Garis Takdir Untuk Kita

Garis Takdir Untuk Kita
Bab 2 - Bertahan


__ADS_3

Berpakaian rapi, Beryl menatap dirinya di depan cermin besar yang berada di kamarnya. Kedua tangannya bergerak membenarkan kerah kemeja dan dasi berwarna biru kelasi yang ia pakai.


Hari ini ia akan pergi ke acara pernikahan saudara Laras, dan tentunya ia akan pergi bersama istrinya agar keluarga Laras yang melihatnya akan berpikir rumah tangga mereka baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak.


Mengetuk pintu kamar Laras, Beryl membuka suaranya. "Aku tunggu di mobil," katanya, lalu pergi tanpa menemui wanita itu terlebih dahulu.


Menunggu hampir lima menit di dalam mobilnya yang tergolong mobil mahal, pada akhirnya Laras pun datang dengan balutan dress mewah berwarna putih yang membuat dirinya tampak sangat cantik. Tentu saja, karena Laras seorang model.


Laras membuka pintu mobil dan terduduk di samping Beryl. Wanita itu menyandarkan dirinya disana dengan arah pandangan tertuju ke arah kaca, tidak menatap suaminya sama sekali bahkan berbicara padanya.


Tubuh Laras terperanjat tiba-tiba saat ia tersadar Beryl mendekat padanya. "Kamu mau apa?!" pekiknya, bergerak mundur.


"Pakai seatbelt-nya," jawab Beryl, menjelaskan maksud dirinya mendekat pada wanita itu.


Tangan kanan Beryl bergerak menarik seatbelt itu dan memakaikannya, sementara Laras hanya terdiam setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


Beryl membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk melajukan mobilnya. Tapi dirasa ada yang tidak beres, pandangan Beryl terarah pada Laras yang sejak tadi memandanginya. "Ada apa?" tanya Beryl, bingung.


"Tidak. Cepat berangkat!" Laras menghembuskan napasnya, ia kembali dengan posisi tadi, membelakangi Beryl.


Perjalanan dari rumah menuju tempat acara pernikahan terbilang cukup jauh dan memakan banyak waktu. Sesampainya mereka disana, keduanya pun langsung mulai memainkan perannya. Seolah mereka adalah pasangan suami-istri yang romantis.


Laras datang sambil bergandengan dengan Beryl. Banyak keluarga Laras yang datang ke acara tersebut, mereka berkumpul bersama dan mengajak pasangan tersebut untuk ikut bergabung dengan mereka.


Berbincang-bincang, Laras dan Beryl hanya diam duduk mendengarkan apa yang para orang tua perbincangkan. Sampai akhirnya, mereka menjadikan dirinya sebagai topik pembicaraan yang baru.


"Apa kamu masih belum hamil?" Salah satu anggota keluarga bertanya pada Laras. Dia adalah Nyonya Medyna, Tante Laras yang sangat tidak disukai wanita itu karena sifatnya yang angkuh dan menyebalkan.


Laras tersenyum gusar. "Apakah salah jika aku belum hamil?" tanya balik Laras.


Nyonya Medyna tertawa anggun, ia rasa Laras sangatlah lucu. Berhenti tertawa, ia kembali berbicara pada sepupunya itu.


"Apa keluarga kalian tidak harmonis? Atau kamu tidak bisa punya anak? Aku sangat khawatir karena kalian sudah menikah tiga tahun yang lalu." Perkataannya yang menyebalkan membuat semua yang terduduk di meja yang sama langsung menatap padanya.


"Medyna! Jaga ucapanmu!" Ibu Laras menyanggah, merasa tak pantas dengan apa yang dikatakan adiknya.


"Tapi bisa saja itu benar. Bahwa mereka tidak bisa memiliki anak." Wanita berumur itu tersenyum, tak memikirkan perkataannya.


Laras mengepalkan tangannya, ia sangat marah pada wanita tua itu. Namun, seketika Beryl menggenggam tangannya. Wanita itu menoleh, memandangi Beryl yang kini tersenyum sangat manis padanya.


"Maaf, Tante. Kita memang sudah menikah lama dan belum memiliki anak, tetapi ini semua adalah keputusan kita yang sudah pikirkan matang-matang. Laras seorang model, aku tidak mau mengganggu karier istriku karena Laras sangat menyukai pekerjaannya." Beryl menjawab, membuat semua orang diam dan melihatnya.


