Garis Takdir Untuk Kita

Garis Takdir Untuk Kita
Bab 7 - Berkendara ke arahmu


__ADS_3

"Jerome Ghazwan, dia anak dari pasangan bernama Lucas dan Omy. Anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakak adiknya seorang perempuan. Jerome bekerja di salah satu stasiun penyiaran sejak tiga tahun yang lalu hingga saat ini. Tercantum.. pria itu baru dipromosikan beberapa waktu yang lalu sebagai produser di Jones Entertaiment."


Beryl terduduk di kursinya dengan pasang mata terpacu pada catatan data diri mencakupi pria yang selaku kekasih dari istrinya itu. Ada sekretarisnya yang berdiri di depannya saat ini, pria tersebut masih menunggu respon dari bosnya.


"Jones Entertaiment. Bukankah itu perusahaan milik Henry Jones?" tanya Beryl, mengangkat pandangannya untuk menatap langsung sekretarisnya.


Pria itu mengangguk. "Benar sekali, Henry Jones adalah CEO di perusahaan penyiaran tersebut," jelasnya.


Siku pria tampan itu bertumpu pada pegangan kursi, telunjuknya bergerak pada bibir bawahnya, tampak berpikir. Tatapannya masih terfokus pada catatan tersebut, berbeda dengan sekretarisnya, ia tampak gelisah namun juga tak terlalu berani untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Hubungi langsung pihak perusahaan Jones Entertaiment, aku akan menginvestasikan sebagian besar sahamku di perusahaannya!" titah Beryl, sontak sekretarisnya itu mengangguk meski sempat melamun sesaat.


Sekretaris itu masih berada di ruangan Beryl meski Beryl sudah memberinya tugas. Dengan memberanikan diri, ia mencoba berbicara pada atasannya itu.


"Sebenarnya.. ada yang ingin saya bicarakan pada anda," pelannya, sontak Beryl menoleh padanya.


"Ada apa?"


Pria itu membuka amplop cokelat yang berada di tangannya sejak tadi, lalu memberikan banyak foto dan menyimpannya di meja Beryl.


"Saya mendapatkan beberapa foto Nona Laras bersama pria bernama Jerome itu," katanya, berhati-hati.


Beryl terdiam, menatapi foto tersebut. Foto itu diambil dari kamera pengawas apartemen yang Jerome tinggali, banyak sekali potret yang menunjukan istrinya datang ke tempat tersebut.


Ya, dia memang sering tidak berada di rumah dan menginap di rumah kekasihnya.


"Apakah ini alasan anda melakukan ini semua? Apa anda mau saya membuntuti Nona Laras selama 24 jam non-stop?" tawar sekretarisnya, merasa sedih dan khawatir dengan perasaan Beryl.


"Tidak perlu," tolak Beryl.


"Aku sudah memberimu tugas dan kamu hanya perlu melakukan apa yang aku perintahkan. Untuk masalah istriku.. biar aku yang mengurusnya sendiri," jelas Beryl.


Pria itu tertegun, ia tak bisa membaca raut wajah bosnya saat ini. Beryl tak terlihat marah juga tak nampak baik-baik saja. Tapi ia sangat yakin bahwa Tuannya sangat kecewa setelah mengetahui perselingkuhan istrinya.


Pada akhirnya, sekretaris itu mengangguk dan beranjak pergi untuk melakukan apa yang Beryl perintahkan kepadanya.


Hanya beberapa jam setelah sekretaris Beryl menghubungi langsung pihak perusahaan besar Jones Entertaiment untuk melakukan kerja sama antar-perusahaan juga menanamkan saham di perusahaan besar itu, Beryl sudah kedatangan tamu saja sekarang ini.


Brak


Pintu ruangan Beryl terbuka begitu keras hingga mengenai tembok. Ada sosok wanita yang berada di balik itu semua, wanita dengan busana glamor yang selalu menjadi kebiasaan dirinya dengan air muka yang terlihat sangat murka terlebih setelah bertemu dengannya.


Beryl tidak terkejut, ia masih terduduk di mejanya dengan tenang meski kini wanita tersebut berjalan menghentakkan kaki ke arahnya.


"Apa kamu bercanda?!" tanyanya, sambil menghela napas kasar.


