Ganti Istri

Ganti Istri
tak memberi celah untuk pelakor


__ADS_3

"Iya, mas.


Jangan pernah khianati kepercayaan ku." lirih Wiwin yang menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Insting seorang istri memang begitu tajam, apa lagi menyangkut kehadiran wanita lain yang memiliki niat buruk dengan rumah tangganya.


Karena wanita itu tercipta dengan segala keunikannya, memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh makhluk manapun.


"Mas mau mandi dulu apa langsung makan?" sambung Wiwin sedikit merasa lega karena suaminya baik baik saja.


"Mas, mau mandi saja dulu. Badan sudah lengket semua." sahut Bagus yang langsung berjalan ke arah kamar mandi. Dengan telaten Wiwin menyiapkan baju ganti suaminya.


Saat Bagus masih di kamar mandi, nampak ponselnya berkedip tanda ada beberapa pesan masuk.


Diantara Wiwin dan Bagus memang tidak ada yang disembunyikan, bahkan ponsel milik mereka bebas dibuka tanpa kata sandi.


Wiwin yang penasaran akhirnya membuka pesan yang masuk di ponsel suaminya.


"Mas sudah sampai ya?"


"Mas Bagus kapan ada jadwal kesini lagi?


"Boleh kan kalau aku ngobrol banyak sama kamu?"


"Jujur deh, aku kagum sama kamu, boleh dong jadi yang kedua, eeeh UPS!"


Sederet pesan yang dikirim Lani ke ponsel Bagus, membuat Wiwin jadi geram dengan kegenitan perempuan itu.


"Siapa sih ni perempuan, kok kegatelan banget dengan suami orang.


Aku akan tanyakan sama mas Bagus.


Pantesan perasanku gak enak, ternyata ini penyebabnya." sungut Wiwin yang sudah panas hati.


"Kok cemberut gitu, ada apa?" bagus yang habis keluar dari kamar mandi, menatap istrinya heran.


"Mas, kamu harus jawab jujur ya.


Tadi kamu habis ketemu siapa?" tanya Wiwin dengan wajah masam.


"Maksudnya?


Ketemu siapa gimana sih sayang?


Kan tadi mas ke warung makan yang ada di kota sebelah, ya seperti biasalah, ketemu para karyawan. Memangnya ada apa?


Kok tumben kamu nanyain, ada apa?" sahut Bagus santai, karena memang merasa tidak melakukan sesuatu yang salah.

__ADS_1


"Siapa Lani?


Mantan kamu, ya?" Wiwin masih memasang wajah masam bahkan matanya menatap tajam ke arah suaminya.


"Owh Lani, dia itu teman waktu SMU mas dulu.


Tadi memang ketemu, dia pas makan di warung kita. Ada ngobrol sih sebentar, tapi ya cuma bahas sesuatu yang gak penting saja, cuma sekedar basa basi saja." sahut Bagus yang bicara jujur apa adanya, tanpa mau menutupi apapun dari istrinya.


"Dia suka kamu, mas?


Atau kalian saling ingin menciptakan rasa?" sahut Wiwin yang masih ingin mencari tau perasaan suaminya.


"maksudnya apa sih sayang.


Enggak lah, mana mungkin aku berbuat seperti itu.


Dia memang janda, katanya suaminya meninggal Karena kecelakaan. Tapi ya itu, sedikitpun mas gak punya rasa apapun. Sekedar menghargai sebagai teman, masa mas diajak ngobrol gak mau, apalagi dia pelanggan dirumah makan kita." balas Bagus yang berusaha menjelaskan apa adanya sesuai dengan pemikirannya yang tak punya rasa apapun pada Lani.


"Tapi dia mau loh jadi yang kedua?


Nih dia lagi nawarin diri." sungut Wiwin yang menyodorkan ponsel milik Bagus dengan bibir mengerucut.


"Kamu dengar ya, biar mas telpon Lani. Biar dia tidak lagi kirim pesan aneh aneh dan bersikap gak sopan kayak gini." sahut Bagus yang geram dengan kelakuan Lani.


"Hallo Asalamualaikum, Lani." bagus mengawali obrolannya setelah panggilannya terjawab.


Pasti penasaran ya sama isi chatku?


Aku serius loh, mau banget jadi yang kedua, asal sama kamu." sahut Lani dengan pedenya membuat Bagus menggelengkan kepalanya geram, apa lagi melihat wajah istrinya yang sudah merah padam.


"Lani, dengar ya.


Aku sudah punya istri, dan tidak berniat punya istri lagi. Jadi buang jauh jauh ucapan kamu itu.


Tolong jangan bikin istriku salah paham dengan sikapmu ini.


Aku sangat mencintai istriku.


Dan perlu kamu tau, aku itu aslinya miskin, harta yang aku miliki saat ini milik istriku, paham?


Jadi, berhentilah mengganggu ketenanganku." setelah berucap demikian, Bagus langsung mematikan sambungan teleponnya dan memencet tulisan blokir untuk nomornya Lani.


"Mas sudah jujur di depan kamu, dan juga sudah memblokir nomor Lani. Lupakan dan jangan mikir macam macam, istriku cuma satu, kamu. Selamanya ya cuma kamu. Oke?" Bagus menatap dalam wajah sang istri yang mulai melunak, bahkan senyuman manis sudah terbit di bibirnya yang tipis.


"Makasih, mas.

__ADS_1


Dan mulai sekarang, mas gak perlu lagi datang ke cabang sana ya, biar nanti diurus sama adikku saja.


Aku gak mau memberi celah sedikitpun pada pelakor itu. Kamu mau kan, menuruti permintaanku ini?" sahut Wiwin lirih, karena dia harus mengantisipasi sesuatu yang harusnya tidak terjadi, pelakor datang memang karena punya kesempatan, dan untuk itu, Wiwin tidak akan memberi kesempatan sedikitpun pada Lani untuk mendekati suaminya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2