
Pergi menonton memang yang terbaik untuk menenangkan pikiran. Zeline begitu menikmati waktunya yang ia luangkan untuk pergi menonton pada hari ini, begitu juga dengan Beryl.
Hanya karena film berdurasi beberapa jam, masalah di pikiran mereka mulai mereda secara perlahan. Tak seburuk awal.
Mobil Beryl kini berhenti tepat di depan studio seni Zeline untuk mengantar wanita itu pulang. Sebenarnya ini permintaan Zeline untuk diantar kesana, sebab mobilnya masih berada disana dan masih ada hal yang harus ia urus sebelum akhirnya pulang ke rumah.
"Terima kasih sudah mengantarku," kata Zeline, melepaskan sabuk pengaman tersebut dan hendak pergi ke luar.
Seolah tubuhnya di kendalikan tanpa dapat ia pikirkan kembali, tangan Beryl bergerak mengunci pintu mobil agar Zeline tidak dapat pergi.
Wanita itu masih mencoba membuka pintu tersebut, tapi tak juga bisa ia lakukan. Tubuhnya berbalik cepat, Zeline menatap pria itu agak sinis.
"Buka kuncinya!" titahnya.
"Beryl Reivansyah, kita belum berkenalan secara langsung sebelumnya."
Diulurkannya tangan tersebut, Beryl melempar senyuman pada Zeline, begitu berharap banyak ia pada wanita itu untuk menjawab jabatan tangannya dan berkenal dengan dirinya.
Namun nyatanya salah, Zeline kembali ke dirinya yang awal. Wanita itu hanya memandangi tangan Beryl, dan beralih pada sosok pria tersebut. Beryl mengangkat satu alis matanya, sudah cukup lama ia mengulurkan tangan itu tanpa adanya jawaban.
"Zeline Zakeisha. Cepat buka pintunya atau aku laporkan kamu ke polisi atas tindakan pelecehan!" Jawaban Zeline memang tidak terduga. Kalimat akhir yang wanita itu lontarkan sontak membuat Beryl membelalak karena sangat terkejut.
"Pelecehan? Aku sama sekali tidak melakukan apapun padamu!" tegas Beryl, membela dirinya yang jelas-jelas tidak salah apapun.
Apakah mengajak kenalan pada lawan jenis termasuk ke dalam pelecehan? Beryl terus berpikir karena masih kebingungan dengan penuturan wanita itu.
Zeline menggertakkan giginya, semakin kesal karena Beryl tidak juga membuka pintunya. Zeline berpikir pria itu sengaja mengunci mobil agar bisa berdua dengannya dan melakukan hal yang aneh.
Dasar pria kurang ajar, Zeline akan mencabik-cabiknya.
"Aku sama sekali tidak berniat aneh, ya. Pelecehan apanya?" gumam Beryl, sambil membuka kunci tersebut, lantas Zeline segera keluar untuk melarikan diri.
Mobil itu akhirnya pergi juga dari sana beberapa saat setelah Zeline keluar. Ketahuilah bahwa Beryl masih saja berpikir dimana letak kesalahannya, jelas-jelas ia berbicara baik tadi. Sementara Zeline kini menatapi kepergian mobil Beryl. Masih berada di luar, Zeline menghela napas kasar.
"Apakah istrinya tahu jika suaminya sering keluyuran malam dan merayu wanita lain? Dasar hidung belang." Zeline mencibir pria itu dari belakang.
Sementara Beryl masih mengendarai mobilnya dengan tujuan ke rumahnya. Jarak dari studio Zeline cukup jauh dengan lokasi apartemennya, Beryl membutuhkan waktu sekiranya tiga puluh menit hingga akhirnya ia sampai di lokasi.
Setibanya disana, Beryl memarkirkan mobilnya diantara deretan mobil yang tertata rapi di tempat parkiran. Mematikan mesin mobilnya, Beryl melepas sabuk pengamannya dan mengambil tas beserta beberapa barang miliknya yang ia simpan di kursi belakang.
Hendak pergi ke luar, tubuh Beryl terdiam saat melihat sebuah jepit rambut yang berada di jok sampingnya. Saat diingat kembali, tampaknya jepit tersebut milik Zeline karena ia sangat yakin wanita itu tadi menata rambutnya dengan menggunakan jepit rambut dan pulang dengan keadaan rambut terurai.