Pria tersebut mengangkat pandangan, menatapi Laras yang kini melempar tatapan tajam kepada dirinya.


"Apa yang salah? Kenapa kamu terlihat seperti ingin memakan suamimu sendiri?" tanya balik Beryl, membuat Laras semakin stres.


"Jones Entertaiment. Untuk apa kamu menginvestasikan saham si perusahaan itu? Apa kamu sengaja melakukan itu karena Jerome bekerja disana, hah?!" bentak Laras, sangat murka.


"Itu perusahaan yang bagus, lagipula Henry sendiri kenal baik dengan keluargaku dan menerima tawaran untuk bekerja sama. Apa salahnya itu semua?" Beryl berbicara santai, bahkan tersenyum.


"HENTIKAN OMONG KOSONGMU!! JANGAN. GANGGU. JEROME." tekan Laras, dadanya naik turun karena tidak bisa mengontrol emosinya. Matanya berair, wanita itu tidak akan pernah membiarkan Beryl mengganggu kekasihnya.


Beryl bangkit, dihampiri wanita yang masih berdiri disana. Pria tersebut sedikit bersandar di mejanya, bertumpu dengan memegang sisi meja tersebut dengan kedua tangannya.


"Aku hanya ingin tempatku mulai debut di dunia pertelevisian. Aku tidak bermaksud menganggu pacarmu, lagipula aku tidak memiliki cukup waktu untuk itu," kata Jerome, terdengar seperti ejekan bagi Laras.


"Dan juga.. kenapa kamu terlihat begitu cemas, sayang?" tanya Beryl, memberinya tatapan sedih. Pria itu berdiri tegap dan mendekati istrinya.


"Seharusnya kamu juga tahu kamu memiliki batasan yang tidak boleh kamu lewati!" lanjut Beryl, sambil menyentuh rambut Laras yang sangat lembut dan harum.


Kedua tangan Laras terkepal, ia masih menatap tajam Beryl.

__ADS_1


"Apakah kamu menyukaiku?" tanya Laras, sebab Beryl tampak seperti cemburu kepadanya setelah kejadian hari itu.


Itu konyol, Beryl langsung terkekeh kecil setelah mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Tidak. sama sekali tidak." Jawaban Beryl akhirnya bisa membuat Laras tenang.


"Rasanya tidak pantas menyimpan perasaanku yang berharga pada wanita yang tak layak diberikan hati sepertimu," imbuhnya, sontak Laras mengernyitkan dahinya.


Senyuman kembali terukir di wajah Beryl, ditepuknya pundak Laras dengan kedua tangannya.


"Lakukanlah semaumu, karena aku juga akan melakukannya semauku," ucapnya, lantas pergi meninggalkan Laras yang masih mematung di tempat.


Laras memiringkan satu sudut bibirnya, ia tidak percaya bahwa Beryl akan mengatakan hal tersebut padanya.


Jangan tanya bagaimana perasaan Laras saat ini, karena sudah jelas wanita itu sangat marah, dengki dan tentunya semakin membenci Beryl.


Tapi Beryl hanya melewatinya dengan santai. Pria itu kini berjalan di koridor dengan tangan yang sibuk mencari sebuah nomor di ponselnya. Diletakkan ponsel tersebut ke arah telinganya, Beryl menunggu seseorang yang ia telepon segera menjawab panggilannya.


Sambungan terhubung.


"Rayan.." panggil Beryl.


"Bisakah kamu menyempatkan waktumu di malam ini untukku? Aku butuh sesuatu untuk menenangkan pikiranku," pintanya.


Bergerak ke tempat berbeda. Cukup jauh disana, tepatnya berada di rumah Zeline. Wanita itu sedang berdiri di depan jendela kamarnya, memperhatikan apa yang terjadi di luar sana.


Ada seorang pria dengan perawakan sempurna tengah memasukan tas berukuran besar ke dalam bagasi mobilnya.


Zeline hanya terdiam, menatap datar pria tersebut. Sampai akhirnya, pandangan mereka bertemu secara tidak sengaja. Entahlah, mungkin pria itu yang sengaja melihat ke atas untuk memastikan keberadaan Zeline.


Pria yang memiliki tatapan tajam seperti biasa itu masih memperhatikan Zeline, sebelum ia akhirnya pergi memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah besar tersebut.


