
"Apakah, kang Bagus menikah dengan saudaranya pak Bram?
Kenapa dunia begitu sempit, aku harus ketemu mantan di tempat pelarian ku, menyimpan perih oleh duka penyesalan.
Kang Bagus nampak bahagia, senyum dibibirnya terukir sedari tadi. Sepertinya dia sudah menemukan perempuan yang pantas mendampinginya. Alhamdulillah!" lirihku pilu yang sanggup diutarakan hanya di dalam hati saja.
"Mbak Tuti, kenapa?" Bu Ayu menatapku heran, karena air mata ini tak lagi bisa ditahan, bahkan aku tergugu begitu pilunya.
Bisa mendengar suara anak anakku dan melihat wajah mereka, sungguh perih hati ini, Ya Alloh, kenapa rasanya harus seperti ini, sakit!
"Gak papa, Bu!
Aku hanya teringat sama keluarga dikampung!" sahutku mencari alasan. Rindu ini semakin membuatku tersiksa, namun bibirku terasa kelu kala ingin memanggil nama mereka. Aku takut, mereka masih membenciku, dan itu akan semakin membuatku semakin nelangsa.
"Mungkin mbak Tuti, lelah. Lebih baik istirahat saja dulu sebentar. Biar kami yang menyelesaikan pekerjaan di dapur, tuh banyak tetangga yang bantu bantu juga!" kembali Bu Ayu membuka suaranya, wajahnya menatapku dengan iba.
"Kalau begitu, ijin istirahat sebentar njih, Bu?
Nanti kalau sudah sedikit membaik, saya kesini lagi, meneruskan pekerjaan." sahut ku lemah, tak mungkin aku memaksakan diri untuk tetap berada di dapur ini, karena hatiku butuh ditenangkan, mungkin dengan masuk ke kamar sebentar, aku bisa menumpahkan semua rasa sakit akibat penyesalan atas perbuatanku dulu.
Di dalam kamar, aku menumpahkan tangis, hingga wajah ini aku tutupi dengan bantal, agar tak terdengar dari luar suara raungan ku yang begitu menyedihkan.
Wajah ceria mantan suamiku, senyumannya yang begitu lepas tanpa tekanan dan sorot matanya terlihat penuh binar, kang Bagus benar benar menemukan kebahagiaannya.
Begitu juga dengan kedua anakku, Ani dan Agung.
Mereka seperti sudah begitu dekat dengan istri baru kang Bagus dan anaknya.
Saat tenggelam dalam duka, mengeluarkan semua sakit dengan menumpahkan air mata.
Merutuki kebodohan yang sudah dilakukan.
Menyia nyiakan seorang laki laki yang sudah begitu baik dan tulus hanya demi laki laki gila seperti Warno. Ya Alloh, begitu bodohnya diri ini, sampai sampai mataku buta dalam menentukan pilihan.
"Ti, Tuti!
Kamu gak papa, nduk?
Mbok masuk ya?" suara mbok Darmi terdengar mengkhawatirkan diriku.
Setelah mengetuk pintu beberapa saat, mbok Darmi lalu membuka pintu kamar ini sebelum aku menjawab apapun.
"Ya Alloh, nduk!
Ada apa?
Apa yang terjadi sama kamu, kok sampai nangis kayak gini?" mbok Darmi terlihat cemas, bahkan wajah tuanya juga terlihat sangat khawatir. Bibirnya ikut bergetar kala menatap diri ini yang terlihat begitu menyedihkan.
"Ada apa to, nduk?
Cerita sama, mbok!
Barangkali bisa mengurangi beban kamu!
Padahal tadi kamu baik baik saja loh, kok kini nangis sampai kayak gini, ada apa?" mbok Darmi kembali mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Mereka ada disini, mbok!
Anak anakku ada dirumah ini." sahutku dengan suara tertahan, dada ini kembali terasa sesak dengan tanpa daya untuk sekedar menyapa mereka. Sungguh aku tidak berani.
"Anak anak kamu?
