
Hari kemarin cukup melelahkan bagi Beryl. Sampai di rumah malam hari, Beryl hanya mendapatkan sedikit waktu untuk beristirahat di akhir pekan karena ia harus segera bangun di pagi hari ini dan kembali pergi bekerja.
Pintu lemari es yang berukuran besar itu Beryl buka, diraihnya botol air mineral yang sengaja di dinginkan lantas ia teguk separuh. Beryl merasakan kesejukan saat meminum air dingin itu, sampai akhirnya kedua matanya melebar dibuat terkejut karena kehadiran seseorang ke dalam dapur.
"Kamu sudah pulang?" tanya Beryl pada Laras yang nampak baru bangun tidur pula. Pria itu menutup kembali botol minumnya dan disimpan ke atas meja.
Tak ada respon dari Laras, wanita itu bergerak maju ke lemari pendingin pula ikut meminum air dingin sama halnya seperti Beryl.
Sudah biasa tidak di acuhkan oleh istrinya, Beryl beranjak memasak untuk sarapan paginya. Hanya seporsi nasi goreng untuk dirinya, Beryl tak terlalu memedulikan Laras sebab wanita itu sudah terlalu sering menolak masakannya.
"Apa Ibumu mengundangku makan malam saat aku berada di Bali?" tanya Laras sembari menyiapkan bahan-bahan untuk membuat roti french toast di microwave.
Selesai memasak nasi goreng, Beryl membawa piring tersebut di atas mini bar dan segera menyantap makanannya karena waktu bergerak begitu cepat.
"Iya, tapi tenang saja aku sudah bilang kamu tidak bisa datang karena sibuk pemotretan," jawab Beryl, sambil mengunyah nasi gorengnya.
Laras memasukkan gelas berisikan roti yang sudah di potong kecil dan dicampur beberapa bahan sebagai adonan ke dalam microwave, ditekannya tombol untuk mengatur waktunya. Wanita itu berbalik, menatapi Beryl yang terduduk tepat di hadapannya.
"Apa aku perlu menemuinya sekarang agar Ibumu berpikir rumah tangga kita baik-baik saja?" tanya Laras, namun tak ada jawaban dari Beryl.
"Sepertinya tidak usah," ucap wanita itu lagi sambil menarik satu sudut bibirnya.
Tak membutuhkan waktu lama, microwave itu mengeluarkan suara pertanda roti french toast-nya sudah siap. Laras membukanya dan meraih gelas tersebut dengan tangan telanjang.
Sial. Laras memekik saat merasakan panas karena memegang gelas tersebut. Ia juga salah sudah teledor karena tidak memakai sarung tangan oven. Beryl yang menyaksikan itu segera bangkit menghampiri Laras yang nampak kesakitan.
"Kamu tidak apa?" tanya Beryl, meraih tangan Laras untuk memastikan.
Jarak mereka yang dekat serta perlakuan Beryl saat ini membuat Laras marah pada pria itu. Laras menarik kembali tangannya, tak mau disentuh oleh Beryl. Ditatapnya mata wanita itu, tersirat amarah dari apa yang bisa Beryl tangkap.
"Tidak usah peduli padaku!" sentak Laras.
Laras pergi menjauh, ia meniup-niup jemari tangannya yang kesakitan dan mengalirkan air wastafel agar rasa panasnya menghilang. Melihat itu, bahkan meski sudah dibentak oleh Laras, Beryl sama sekali tidak menyerah dan pergi bermaksud membawa kotak p3k untuk mengobati luka Laras.
Laras hanya mengira pria itu pergi karena terluka karena perkataannya. Tapi ternyata salah, Beryl kembali ke dapur beserta kotak obat yang berada di tangannya. Memandang heran Beryl, Laras sama sekali tidak mengerti maksud dari pria tersebut.
Beryl membuka kotak tersebut dan meraih obat luka bakar, lantas datang menghampiri Laras yang mematung di tempat terlebih saat Beryl secara tiba-tiba kembali mengambil paksa tangannya yang terluka.
"Sama seperti atlet.. seorang model juga harus bisa merawat serta menjaga tubuhnya karena sangat berharga," ucap Beryl, sembari mengoleskan salep ke jemari tangan Laras yang terluka.