Zeline menarik napas panjang dan menghembuskannya. Syukurlah pria itu sudah pergi, Zeline kini keluar dari dalam kamarnya dan bergerak menuruni banyak tangga untuk sampai di lantai dasar rumahnya.


Ada Bi Minah di dapur, dia adalah asisten rumah tangga Zeline yang selalu datang setiap pagi untuk membereskan rumah serta memasak untuk dirinya, hanya dirinya karena bisa dibilang Zeline yang sering berada di rumah besar itu sendirian sebab Ayahnya lebih sering berada di luar.


"Nona sudah bangun?" tanya Bi Minah, saat menyadari kedatangan Zeline di dapur.


"Apa yang dia lakukan kemari?" tanya Zeline, tanpa basa-basi terlebih dulu. Wanita itu tampak tak menyukai sosok pria tadi, seolah menyimpan luka di dalam hatinya.


Bi Minah yang sedang mencuci piring pun seketika menghentikan kegiatannya dan berdiri menghadap Nona mudanya.


"Tuan muda datang untuk mengambil barang-barangnya ada masih ada disini. Dia juga membawa beberapa barang milik Tuan David untuk ia bawa ke Dubai. Hanya itu yang dia bicarakan, Bibi tidak tahu apa-apa selain itu," beber Bi Minah, yang selalu berkata jujur dan memberitahu Zeline semua hal yang terjadi.


Zeline mengangguk paham. "Baiklah, terima kasih," jawab Zeline, tersenyum.


Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Zeline pun berbalik untuk pergi ke suatu tempat. Melihat Nonanya yang bergerak pergi juga membawa kunci mobil di tangannya, Bi Minah berasumsi wanita itu akan bepergian.


"Nona, apa Nona akan pergi sekarang? Tidak sarapan terlebih dahulu?" panggil Bi Minah pada Zeline yang sudah cukup jauh di depan sana.


Kepala Zeline menengok ke belakang, "Simpan saja makanannya ke dalam kulkas, aku akan memanaskannya setelah pulang. Dah," pamit Zeline, sambil melambaikan tangannya.


Sangat manis. Bi Minah tersenyum melihatnya.


Memasuki mobil berwarna hitam mengkilap, Zeline mencoba menyamankan dirinya untuk terduduk lantas menarik seat-belt agar tetap aman saat berkendara. Memijak pedal, mobil itu mulai berlaju dengan kecepatan normal.


Tangan kiri Zeline bergerak memencet tombol di head unit mobilnya untuk menelepon seseorang, satu tangannya masih memegang setir. Panggilan tersebut langsung tersambung dengan cepat setelah Zeline memencet tombol memanggil.


"Ada apa Zeline?" tanya Nala, yang ditelepon.


"Ayo kita pergi menonton malam ini. Sepertinya aku butuh refreshing," ajak Zeline.


"Menonton? Mau coba drive-in cinema? Aku akan langsung membeli tiketnya jika kamu setuju," saran Nala. Memang Nala adalah teman terbaik, dia tahu jelas bahwa Zeline sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan kehadirannya.


Zeline tersenyum. "Tentu, ayo kita mencobanya," setuju wanita itu.

__ADS_1


"Bolehkah aku mengajak Rayan juga?" tanya Nala.


"Lebih banyak orang lebih baik."


Seharusnya Zeline tidak berbicara itu. Lihatlah sekarang ini Nala datang ke studionya bersama Rayan. Dan juga membawa.. pria yang sudah menikah itu lagi.


Zeline memutar bola matanya malas, kenapa juga Nala harus membawa Beryl.


"Apakah ini studiomu?" tanya Rayan, mereka kini berdiri di depan tempat yang terlihat cukup besar hanya dilihat dari luarnya saja.


Mengangguk, itu sudah menjawab pertanyaan dari Rayan.


"Aku akan naik mobilku saja, jadi kita menonton di mobil yang terpisah," kata Zeline, terlihat jelas sedang mencari aman agar tidak pergi bersama Beryl.


Nala mengangkat tangannya, memperlihatkan tiket untuk menonton mereka malam ini.


"Aku hanya memesan dua tiket ngedate premium," jelas Nala, sontak Zeline membulatkan matanya.


