Garis Takdir Untuk Kita

Garis Takdir Untuk Kita
Bab 9 - Akhiri atau bertahan lebih lama


__ADS_3

"Jerome, hentikan. Itu sangat geli." Laras bergidik saat hidung Jerome menggelitiki lehernya bahkan sesekali menggigit kecil. Berposisi berada di pangkuan pria-nya, kedua tangan Laras yang kurus melingkar di leher Jerome.


Jerome mengecup leher Laras yang selalu harum, lalu dipandanganya wanita yang berada di pangkuannya itu. Tangan Jerome bergerak menyematkan rambut panjang Laras yang tergerai ke belakang telinga.


"Tinggalah disini lebih lama," ucap Jerome, dengan suaranya yang serak.


Didekatkannya wajah Laras dan ia cium bibir ranum wanitanya yang selalu menjadi candu baginya. Laras membalas ciuman itu dengan mata terpejam, namun seketika membuka netranya saat merasakan gigitan Jerome pada bibir bawahnya.


Laras memukul dada bidang Jerome yang dibaluti kemeja putih dengan beberapa kancing yang sudah terbuka, yang disaat itu juga ciuman mereka terhenti.


"Kamu melukai bibirku," protesnya, terlihat sangat gemas bagi Jerome.


Bibir berbentuk hati dengan dioleskan lipstik merah itu kini menjadi sedikit bengkak karena ulahnya, tapi memang itu yang Jerome inginkan, sebab Laras tampak semakin menggoda.


Jerome menarik punggung Laras yang sempat menjauh, kemudian menurunkan cardigan yang wanita itu pakai, memperlihatkan kulit putih kekasihnya karena Laras hanya memakai pakaian bertali bahu sebagai dalaman cardigannya.


"Menikahlah denganku, aku ingin selalu seperti ini bersamamu," ungkap Jerome, menggoda Laras dengan kecupan manis di lengan Laras yang terekspos.


"Kita masih bisa tinggal bersama meski tidak menikah," respon Laras, sambil mengelus pipi Jerome.


Jerome berhenti karena jawaban Laras, ia menarik kasar lengan Laras yang menyentuh permukaan wajahnya. Sepertinya Jerome marah karena perkataannya, Laras terlihat sangat cemas sekarang, ia tidak mau kekasihnya salah paham.


Tidak ada respon dari Jerome, pria itu malah memangku tubuh mungil Laras dan membawanya ke kamar. Setibanya, ia langsung merebahkan tubuh Laras dan menindihnya di atas.


Laras sedikit terhenyak, seperti ada tarikan magnet karena pandangan wanita cantik itu tidak bisa beralih pada legamnya mata lawan mainnya.


"Kamu hanya miliku, kamu harus tahu itu!" tegas Jerome.


Ia pertemukan kembali bibir mereka yang sempat terjeda selama beberapa saat, pria itu ******* bibir gadisnya dengan kasar, ia sangat marah dan tidak merelakan Laras dengan pria mana pun juga. Laras hanya miliknya, ia ingin memiliki Laras seutuhnya. Bukan seperti sekarang ini.


Laras tidak bisa menyeimbangi Jerome, ia sudah sangat kesulitan hanya untuk bernapas, dirinya hanya bisa pasrah dan sesekali memberikan kode dengan menepuk-nepuk pundak Jerome, namun pria itu tak juga melepaskan tautan bibir mereka.


Suara ponsel yang berdering begitu jelas Laras dengar, matanya menoleh ke samping dimana ia meletakkan ponselnya. Jerome tidak juga menghentikan kegiatan mereka dan malah semakin menjadi, dengan terpaksa Laras mendorong tubuh besar pria itu karena berpikir panggilan tersebut sangat penting untuknya.


Disaat bibir mereka berpisah, pada akhirnya Laras bisa bernapas kembali. Wanita itu mendudukan dirinya, sementara Jerome masih tidak mengerti mengapa Laras menolaknya.


Apa dia sudah tidak mencintainya lagi? Namun ia langsung paham saat menyadari bahwa ponsel wanita itu berdering saat ini.


Benar saja jika itu panggilan penting, nama Ibunya kini terpampang jelas di layar ponselnya. Laras bangkit berdiri dan beranjak sedikit menjauh dari Jerome, ia tidak mau Ibunya mendengar suara kekasihnya saat mereka bertelepon.


Di luar kamar, Laras menjawab panggilan itu. Dengan napas yang masih terengah, Laras mencoba mengatur napasnya untuk tidak dicurigai.


