Garis Takdir Untuk Kita

Garis Takdir Untuk Kita
Bab 1 - Tiga tahun pernikahan


__ADS_3

Menurut kalian, apa arti dari kata 'berumah tangga'? Dua insan yang saling mencintai, saling memberikan kasih, saling berbagi suka maupun duka, serta membangun kebahagiaan bersama.


Apa seperti itu arti berumah tangga yang sesungguhnya? Jika benar, maka apa yang Beryl lakukan selama ini. Dari tiga tahun lamanya ia berumah tangga dengan wanita bernama Laras, dirinya tak merasakan hal itu sama sekali.


Hembusan napas panjang terdengar begitu jelas di ruangan yang besar nan sunyi itu, terdengar pula suara rebusan air yang sudah mendidih serta harumnya masakan yang dibuat pria tersebut.


Pagi ini Beryl bangun pagi seperti biasanya. Berbeda dengan keadaan rumah tangga kebanyakan, sebab selalu saja Beryl yang menyiapkan untuk sarapan bahkan juga makan malam, bukannya Laras selaku istrinya.


Suara pintu yang terbuka menyadarkan Beryl, pria yang tengah menyimpan manci di atas meja makan itupun mengangkat pandangannya dan tersenyum hangat pada istrinya. Tapi Laras sama sekali tidak mengindahkannya.


"Sarapan terlebih dahulu, aku sudah membuat sop iga. Kamu suka itu, bukan?" tanya Beryl, menunggu istrinya datang menghampiri dan makan bersamanya.


Bukannya menyetujui ajakan Beryl untuk bersarapan, Laras malah membuang pandangannya sambil menghela napas. Laras tidak suka diperlakukan seperti ini, ia tidak mau Beryl mencoba mendekat dan meluluhkan hatinya. Karena Laras sama sekali tidak mencintai pria itu.


Kalian mungkin bingung, mengapa mereka menikah jika Laras tidak mencintai Beryl. Tentu saja, itu karena perjodohan orang tua mereka.


"Aku memang suka sop iga, tapi tidak lagi. Mulai sekarang." Laras menolak ajakan Beryl mentah-mentah.


Pergi meninggalkan pria itu tanpa berpamitan, Beryl hanya bisa diam menatap kepergian istrinya.


Memang, hal ini sering terjadi.


Baiklah, pagi ini Beryl akan sarapan sendiri seperti biasanya. Terkadang pula Laras menyetujui dan ikut makan, tetapi lebih banyak menolaknya.


Suasana seperti ini sudah menjadi hal lumrah bagi Beryl. Ia berkeluarga, tapi ia selalu saja sendiri dan tidak dapat merasakan apa arti berumah tangga. Mereka juga memiliki kamar yang terpisah dan yang pertama kali membuat kesepakatan seperti itu adalah Laras.


Berdiri memandang ke arah depan, Beryl menatapi lukisan besar pemberian orang tuanya yang ia pajang di ruang tengah. Perlahan sudut bibir itu menciptakan senyuman yang membuat wajahnya semakin tampan.


Beryl selalu merasa tenang setiap memandang lukisan itu, seolah ada sihir yang mengisap semua kesedihan yang dideritanya dan masuk ke dalam lukisan indah tersebut. Mata Beryl bergerak menatap ke sudut bawah lukisan tersebut, menatap lambang nama Sang pelukis yang tampak sangat cantik.


Waktu yang terus berjalan menyadarkan pria itu. Beryl tak berlama-lama di rumah, ia segera berangkat menuju tempat kerjanya.


Berbicara mengenai pekerjaannya, Beryl adalah seorang CEO salah satu perusahaan besar di Jakarta yang bergerak di bidang olahraga golf. Tempat yang selalu dikunjungi dan tersohor bagi kalangan orang-orang berada.


Beryl lahir dari keluarga kelas atas, begitupula Laras. Mereka tak pernah merasakan kesulitan untuk mendapatkan sesuatu.


Satu hal yang begitu sulit Beryl dapatkan, adalah kebahagiaan dari seorang pasangan. Beryl ingin merasakan seperti apa cinta yang sebenarnya, ia ingin menerima perasaan dari seorang wanita yang ia cintai.


Akankah kelak ia mendapatkan hal itu?


"Dasar tidak tahu diri. Seharusnya Laras beruntung menikah dengan kamu, karena kamu pria berpendidikan, baik, kaya, dan tampan. Kurang apa sih kamu? Kenapa dia terus bersikap semaunya?!" Cacian itu keluar dari mulut Rayan, sahabat masa kecil Beryl.


