
Pagi sekali, Nala sudah datang menjemput Zeline ke rumahnya untuk bepergian pada hari ini. Berpakaian dress panjang dengan warna biru terang yang sengaja Nala belikan hari kemarin saat berbelanja di mall, Zeline hanya menuruti saja dan memakai pakaian tersebut yang sejujurnya ia juga suka karena modelnya yang cantik.
Awalnya Zeline akan pergi menggunakan mobil yang berbeda, tapi Nala memaksa dirinya untuk naik mobil milik Nala saja.
Mau tak mau Zeline mengikuti perkataan Nala untuk naik mobil sahabatnya itu. Di bagian kemudi, Zeline mengambil alih posisi tersebut sementara Nala terduduk di sampingnya saat ini.
Sepanjang perjalanan, Nala terus bersenandung dengan diiringi alunan musik yang ia putar di dalam mobilnya. Zeline hanya tersenyum dan sesekali ikut bernyanyi mengikuti dengan titik fokus ke depan karena sedang mengemudi.
Tiba akhirnya mereka di sebuah restoran besar, tempat dimana mereka akan bertemu dengan kekasih baru Nala.
Diketahui restoran tersebut milik keluarga Rayan yang kini dikelola oleh dirinya, sontak hal itu membuat Zeline takjub terlebih saat ia menginjakkan kakinya di tempat yang super besar itu.
Entah memang masih terlalu pagi atau Rayan sengaja memakai tempat tersebut untuk hari ini, karena sekarang hanya ada mereka berdua di restoran tersebut.
Zeline terkekeh kecil saat dilihat Nala terus memandangi dirinya melalui pantulan cermin dan tampak gugup karena akan bertemu pacarnya. Itu sangat lucu, padahal ini bukan kali pertama Nala berpacaran dan dia sudah dewasa.
Suara langkah kaki yang terdengar beriringan membuat dua wanita tersebut mengangkat pandangan mereka. Ada Rayan dan temannya yang tiba disana, namun melihat itu, raut wajah Zeline berubah seketika.
Nala. Seharusnya Zeline tahu maksud wanita itu mengajaknya.
Empat orang yang bisa dibilang dua pasang insan tersebut kini terduduk di meja yang sama. Rayan dan Nala tampak senang dan terus tersenyum malu-malu karena bertemu. Bergerak ke sudut yang berbeda, Zeline dan Beryl hanya terduduk malas dan membuang tatapannya.
Dua orang yang berkencan sesungguhnya memakai pakaian yang sama dengan warna putih, dan sialnya Zeline juga berpakaian sama dengan pria asing yang kini terduduk di hadapannya.
Membuat dirinya malu saja.
"Apa ini semacam kencan ganda karena baju kita berpasangan?" tanya Rayan, mencoba mencairkan suasana.
Tubuh Rayan terkesiap saat mendapatkan tatapan sinis dari Beryl. Memang ini semua sengaja mereka lakukan, Nala dan Rayan bersepakat memberikan pakaian yang sama untuk sahabat mereka saat kencan.
Semoga saja mereka berjodoh karena Zeline sudah lama sendiri, itu pikir Nala.
"Eu.. jadi kamu sahabatnya Rayan? Aku Nala, kekasih Rayan. Senang bertemu denganmu," singkap Nala, mengulurkan tangannya untuk berjabat dan disaat itupula Beryl menjawab jabatan tangan tersebut serta berkata, "Senang bertemu kamu juga," jawabnya, tersenyum.
"Ini Zeline, sahabatku." Nala memperkenalkan Zeline pada kedua pria yang ada di depannya.
"Dia seorang seniman hebat," lanjutnya, lantas Rayan membelalak mendengarnya.
"Kamu seorang seniman?" tanya Rayan, langsung pada Zeline.
"Aku hanya menggemari seni lukis dan menekuni lebih dalam bidang tersebut baru-baru ini," jawab Zeline, tersenyum cantik.
Beryl hanya diam, memperhatikan Zeline. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, saling beradu tatap sejenak namun Zeline segera mengalihkan pandangannya.
Wanita itu memang memiliki sifat tidak acuh pada seorang pria. Di dunianya, hanya lukisan yang dapat menarik perhatiannya.
"Kau tahu? Ayahnya seorang pemilik hotel besar di Jakarta yang juga kini sedang dalam tahap mendirikan hotel di Singapura dan Dubai." Nala merangkul lengan Zeline, memberikan sanjungan pada sahabatnya itu.