"Kenapa lama sekali menjawab teleponnya?" Ibu langsung menyergah saat Laras tadinya akan mulai membuka suara.


"Aku sedang ada urusan. Kenapa Ibu menelepon?" tanya Laras.


"Ibu dan Ayah sedang berada di sekitaran rumahmu dan berniat untuk datang menengok putri Ibu dan menantuku," jawabnya.


"Ibu, aku sedang tidak ada di rumah!" tegas Laras, yang jelas-jelas dia tidak mau Ibunya datang ke rumah terlebih ia kini sedang berada di apartemen Jerome.


"Kenapa kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu! Ibu sudah terlanjur datang dan hampir sampai, lagipula di rumah ada Beryl, bukan? Ibu akan menemui Beryl saja kalau begitu!"


Belum sempat Laras menjawab, Ibu sudah memutuskan secara sepihak begitu saja.


Laras terkejut, ia sangat cemas karena Ibunya akan mampir ke rumah. Bergerak cepat, Laras menyentuh layar ponselnya untuk memanggil Beryl. Beruntung, Beryl langsung menerima panggilannya.


"Beryl!" panggil Laras, terburu.


"Aku kira kamu sangat marah padaku. Ada apa?" balas Beryl, terdengar sinis.


"Apa kamu ada di rumah?" tanya Laras.


"Tidak. Aku sedang ada di luar."


Laras mengacak rambut frustasi, bagaimana jika Ibu dan Ayahnya datang sementara mereka sedang berada di luar. Ia juga sangat khawatir jika mereka masuk ke dalam dan melihat-lihat isi rumah juga mengetahui kebenaran bahwasanya selama ini mereka memiliki kamar yang terpisah.

__ADS_1


Memikirkannya saja membuat dia frustrasi.


"Ibu dan Ayahku sedang berada di perjalanan menuju apartemen! Bagaimana ini?!" heboh Laras, berjalan mondar-mandir.


"Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku!"


Semakin Laras frustrasi saat Beryl mematikan panggilan itu setelah berkata demikian. Laras hanya bisa mengumpat, ia tidak bisa berpikir dengan baik sekarang ini.


Jerome yang mendengar suara teriakan Laras langsung datang menghampiri, pria itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Laras juga berbisik pada wanita itu.


"Ayo kita lanjutkan kembali, aku akan bermain lembut mulai sekarang," bisiknya, tepat di telinga Laras.


Bukan itu yang Laras pikirkan, wanita itu melepaskan tangan Jerome yang memeluknya.


"Aku harus pulang, orang tuaku akan datang ke rumah," jelasnya juga sebuah pamitan karena Laras langsung pergi setelah membawa barang-barangnya.


Suara dentuman pintu dan kesunyian ruangan tersebut kini dapat Jerome rasakan, ia mengepalkan tangannya dengan kuat karena merasa dipermainkan.


Di sepanjang perjalanan pulang, Laras hanya bisa berharap agar ia datang lebih awal dibandingkan orang tuanya, meski dilihat dari jaraknya saat ini sangat tidak memungkinkan Laras sampai ke rumah dengan cepat.


Tiba disana, Laras langsung berlari dan menaikki lift untuk sampai di tempat tinggalnya yang berada di lantai 14. Laras menggigit kuku jarinya gugup, sudah lima belas menit sejak Ibunya menelepon tadi.


Sampai di lantai tujuan, Laras berjalan cepat menuju rumahnya.


Membuka kunci pintu dengan kata sandi, akhirnya Laras kini tiba dan memasuki rumahnya. Rasa gugupnya mulai mereda saat dilihatnya Ibu dan Ayahnya kini sedang terduduk di ruang tamu bersama.. Beryl.


Memang kurang ajar, dia bilang sedang sibuk di luar dan tidak bisa diganggu, tapi kini dirinya tengah terduduk santai bersama kedua orang tuanya.


"Aish, seharusnya kamu tidak keluyuran di luar dan selalu tinggal di rumah bersama suamimu," ketus Ibu, pada Laras yang kini ikut bergabung dengan mereka.


"Aku kira kamu tidak akan pulang cepat, sayang," sapa Beryl, dijawab senyuman kaku oleh Laras.


Laras terduduk tepat di samping Beryl, dirangkulnya lengan pria tersebut.


"Ibu bilang akan datang ke rumah, jadi aku cepat-cepat pulang," timpal Laras, memandangi Ibu dan Ayahnya.