Beryl menatap kosong kepulan asap yang keluar dari cangkir kopinya. Pria itu tersenyum tipis setelah mendengar perkataan Rayan, lantas meneguk kopinya dengan hati-hati agar lidahnya tidak terluka.


"Kenapa kamu juga tidak beritahu keluarga kamu tentang perilaku Laras yang sebenarnya?" Tubuh Beryl terdiam saat pertanyaan itu Rayan ajukan kepadanya.


"Aku tidak bisa. Apalagi Ibu sedang sakit sekarang, aku tidak mau membuatnya khawatir," jawab Beryl.


Rayan mengacak rambutnya frustrasi, kenapa Beryl begitu sangat bodoh tentang percintaan. Tapi sebenarnya dia juga belum pernah berkencan, apalagi menikah.


"Ryl, Laras tidak cinta kamu. Dia punya pria simpanan dan selalu bermain di belakangmu. Dan kamu hanya diam saja?! Sampai kapan kamu mempertahankan wanita brengsek seperti dia?!" Rayan membentak sahabatnya itu karena geram.


"Aku tahu." Mata Beryl tampak sayu, sebenarnya ia juga memang tidak menginginkan ini.


"Aku akan bertahan sampai situasi mulai membaik. Ibu punya penyakit jantung, Yan. Aku tidak mau penyakit Ibu semakin memburuk saat mendengar kabar aku cerai. Apalagi jika dia tahu jika selama ini Laras berselingkuh dan tidak cinta padaku," jawab Beryl, terdengar santai meski tak bisa bohong hatinya juga terluka.


"Bodoh kamu. Bodoh." Rayan hanya bisa mengumpat, ia tidak mengerti lagi jalan pikiran sahabatnya itu. Jika dia menjadi Beryl, tentu Rayan akan langsung menceraikan Laras dan menghajar pria yang selama ini menjadi selingkuhannya.


Baru teringat pada satu hal, Beryl membuka suaranya dan berucap, "Omong-omong.. ada apa kamu datang kesini? Kamu bilang kamu mau mengatakan sesuatu, bukan?" tanyanya, Rayan pun menoleh dan membenarkan posisi duduknya.


Ada hal yang ingin Rayan katakan, raut wajah pria itu berubah menjadi cerah dalam hitungan detik.


"Aku berkencan!" Jelas dan padat.


Beryl tersenyum mendengarnya, ia ikut senang karena akhirnya Rayan berkencan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menggalaukan cinta pertamanya yang menikah meninggalkannya.

__ADS_1


"Aku senang karena ada juga yang suka padamu. Baiklah, berarti kita makan-makan malam ini!" Beryl memberi kode agar mereka bersenang-senang malam ini.


Tapi bukan itu yang sebenarnya Rayan inginkan, pria itu kembali berbicara setelah diam beberapa saat.


"Aku mau kamu ikut aku berkencan, akhir pekan sekarang!" ajak Rayan, berharap banyak.


Beryl membelalak.


"Tidak! Gila kamu?! Buat apa juga aku ikut! Aku tidak mau jadi nyamuk diantara kalian," tolak Beryl, sangat tidak setuju.


Rayan meraih lengan Beryl dan menarik-nariknya. "Oh ayolah, aku mohon. Aku mohon! Ini kencan pertamaku dan wanita yang aku kencani itu wanita tercantik di kampus, aku tidak bisa datang sendiri karena sangat gugup!" Rayan memohon, bahkan ia memasang wajah memelas yang membuat Beryl mual melihatnya.


"Lepas. Jijik!" Beryl menarik lengannya dan menggosokkannya ke celana.


"Nala bilang temannya juga akan datang, jadi tenang saja kamu tidak menjadi nyamuk sendirian." Rayan bersikukuh mengajak Beryl untuk menemaninya.


Pria itu mengusap wajahnya gusar, meskipun ia menolak ribuan kali tetap saja Rayan akan mengajaknya tanpa mengenal lelah, Beryl tahu betul sifat sahabatnya yang satu ini. Berdalih untuk beberapa waktu, pada akhirnya Beryl pun menyetujui perkataan Rayan agar perbincangan ini cepat berakhir.


Sementara itu, Nala yang sejak tadi diperbincangkan oleh kekasih barunya di seberang sana, kini tengah berada disalah satu kafe. Sembari menikmati minuman matcha dingin dan alunan musik yang diputar disana.


Suara lonceng kafe berdentang, pandagan Nala langsung tertuju ke pintu masuk. Didapati seseorang yang sejak tadi ia tunggu, Nala pun mengangkat tangannya dan tersenyum merekah pada sahabatnya, Zeline.


"Seharusnya kamu tidak mengajak sahabatmu yang sangat sibuk ini untuk datang ke kafe," kata Zeline, duduk bergabung dengan Nala.


