Garis Takdir Untuk Kita

Garis Takdir Untuk Kita
Bab 3 - Menutup kebenaran


__ADS_3

Di dalam ruangan luas, hanya bercahayakan temaramnya lampu, kini Zeline berada. Tangan kanan wanita itu bergerak lembut memberikan sentuhan warna pada kanvas berukuran besar. Kuas itu ia arahkan pada palet yang ia pegang di tangan lainnya, lantas kembali menyalurkan perasaannya melalui lukisan cantik yang ia buat.


Sentuhan terakhir, Zeline tersenyum puas saat dirasa lukisannya sudah sempurna. Ini lukisan terakhir yang ia kerjakan untuk pameran lukisannya pada tahun ini. Zeline senang, ia merasa sangat bahagia meski ada sedikit rasa pedih di hatinya karena teringat pada suatu hal.


Suara ponsel yang berdering membuyarkan semua yang ada di pikirannya. Zeline berbalik, bergerak menghampiri meja tempat ia meletakkan ponselnya.


Semua alat lukisnya telah ia taruh, sementara wanita itu kini tengah membuka apron yang ia pakai. Digapainya ponsel itu dan diarahkan ke telinga setelah ia menggangkat panggilan teleponnya terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanyanya, tanpa berbasa-basi. Sebab seseorang yang sedang ia telepon saat ini adalah Nala, sahabatnya.


"Apa kamu tengah sibuk sekarang?" tanya balik Nala di seberang sana.


"Bukankah itu termasuk pertanyaan retoris, Nona Nala?" sahut Zeline, tersenyum tipis.


Terdengar suara tawa kecil Nala, lalu wanita itu pun kembali menjawab. "Kamu ada di tempat biasa, bukan? Aku akan datang menemuimu. Sibuk atau tidak aku akan datang kesana."


"Memangnya ka-" Belum selesai Zeline berbicara, Nala sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak begitu saja. Zeline menghela napas, menatapi ponselnya.


Sesuai perkataannya tadi, Nala benar-benar datang ke tempat Zeline menemui sahabatnya itu. Wanita dengan kepribadian yang ceria, Zeline selalu melihat Nala tersenyum setiap saat. Karenanya pula Zeline turut merasakan kebahagiaan darinya, jika tidak ada Nala entah akan bagaimana kehidupan yang Zeline jalani.


Membawa Zeline ke suatu tempat yang tidak diberitahukan tempat tujuannya. Zeline kini menatap pasrah tempat yang ia kunjungi setelah tiba disana. Apalagi jika bukan berada di mall, seharusnya ia juga tahu bahwa sahabatnya itu akan membawanya kesana dan ia bisa menolaknya dari awal.


"Seharusnya kamu memberitahu aku akan pergi kesini," kata Zeline, sedikit menggerutu.


Nala menoleh, tangannya bergerak menarik dua sudut bibir Zeline yang sama sekali tidak tersenyum.


"Tersenyumlah, kita harus bersenang-senang hari ini," jelasnya, lantas menarik tangan Zeline untuk masuk ke dalam.


Berada di atas eskalator, Zeline hanya terdiam memandang ke atas. Nala yang tersadar dengan raut wajah itu kini menggamit pipi Zeline dengan telunjuk tangannya, membuat Sang empu menoleh padanya.


Bergerak satu langkah penuh untuk mengakhiri tangga eskalator tersebut, Zeline dan Nala saling beradu tatap.


"Kamu tidak lupa bukan untuk hari besok? Aku harus mencari pakaian untuk kencan esok, jadi temani aku sampai mendapatkannya, oke?" pinta Nala.


"Kamu juga tidak lupa dengan kesepakatan kita, bukan? Waktunya mulai berlaku setelah hari kencanmu," balas Zeline, yang akhirnya tersenyum juga.


Saling berjalan berdampingan, Nala menatap Zeline yang sedikit lebih tinggi darinya.


"Awas, jangan sampai kamu minta macam-macam ya! Apalagi sampai minta aku masak makananmu seharian, mencuci baju, membersihkan rumah, atau bahkan menyemir sepatumu!" gertaknya, membuat Zeline tertawa akan itu.


"Bisa aku atur," canda Zeline.