"Jika nanti memang sudah waktunya.." Beryl berucap sambil menatap Laras dengan romantis.


"..Kita pasti akan memiliki anak yang cantik dan tampan seperti kedua orang tuanya," lanjutnya.


Semua orang langsung ramai karena sikap Beryl yang sangat manis pada istrinya. Mereka semakin yakin Beryl dan Laras adalah pasangan cocok dan akan memiliki umur pernikahan yang panjang.


"Iya, sayang." Tangan kanan Laras memegang pipi Beryl dan mengelusnya.


Sontak mereka semakin heboh, tapi tidak dengan Nyonya Medyna. Dia hanya menatap keduanya dengan tatapan tak suka.


Asal kalian tahu saja. Saat ini Laras sedang menahan rasa mualnya. Ia tidak suka melakukan ini, tapi apalah daya karena dia sedang bersama keluarganya.


Berpikir sejenak mengenai apa yang Beryl lakukan padanya, Laras hanya berharap jika pria itu hanya berakting dan tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


Sementara itu, di tempat yang sama. Seorang wanita cantik yang tampak sangat anggun dari kejauhan datang menghampiri Sang mempelai wanita yang sedang berdiri menyapa para tamu undangan. Dia adalah Zeline, wanita itu tampak sangat senang datang ke acara tersebut.


"Kak Oliv." Zeline menyapa, membuat Sang empu nama menoleh dan tersenyum padanya.


"Zeline."


Keduanya heboh dan saling merangkul.


"Selamat atas pernikahannya," kata Zeline, ikut senang.


"Terima kasih sudah datang, adik manisku." Oliv mencubit pipi Zeline karena merasa gemas pada wanita itu.


Mereka memang cukup dekat karena berada di satu SMA yang sama. Oliv adalah kakak kelas Zeline dahulu, dan mereka saling mengenal karena mengikuti ekstrakulikuler yang sama dan mulai mengenal dengan waktu yang lama.


"Aku datang agar kakak juga datang ke pameranku," candanya.

__ADS_1


"Aku akan datang. Aku akan datang." Olive memegang kedua tangan Zeline dan berbicara dengan nada gemas padanya.


Zeline tertawa kecil. "Aku bercanda. Aku datang karena ingin melihat wajah cantikmu saat memakai gaun pengantin." Mata Zeline tampak bersinar, dia sangat senang saat ini.


"Aku harap aku juga segera melihat betapa cantiknya kamu memakai gaun pengantin," sahut Oliv, lantas Zeline pun membuang wajahnya.


"Eih, kenapa kakak membahas itu. Aku hanya fokus pada karierku, tidak yang lain!" tegas Zeline.


"Umurmu sudah sangat pas untuk menikah."


"Aku akan menunggu beberapa tahun lagi."


"Zeline Zakeisha."


"Kakak saja menikah di usia 30, aku masih memiliki beberapa tahun lagi menuju umur 30 tahun."


"Kau ini." Oliv memukul pelan lengan Zeline. Zeline memang belum berubah dari yang pertama kali ia temui, dia hebat dalam menjawab perkataan lawan bicaranya.


"Aku doakan agar kamu bisa bertemu dengan pria yang baik, yang akan mencintai kamu seumur hidupnya," harap Oliv, lantas Zeline pun menutup matanya dan tersenyum seraya berucap.


"Amin."


Mereka mengobrol cukup lama, sembari melepas rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu. Langkah seorang pria tertuju ke arah mereka, Beryl menyapa Oliv dari kejauhan karena wanita itu melihat padanya.


"Aku akan segera kembali." Zeline berpamitan terlebih dulu dan berbalik untuk pergi.


Berjalan berpapasan, Zeline sudah pergi dan Beryl datang untuk memberikan ucapan pada pengantin. Pengantin pria pun datang setelah mengobrol dengan tamu undangan yang lain. Beryl berbincang-bincang pada keduanya tanpa ditemani Laras.


Saat ini Laras berdiri seorang diri di dekat jamuan untuk para tamu. Diteguknya minuman yang sudah disediakan, sampai habis. Laras terus memikirkan sesuatu, sebuah mimpi yang rasanya seperti benar-benar terjadi.


Ia bermimpi aneh di malam saat dirinya mabuk. Di mimpinya, ia mendapatkan kecupan manis dari Beryl, dan itu terasa sangat nyata.