Nala tersenyum. "Aku tahu. Dan aku tidak suka saat sahabatku sibuk," rengek Nala, terdengar gemas.


"Aku mengerti, bersabarlah karena sahabatmu ini akan segera terbebas dari kesibukan dunia kerjanya," sahut Zeline, dan mereka pun saling memberikan gelak tawa.


"Tunggu sebentar." Zeline bangkit dan pergi ke kasir untuk memesan minuman.


Satu minuman yang selalu Zeline pesan jika ia mampir ke sebuah kafe, apalagi kalau tidak memesan iced latte yang sangat ia sukai dari dulu. Selesai menerima pesanannya, Zeline kembali dan terduduk di hadapan Nala yang tengah memainkan ponselnya.


"Apa ada yang ingin kamu katakan? Kenapa tidak bilang lewat telepon saja?" tanya Zeline, menyedot minuman dinginnya.


"Sebenarnya.. aku berpacaran sekarang," jelas Nala, sontak Zeline langsung menatap padanya.


"Berpacaran? Bukankah kamu baru saja putus dengan Aldo?" tanya Zeline.


"Eih, jangan bicarakan pria brengsek itu! Aku sudah menemukan pangeranku yang sebenarnya," terangnya, tak suka jika membicarakan mantan-mantannya, karena semua pria yang ada di masa lalunya adalah pria brengsek.


Nala belum pernah menemukan seseorang yang cocok dengannya, seseorang yang selalu membuatnya bahagia. Semuanya selalu berakhir mengecewakan, Nala harap ini yang terakhir untuknya.


"Jadi bagaimana latar belakang keluarganya? Apa pekerjaannya?" tanya Zeline, tampak seperti Ibu yang menginterogasi anaknya.


"Dia teman kampusku, selain itu dia juga seorang pengusaha. Dan juga dia terlahir dari keluarga berada. Sangat cocok denganku yang cantik rupawan dan mapan," jawab Nala, sembari menjentikkan jemarinya.


Zeline mengangguk-angguk dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan seperti di film. "Aku tenang kalau begitu," jawabnya, dan di menit kemudian wajah wanita cantik itu berubah menjadi serius.


"Kamu tahu? Sebagai wanita, kita harus mengesampingkan kata 'cinta' terlebih jika akan menikah. Yang paling utama adalah harta dan pekerjaannya, karena cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu. Kamu harus tahu itu, Nala," imbuh Zeline, sambil menepuk pundak Nala.


Tak ada respon setelah beberapa saat, Nala menggelengkan kepalanya karena dirasa apa yang dikatakan Zeline kurang tepat menurutnya.


"Jika mau menikah dan berumah tangga, menurut aku cinta yang paling utama. Untuk apa menikah jika tidak ada perasaan cinta? Justru harta bisa dicari bersama-sama, aku lebih suka hal seperti itu," koreksi wanita itu, membungkam Zeline.


"Tapi aku lebih suka uang," gurau Zeline, lantas keduanya pun tertawa.


"Zeline," panggil Nala.


"Hm." Zeline menjawab dengan gumaman karena dia sedang meminum.


"Apa kamu bisa ikut denganku saat kencan di akhir pekan?" Nala bertanya, tujuan utama ia memanggil Zeline untuk saling bertemu adalah mengajak sahabatnya itu ikut dengannya.


Uhuk. Uhuk. Zeline tersedak minuman saat mendengar perkataan Nala barusan. Ini sangatlah aneh, karena Nala malah mengajaknya menemani berkencan. Telinga Zeline menjadi memerah karena terus terbatuk, namun untung saja batuknya mereda saat ia kembali minum.


"Menemani kamu berkencan? Lebih baik aku fokus pada tugasku karena sebentar lagi aku akan mengadakan pameran!" tegas Zeline, yang tentu saja ia menolaknya karena ini adalah ajakan konyol.

__ADS_1


Apakah mungkin Nala secara tidak langsung menyindirnya karena masih menjomblo? Jika benar, dia sangat jahat.


"Kumohon. Aku berjanji akan membeli beberapa karyamu di pameran tahun ini!" Nala menggenggam tangan Zeline, berharap wanita itu menyetujuinya. Tapi nyatanya ia salah.


"Tidak perlu. Simpan uangmu itu baik-baik karena aku tidak membutuhkannya." Zeline menolak ajakan Nala, lagipula untuk apa dia ikut Nala yang akan pergi berkencan.


Jika nanti mereka jalan bersama, lantas dirinya bersama siapa? Membayangkannya saja sudah membuatnya miris pada diri sendiri.


"Kamu mau membeli apa? Nanti aku traktir berapapun harganya!" Nala belum menyerah, ia akan berusaha agar Zeline ikut dengannya.