Beryl mengambil jepit rambut tersebut dan memperhatikannya sesaat.
"Zeline Zakeisha. Apa kamu sengaja meninggalkan jepit ini untuk alasan agar kita bisa bertemu kembali?" tebaknya, tersenyum saat mengingat kembali gadis itu.
...****************...
Hari telah berganti. Zeline kembali mengunjungi galeri untuk pameran lukisannya. Sudah hampir hari itu tiba, Zeline begitu sibuk akhir-akhir ini untuk menyiapkan pameran seni lukisnya. Ia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang datang ke galerinya.
Seorang pria datang, menyadarkan Zeline yang tadinya terus memandangi dinding besar yang masih polos. Pria itu tersenyum, begitupun Zeline.
"Apa aku boleh melukis di dinding? Aku akan memberikan uang ganti untuk itu jika perlu," tanya Zeline, memiliki ide unik untuk pamerannya tahun ini.
Pria itu memegang dadanya. "Sebuah kehormatan karena anda akan melukis di galeri kami. Tentu saja kami memperbolehkannya, anda bisa melukis sesuka hati anda tanpa perlu memikirkan hal lain," jawabnya.
Zeline sedikit tertawa mendengarnya, ia menggaruk pundaknya yang tak gatal karena merasa canggung.
"Kehormatan apanya? Aku bukan pelukis sehebat yang kamu pikirkan, jadi tidak perlu memberiku sanjungan seperti itu," balas Zeline, membuat pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Saya akan memberikan anda waktu untuk melukis. Beritahu saya jika anda membutuhkan sesuatu." Pria itu lantas pergi setelah berkata demikian.
Hanya ada Zeline disana, dengan segala perlengkapan melukis yang sudah ia siapkan, Zeline kini mulai memakai apron khusus melukis untuk melindungi pakaiannya dan mencari jepitan di dalam tas. Zeline sedikit mengacak isi tasnya karena tidak menemukan barang yang tengah ia cari itu, padahal seingatnya ia membawa jepitan rambutnya.
Pluk
Sebuah kain terjatuh ke lantai saat Zeline tengah mengacak isi tasnya, wanita itu melihat ke bawah, melihat sapu tangan berwarna cokelat tua yang Beryl berikan kepadanya malam tadi. Kenapa Zeline bisa lupa mengembalikan barang itu pada pemiliknya, diraih kain tersebut dengan sedikit berjongkok.
"Aish, apa aku harus mengembalikannya?" tanya Zeline, pada dirinya sendiri.
Memikirkan hal itu hanya akan membuatnya kebingungan. Zeline harus segera menuntaskan pekerjaannya, ia menyimpan kembali sapu tangan itu ke dalam tasnya. Sebab tak membawa jepit juga ikat rambut, Zeline pun kini menggelung rambutnya dan menusuknya dengan kuas lukis, menciptakan sanggulan rambut yang cukup unik.
Zeline mulai dengan kegiatannya, melukis di dinding besar yang berada di hadapannya.
Zeline berniat menyimpan lukisan potret diri yang ia maksud di tengah, sementara saat ini ia melukis di keseluruhan dinding. Wanita cantik itu berada di atas tangga untuk bisa melukis di atas sana, sebuah sketsa bunga mulai nampak dengan seiringnya waktu.
Setiap goresan warna yang Zeline tuangkan dalam lukisannya, begitu menenangkan hatinya. Zeline selalu merasa tenang sekaligus bahagia setiap kali melukis, terbilang itu adalah obat saat dirinya merasa lelah akan dunianya yang hanya mengandung warna hitam putih saja. Ada kesan bahagia juga kesedihan yang tercampur aduk pada lukisan tersebut, tampak itu semua dari raut wajah Sang pelukis.
Dunia akan berubah seiring waktu. Zeline harap kesedihannya pula akan segera berubah menjadi kebahagiaan di waktu yang akan datang. Zeline harap, sangat berharap.
Di kantor Beryl, pria itu berada di ruangannya dan terus memperhatikan jepit rambut keemasan berukuran sedang milik dari wanita yang sejak tadi, atau mungkin sejak kemarin ia pikirkan.
Beryl tidak pernah seperti ini sebelumnya, bagaimana ia terus memikirkan seorang wanita lalu tersenyum setelahnya.
