
Sebuah mobil dengan lampu yang masih menyala berada di parkiran luas apartemen. Saat lampu dimatikan, kondisi parkiran itupun menjadi agak gelap hanya dicahayai beberapa lampu kecil yang tidak terlalu terang.
Seseorang keluar dari dalam mobil tersebut, lalu berjalan ke sisi yang lain untuk membukakan pintu mobil teruntuk wanita yang sangat ia cintai. Itu adalah Laras, ia datang bersama Jerome dan bermaksud untuk main di rumahnya.
Setahunya, Beryl selalu pulang larut dan berpikir pasti pria itu belum pulang saat ini. Itulah alasan mengapa Laras membawa Jerome ke tempat tinggalnya.
Keduanya tampak senang, saling merangkul satu sama lain dengan tangan Jerome yang menenteng sesuatu.
Bisa dikatakan Jerome termasuk pria yang nekad, bagaimana tidak, sebab pria itu masih saja mendekati Laras meski wanitanya sudah menjadi milik pria lain. Seumur hidupnya, Jerome tidak akan pernah rela jika Laras hidup bahagia dengan pria selain dirinya. Begitupula sebaliknya.
"Tunggu sebentar disini, aku akan mengganti pakaianku," titah Laras, menyuruh Jerome untuk menunggunya di ruang tengah. Pria itu mengangguk patuh dan terduduk disana.
Benar saja jika Beryl belum juga tiba di rumah, itu membuat Jerome tenang karena ketiadaan pria tersebut.
Jerome mengangkat kantong belanjanya yang cukup besar, mengeluarkan beberapa snack yang ia beli sebelum dirinya datang ke rumah Laras.
"Aku sungguh berpikir aku suaminya," monolog pria itu, sambil menata makanan ringan tersebut di atas meja.
Tak menunggu lama, Laras sudah kembali dengan setelan yang berbeda. Memakai sweater oversize berserta celana pendek sepaha dengan rambut yang terikat asal, membuat bibir Jerome terbuka lebar karena kecantikan kekasihnya itu.
"Berhentilah menatapku seperti itu!" Laras mendorong pipi Jerome agar tidak terus memperhatikan dirinya.
Jerome tertekekeh, pandangannya tak bisa beralih dari wanita cantik yang kini duduk di sebelahnya.
"Aku terus berpikir siapa pemilik wanita cantik ini?" goda Jerome, memeluk tubuh Laras dari samping.
Mendapatkan gombalan dari kekasihnya, Laras pun tersenyum dengan pipi merona. Diusapnya lengan Jerome yang masih mendekap dirinya.
"Milikmu?" jawab Laras, yang disaat itupula ia mendapatkan kecupan manis di bibirnya.
"Akan selalu menjadi milikku!" tegas Jerome, mencolek batang hidung Laras yang runcing.
Mereka berdua kini membenarkan posisi duduknya masing-masing, tujuan utama mereka adalah menonton netflix bersama di rumah Laras dan kini wanita tersebut segera mencari saluran film yang akan mereka tonton malam ini.
Film romansa berdurasi dua jam lebih telah mereka putar. Laras dan Jerome terduduk berdekatan di sofa dengan menghadap ke televisi besar yang ada di hadapan mereka.
Laras nampak fokus pada film yang ia tonton, tapi Jerome tak bisa fokus dan malah menjadikan Laras titik objek pengamatannya.
"Mau keripik singkong?" tawar Laras, mengarahkan makanan ringan tersebut ke dalam mulut Jerome. Pria itu mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan mata yang masih tertuju pada Laras.
Jerome memiringkan sudut bibirnya, menyandarkan kepalanya di bahu kecil Laras dan merasakan aroma wangi tubuh wanita tersebut.
"Kepalaku sangat pusing karena terus memikirkanmu," gumam pria itu, membuat Laras menoleh ke samping.
"Aku hanya ingin saat saat kita bersama tidak akan pernah berakhir. Kita akan hidup bersama di masa depan dan memiliki anak yang akan kita asuh dengan penuh kasih sayang," lanjutnya, sedikit mendongak untuk bisa memandangi wajah Laras.