Zeline menggertakkan giginya serta menatap tajam Nala, "Jangan bicarakan Ayahku!" tekannya, berbisik.
"Wah, kamu pasti orang yang kaya," takjub Rayan, dijawab senyuman kaku oleh Zeline.
"Kita bisa bicarakan hal lain selain itu?" Zelin tampak tidak nyaman saat membicarakan Ayahnya.
Bukan apa, hanya saja ia tak terlalu suka jika membicarakan tentang keluarganya.
Rayan mengangguk paham, dapat terbaca dari mimik wajah yang Zeline pasang bahwa dia itu tidak nyaman.
"Ah, benar. Dia Beryl, sahabatku sejak kecil." Kini giliran Beryl yang diperkenalkan, setelah beberapa saat pria itu dikucilkan seolah tak ada.
"Salam kenal," kata Beryl, dengan suaranya yang berat. Benar-benar seorang pria.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Nala, penasaran. Tentu saja penasaran, karena ia ingin tahu lebih dalam mengenai pria yang akan ia jodohkan dengan sahabatnya.
"Hampir sama seperti Rayan, aku juga mengelola perusahaan milik Ayahku," jawabnya.
"Ini kartu namaku, hubungi saja aku jika kalian ingin mendaftar keanggotaan olahraga golf di tempatku!" lanjut pria itu, sambil memberikan kartu namanya pada Nala dan Zeline.
"Aku tidak suka olahraga," gumam Zeline, meski bersuara kecil namun Beryl dapat mendengarnya.
"Sudah tampan, kamu juga seorang CEO. Aku sangat yakin pasti banyak wanita yang mendekatimu," kata Nala, menatap kartu tersebut dan beralih pada Beryl.
"Aku sudah menikah."
"Hm?"
__ADS_1
Dalam seketika atmosfer di tempat tersebut menjadi berubah. Terdiam, Nala tak menduga bahwa pria itu sudah berumah tangga. Zeline menarik satu sudut bibirnya, memang sudah keterlaluan Nala ini, apa dia sengaja mencomblangi dirinya dengan suami orang?
"Apa kalian ingin memesan sesuatu sebelum kita pergi?" Rayan mengalihkan pembicaraan agar suasana disana tidak canggung seperti sekarang ini.
Hampir satu jam lamanya mereka berada di dalam restoran, pada akhirnya mereka berempat keluar karena akan pergi ke suatu tempat. Pantai ancol, itu destinasi yang sudah Nala rencanakan untuk hari ini.
"Aku akan naik mobil dengan Nala," ucap Rayan.
"Jadi aku yang membawa mobilmu?" tanya Zeline, pada Nala.
Rayan menoleh pada Zeline karena mendengar suara wanita itu.
"Tidak, aku akan naik mobil Nala. Kamu bersama Beryl, bagaimana?" jelasnya, maka langkah kaki Zeline pun berhenti juga pria yang baru saja disebutkan.
Zeline dan Beryl berdiri sejajar, keduanya kini menghela napas kasar setelah mendengar hal itu. Apalagi kini pasangan tersebut pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Sepertinya ini hari yang buruk bagi Zeline.
Dia bukan pelakor!
Zeline menegaskan hal itu berulang kali. Mengambil napas panjang dan menghembuskannya, sekarang ini dia sedang berada di dalam mobil Beryl dengan pikiran yang mengelana.
Bagaimana jika istri sah-nya mendapati dirinya bersama Beryl? Dan dirinya akan di tampar, di jambak, di caci maki, di habisi seperti serial film yang ada di televisi.
Zeline cepat-cepat menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran aneh tersebut dan berdoa agar dia tidak terhasut oleh apapun.
"Kamu pasti sangat dekat dengan Nala," ujar Beryl, tiba-tiba. Mengagetkan Zeline yang sedang melamun.
"Kami berteman sejak masih sekolah," jawab Zeline, tidak menatap pria itu sama sekali.
Kembali hening, tak ada lagi yang mereka bicarakan. Beryl berfokus pada jalanan karena sedang mengemudi, sementara Zeline hanya memalingkan muka ke kiri menatapi jalanan.
Di mobil yang berbeda, dimana Nala dan Rayan berada. Sangat jauh seperti keadaan mobil sebelah, karena mereka berdua saling mengobrolkan banyak hal.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika sahabatmu itu sudah menikah?!" tanya Nala, agak kesal karena merasa bersalah juga sudah berniat menjodohkannya dengan Zeline.