Membeku karena mendapatkan perlakuan seperti itu. Seolah terkena sihir karena Laras hanya diam saat Beryl mengobati lukanya, wanita masih terpaku memandangi suaminya. Sampai seketika, pandangan mereka dipertemukan dan Laras cepat-cepat memalingkan wajahnya.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku, lagipula aku tidak mengharapkan perasaan darimu. Tapi tetap saja.. kamu adalah istriku, dan aku harus selalu menjaga dirimu selagi kita berstatus demikian," jelas Beryl, membungkam Laras dengan ucapannya.
Tidak berlama disana, Beryl pergi ke kamarnya untuk segera bersiap pergi ke kantornya. Laras masih saja terdiam bahkan setelah Beryl pergi meninggalkannya, perlahan tubuh pria itu menghilang dari pandangannya.
Banyak hal yang harus Beryl kerjakan hari ini. Baru saja tiba, dia sudah sibuk saja dan harus segera bersiap untuk pergi rapat.
Pria berjas hitam itu semakin terlihat tampan saat tengah berada di tempat kerja. Tak sedikit para pegawai wanita menggemari sosok Beryl yang bisa dikatakan sempurna.
Menuruni beberapa anak tangga hingga ia tiba di lantai dasar gedungnya. Beryl yang ditemani sekretarisnya berjalan ke kafe yang di khususkan untuk orang-orang yang bermain golf di tempatnya.
Dihampiri seorang pria yang dari jauh saja sudah memancarkan cahayanya, dia seorang idol, diketahui bahwa pria tersebut akan bergabung dalam kelompok golf-nya.
"Hello," Beryl beserta pria idol yang diketahui adalah Choi Siwon member grup Super Junior tersebut saling menyapa.
"Nice to meet you, Mr. Siwon." Beryl memberikan sapaan hangat pada pria tersebut.
Terduduk di hadapannya, Beryl sengaja mendatangi pria itu terlebih dahulu sebelum akhirnya ia pergi untuk rapat.
"Senang bertemu denganmu juga," jawab Siwon dalam bahasa Inggris.
"Sebuah kehormatan karena bisa bertemu denganmu. Aku sangat senang mendengar kabar seorang idol tampan akan menjadi membership disini," beber Beryl, membuat Siwon tergelak karena akhir kalimat yang pria itu katakan.
__ADS_1
"Aku hanya sedang pergi berlibur ke Indonesia dan mencoba mencari kesenangan disini. Aku dengar tempat golf-mu paling terkenal di Jakarta, maka dari itu aku ingin mencoba bermain dan mendaftar keanggotaan disini," katanya.
Beryl tersenyum. "Seringlah datang kemari saat dirimu berlibur ke Indonesia. Aku akan memberikan penawaran khusus hanya untukmu," tawar Beryl yang disaat itu juga Siwon tersenyum lebar padanya.
"Tentu, aku akan sering kemari."
Pandangan Beryl beralih pada sosok pegawai wanitanya yang terduduk tepat di samping idol tampan tersebut.
"Layani dia dengan baik," titahnya.
Wanita itu mengangguk seraya menjawab, "Baik, Pak."
Beryl tidak bisa berlama-lama disana, dirinya berpamitan dengan Siwon dan beranjak pergi untuk rapat. Masih ditemani sekretarisnya, Beryl membicarakan hal-hal mengenai rapat hari ini selama berjalan, sampai akhirnya ponsel miliknya berbunyi membuat langkah kaki pria tersebut berhenti.
Dirogohnya ponsel dari dalam saku, Beryl melihat pesan yang dikirim Rayan. Bukan pesan teks yang ia terima, melainkan sebuah foto dirinya bersama wanita yang namanya tak terlalu ia ingat. Beryl menghela napasnya, ia tak tahu jika kemarin ia benar-benar di potret bersama wanita menyebalkan itu.
"Kenapa dia mengirim foto itu padaku," ketus Beryl, masih kesal karena perkataan Zeline hari itu.