Tujuan utama Nala pergi kesana adalah untuk mendapatkan pakaian baru untuk kencan hari esok, tapi lihatlah bahwa wanita itu kini malah masuk ke dalam toko tas dan melupakan semuanya.


Nala memang tipikal wanita seperti itu, berbicara akan membeli suatu barang, tapi setelah datang ke tempat berbelanja ia akan membeli banyak barang sampai yang sebenarnya tidak ia butuhkan sekalipun.


Zeline berjalan pelan di dalam toko bernuansa mewah itu, sementara Nala kini sibuk memilih tas dengan ditemani karyawan toko tersebut.


"Zeline," panggil Nala, yang disaat itu juga Zeline menoleh padanya.


Mengangkat tas bermerek berwarna merah terang, Nala kembali berkata. "Apa tas ini bagus?" tanyanya, meminta pendapat sahabatnya.


Anggukan kepala Zeline menjawab pertanyaan itu. Nala pun tersenyum dan langsung memilih barang tersebut tanpa berpikir kembali.


Selesai dari tempat itu, Nala tidak langsung pergi ke toko pakaian. Wanita itu malah pergi ke berbagai toko yang memang sudah Zeline duga sejak awal.


Setiap Zeline datang ke mall bersama Nala, percayalah bahwa hari itu akan menjadi hari yang panjang baginya.


Bergerak ke tempat yang berbeda, Beryl terduduk di kursinya dan tampak sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebab hari esok kesehariannya akan direbut paksa oleh sahabatnya, Rayan.


Hampir berjam-jam ia terduduk di kursi dengan tumpukan berkas yang belum juga ia selesaikan. Beryl rasa ia harus beristirahat sejenak untuk menikmati secangkir kopi agar tubuhnya kembali berstamina.

__ADS_1


Kedua kaki pria itu bergerak di sekitaran ruangannya, ditiupnya kopi yang masih panas di tangan kanannya sebelum akhirnya ia meneguk manisnya minuman tersebut. Tubuh Beryl menghadap pada suatu lukisan yang ia letakkan di ruangannya.


Orang tuanya memberikan ia dua lukisan berbeda padanya setiap tahun dan entah mengapa Beryl begitu menyukai lukisan-lukisan tersebut dan dijadikan obat saat dirinya keletihan.


Pintu ruangannya terbuka, sontak Beryl pun mengarahakan pandangannya ke arah pintu. Pupil mata pria itu melebar, ia kebingungan saat pandangannya dipertemukan dengan keberadaan Ayahnya disana.


"Ayah, ada apa kemari?" tanya Beryl, ada rasa senang pula saat ia bertemu Ayahnya setelah sekian lama.


"la felicità arriverà presto."


Dahi pria itu berkerut karena tak paham dengan apa yang Sang Ayah katakan barusan. Pria berumur itu datang mendekati putranya yang begitu ia rindukan.


"Kebahagiaan akan segera datang. Itu judul lukisannya," jelasnya, sambil menepuk pundak Beryl.


"Sepertinya kamu sangat menyukai lukisan pemberian kami," kiranya, lantas Beryl pun mengangguk sembari tersenyum pada pria itu.


Kedua pria itu memandangi karya seni lukis bertemakan pemandangan suatu kota di Italia beraliran impresionisme yang di lukis dengan begitu indah. Beryl tersenyum merekah, bibir pria itu terbuka untuk menanyakan sesuatu pada Ayahnya.


"Apa pelukisnya teman dekat Ayah?"


Ayah menggeleng. "Bukan, dia anak kerabat Ayah. Mungkin umurnya hampir sama denganmu," jawabnya, sontak Beryl pun membulatkan matanya tak menduga.


"Benarkah? Aku kira senimannya seumuran Ayah," reaksi Beryl, masih tak percaya karena ternyata perkiraannya selama ini salah.


"Bagaimana kabar Laras?" tanya Ayah, merubah ekspresi Beryl dalam sekejap.


Cepat-cepat Beryl tersenyum kembali meski sempat memasang wajah datar setelah mendengar nama Laras, bagaimana pun ia tidak mau Ayahnya curiga.


"Dia baik-baik saja," jawabnya, sambil tersenyum meski agak memaksakan.