Rayan yang sedang mengemudi, menoleh ke samping dan juga menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Dia memang sudah menikah, aku lupa memberitahumu tentang itu," responnya.
"Beryl memang sudah menikah, tapi tidak seperti sudah menikah." Perkataan Rayan yang tiba-tiba, membuat Nala kembali memandangi pria itu dengan kebingungan.
"Mereka dijodohkan, istri Beryl sama sekali tidak menginginkan dirinya dan lebih mementingkan kekasih gelapnya. Aku hanya berharap dia dapat bertemu dengan wanita yang tepat dan merasakan apa arti bahagia yang sesungguhnya." Nala terenyuh, setidaknya kini dia tidak cemas karena merasa Beryl adalah pria yang baik.
...****************...
Angin laut yang terasa segar dapat mereka hirup sekarang ini. Nala yang selalu bersikap seperti anak kecil itu terlihat senang saat tiba di pantai, berlarian bersama Rayan. Lupakan saja mereka berdua, karena mereka hanya bersenang-senang dan melupakan sahabat mereka masing-masing.
Berjalan pelan di hamparan pasir, Zeline merogoh ponselnya untuk memotret pemandangan tempat tersebut.
Mengarahkan kameranya pada pemandangan laut serta langit biru cerah yang indah, Zeline pun memotret beberapa foto sebelum akhirnya ia mengejar Nala yang sudah jauh di depan sana.
Beryl yang ternyata sedaritadi memperhatikan Zeline dari belakang, ikut menyusuli.
Suara deburan ombak kecil begitu menenangkan hati begitupula pikirannya. Keputusan Beryl untuk ikut memang tidak salah, sebab akhirnya ia dapat merasakan kebebasan yang tidak bisa ia rasakan sebelumnya.
"Pemandangan disini sangat bagus untuk berswafoto," kata Nala yang kini berlarian di atas dermaga laut atau yang biasa disebut -Jembatan Cinta- oleh warga sekitar.
Memang sangat menyebalkan, melihat Nala dan Rayan yang bermesraan berduaan tanpa menghiraukan keberadaan dirinya.
Apa boleh buat, ini juga salahnya yang masih saja tidak berpacaran. Bukannya tak mau, tetapi Zeline hanya takut salah dalam mengambil langkah untuk berpacaran kembali.
"Zeline," panggil Nala, menyadarkan wanita itu.
Sepertinya Nala akan mengajak dirinya berswafoto. Tetapi lagi-lagi Zeline dibuat geram karena sikap sahabatnya.
"Tolong fotokan aku dan Rayan dari arah sana!" titahnya, memberikan ponsel miliknya pada Zeline.
Zeline menghela napas kasar, ia hanya bisa pasrah menghadapi kebucinan Nala dan juga Rayan. Memotret pasangan tersebut dengan terpaksa, sementara Beryl kini sedang menahan dirinya agar tidak tertawa karena melihat Zeline.
"Sudah, ya. Pemotretan selanjutnya dikenai biaya!" ketus Zeline, meski bercanda.
Nala tertawa dan meraih ponselnya. "Terima kasih," ucapnya, gemas.
"Bagaimana jika sekarang aku yang memotremu?" tawar Nala, dan Zeline pun menyetujuinya.
__ADS_1
"Kau juga harus ikut!" Rayan yang entah sejak kapan tiba di dekat Beryl kini mendorong pria itu untuk ikut berfoto dengan Zeline.
Beryl menahan tubuhnya saat hampir menabrak Zeline. Mereka berdua saling bertatap canggung, selagi Nala yang diam-diam memotret mereka berdua.
Mendengar apa yang Rayan ceritakan mengenai Beryl, membuat Nala iba pada pria tersebut. Beryl pria yang baik dengan memikul banyak luka dan beban di kedua pundaknya yang tampak kokoh namun sebenarnya rapuh.
Jika saja pria itu belum menikah, Nala sangat yakin mereka berdua sangat cocok untuk bersama.
Zeline bergerak mundur, dan pergi begitu saja meninggalkan yang lainnya. Ia tak suka jika dijodoh-jodohkan seperti ini, apalagi Beryl sudah berumah tangga.
Zeline tidak mau citranya rusak karena dirumorkan mengganggu rumah tangga orang. Nala yang melihat itupun segera mengejar Zeline.
Memiliki sifat perajuk, Nala tampak kewalahan untuk membujuk wanita itu agar tidak marah kepadanya.