Kamu yakin mereka ada disini?
Kok bisa?" sahut mbok Darmi dengan wajah mengerut bingung.
"Mereka ada diluar, tamu yang baru saja datang!
Mereka anak anakku yang datang dengan mantan suamiku, kang Bagus.
Sepertinya dia menikahi saudaranya pak Bram!" kembali merasakan perih yang tak tertahankan lagi, bahkan air mata ini semakin menderas.
"Maksud kamu, suaminya mbak Wiwin, keponakan nyonya?" tebak mbok Darmi dengan wajah tegang.
"Iya, mbok!
Sepertinya begitu, karena tadi aku sempat mengintip di ruang tamu, telinga ini merasa tak asing mendengar suara mereka." sahutku dengan suara tertahan.
"Kenapa kamu gak temui mereka saja to, nduk?
Setidaknya temui anak anakmu.
Minta maaflah, urusan dimaafkan atau tidak biarlah menjadi urusan nanti, yang penting kamu sudah menyesal dan menyadari kesalahan kamu di masa lalu. Bagaimanapun mereka itu anak anakmu, insyaallah pasti ada perasaan rindu di hati untuk ibunya." mbok Darmi menasehati ku, terlihat matanya juga sudah berkaca kaca. Mungkin merasa iba dengan apa yang kini aku rasakan.
"Aku takut, mbok!
"Temui lah mereka, insyaallah mereka anak anak baik!" tiba tiba pak Bram muncul dari balik pintu yang memang sepenuhnya tidak tertutup, apakah beliau mendengarkan perbincanganku dengan mbok Darmi, sehingga bisa mengatakan hal demikian.
"Mbok, temani mbak Tuti keluar, aku sudah bicara sama Wiwin dan suaminya. Insyaallah mereka mengerti." kembali pak Bram membuka suaranya.
Tanpa banyak bicara lagi, mbok Darmi menuntunku keluar kamar dan langsung menuju ruang keluarga, ternyata disana sudah ada Bu Rukmini juga, bahkan terlihat kang Bagus dan istrinya duduk berdampingan dengan tatapan iba padaku. Sedangkan kedua anakku, langsung berlari menghambur dalam pelukanku. Ya Alloh, rasanya sungguh lega, dipeluk dua bocah yang lahir dari rahimku.
"Ibuk kemana saja, kenapa gak pernah menghubungi kami lagi?" Ani memeluk pinggangku dengan tangisan, sedangkan agung hanya diam mendekap tubuh ini.
Kang Bagus, tetap diam dengan ekspresi datarnya.
"Maafkan ibu ya, nak!
Ceritanya panjang, yang penting kalian sehat dan baik baik saja. Maafkan ibumu ini, maaf!" sahutku dengan suara bergetar menahan rasa sesak yang menghimpit dada.
"Kami sudah maafin ibuk kok, dan kami sudah tau bagaimana kesedihan ibuk dari om Bram. Semoga ibuk sehat sehat terus dan tidak lagi disakiti sama om Warno." sahut Agung dengan sikap tenangnya, namun matanya telah bergelayut mendung.
"Maafin ibu, nak!
Maaf!" sekali lagi aku meminta maaf, dan menciumi mereka dengan rasa haru.
"Kang, maaf!
Terimakasih sudah menjaga anak anak dengan baik, aku titip mereka!
Semoga kamu bahagia dengan keluarga baru kamu, kang!
__ADS_1
Sekali lagi, tolong maafin Tuti, ya?" lirihku yang mengalihkan pandangan pada mantan suamiku yang kini terlihat begitu terawat dan makin tampan.
"Aku sudah maafin kamu, semoga setelah ini kamu bisa menemukan kebahagiaan seutuhnya.
Belajarlah dari kesalahan, dan menjadi orang yang lebih baik lagi." sahut kang Bagus tenang, wajahnya nampak datar.
"Iya, mas!
Terimakasih sudah mau memaafkan aku!" sahutku pilu, tak terasa air mata ini kembali menetes tanpa mau dicegah lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1