Tapi saat diingat-ingat kembali kejadian yang telah berlalu, Beryl masih merasa sakit hati dengan perkataan Zeline. Dimana wanita itu mengatakan bahwa Beryl bukan tipenya, juga terus berbicara ketus pada dirinya. Bahkan kemarin malam Zeline sempat berpikir dirinya pria aneh-aneh hanya karena ia ingin berkenalan langsung dengan wanita itu.
"Sepertinya harus aku kembalikan padanya," kata Beryl.
Berpikir sejenak.
"Tapi bagaimana jika dia menuduhku lagi dan berpikir aku sengaja mengambil barang miliknya agar bisa bertemu kembali?" lanjutnya, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
Suara itu berasal dari arah pintu, dimana Beryl langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Pintu yang terbuka memperlihatkan sosok Rayan yang baru saja tiba, dia tersenyum namun hanya berdiri di daun pintu.
"Ayo kita main golf bersama!" ajaknya.
Sudah lama Rayan tidak bermain golf di tempat Beryl, bahkan juga Beryl yang selaku pemilik tempat itu bisa dibilang jarang berolahraga golf. Dia tidak terlalu minat dengan olahraga, dia hanya akan bermain saat seseorang mengajaknya. Seperti saat ini.
Pakaian Beryl yang selalu formal dengan jas, kini berubah dengan pakaian khusus untuk golf berlengan pendek, memperlihatkan otot lengan pria itu terlebih saat tengah memegang tongkat golf dan bersiap untuk memukul.
Saat bermain golf, kita harus fokus dan melakukan teknik yang benar untuk bermain. Beryl yang tengah bersiap dengan tongkat golf yang ia genggam, perlahan mengayunkan benda tersebut dan memukul bola yang berada di dudukan dengan pukulan sempurna.
Rayan tersenyum melihat sahabatnya itu, ia tidak mau kalah. Kini gilirannya yang memukul bola kecil itu, hingga akhirnya bola yang tadinya diam di tempat kini bergerak jauh ke depan sana karena sebuah pukulan kencang.
"Aku merasa begitu sehat meski baru beberapa menit bermain golf," ucap Rayan yang dijawab tawaan kecil oleh Rayan.
Mereka kini berjalan menemui bola mereka masing-masing.
"Apa alasan kamu datang kesini?" tanya Beryl, terdiam di depan bola dan bersiap memukulnya lagi.
Rayan menoleh, "Apa aku tidak boleh kesini? Seharusnya kamu bersyukur karena aku datang untuk meningkatkan pendapatanmu," jawab Rayan yang berdiri sedikit jauh dari Beryl.
"Aku merasa semakin kaya. Terima kasih untuk uang yang kamu berikan," sahut Beryl, dengan nada suara mengejek.
Mereka kembali bermain di bawahnya terik matahari yang semakin bergerak ke atas kepala. Hijaunya tempat tersebut membuat pikiran Beryl tenang, benar tentang penuturan para golfer, bahwasanya olahraga golf dapat membantu mengurangi stres dan membuat semuanya terasa sangat lega.
Mereka berdua sudah menghabiskan dua puluh menit untuk bermain, Beryl sudah satu kali memasukan bola ke hole, sementara bola Rayan malah terjebak dalam bunker. Rayan berusaha menyelamatkan dirinya dari cekungan berpasir itu, satu pukulan keras akhirnya bolanya telah kembali ke fairway.
"Kamu cukup hebat juga," puji Beryl.
__ADS_1
Rayan yang masih berada di dalam cekungan itu mencoba naik di atas permukaan tanah yang miring. Ia menghampiri Beryl lantas berbicara pada sahabatnya itu.
"Aku akan menikah dengan Nala," ungkapnya, refleks Beryl langsung melirik padanya.
"Menikah? Kalian bahkan belum berpacaran selama satu bulan. Kenapa kamu begitu tergesa-gesa?" Beryl merespon, sungguh ia sangat senang dengan keputusan sahabatnya yang akan segera menikah, tapi ia juga agak cemas bila-bila nantinya Rayan menyesali sesuatu hanya karena bersikap terburu-buru.
Rayan tampak berpikir, namun setelahnya ia tersenyum.