Ayah menatap Laras dengan tatapan yang cukup dingin, memang Ayah yang mengusulkan pernikahan mereka dan menjodohkannya meski sebenarnya Laras mencintai Jerome seorang.


"Meski kamu tidak lagi menjadi model, Ibu sangat yakin Beryl bisa memenuhi segala kebutuhanmu," sahut Ibu yang juga ingin Laras berhenti sebagai model.


"Ayah. Ibu." Laras menatapi keduanya secara bergantian, sebenarnya ia tidak nyaman saat membicarakan hal itu, tidak sepantasnya juga mereka mengatur-atur hidupnya karena Laras sudah sering terluka karena aturan mereka sejak dulu.


"Sayang.." Beryl mencoba menenangkan, ia usap tangan Laras yang sontak Laras langsung menoleh pada dirinya.


"Nak Beryl.. Ibu tahu kamu sangat kesulitan dengan Laras yang sangat manja dan sulit diatur. Beri tahu saja pada Ibu jika dia membuatmu sulit," perintah Ibu.


Beryl tersenyum, hatinya menjawab.


"Dia memang membuat hidupku sulit. Seharusnya aku dan dia tidak pernah menikah, kenapa kalian harus menjodohkan kami?!" batinnya.


Ibu baru teringat, ia berikan paper bag yang ia sengaja ia bawa untuk hadiah mereka.


"Untuk kalian, itu minuman herbal yang juga dapat membantu kesuburan agar kalian dapat segera mendapatkan keturunan," jelas Ibu.


Laras membuka isi dari paper bag itu, wajahnya langsung berubah kecut setelah melihat kotak kemasan berisi minuman yang Ibunya maksud. Cepat ia masukan kembali dan ia letakkan jauh-jauh darinya.


"Minumlah setiap hari, itu juga akan membuat tubuhmu segar!" perintah Ibu, namun Laras hanya menjawabnya dengan anggukan yang sudah pasti hanya kebohongan.


Ayah yang dikenal dengan pria dingin juga tegas hanya terdiam sambil meminum teh yang Beryl hidangkan. Ibu Laras memang sudah berumur, namun parasnya masih saja cantik tidak memudar seperti dulu. Itu juga yang ia wariskan pada putrinya yang kini menggeluti bidang model, Ibu tidak mengira anaknya akan berkarier sebagai model seperti dirinya. Tapi jelas, Ibu tidak suka jika Laras menjadi model, terlebih dia sudah menikah sekarang.


"Apa kalian masih memakai pengaman saat berhubungan?" tanya Ibu, serentak Laras dan Beryl membulatkan matanya karena terkejut dengan pertanyaan Ibu yang terlalu bebas.


Beryl tergagap, ia bingung akan menjawab apa karena sebenarnya mereka bahkan belum pernah berhubungan sebagai suami istri sebelumnya.


Laras memalingkan wajahnya, ia merasa jijik meski hanya membayangkan saja. Seumur hidupnya, Laras hanya pernah tidur dengan kekasihnya, tidak sudi jika melakukannya dengan Beryl.

__ADS_1


"Lain kali berhentilah pakai pengaman agar kamu cepat hamil," lanjutnya.


"Ibu! Aku tidak mau membicarakan hal sebebas itu dengan kalian!" Laras sudah tidak tahan dengan omongan orang tuanya.


Ayah memajukan badannya, ia menatap tak suka Laras yang baru saja membentak Ibunya. Ingin sekali ia marah bahkan menampar pipi Laras, tapi disana ada Beryl yang selaku suaminya dan dia yang sekarang berhak dalam segala hal mengatur Laras, bukan lagi dirinya.


"Mungkin saja Tuhan belum memberikan kita karunia seorang anak. Ibu dan Ayah tenang saja, tidak perlu memikirkan banyak hal. Dan juga.. kami sebelumnya memang sudah sepakat untuk menunda kehamilan karena kesibukan masing-masing, mohon pengertiannya."


Beryl melontarkan kalimat itu dengan nada lembut, sudah pasti mereka tidak bisa membantah dan marah padanya juga pada Laras.


Ibu menghela napasnya, akhirnya ia mengangguk dan mencoba mengerti keadaan mereka.


"Kita tidak bisa berlama-lama disini. Kami juga mengirim beberapa barang dan makanan kemari yang masih berada di perlajanan, gunakanlah semuanya sebaik mungkin."