"Fokuslah pada film-nya!" balas Laras, yang sejujurnya tak bisa menahan senyumannya karena perkataan Jerome barusan.
Jerome mengangkat kembali kepalanya, namun masih terarah pada Laras. Pria itu mendekati telinga Laras sembari membisikan sesuatu, "Aku tidak bisa fokus karena dirimu." Diciumnya telinga tersebut, membuat Sang empu bergidik geli juga karena bisik rayu yang Jerome ucapkan.
Laras memandangi Jerome, wajah pria itu sudah memerah. Kedua mata Jerome terlihat sayu, begitu menyihir dirinya hanya dengan tatapan tersebut.
Laras mengerti apa yang pria itu inginkan, bahkan sekarang Jerome sudah memegang tengkuknya dan mulai menghilangkan sedikit demi sedikit jarak diantara mereka.
Mata Laras mulai terpejam saat Jerome mulai menyapu permukaan bibirnya dengan lembut. Sentuhan tangan pria itu di wajahnya terasa sangat panas, entah Jerome demam atau tubuhnya terbakar karena sekarang ini.
Perlahan, Laras membuka matanya saat dirasa ciuman tersebut menjadi lebih menuntut. Laras kesulitan untuk bernapas karena pasokan udara di paru-parunya mulai menipis, sampai seketika wanita itupun memukul dada Jerome memberi isyarat.
"Huft.." Laras dapat bernapas lega sekarang, wajahnya yang merah merona membuat Jerome semakin gemas pada wanitanya.
"Tidak bisakah kamu jangan terlalu cantik? Aku hampir gila setiap melihat kecantikanmu," ucap Jerome, sambil mengecup pelipis Laras, bergerak ke pipi dan berakhir pada leher wanita itu.
__ADS_1
Seolah dipengaruhi obat, Jerome tidak bisa menahan dirinya saat ini.
Sementara di luar sana, Beryl baru saja keluar dari dalam lift apartemen. Tubuhnya terasa sangat penat, ia ingin sekali segera merebahkan tubuhnya di ranjang untuk beristirahat. Berjalan di lorong yang sangat sepi, akhirnya Beryl sudah sampai di depan rumahnya.
Ia buka pintu tersebut, dan masuk ke dalam rumah. Melepas sepatu yang ia pakai, Beryl berjalan masuk sambil menghela napas.
Diam.
Beryl mematung di tempat saat dilihatnya seorang wanita dan pria yang ada di depannya itu tengah bercumbu penuh gairah, merusak pandangannya. Tangan Beryl terkepal, menahan rasa amarah karena melihat tingkah istrinya bersama pria lain.
"LARAS!" ruahnya, membuat keduanya langsung menghentikan kontak fisik mereka saat itu juga.
Laras agak terkejut, tapi ia pun menghela napas karena ternyata itu hanyalah Beryl. Sungguh tidak tahu malu, kini Jerome tersenyum dan menyapa Beryl yang sudah pulang. Ia memang menunggu hal ini terjadi, sepertinya akan seru melihat ekspresi Beryl saat tahu istrinya bermain api dengan dirinya.
"Kau tahu yang kamu lakukan itu salah?!" Beryl bergerak mendekati mereka dengan suaranya yang tinggi.
Bukannya merasa bersalah ataupun khawatir akan perasaan suaminya, Laras malah memutar bola batanya malas meladeni Beryl. Tidak sedikitpun Laras memedulikan perasaan Beryl, bahkan ia juga tak peduli dengan raut wajah suaminya yang sangat marah saat ini.
"Kamu sudah melanggar perjanjian kita!" gerutunya, namun Laras tak ada juga mengindahkannya.
"KAU TIDAK MENDENGARKANKU?!" bentaknya, yang saat itu juga Jerome langsung bangkit dan menghampirinya.
"Apa kamu selalu seperti itu pada wanitaku?" Jerome menepuk dada Beryl dengan punggung tangannya.
Beryl menatap sinis pria yang kini tersenyum miring padanya.