"Sepertinya tidak akan bisa menambah satu tiket lagi karena sudah sore, tadi saja saat aku memesan tiket, tempatnya sudah hampir penuh," sambung wanita yang berada di balik kaca mata berwarna pink itu.


"Jadi aku bagaimana?" Zeline memajukan bibirnya, tidak mungkin dia berada di mobil Rayan dan Nala karena tiket mobil yang Nala pesan berkapasitas untuk dua orang.


"Di mobilku saja," cakap Beryl, tiba-tiba.


Semua mata langsung tertuju pada Beryl, tapi sepertinya tatapan Zeline yang paling sinis dari yang lainnya. Jika diperhatikan kembali, style pria itu oke juga hari ini. Berpakaian serba hitam dan dengan rambut yang rapi diolesi pomade. Bergegas Zeline mengusir pikiran yang konyol itu.


Baiklah, dengan berat hati.. dia kembali menaikki mobil tersebut untuk pergi menonton.


...****************...


Sang cakrawala mulai membawa pergi secara perlahan sisa cahaya mentari dengan bergantikan kegelapan. Saat ini, di jam ini, Zeline berada di mobil Beryl dengan titik fokus seutuhnya tertuju pada layar besar yang ada di depannya.


Menonton di dalam mobil terbilang cukup unik karena biasanya orang-orang hanya akan pergi ke bioskop untuk menonton film.


Miracle in cell no.7, film yang mereka tonton saat ini. Beruntung mobil Beryl mendapat bagian di paling tengah dan berada di barisan pertama, maka dari itu mereka bisa menonton dengan sangat jelas sekarang ini.


Sejak tadi, Zeline terus menyantap pop corn caramel yang berada di pangkuannya. Hanya satu cup pop corn, dan Beryl membiarkan wanita itu memakan semuanya sebab ia tak terlalu menyukai berondong jagung itu.


"Aku habiskan saja? Tidak apa?" Zeline menoleh ke samping, yang saat itu juga Beryl ikut melirik padanya.


"Habiskan saja," jawabnya.


Zeline merasa senang, meski hanya karena hal kecil seperti itu. Melihat Zeline yang tidak sengaja tersenyum, membuat tubuh Beryl membeku dan mengedipkan matanya beberapa kali memastikan ia tidak salah lihat.


Wanita yang biasanya ketus padanya, langsung luluh hanya karena berondong jagung?


Jam terus berputar, saat ini film yang mereka tonton sedang menayangkan bagian pentingnya. Bagian dimana kini mata Zeline mulai berair.


Sial, ia tidak boleh menangis saat ini karena sedang bersama pria asing. Dan yang lebih sialnya lagi, Beryl tak sengaja melihat dirinya yang tampak ingin sekali menangis.


"Kamu baik-baik saja?" refleks Beryl, yang terlihat biasa saja. Entah dia tidak menghayati tontonannya atau memang tidak punya hati karena bisa-bisanya bersikap biasa saat menonton film sedih itu.


Zeline mengibaskan tangannya di depan mata agar air itu tidak jatuh turun.


"Sepertinya karena alergi," elak Zeline, tidak mau Beryl tahu dirinya ingin sekali menangis saat ini.


Beryl mencari tisu di dalam mobilnya, tapi tak ada satupun dan mungkin dia sudah kehabisan tisu yang ia punya. Pada akhirnya ia pun meraih sapu tangan yang ia miliki dan mengasongkannya pada Zeline.


"Ambilah!"


"Aku tidak menangis!" tegas Zeline, agak menyentak.


"Aku tidak bilang kamu menangis," balas Beryl, sontak suasana disana menjadi canggung.


Zeline mengalihkan pandangannya, ia merasa malu sampai air matanya pun ikut turun tanpa ia sadari. Tidak ada yang bisa dijadikan lap untuk menghapus jejak air mata tersebut, dengan terpaksa Zeline merebut sapu tangan tadi dari tangan Beryl.

__ADS_1


Pria itu terhenyak saat Zeline mengambil tiba-tiba sapu tangan itu. Terlihat wanita itu tengah menghapus air mata di pipinya dengan menghadap ke arah lain agar tidak dilihat olehnya. Sontak Beryl terkekeh kecil melihat tingkahnya. Bagaimana bisa ada seorang wanita semenggemaskan itu.


..._Bersambung_...


__ADS_2