
"Aku sudah maafin kamu, semoga setelah ini kamu bisa menemukan kebahagiaan seutuhnya.
Belajarlah dari kesalahan, dan menjadi orang yang lebih baik lagi." sahut kang Bagus tenang, wajahnya nampak datar.
"Iya, mas!
Terimakasih sudah mau memaafkan aku!" sahutku pilu, tak terasa air mata ini kembali menetes tanpa mau dicegah lagi.
Seharian ini, nyonya Rukmini menyuruhku tidak mengerjakan pekerjaan apapun, aku diberi waktu untuk melepaskan rindu pada kedua anakku.
Ani dan Agung sudah memaafkan diri ini. Dan mereka juga memperlihatkan perasaan sayangnya padaku, kamu tidur dalam satu kamar, meluapkan rindu dan saling bercerita.
Wiwin, istri barunya kang Bagus, doa orangnya sangat ramah dan terlihat baik, anakku menceritakan bagaimana sikapnya pada mereka selama ini, dan akupun juga merasakan ketulusan wanita itu, saat sorot matanya menatap sayang pada dua buah hatiku.
Kang bagus orang baik, sudah sepantasnya mendapat pendapat orang baik juga.
Menyesal pun kini sudah tidak ada gunanya lagi, aku memilih melonggarkan perasaan dengan berusaha iklas menerima keadaan.
"Ibuk gak akan balik ke kampung nenek ya?
Karena takut ketemu sama suami ibuk lagi?" tanya Ani yang terlihat menatap diri ini dengan tatapan sendu.
"Iya, nak!
Ibu memilih tatap disini saja, lagian dirumah ini ibuk juga bekerja kok, bantu bantu mbok Darmi.
Ibuk takut pulang, nanti suami ibuk jahat lagi sama ibuk!" sahutku dengan seulas senyum tipis.
"Iya, lebih baik ibu disini saja. Ani senang, ibuk sekarang sudah berubah. Ibu gak lagi marah marah dan terlihat lembut. Ani suka ibuk yang sekarang!
Jangan berubah lagi ya buk, jadilah ibuk yang baik seperti ini terus." ucap anakku panjang lebar. Memang kuakui selama ini aku sudah bersikap tidak baik pada anak anakku sendiri. Dan itu sungguh membuatku menyesali sikapku yang tak punya hati itu.
"Iya sayang, doain ibuk ya!
Nanti kalian kalau tidak keberatan sering temui ibuk disini ya, karena ibuk masih belum bisa kemana-mana." sahutku lembut.
"Iya buk, pasti kita akan kunjungi ibuk lagi, nanti minta bapak buat antar kita " sahut Agung dengan tersenyum manis.
"Oh iya, nak. Ibuk ada sesuatu buat kalian.
Tunggu sebentar!" akupun berdiri dan membuka lemari, mengambil beberapa uang pecahan lima puluh ribu dan seratus ribuan untuk aku berikan pada anakku. Selama ini aku tidak pernah memberikan apapun pada mereka, selama tinggal dirumah pak Bram. Aku tiap bulan diberi gaji dengan nilai yang cukup banyak. Bahkan untuk memeriksakan kehamilan dan juga membeli susu dan semacamnya, Bu Rukmini yang menanggung keperluanku itu, padahal.aku sudah mengatakan biar aku saja yang membeli menggunakan uang gajiku. Tapi Bu Rukmini memintaku untuk menyimpan saja uangku buat di tabung.
__ADS_1
"Ini buat kalian. Bagi dua ya!" aku menyerahkan uang lembaran itu pada Agung.
"Ini apa buk?
Kok banyak banget!" jawab anak lelakiku bingung.
"Itu gak seberapa, nak!
Simpan ya, buat uang jajan kalian.
Ibuk belum bisa kasih kalian apa apa, hanya bisa memberi itu. Meskipun tidak seberapa, ibu harap kalian senang! Gunakan dengan bijak ya, nak!" sahutku dengan perasaan lega, akhirnya aku bisa memberikan sesuatu pada kedua anakku.
"Makasih ya, buk!
Kami seneng banget!" ucap mereka berdua yang langsung kembali memelukku dengan wajah ceria.
"Agung! Ani!
ayo kita pulang, ibu saja bapak sudah nungguin!" suara anak perempuan terdengar memanggil kedua anakku dibalik pintu, pasti itu anaknya mbak Wiwin.
"Kalian pulang lah, sekolah yang rajin. Gak boleh nakal ya, harus nurut sama Bu Wiwin dan bapak kalian." aku memberi sedikit nasehat pada kedua anakku. Dan mengambil uang yang ada disaku daster untuk aku berikan pada putri sambung Jang Bagus. Bagaimanapun aku juga harus bersikap baik padanya, karena ibunya juga sudah memperlakukan anakku dengan sangat baik.
"Ini apa Tante?
Kok banyak banget?" sahutnya sungkan.
"Gak papa, terima saja buat jajan.
Kami juga dikasih kok sama ibuk!" sahut Agung yang bersikap dewasa.
Aku mengantarkan kedua anakku ke depan.
Mereka pulang dengan mengendarai mobil Avanza berwarna hitam.
Kang Bagus, sepertinya sudah maju karena istrinya pun juga punya warung pecel lele yang lumayan laris, itu aku tau dari cerita anak anak sewaktu tadi kita tengah bercengkrama.
Mobil mereka menghilang dari pandangan, menyisakan nelangsa oleh rasa sesak atas semua perbuatan buruk yang pernah dilakukan di masa lalu. Kini aku harus bisa bangkit untuk hidup yang lebih baik, demi anak yang kini ada di dalam kandungan. Bismillah!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
__ADS_1
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1