"Tidakkah kau malu mengakui wanita yang sama sekali bukan milikmu!" Perkataannya barusan membuat Jerome marah, sampai-sampai ia menarik kerah baju Beryl dan mengangkatnya.
"Jaga bicaramu!" tekan Jerome, menggertakkan giginya.
Tak ada respon dari Beryl, pria itu hanya diam memandangi pria yang tampak ingin sekali menghajarnya.
"HENTIKAN!" pekik Laras, melerai keduanya.
Bisa-bisanya Beryl mengatakan hal tersebut, Laras hanya miliknya sampai kapanpun.
"Bisakah kamu pergi dulu? Ada yang ingin aku bicarakan pada Beryl!" pinta Laras pada kekasihnya.
Jerome menghela napas kasar, dan pergi dengan perasaan berkecamuk. Saat pintu tertutup, hanya mereka yang kini berada di dalam ruangan tersebut. Laras menatap dingin Beryl, juga sebaliknya.
"Perkataanmu tadi pada Jerome sungguh tidak pantas," singkap Laras, membuat Beryl kini tertawa kecil padanya.
"Yang tidak pantas itu, apa yang baru saja kamu lakukan bersama pacarmu disini," balasnya.
"Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya? Aku tidak peduli bahkan jika kamu tidur sekalipun dengan pacarmu. Tapi.. jangan lakukan itu disini! Bagaimana jika orang tuamu atau orang tuaku datang secara tiba-tiba dan melihat itu, sama seperti yang baru saja aku lihat. Aku rasa kamu yang akan paling rugi," beber Beryl.
Plak.
Laras menampar pipi kiri Beryl, ditatapnya pria yang tingginya lebih dari dia.
"Kenapa kamu sangat tidak tahu diri? Kau lupa ini rumah siapa? Apa berhakmu melarangku?!" emosi Laras.
"Ayahku yang membeli apartemen mewah ini. Dan dia juga yang membantumu sampai kau sesukses ini!" Laras menuding Beryl yang masih berdiri di hadapannya.
"Siapa yang paling diuntungkan dalam pernikahan ini? Kenapa kamu bersikap angkuh dan melupakan semuanya," sambungnya.
Laras menggerakan kakinya satu langkah untuk lebih dekat pada Beryl. Diraihnya dasi pria itu, kedua tangannya yang lentik mencoba membenarkan kerah baju Beryl yang berantakan karena ulah Jerome tadi, lalu ia tarik dasi pria itu hingga Beryl mendongakkan kepalanya.
Berjinjit, Laras mendekatkan wajahnya ke telinga Beryl untuk mengatakan sesuatu.
"Jika bukan karena keluargaku.. keluargamu akan bangkrut dan kalian mungkin akan hidup susah," bisiknya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memperingatkan. Jangan pernah melewati batasanmu.." Laras menyeringai, lalu mundur menjauhkan dirinya dari Beryl.
Tak peduli pria itu marah atau tidak, Laras kini beranjak keluar untuk pergi menemui Jerome yang pastinya masih menunggu dirinya di parkiran.
Sepertinya malam ini ia akan menginap di rumah kekasihnya, karena berada di rumah hanya akan membuat dirinya semakin kesal pada Beryl.
Beryl masih mematung di tempat, tangannya terkepal kuat menahan emosi yang sudah membara karena ucapan yang Laras lontarkan. Jika saja dia bukan seorang wanita, Beryl sudah pasti langsung menghajarnya tanpa ampun.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Beryl, matanya memandangi snack yang berantakan di atas meja serta televisi yang masih menayangkan film dan belum mereka matikan.
Tangan kiri pria itu bergerak melonggarkan dasi yang ia pakai, ia matikan televisi tersebut dan pergi ke kamar tanpa membereskan makanan ringan yang berserakan itu terlebih dulu.
Ia sudah sangat lelah, memikirkan kembali perilaku Laras akan semakin membuat kepalanya pening tak karuan.
Untuk saat ini, Beryl mencoba untuk menenangkan dirinya di kamar.
...****************...
Seseorang tidur berselimut di atas ranjang berukuran sedang, tubuhnya yang kecil mulai bergetar meski matanya masih mengatup karena tertidur.