"Kamu juga tahu dulu aku sangat menyukai Alesa, bukan? Aku hanya menyukainya dalam diam dan ternyata takdir memang hanya mempertemukan aku dan dia bukan mempersatukan. Saat itu aku sangat menyesal tidak pernah menyatakan perasaanku secara langsung dan kehilangannya. Sekarang.. aku tidak mau kembali menyesal. Nala wanita yang baik dan aku merasa sangat nyaman saat bersamanya. Aku juga sudah bertemu kedua orang tua Nala, mereka juga setuju jika kita mempersingkat semuanya dan segera menikah."
Beryl ternganga, ia sangat takjub mendengar hal itu dari mulut Rayan. Beryl tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya itu sangat pintar dan dewasa.
"Sepertinya aku harus belajar banyak darimu mulai sekarang," kata Beryl, masih tak percaya.
"Tentu, temui aku jika kamu membutuhkan solusi tentang cinta. Aku memang tidak memiliki banyak pengalaman, tapi aku jauh lebih pintar darimu."
Rayan menepuk lengan Beryl, namun setelah Beryl mendengar akhir dari perkataan Rayan, pria itu langsung mengejar Rayan yang lebih dulu lari menghindarinya.
Kedua kembali berolahraga selama lima belas menit lagi dan menghentikannya sebab hari semakin siang dan panas. Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka, Beryl mulai memasuki gedung miliknya dan merasakan sensasi sejuk dari ruangan ber-ac.
Dilepaskan topi yang ia pakai, Beryl dan Rayan kini mendaratkan tubuhnya di atas sofa sambil menyandarkan punggung mereka dengan nyaman. Seorang pelayan tiba, memberikan dua gelas minuman dingin ke meja mereka, lantas berbalik kembali setelah menyelesaikan tugasnya.
"Terima kasih."
Beryl meraih minuman tersebut dan menyedotnya, terasa sangat dingin saat minuman dingin itu mulai mengalir di kerongkongannya. Menatap pria yang berdiri di hadapannya, Beryl terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Beryl.
Rayan yang sedang meminum minumannya langsung menyimpan kembali gelas itu di atas meja.
"Aku tidak tahu kapan pastinya, tapi aku dan Nala sudah berencana untuk menikah di tahun ini," jawabnya.
"Umur kamu memang sudah pas untuk menikah, kamu juga tidak perlu khawatir memikirkan uang meski sudah menikah nantinya karena memiliki bisnis sendiri. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu dan juga Nala." Beryl tersenyum, melihat sorot mata Beryl, Rayan pun turut membalas senyuman tersebut.
"Hidupku akan semakin bahagia mulai sekarang. Maka dari itu, kamu juga harus mulai berbahagia, Ryl."
"Tentu."
Tentu saja. Tentu saja Beryl juga menginginkan sebuah kebahagiaan. Ia ingin bertemu dengan wanita yang tulus mencintainya, ia ingin Ibunya segera pulih dari penyakitnya, ia ingin bisnis yang ia kelola dapat semakin meningkat ke depannya, tapi yang terpenting adalah ia ingin semua orang yang ia sayangi selalu dapat bersamanya.
"Tentang Zeline.. apa yang terjadi dengannya saat selesai menonton?" tanya Rayan, sangat penasaran.
Tampaknya pria itu masih belum menyerah untuk menjodohkan sahabatnya dengan si pelukis.
Beryl mengerutkan alisnya.
"Memangnya ada apa? Dia aku antar sampai studio dengan selamat," jawab Beryl, begitu membuat Rayan geram karena otaknya yang entah polos, tidak peka, atau sebenarnya memang bodoh.
"Omong-omong.. apa kamu punya nomor ponselnya?" tanya Beryl, tiba-tiba.
Rayan sangat terkejut, namun juga merasa senang karena ternyata Beryl tertarik juga pada Zeline.
"Kamu menyukainya? Kenapa tidak langsung minta saja pada dia kemarin!" goda Rayan, tapi Beryl hanya menjawabnya dengan senyuman kaku.
Disaat Rayan tengah berbahagia karena merasa sahabatnya dapat melupakan luka rumah tangganya dan mulai melirik wanita lain, disaat itupula dia merasa langsung terjatuh setelah mendengar perkataan Beryl yang sesungguhnya.
"Aku hanya ingin mengembalikan barangnya yang tertinggal."
..._Bersambung_...
__ADS_1