak cemas dan non Almira pun ikut panik. Aku di papah sama mbok Darmi dan non Almira ke mobil pak Bram.
"Bu, aku bawa Tuti ke rumah sakit dulu ya, ibu sama Almira saja dirumah. Biar mbok Darmi yang menemani Tuti." pak Bram berpamitan pada ibunya, sedangkan aku sudah sangat kesakitan. Air mata sampai menetes Karena menahan rasa sakit dan teringat dengan ibuku. Dulu aku selalu di dampingi ibu saat aku melahirkan kedua anakku. Sekarang aku harus berjuang sendirian, meskipun sudah di dampingi mbok Darmi, rasanya begitu berbeda.
Setelah perjuangan yang tak mudah, akhirnya lahir bayi laki laki dengan berat tiga koma empat kilo, dengan panjang lima puluh tiga centimeter.
Alhamdulillah, Alloh masih beri keselamatan untuk aku bisa menjalani hidup lebih baik.
Ketika aku mau dipindahkan ke ruang rawat, ternyata keluargaku sudah ada diluar, bahkan Bu Rukmini dan non Almira juga ada disana.
__ADS_1
Masih banyak yang menyayangi dan perduli padaku, meskipun aku sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Terimakasih Tuhan, aku janji untuk merubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Bayimu ganteng tenan, nduk." ibu menatap cucunya dengan wajah lega, senyum terbit di bibirnya.
"Alhamdulillah, Bu.
Doakan kami, semoga setelah ini Tuti bisa jalani hidup tanpa perasaan takut dan was was lagi. Tuti ingin membesarkan anak Tuti dengan tenang." sahutku dengan suara bergetar, ada sedih yang membuat dada terasa sesak, teringat bagaimana kelakuan mas Warno padaku.
"Doa ibu selalu yang terbaik untuk anak anak ibu.
Setelah ini, kamu lebih baik tinggal lagi sama ibu dan bapak. Insyaallah aman, karena rumah kita juga tiap hari rame, Warno tidak akan berani macam macam. Ada adikmu juga yang bisa menjagamu." sambung ibu dengan mata yang sudah mengembun.
"Iya, Bu. Aku akan ikut apa yang ibu katakan. Aku percaya kalian akan menjagaku dengan baik. Maafkan Tuti kalau sudah buat ibu dan bapak kecewa dan sedih." aku menatap bergantian wajah tua orang tuaku. Seperti apapun aku, mereka tetap perduli dan menyayangiku setulus hati. Semoga aku tak lagi bertemu dengan mas Warno lagi.
Aku berharap laki laki itu mendapatkan balasan atas dosa dosanya. Sungguh aku menyesal karena sudah bodoh begitu hanyut dalam cinta semu nya, yang pada akhirnya membawa penderitaan dalam hidupku.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
__ADS_1
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️