"Uangku banyak, Nala."


"Aku traktir pizza selama seminggu?"


"Tidak, terima kasih. Aku sedang diet."


"Aku akan melakukan apapun untuk kamu selama sebulan. Bagaimana?" Tampaknya Zeline agak tertarik dengan tawaran itu karena saat ini wanita itu menatap Nala dan tersenyum nakal padanya.


Seharusnya Nala tidak mengatakan itu.


"Oke, deal." Zeline menerimanya.


Entah harus senang atau tidak, Nala pun tidak tahu. Ia senang karena Zeline setuju akan ikut dengannya, tapi di sisi lain juga ia ragu karena Zeline bisa saja meminta macam-macam padanya. Karena wanita itu sangat usil.


"Kamu jadi budakku mulai sekarang, anak manis." Zeline menepuk-nepuk kedua pipi Nala yang agak tembam karena sangat menggemaskan.


...****************...


Langit sudah gelap gulita, Beryl terus menatapi ponselnya karena cemas sebab Laras belum juga pulang sejak pergi pagi tadi. Hanya ada satu pesan dari wanita itu yang dikirim siang tadi dan Laras meminta pria itu agar tidak menunggunya karena dia akan pulang larut.


Menatap kondisi di luar sana melalui jendela rumahnya, sesekali juga Beryl melihat ponselnya bila-bila istrinya itu memberi pesan kepadanya. Ini sudah hampir tengah malam, tapi Laras belum juga menampakkan dirinya di rumah.


Kedua kaki Beryl bergerak hilir mudik di sekitaran ruang tengah, sampai akhirnya tubuhnya langsung berbalik saat mendengar suara pintu rumah yang terbuka. Beryl berlari cepat ke arah Laras yang baru saja tiba, dan tampaknya wanita itu mabuk sekarang ini.


"Laras." Beryl menahan tubuh wanita itu karena hampir terjatuh.


"Hei, sadarlah." Tangan Beryl menepuk pelan pipi Laras, tapi wanita itu pingsan.Ā Mau tidak mau Beryl menggendong Laras dan membawanya ke dalam kamarnya. Jika saja sadar, dia pasti akan sangat marah karena Beryl menyentuh dirinya.


Direbahkan tubuh mungil itu di atas ranjang berukuran besar, dengan sigap Beryl melepaskan sepasang sepatu yang dipakai wanita itu dan menyelimuti tubuh Laras yang hanya mengenakan mini dress dengan selimut hangat.


Beryl tidak langsung pergi dari kamar Laras, pria itu kini terduduk disana dengan pasang mata tertuju pada wajah Laras yang memerah karena mabuk. Laras memiliki paras yang cantik, Beryl akui itu. Disentuhnya pipi Laras dengan tangannya yang besar, perlahan Beryl juga mengelus permukaan wajah Laras yang sangat halus.


Ini untuk pertama kalinya Beryl menyentuh istrinya itu. Laras akan sangat marah jika mengetahuinya, tapi beruntung wanita itu tidak sadarkan diri sekarang. Tak mau kehilangan kesempatan ini, Beryl bergerak mendekati Laras. Pria itu mengikis jarak dan mempertemukan bibir mereka untuk pertama kalinya.


Beryl mengecup bibir Laras dengan lembut karena tidak mau wanita itu terbangun dari tidurnya. Setelahnya, Beryl pun tersenyum pada istrinya itu meski tak ia dapatkan balasan darinya.


Beryl tak paham dengan perasaannya, entah ia benar-benar cinta pada wanita itu atau hanya sekadar paksaan karena status pernikahan mereka.


Bangkit berdiri, tangan Beryl ditahan oleh Laras. Terkejut karena hal tersebut, Beryl lebih risau jika Laras sadar saat ia menciumnya tadi.


"Jangan pergi.." Laras bergumam, namun matanya masih tertutup rapat.


"Aku mencintaimu, Jerome." Lanjutan dari perkataan Laras membuat tubuh Beryl terdiam. Pria itu menghela napas, ia tahu jika Laras hanya mencintai kekasihnya.


Pada akhirnya ia juga mengerti tentang perasaannya. Sepertinya opsi kedua dari dua pilihan tadi lebih tepat, sebab Beryl sama sekali tidak cemburu atau marah meski Laras menyebutkan nama pria lain bersamanya.


..._Bersambung_...


...Selamat datang di novel 'Garis Takdir Untuk Kita'...


...Novel ini baru netas jadi mohon bantuannya ya untuk dukung author😘...


...Simpan cerita ini juga di library kalian...


...See you next chapter😊...

__ADS_1


__ADS_2