"Apa dia benar-benar melakukannya? Apa itu hanya ilusiku karena sedang mabuk?" Laras berbincang seorang diri.


"Laras."


Kepala Laras menoleh ke sumber suara dan mendapati Ibunya yang kini tengah berjalan mendekatinya.


"Apa kamu sama sekali tidak memikirkan apa yang dikatakan Tante-mu tadi?" tanya balik Ibu, membuat kening Laras berkerut tak paham.


Ibu menghela napas sambil membenarkan rambutnya yang tertiup angin. "Apakah yang dikatakan Tantemu itu benar? Apa kalian tidak bisa punya anak?!" tanyanya, agak menyentak.


"Ibu!" tegur Laras.


"Kalian sudah tiga tahun menikah. Berapa tahun lagi Ibu menunggu untuk mendapatkan cucu? Kamu anak satu-satunya Ibu, dan Ibu sangat berharap banyak padamu."


Laras terdiam mendengar itu.


"Apa mungkin.. Beryl memang tidak pernah menyentuhmu?" tebak Ibu, membuat mata Laras membulat.


"Berhentilah beromong kosong. Mas Beryl sudah menjelaskan alasannya tadi, seharusnya Ibu paham dan berhenti memikirkan hal aneh seperti itu!" tegas Laras, langsung pergi dengan perasaan berkecamuk.


Apa yang Ibunya katakan tadi memang tidak salah. Laras memang tidak memperbolehkan Beryl menyentuhnya, karena dia masih menyimpan rasa pada kekasihnya, Jerome.


Laras tidak bisa mendapatkan restu dari kedua orang tuanya untuk Jerome dan dengan tiba-tiba mereka memberitahukan perjodohan dirinya bersama Beryl.


Acara belum selesai, tapi Laras sudah meminta Beryl untuk pulang karena dia tidak suka berada di tempat ramai seperti itu, terlebih dirinya harus terus berakting menjadi pasangan bersama Beryl.


Beryl mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tatapan pria itu lurus ke depan. Tak ada yang mereka bicarakan sejak tadi, beginilah yang terjadi saat mereka bersama. Hanya keheningan dan suara mesin mobil yang dapat mereka dengar saat ini.


"Kamu turun disini?" Beryl menepikan mobilnya, berhenti di tempat yang Laras pinta di awal.


"Kamu harus ingat, apa yang terjadi disana hanya akting tidak sungguhan." Laras meraih tasnya dan kembali menegaskan pada Beryl atas apa yang terjadi di acara tadi. Laras hanya tidak mau pria itu salah paham.


Beranjak pergi dan menutup pintu mobilnya, Laras terdiam beberapa saat sambil melirik kanan-kiri untuk menyeberang. Di seberang sana sudah ada mobil yang menunggunya sejak tadi.


"Tunggu." Beryl keluar dari mobilnya dan menghampiri Laras yang masih berdiri di tempatnya.


Laras hanya diam, menatap aneh pria itu.


"Aku hanya mengingatkan agar kamu tidak pulang larut. Telepon saja aku jika ada apa-apa," anjur Beryl, tapi Laras hanya menjawabnya dengan decakan dan kalimat yang tidak sepatutnya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak peduli." Laras menyeberang dan pergi begitu saja.


Ditatapnya wanita itu dari kejauhan, pandangan Beryl kini dipertemukan dengan seorang pria yang keluar dari mobil berwarna abu tersebut. Dia Adalah Jerome, kekasih Laras.


Jerome membukakan pintu dengan mesra untuk Laras, lantas masuk setelah melempar tatapan benci terlebih dahulu pada Beryl yang berada di ujung jalan sana.


Setidaknya Beryl tahu dengan siapa Laras bepergian, pria itupun kembali masuk ke dalam mobil dan melanjukannya menuju rumah. Dia tampak seperti orang bodoh, itulah yang dipikirkan oleh Laras dan Jerome.


Dua orang itu kini tengah menggunjingkan Beryl, Jerome terus saja menghina pria itu karena merasa sangat bodoh meski tahu istrinya berselingkuh selama ini.


"Kenapa kamu tidak ceraikan saja dia? Kita bisa melarikan diri ke luar negeri dan hidup bahagia berdua disana," saran Jerome, sontak Laras langsung menoleh padanya.