Bukan tipenya? Beryl merasa aneh apakah dirinya benar-benar jauh dari tipe yang wanita idamkan, karena Laras bahkan wanita asing itu sama sekali tidak menyukainya. Jika dipikir kembali, Beryl merasa dirinya tidak kekurangan apapun.
Lantas mengapa para wanita tidak menginginkannya?
Menjengkelkan saja.
...****************...
Sinar mentari yang bergerak maju ke atas sana memancarkan bias cahayanya ke tempat luas yang Zeline kunjungi saat ini. Gadis berambut panjang kecokelatan itu mengikat rambutnya asal namun tak mengurangi kecantikannya sama sekali, malah membuatnya dirinya semakin menawan.
Berjalan menelusuri setiap sudut ruangan tersebut dengan ditemani seorang pria, Zeline terus terfokus pada I-Pad yang ia pegang dan memandang dinding besar secara bergantian.
"Aku akan memajang lukisanku berdasarkan tema-temanya," kata Zeline, masih fokus pada barang berbentuk persegi itu.
"Saya mengerti. Dua tema lukisan anda akan ditata letakkan di setiap ruang sudut yang berbeda," sahut pria itu, paham.
Atensi Zeline tak beralih pada dinding di depannya. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya, menciptakan senyuman yang agak menyiratkan kesedihan.
"Potret diri, aku akan meletakkan lukisan potret diriku disini," jawab Zeline, menatap pria yang berdiri di sampingnya.
Pria itu mengangguk paham, mereka kembali menulusuri tempat tersebut dengan Zeline yang menjelaskan setiap rinci lukisan-lukisan yang akan di pajangkan pada pameran tahun ini.
Zeline menggerakan pensil pada I-Pad miliknya dan menulis sesuatu disana. Sampai seketika dirasanya ponsel yang berada di tasnya bergetar, Zeline pun meraih ponsel miliknya dan menunda pembicaraan mereka.
Ada raut bahagia saat Zeline melihat nama seseorang yang menelepon dirinya. Tidak langsung menjawabnya, Zeline kini memandangi pria yang masih berdiri menemaninya disana.
"Aku akan mengirim file yang lebih mendetail padamu melaui surel," kata Zeline.
"Baik, saya mengerti."
Pria yang akan mengurus semua hal untuk pamerannya tahun ini pun pergi meninggalkan Zeline yang masih berada disana. Zeline berfokus kembali pada ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari seseorang yang sangat ia rindukan.
"Bagaimana ini, sepertinya aku sedang jatuh cinta karena berdebar saat menelepon seorang pria," kata Zeline, bercanda.
Terdengar tawa dari seberang sana, membuat Zeline ikut tertawa. Wanita itu terduduk di bangku yang ada disana dengan menghadap ke arah luar sana. Sebenarnya, seseorang yang tengah Zeline telepon saat ini adalah Ayahnya.
"Bagaimana galerinya? Apa kamu suka?" tanya Ayah, jauh disana.
Zeline mengerucutkan bibirnya. "Sudah aku bilang aku bisa mengurusnya sendiri. Kenapa Ayah terus ikut campur dan memberiku kemudahan dalam segala hal?" kesal Zeline, karena tempat tersebut sengaja Ayahnya sewakan untuk pamerannya yang akan dilaksanakan pada bulan depan.
"Tapi kamu menyukainya, bukan?"
"Tentu saja," jawab Zeline cepat, sambil tersenyum.
Jemari tangan Zeline bergerak menyentuh pahanya yang terekspos karena hanya memakai rok di atas lutut. Wanita itu merunduk dan mulai berbicara kembali dengan perlahan.
__ADS_1
"Kapan.. Ayah pulang dari Singapura?" tanyanya, karena ia sangat merindukan Ayahnya.
"Ayah akan melakukan penerbangan ke Dubai hari ini. Mungkin beberapa hari Ayah akan berada disana untuk mengurus beberapa hal." Ayah menjawab, tapi jawaban tersebut membuat Zeline sedih.
"Kamu tenang saja, Ayah pasti akan datang ke acara pameranmu," lanjutnya, sontak Zeline pun kembali tersenyum.
"Janji? Aku akan menagih janji itu dan awas saja jika Ayah tidak benar-benar pulang ke Jakarta!" ancam Zeline dengan nada suara yang membuat Ayah gemas jauh disana.