Zeline menautkan kedua tangannya di atas bantal, keringat dingin mulai bercucuran membasahi permukaan wajahnya.
Dalam hitungan detik, sepasang mata yang cantik itu terbuka. Napas Zeline tersenggal, dadanya naik turun mencoba untuk tenang.
Wanita itu merasa tenang karena itu hanya mimpi buruk, tapi juga ada rasa kesal karena dia tidak bisa tidur dengan tenang setiap malamnya.
Tubuh Zeline bergerak untuk duduk di atas ranjang, kepalanya menengok ke samping, melihat pemandangan luar sana melalui jendela besar kamarnya yang sengaja tidak ia tutup dengan tirai.
Zeline selalu mematikan lampu kamarnya dan menjadikan cahaya rembulan di luar sana sebagai lampu tidurnya.
"Tidak bisakah aku tidur dengan tenang," lirih Zeline, memeluk lututnya yang masih diselimut.
Zeline menumpahkan tangisan di malam yang hening itu, ia merasa kesepian, ia merasa sedih dan mencemaskan suatu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Wajah wanita itu kembali terangkat, pipinya basah karena menangis. Yang ia inginkan saat ini hanyalah ketenangan, Zeline ingin tidur dengan tenang dan berhenti bermimpi buruk.
Ditatapnya bulan yang berbentuk bulat sempurna tersebut, perasaan Zeline mulai tenang saat melihatnya.
Zeline beringsut untuk mengambil sesuatu dari dalam laci nakasnya. Ia raih obat tidur yang biasa ia konsumsi setiap malam, lantas ia telan satu butir obat tersebut tanpa bantuan air sama sekali.
Semoga saja Zeline bisa tidur tenang setelah meminum obat. Ia baringkan kembali tubuhnya sambil menghadap ke samping. Bibir wanita itu bergumam, menyanyikan sebuah lagu untuk menenangkan dirinya.
Berpikir. Apakah ada orang yang mengalami hal sulit juga saat ini, dan menjadikan pemandangan langit malam sebagai obatnya? Zeline hanya berharap kebahagian bagi dirinya dan orang yang mengalami hal serupa dengannya.
Berhenti bernyanyi. Perlahan mata Zeline mengatup karena efek obat yang membuat dirinya menjadi mengantuk.
Jauh dari sana, ada seorang yang sedang memperhatikan rembulan di luar sana melalui jendela. Beryl melipat kedua tangannya di depan dada, tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari pemandangan indah yang sedang ia tatap saat ini.
Malam semakin larut tapi Beryl tak juga dapat tertidur karena masih memikirkan hal tadi. Beryl ingin cerai, sungguh sangat menginginkannya. Tapi ia kembali memikirkan keadaan Ibunya yang belum juga sembuh dari penyakitnya.
Perkataan Laras tadi begitu membuatnya marah. Bisa-bisanya Laras berpikir semua pencapaian yang selama ini ia lakukan dengan hasil kerja kerasnya itu dianggap hanya karena bantuan Ayahnya.
Baiklah, katakan benar bahwa tempat tinggal yang sekarang ini mereka tempati adalah pemberian dari Ayah Laras sebagai hadiah dari pernikahan mereka.
Tetapi.. Ayah Laras tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang Beryl kerjakan.
Ia berhasil mempertahankan perusahaan Ayahnya yang sempat akan bangkrut, dengan upayanya bukan karena Ayah dari wanita itu.
"Jangan melewati batasan? Seharusnya dia juga tahu kesabaranku ada batasannya," monolog Beryl.
Pria itu berbalik dan berjalan untuk mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang. Digapainya benda tersebut, Beryl sedikit mengotak-atik ponselnya dan berujung menelepon seseorang. Itu adalah sekretarisnya.
__ADS_1
Saat panggilan itu tersambung, Beryl mulai berbicara. "Carikan aku profil tentang pria bernama Jerome Ghazwan, semua tentangnya mulai dari anggota keluarganya, pekerjaannya, dan apa yang sedang ia kerjakan akhir-akhir ini."
..._Bersambung_...