"Kamu gila? Ayahku politikus dan aku seorang model. Jika aku yang menceraikan Beryl dan pergi melarikan diri seperti itu, akan seperti apa keadaan keluargaku nantinya? Dan juga nama baikku pasti akan tercoreng hanya karena melakukan hal bodoh seperti itu!" jawab Laras, terdengar marah.


Jerome menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, membuat Laras terkejut setengah mati karena itu.


"Apa kamu sudah gila?! Kamu mau membuatku mati?!!" Laras membentak laki-laki itu karena sangat syok.


"Hal bodoh? Apa selama ini kamu menganggap semua yang kita lakukan itu hanya sebatas hal bodoh? Apa kamu tidak benar-benar mencintaiku?!" Jerome balas membentak kekasihnya, ia begitu marah atas apa yang Laras utarakan tadi.


"Jerome.." Laras meraih tangan pria itu, bermaksud menenangkannya.


"Aku minta maaf, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku sangat mencintai kamu, kamu juga tahu itu, bukan?" cicitnya, tak mau Jerome marah.


"Aku tahu." Jerome menghela napas perlahan, ia merasa bersalah juga karena sudah membentak Laras. Bagaimana pun dia sangat mencintai wanitanya, lebih dari segalanya.


Laras tersenyum samar, ia membelai pipi Jerome.


"Aku berjanji kita akan hidup bersama. Aku ingin Beryl yang menceraikanku, bukannya aku. Kamu pasti tahu maksud aku, sayang." Jerome tersenyum setelah Laras berkata demikian.


"Aku akan menunggu waktu itu tiba," balas Jerome, mengelus puncak kepala Laras.


"Apa kamu masih marah?" tanya Laras, memastikan.


"Tidak."


"Aku akan menginap di rumahmu malam ini agar kamu tidak lagi marah. Bagaimana?"


"Tentu, aku akan senang."


Sekalipun Laras tidak pernah memikirkan perasaan suaminya. Sepatutnya ia segera menceraikan pria itu, alih-alih berselingkuh karena tidak mencintainya. Tapi nama baiknya lebih penting dari itu, jika media tahu bahwa dirinya menceraikan Beryl dan berselingkuh selama ini, dirinya pasti akan hancur.


...****************...


Suara dentingan tercipta dari sendok yang tengah berputar di dalam cangkir berisikan teh hangat. Beryl terduduk di mini bar rumahnya seorang diri, langit cerah telah berganti dengan kegelapan yang semakin larut.


Ia sangat kelelahan setelah pulang dari tempatnya bekerja, teh hangat yang menemaninya kali ini bermaksud untuk menghilangkan sedikit rasa penatnya.


"Sampai kapan aku akan seperti ini?" gumamnya.


Sejatinya Beryl ingin bahagia. Ia ingin semasa hidupnya ditemani oleh seorang wanita yang sungguh-sungguh mencintainya, bukan seperti sekarang. Dahulu, saat ia dipintai untuk menjalani perjodohan kedua orang tuanya, dia berharap wanita yang dijodohkan adalah wanita yang cocok untuk dirinya.


Tapi ternyata ia salah.


Drtt


Suara ponsel yang bergetar, membuyarkan lamunannya. Tangan Beryl bergerak meraih ponselnya yang tersimpan di atas meja bar, dilihatnya pesan dari seseorang yang membuat dirinya terkekeh kecil karena kelakuannya.


Hari minggu ikut denganku. Jangan sampai lupa.


23:15


Apalagi jika bukan Rayan, pria itu selalu memberinya pesan dan mengingatkannya setiap hari agar Beryl ikut ke kencannya tanpa berubah pikiran.


Beryl mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada Rayan, setelah itu ia bangkit berdiri dan mengambil cangkir teh-nya untuk ia bawa ke dalam kamar.


Ini sudah malam, Beryl harus cepat beristirahat.


Menjadikan kamar sebagai tempat tujuan, namun belum sampai kesana, Beryl menghentikan langkah kakinya tepat di depan lukisan yang sangat ia sukai.


Beryl tersenyum, lukisan itu selalu menenangkan hatinya. Beryl mungkin harus menemui Sang pelukis dan berterima kasih kepadanya. Karena lukisan itu, dirinya selalu bahagia.

__ADS_1


..._Bersambung_...


__ADS_2