"Ajak dia makan malam. Ayah dan Ibumu sudah memesankan tempat untuk malam ini, Ibumu juga bilang sangat merindukan anak dan menantunya," ujarnya, sembari berjalan-jalan di ruangan tersebut.


Beryl hanya diam tak menjawab.


"Sepertinya Laras tidak bisa ikut."


Tubuh Ayah berbalik cepat saat mendengar perkataan Beryl. Memang benar jika Laras pasti tidak bisa ikut meski Beryl meminta atau memaksanya pula. Sebab wanita itu kini sedang berlibur di luar kota bersama Jerome. Beryl tidak melarangnya dan membiarkannya pergi begitu saja, karena ada satu kesepakatan yang mereka buat bersama.


Tak ada larangan meski bertemu bahkan juga berkencan dengan lawan jenis.


Perjanjian itu masih berlangsung sampai saat ini.


"Kenapa?" tanya Ayah, agak kecewa.


"Ayah pasti tahu jelas bahwa Laras seorang model yang memiliki jadwal padat. Aku akan mengajaknya, tapi tidak ada jaminan dia akan ikut karena sibuk," terang Beryl, berbohong di akhir kalimatnya.


Ayah mengangguk mencoba memahami keadaannya. "Hm, baiklah. Ayah paham dia pasti sangat sibuk, tapi kamu bisa datang, bukan? Ibumu akan kecewa karena Laras tidak datang apalagi jika kamu juga sampai tidak hadir," pinta Ayah.


"Aku mengerti. Tenang saja, aku akan selesai lebih awal dan datang untuk makan malam bersama," jawab Beryl, menerima ajakan tersebut.


...****************...


Janji adalah janji.


Beryl kini tiba di sebuah restoran yang sudah ditujukan Ayahnya. Memasuki tempat luas itu, Beryl disapa ramah oleh para pegawai restoran.


Tangan pria itu menenteng paper bag yang berisikan suatu barang yang diketahui adalah minuman vitamin untuk kedua orang tuanya. Tidak mungkin ia datang dengan tangan kosong, terlebih sudah lama ini ia tidak menemui mereka berdua.


Tak perlu menemui resepsionis untuk menemukan kedua orang tuanya disana, sebab pandangan Beryl langsung dipertemukan dengan mereka. Datang dengan senyuman yang hangat, Beryl ikut bergabung dengan mereka disana.


"Bagaimana kabar Ibu?" Beryl memeluk wanita berumur itu dan mencium pucuk kepalanya, melepaskan perasaan rindu pada sosok Ibunya.

__ADS_1


"Ibu baik, bagaimana denganmu?" tanya balik Ibu, dengan tatapan teduhnya.


"Selalu baik," jawabnya, mendaratkan bokongnya di atas kursi.


Pandangan wanita itu mengedar, seolah mencari seseorang yang tidak ia temukan keberadaannya. Beryl yang paham pun langsung berkata padanya, "Laras tidak bisa datang karena sibuk. Maaf.." pelannya, sementara Ibu hanya tersenyum.


"Ibu paham, yang terpenting kamu datang dan Ibu sangat senang," sahutnya.


Beryl tersenyum, ia menggenggam tangan Ibundanya yang sudah berkerut. Hanya satu hal yang pria itu inginkan saat ini, ia ingin Ibunya cepat pulih kembali dari penyakitnya. Wanita itu sudah berumur dan kini berakhir terduduk di atas kursi roda karena penyakitnya.


Dunia ini begitu tidak adil baginya. Mengapa kebahagiaan selalu menghampiri banyak orang, terkecualikan dirinya. Terkadang Beryl berpikir seperti itu, tapi ia juga berpikir mungkin akan ada saatnya ia dapat merasakan manisnya kehidupan setelah sekian lama hanya ia rasakan pahitnya saja.


Itu akan tiba. Beryl yakin.


Disantapnya makanan yang sudah tersedia di hadapan mereka. Beryl memotong steak pesanannya menggunakan pisau dan memakannya, begitupula dengan Ibu dan Ayahnya. Mengunyah makanannya, Ibu Beryl memandangi putranya yang hanya diam menikmati makanannya.


"Bagaimana kabar Laras? Dia sehat saja, bukan?" tanya Ibu, yang sudah menganggap menantunya seperti anaknya sendiri.