Ayah Laras memang terlalu baik menurut Beryl, padahal saat pertama kali bertemu, Beryl mengira pria tua itu sangat jahat karena wajahnya menjawab begitu. Tapi ia salah.


Ayah dan Ibu bangkit, mereka berpamitan untuk segera pulang. Besok Ayah harus menghadiri sebuah pertemuan para petinggi, maka dari itu ia harus segera pulang dan menyiapkan semuanya untuk hari esok.


Beryl hendak mengantarkan mereka sampai depan, namun mereka menolaknya dan meminta mereka tetap di dalam saja karena sudah malam dan juga cuaca di luar cukup dingin.


Bersisakan mereka berdua. Tak lama setelah kedua orang tua Laras pulang, seorang pengirim barang datang dan membawa banyak barang untuk mereka.


Beryl merasa tidak enak menerima itu semua, tapi Laras tampak sangat senang dan langsung membuka beberapa snack untuk ia makan.


Laras memang seorang model, ia menjaga pola makannya tapi tak jarang pula ia memakan makanan ringan saat menginginkannya. Ia tidak khawatir, karena bisa dikatakan setiap hari ia pergi ke pusat kebugaran agar berat badannya tetap ideal seperti yang ia inginkan.


"Aku tahu waktu itu aku salah, jika saja mereka datang saat hari itu.. mungkin keadaannya akan berbeda," kata Laras, terduduk di sofa dengan membawa makanannya.


Beryl menatap malas wanita itu.


"Kemana saja kamu? Kenapa tidak ada di rumah? Jika saja aku tidak datang tepat waktu.. ah sudahlah, lupakan."


Beryl beranjak pergi ke dapur yang letaknya tak jauh dari sana, diambilnya botol air mineral dingin di dalam lemari pendingin lalu ia minum.


"Apa kita berbaikan sekarang?" Beryl agak terkejut karena Laras yang sudah tiba di dapur begitu saja.


"Terserah saja," jawab Beryl.


Laras tersenyum samar, ia berjalan beberapa langkah untuk mendekat.


"Aku ada jadwal pergi ke Bali esok lusa. Aku akan melakukan pemotretan disana yang juga adalah bentuk kerja sama dengan perusahan Jones. Kamu tahu pasti.. aku akan pergi bersama Jerome, dan akan menginap di rumahnya besok untuk berangkat ke Bali bersama," beber Laras, sekadar memberi tahu.


"Apa kamu sama sekali tidak takut ketahuan oleh media?" Beryl menatap wanita yang juga merupakan istrinya.


Laras menatap ke atas seolah berpikir, tapi setelahnya ia tersenyum. "Asalkan aku bisa menyembunyikannya dengan baik, semuanya akan baik-baik saja."


Beryl menghela napas, ia tidak mengerti dengan pemikiran Laras. Tapi ia juga tidak peduli, toh jika itu pun terbongkar, seseorang yang akan paling dirugikan adalah Laras karena ini kesalahan wanita itu sendiri.


"Sudah aku bilang lakukanlah sesukamu, aku tidak akan melarangnya. Dan jangan larang aku juga atas semua tindakanku," balas Beryl, dan Laras pun mengangguk setuju.


"Liriklah wanita lain! Aku sangat khawatir jika selama ini kamu menyukaiku!" Suami istri ini memang aneh, Beryl membiarkan Laras bersama kekasihnya, dan Laras menyuruh Beryl untuk melirik wanita lain.


Ya, memang karena mereka menikah bukan atas dasar cinta.


"Aku akan langsung mengencani seorang wanita saat menyukainya." Beryl menyahut. Terdiam sesaat, pria itu kembali membuka suara.


"Kenapa kita tidak cerai saja kalau begitu?" usulnya, Laras pun langsung menoleh karena cukup tertarik dengan topik pembicaraan tersebut.


Laras tersenyum.


"Kamu ingin kita cerai? Kalau begitu ceraikan aku, sebenarnya selama ini aku menunggu kamu melakukan itu. Berikan surat gugutan cerainya setelah siap, aku akan langsung menanda tanganinya!"


Wanita itu mengelus lengan Beryl dan menepuknya sebelum akhirnya ia pergi dari dapur.


Beryl menatap kepergian istrinya, ternyata benar Laras juga menginginkan perpisahan. Hembusan napas yang keluar dari mulut Beryl terdengar berat.

__ADS_1


Mungkinkah.. sudah waktunya ia segera menggugat cerai wanita itu dan mengakhiri semuanya?


..._Bersambung_...


__ADS_2