"Ayah berjanji. Kamu bisa menghukum Ayah jika mengingkari janji."
"Aku mengerti." Zeline tersenyum senang.
Telepon itu tidak berlangsung lama sebab Ayah terlalu sibuk untuk melakukan panggilan tersebut. Setidaknya ia memiliki waktu untuk berbicara dengan Ayahnya meski sebentar, Zeline begitu senang saat ini terlebih saat mendengar Ayahnya akan pulang sebelum bulan depan untuk melihat pameran lukisnya.
Hari ini masih panjang, tapi Zeline sudah bosan saja dan bingung untuk melakukan apa. Ia tidak segera pulang ke rumah, melainkan pergi ke salah satu restoran ayam.
Sebenarnya ia datang sendirian, tapi dalam beberapa menit lagi seseorang akan datang menemaninya disana.
Benar saja. Zeline tersenyum dan melambaikan tangannya pada Nala yang tiba disana. Air muka wanita itu tampak tak terlalu senang, ia pun terduduk di hadapan Zeline.
"Aku menunda kencanku dengan Rayan untuk menemuimu," sindir Nala.
Zeline menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan agar tidak tertawa karena merasa lucu melihat ekspresi Nala.
"Kamu bilang kamu akan melakukan apapun untukku selama sebulan," sindir balik Zeline, tidak bisa Nala sangkal.
"Aku hanya sedang kesepian."
Nala menatap sahabatnya, bergegas ia menarik lengan Zeline. "Aku ada disini. Jangan bicara seperti itu! Sial, aku jadi sedih karena kamu mengatakan itu!" Nala yang sudah mengerti perasaan Zeline kini menangis tanpa sebab.
"Eih, jangan menangis. Bagaimana jika orang-orang mengira aku membuatmu menangis!" perintah Zeline, menatap sekitarnya dengan was-was.
Wanita itu mengangkat kepalanya sambil mengelap pipinya yang basah, mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis lagi. Berhasil menghentikan air mata itu, Nala kembali memandangi Zeline.
"Jadi kamu mau pesan apa? Biar aku yang traktir!" tanya Nala, bersemangat.
"Aku mau makan spageti," jawab Zeline.
Senyuman Nala perlahan memudar, pandangannya mengedar, memastikan bahwa dirinya tidak salah masuk restoran. Saat ini dia berada di restoran ayam, lantas mengapa Zeline menjawab demikian.
"Kita.. tidak bisa pesan spageti disini," jelas Nala, berhati-hati.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu memintaku datang kesini?!" tanya Nala, mulai beremosi kembali.
"Aku hanya suka aroma ayam goreng," jawab Zeline dengan santainya.
Wanita itu bangkit dari posisi duduknya, meraih tasnya dan bersiap untuk pergi. Berbeda dengan Zeline, saat ini Nala memandang kesal sahabatnya yang memasang wajah polosnya itu.
"Kamu tidak akan pergi?" tanya Zeline, bingung sebab Nala masih terduduk disana.
"Aku membuat perjanjian bahwa kamu bisa meminta apapun padaku bukan membuatku kesal, bukan?" Nala memegang dadanya dan menepuknya pelan, mencoba tidak berucap kasar karena ia bukan wanita yang seperti itu.
"Apakah aku membuatmu kesal?" tanya Zeline, masih berlagak polos. Tapi sebenarnya dia memang sengaja mengerjai Nala karena merasa senang setiap melihat sahabatnya itu kesal karena ulah dirinya.
Nala menutup mulutnya, melemparkan senyuman yang jelas-jelas ia paksakan. Wanita itu menggeleng, lalu bangkit berdiri mendekati Zeline.
"Tidak, kamu tidak membuatmu kesal," geram Nala, sambil merangkul pundak Zeline.
"Hei, jangan merangkul terlalu kencang. Kamu mencekikku!" pekik Zeline, mengadu.
"Apakah aku mencekikmu?" balas Nala, yang kemudian mereka berdua pun tertawa dan pergi ke restoran spageti yang sebenarnya.
__ADS_1
..._Bersambung_...