Beryl mengangkat pandangannya, ia menjawab pertanyaan itu setelah menelan makanan di mulutnya. "Jangan cemas, Laras baik-baik saja karena ada aku yang selalu menjaganya," responnya, meyakinkan.


"Syukurlah," balas Ibu, singkat.


Diam kembali, mereka menikmati makanannya masing-masing hingga akhirnya kini Ayah membuka suara.


"Apa belum ada tanda kehamilan pada Laras? Ayah dan Ibumu sangat menantikan seorang cucu dari kalian."


Hampir tersedak mendengar pertanyaan Ayahnya, Beryl kini meneguk minumannya dan berusaha untuk tidak menunjukan kebenarannya.


"Laras seorang model, kami sudah bersepakat dan aku setuju jika Laras menunda kehamilannya untuk saat ini," beber Beryl.


"Ibu tahu, hanya saja.. Ibu selalu mencemaskan kesehatan Laras. Apa tidak ada penyakit yang Laras derita? Kalian bisa mendapatkan keturunan, bukan?" tanya Ibu dengan mimik wajah khawatir yang dapat Beryl tangkap.


Pria itu meraih tangan Ibunya yang berada di atas meja, diusapnya tangan tersebut dengan lembut. "Laras sehat-sehat saja, jika waktunya sudah tiba.. aku akan memberikan cucu yang cantik dan tampan pada kalian."


Rasanya Beryl merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang hanya kebohongan semata.


Melihat ekspresi Ayah dan Ibu yang tampak tenang bercampur bahagia mendengar perkataan Beryl yang hanya sebuah bualan baginya, membuat dadanya terasa sesak. Mereka sangat mengharapkan keturunan darinya dan Laras, tanpa tahu seperti apa kehidupan mereka berdua yang sebenarnya.


Malam itu, Beryl kembali merasa kesepian setelah pulang dari restoran. Rumahnya yang besar nampak gelap karena hanya disinari beberapa lampu dengan pencahayaan remang-remang. Direbahkan tubuhnya yang rapuh di atas sofa empuk berletak di ruang tamu.


Beryl mengangkat satu lengannya dan diarahkan ke wajahnya, menutupi matanya yang kini hanya dapat ia lihat kegelapan saja. Hembusan napas yang terdengar begitu berat menunjukan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Sampai beberapa saat kemudian, Beryl kembali bangkit terduduk di sofa tersebut. Perhatiannya kini tertuju pada sebuah tas belanja besar yang entah sejak kapan berada di atas meja, sakin lelahnya sampai ia tidak menyadari keberadaan tas itu saat tiba disana.


"Dari siapa ini?" gumamnya, agak maju ke depan untuk meraih tas belanja tersebut dan melihat apa yang ada di dalam sana.


Kemeja satin berwarna biru langit dan celana jeans cokelat tua dapat ia lihat setelah membuka tas belanja tersebut, Beryl mengambil sepucuk surat yang terdapat di dalamnya dan ia buka untuk dibaca.


Pakai pakaian ini untuk hari besok ya! Aku sangat berterima kasih padamu meski kita belum melakukannya. Mari kita bersenang-senang besok dan melupakan kesibukan juga masalah yang ada.


Rayan_


Tak disangka, Beryl tersenyum samar setelah membaca surat dari Rayan.


Selalu saja ada Rayan disaat dirinya merasa kesepian, meski sahabatnya itu tidak hadir secara langsung tapi Beryl dapat merasakan keberadaannya. Rayan selalu menyemangatinya dan membuat dirinya bertahan sampai saat ini, semua ocehan yang tampak seperti seorang Ibu-ibu sangat Beryl sukai karena hal itu dapat membuat dirinya tertawa.


Sepertinya benar perkataan Rayan. Beryl harus melupakan semua masalahnya hari esok dan mencoba untuk bersenang-senang. Lagipun tak ada larangan dari Laras jika dirinya ingin bermain bahkan menemui wanita sekalipun, Beryl harap hari esok akan berbeda dan keberuntungan akan segera hadir dan berpihak kepadanya.


..._Bersambung_...


...Dukung terus author ya biar semakin semangat😊...

__ADS_1


...SAYANG KALIAN BANYAK-BANYAK😘😘❤...


__ADS_2