
Setahun berlalu, Tuti yang sudah menjadi janda satu anak berubah menjadi perempuan bertanggung jawab yang bekerja keras demi menghidupi sang anak.
Tuti benar benar berubah dan hubungannya dengan Wiwin juga berjalan baik karena kedua anaknya yang sering berkunjung kerumahnya Tuti.
Sedangkan Bagus telah dikaruniai satu orang anak dari Wiwin. Kehidupan mereka semakin jaya dan bahagia.
Usaha Wiwin maju pesat dan warung makannya punya banyak cabang.
Meskipun kehidupan bahagia tak menutup kemungkinan ada duri yang kapanpun siap menusuk.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas Bagus ya?" terdengar suara wanita cantik dengan dandanan sosialita tengah menatap Bagus dengan senyuman merekah.
Bagus yang tengah mengunjungi warung makan yang ada di salah satu cabang terlihat bingung dan berusaha mengingat wajah wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Lani, bukan?" sahut Bagus sedikit ragu.
"Wah ternyata masih ingat juga sama aku, apa kabarnya mas Bagus, kok ada disini?
Sekarang tinggal di kota ini juga ya?" kembali Lani mengajukan pertanyaan sekedar untuk basa basi.
"Em, lebih baik kita cari tempat duduk saja. Gak enak ngobrol sambil berdiri kayak gini.
Mari." sahut Bagus yang berjalan menuju salah satu bangku kosong dan meminta pelayan untuk membuatkan minuman dan juga cemilan.
"Sepertinya kamu sudah sering kesini ya, kelihatan akrab sama pelayannya." Lani tersenyum menatap Bagus yang kelihatan makin muda dan berkulit bersih.
"Iya, aku sering datang kesini untuk ngecek keadaan. Kebetulan ini rumah makan milik istriku." sahut Bagus jujur dengan senyuman tipis.
"Wah, pantesan. Aku sering makan disini kalau istirahat atau pulang dari kantor. Makanannya enak enak, rasanya itu loh beda banget sama warung warung lain. Disini tuh kayak khas banget, bumbunya bikin nagih." jelas Lani dengan kagum, membuat Bagus tersenyum senang menanggapi celoteh sahabatnya sewaktu dulu masih di SMU.
"Anak kamu berapa?
Kalau aku masih satu saja. Suamiku baru meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan." tanpa diminta Lani sudah mengatakan keadaannya.
"Turut berduka ya. Kalau aku sudah tiga, mau empat, Bismillah." sahut Bagus yang memang berharap mau punya anak satu lagi dengan Wiwin.
"Boleh minta nomornya, barangkali ada sesuatu yang nanti di obrolkan. Dan aku membutuhkan bantuan kamu. Itu kalau kamu tidak keberatan sih." Lani menatap dalam manik mata bagus dengan seulas senyum yang tak bisa diartikan.
__ADS_1
"Boleh, ini." sahut Bagus yang menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan sederet angka angka pada sahabatnya itu.
Mereka akhirnya terlibat obrolan seru membahas tentang kisah jaman sekolah dulu.
Lani yang sejak pertama kali melihat Bagus sudah muncul rasa tertarik pada pria itu, menyimpan keinginan untuk bisa mendekati dan mendapatkan Bagus. Apa lagi dimatanya dia pria yang cukup mapan.
"Aku balik ke kantor dulu ya, semoga lain kali kita bisa ketemu dan ngobrol lagi." Lani terpaksa mengakhiri obrolannya dengan Bagus. Karena jam istirahatnya sudah habis dan harus kembali lagi ke kantor untuk bekerja.
"Baiklah, terimakasih untuk kunjungannya.
Hati hati." Bagus dengan ramah menjawab ucapan Lani. Hati Lani semakin dibuat kagum dengan sikap Bagus yang tenang dan adem itu.
"Aku akan mencari celah untuk bisa masuk di kehidupan kamu, mas.
Aku tidak akan membuang kesempatan berharga ini. Kamu tampan dan juga mapan, menjadi istri kedua bukanlah hal yang buruk bukan?" batin Lani dengan begitu yakinnya. Bibit bibit pelakor telah tumbuh di hati wanita cantik dan modis itu.
Bagus memandangi kepergian sahabat SMU nya dengan wajah biasa saja. Meskipun matanya mengagumi kecantikan Lani, tapi hatinya berusaha untuk setia dengan Wiwin, wanita yang sudah mau menerimanya apa adanya tanpa banyak menuntut dan mengeluh.
Ponsel di saku Bagus terdengar berdering, nama istri terpampang dilayar datar nya.
"Hallo Asalamualaikum, mas!" terdengar suara lembut milik sang istri membuat Bagus terasa nyaman.
kok tumben telpon, biasanya harus mas dulu loh yang hubungi baru kamu menanyakan kabar suami kamu ini." celetuk Bagus yang sengaja menggoda istrinya, karena sejak anaknya lahir, Wiwin lebih fokus pada si bayi, dan Bagus pun memaklumi semua itu.
"Kamu ya, mas.
Kamu dimana, kenapa sedari tadi perasaan ku gak enak terus?
Mas baik baik saja kan?" sahut Wiwin yang terdengar gelisah.
"Perasaan kamu saja sayang, jangan terlalu banyak pikiran, mas baik baik saja. Ini juga mau kembali pulang. Kalian mau di bawain oleh oleh apa?" sahut Bagus dengan nada tenang dan senyum merekah karena merasa begitu di perhatikan wanita yang ia cintai.
"Bawain oleh oleh buat anak anak saja mas, terserah mas mau membeli apa. Kalau aku, pingin kamu cepat pulang saja, perasaan ini tidak enak dari tadi." sahutnya jujur, ada rasa cemas yang tidak bisa di jelaskan di dalam hatinya. Mungkin insting seorang istri yang begitu tajam karena adanya bibit pelakor yang akan merusak keharmonisan keluarganya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
__ADS_1
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1