Mereka sekarang ini sedang berada di kafe yang terletak di dekat pantai, Nala terus memohon agar sahabatnya itu tidak lagi marah.
"Aku minta maaf jika kamu tidak suka itu," pelan Nala, memegang lengan Zeline yang masih saja memalingkan wajahnya.
Menatap birunya pantai di luar sana melalui dinding kaca kafe tersebut, pandangan Zeline pun beralih pada Nala.
"Berhentilah menjodohkanku. Aku tidak menyukainya, apalagi dia sudah menikah!" tegas Zeline, dengan matanya yang memerah.
"Aku tahu, maaf.." balas Nala, mengerucutkan bibirnya.
Di meja yang berbeda, kini Beryl dan Rayan terduduk bersama. Sama seperti para wanita, Beryl juga marah karena sikap Rayan.
"Dia tahu aku sudah menikah dan pastinya tidak nyaman karena sikapmu tadi. Kenapa kamu bersikap begitu kekanak-kanakkan? Aku setuju pergi denganmu bukan untuk ini!"
Rayan menggaruk pundaknya, ia juga merasa bersalah karena hal barusan.
"Aku tahu, tapi.. tidak bolehkah aku berusaha agar membuatmu bahagia?"
Rayan mengangkat pandangannya setelah beberapa saat merunduk, ditatapnya Beryl yang kini mengernyit bingung karena perkataannya.
"Tidak bisakah kamu melakukan apa yang Laras juga lakukan? Laras berselingkuh tanpa memedulikan perasaanmu, jadi.. tidak bisakah kamu juga memilih wanita untuk kamu cintai?" lanjutnya.
Beryl membeku, ia membuang pandangannya dan menatap kembali Rayan. "Berhentilah beromong kosong karena aku tidak membutuhkan itu!" tegasnya.
Bangkit dari posisi duduknya dan hendak pergi ke luar, namun Rayan menahan pria itu.
"Ryl, tidak ada salahnya kamu mencoba mencintai wanita lain," terang Rayan pada Beryl.
Setelah lamanya membujuk Zeline agar tidak lagi marah, akhirnya wanita itu berbaikan dengan syarat asalkan Nala tidak lagi mencoba menjodohkan dirinya dengan Beryl dan Nala menyetujuinya.
"Aku ingin sekali naik kereta gantung," kata Nala, mendongak memandangi banyaknya kereta gantung yang bergerak di atas sana.
"Ayo kita naik bersama," setuju Rayan.
Nala menoleh pada Zeline.
"Aku naik bersama Zeline saja, kamu dengan Beryl," saran Nala, memberi isyarat pada kekasihnya supaya Zeline dan Beryl tidak lagi merajuk karena ulah mereka berdua.
"Tidak usah, kalian naik berdua saja, jangan hiraukan aku," jawab Zeline sebab tidak mau mengganggu rencana kencan Nala dan Rayan.
Sempat menolak karena tidak merasa enak meninggalkannya, tapi Zeline bersikukuh dengan perkataannya. Dia tidak mau kencan mereka terganggu karenanya, sampai akhirnya Nala dan Rayan pun naik kereta gantung sementara Zeline terduduk menunggu di kursi tepi jalan yang berletak di dekat teluk pantai.
Menyadari seseorang terduduk di sampingnya, membuat Zeline melirik ke samping untuk melihat siapa yang datang.
Beryl duduk disana, membuat Zeline menatap bingung keberadaan pria itu karena berpikir Beryl juga ikut naik kereta gantung bersama yang lain.
"Maaf untuk yang tadi," ucap Beryl.
"Aku tahu mereka mencoba mendekatkan kita berdua. Maaf karena itu," imbuhnya.
"Seperti melakukan kesalahan saja kamu sampai meminta maaf," jawab Zeline, agak bergumam.
Beryl terpaku pada gadis di sampingnya, berbeda dengan Zeline yang berusaha mungkin agar tidak berkontak mata dengan pria itu.
Perkataan Rayan tadi kembali terlintas di kepalanya, apakah memang sudah sepantasnya dia mulai membuka hati untuk wanita lain tanpa memikirkan status dirinya yang sudah menikah, sama halnya seperti Laras.
"Jangan mencoba menggodaku, kamu sama sekali bukan tipeku." Perkataan sarkas Zeline barusan menyadarkan Beryl.
Sepertinya salah jika dia mulai membuka hati pada wanita lain, karena itu hanya akan membuat dirinya semakin terluka.
..._Bersambung_...
__ADS_1