
"Saya terima nikahnya, Dianne Putri Analisa binti Agung Prasetya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Suasana riuh seketika setelah kalimat tersebut diucap dari bibir seorang pria itu. Rasa syukur terlontar dari bibir orang-orang yang hadir menjadi saksi pernikahan mereka. Tak terkecuali Anne, terlihat sekali pancaran bahagia dari raut mukanya. Senyum tipis nan manis menghiasi hati yang tak henti-hentinya mengucap rasa syukur.
Kring.. Kring..
"Anne, bangun! Salat subuh! Sudah jam berapa ini?" teriak Ibu membangunkan Anne.
Anne mengusap-usap lembutnya kain sprei yang terasa dingin di kulit. Kasur menariknya bak sebuah magnet yang menarik besi. Anne tak kuasa untuk membuka matanya.
"Anne, bangun! Ini jam berapa? Matahari udah mau terbit, buruan salat!" Ibu berteriak lagi.
"Anne!" panggil Ibu sambil menarik selimut dan menepuk-nepuk paha Anne. "Alarm kamu bunyi terus. Bangun! Katanya kamu akan selalu mendoakan Ayah, tapi Salat Subuh saja masih dibangunkan Ibu terus."
Dengan mata yang masih riyip-riyip, Anne menghela napasnya dan berkata, "Iya, Bu. Ini juga mau bangun."
Anne mengambil air wudhu, kemudian menunaikan kewajibannya. Setelah itu, Anne bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
"Bu, Anne sarapan di sekolah aja ya. Udah jam segini. Anne belum ambil dagangan juga. Anne langsung berangkat saja ya, Bu."
"An, Ibu kan sudah bilang, jangan belajar terlalu larut malam. Akibatnya gini kan, Salat Subuh kesiangan, lalu aktivitas kamu selanjutnya jadi kacau," kata Ibu menasihatinya.
"Anne belajar kan juga untuk Ibu. Anne pengen bisa mempertahankan beasiswa yang udah Anne terima."
"Ibu cuma berpesan, usaha kamu boleh saja diutamakan, tapi jangan pernah menomorduakan Tuhan. Ibadah nomor satu, An."
"Iya, Bu. Anne akan berusaha memperbaiki diri. Anne pamit dulu ya, Bu. Doakan supaya ilmu yang Anne terima bisa bermanfaat. Doakan juga dagangan hari ini laris."
Anne mencium tangan Ibu, lalu memeluk erat ibunya. Setelah itu, ia mengayuh pedal sepedanya. Putaran roda dan rantai yang berkoordinasi mengantarkannya sampai sekolah. Sebelum ke sekolah, Anne harus mengambil dagangannya terlebih dahulu di toko kue yang tak jauh dari sekolahnya.
Gerbang sekolah hampir ditutup, ia harus menambah tenaganya untuk mengayuh sepeda agar cepat sampai di sekolah. Langkah sepatu menapak tanah. Anne berlari sambil menenteng dua kotak yang berisi kue dan menggendong ransel hitamnya yang berat. Ia menuju ke kelasnya.
Anne disambut oleh sahabatnya, Ariana yang sudah duduk manis di bangkunya.
"Mepet banget berangkatnya, Sis?"
__ADS_1
"Iya nih, aku kesiangan."
"Eh.. Eh.. Semalem, aku mimpi. Aku nikah sama cowok ganteng banget," bisik Anne. "Dia orang kaya, tapi entah dia siapa. Seingatku dia tampan, mukanya blasteran Arab-Inggris-Indonesia, pokoknya mempesyona," lanjutnya.
"Terus, kalian punya anak berapa?"
"Belum sampai di situ ceritanya. Ibu bangunin aku setelah akad nikah. Padahal, aku sedang bahagia-bahagianya."
"Kamu pengen mimpi itu terwujud?" tanya Ariana
"Ya pengen lah, Ri. Enak kan, hidup bersama orang tampan, mapan, siapa yang gak mau coba?"
"Mau tau caranya?"
Anne mengangkat alisnya dan mengangguk-angguk.
"Bangun! Jangan mimpi terus. An, jangan halu mulu, ah. Mending, terima yang udah ada di depan mata. Dion, dia tampan, kan? Bintang di sekolah ini. Dia naksir sama kamu, harusnya kamu bersyukur, An. Aku heran sama kamu, kamu malah nolak dia."
"Ah.. Bilang aja kalau kamu iri. Dion buat kamu aja. Aku ikhlas kok. Aku gak butuh Dion. Ri, asal kamu tau ya. Dion tuh ngajak pacaran, pacaran belum tentu jadi. I think he is not serious untuk membangun hubungan. Aku gak mau jika nanti aku sakit hati dan masa depanku menjadi suram. Kalau nanti sudah saatnya, aku yakin, aku pasti bertemu dengan imamku. Aw, so sweet.."
"Ih, jijik banget sih. Udah ah," ucap Ariana.
"Mau kue?" tanya Anne pada seorang laki-laki yang sedang duduk di depan kelas XII MIPA 6. Lelaki itu tidak menjawab sepatah katapun. Ia tetap melanjutkan menatap layar ponsel yang ada di genggamannya.
"Hellooo," ujar Anne sambil melambaikan tangannya di depan wajah lelaki itu.
Lelaki itu menatap dingin mata Anne tanpa sepatah kata.
"Mau kue? Donat mungkin?" tanya Anne.
Akhirnya lelaki itu menanggapinya. "Berapaan?"
"Donat dua ribu, kue lumpur seribu lima ratus, risol tiga ribu, ...."
Belum selesai menjelaskan harga semua dagangannya, lelaki itu langsung menyeletuk, "Donat 10."
__ADS_1
"Okay. Dua puluh ribu, ya," kata Anne sambil memasukkan pesanan lelaki itu ke dalam kotak kardus ukuran sedang. Lelaki itu langsung memberikan uang lima puluh ribu rupiah.
"Uang pas ada? Kamu pembeli pertama, gak ada kembalian. Dibawa dulu ya," kata Anne sambil menyodorkan selembar uang biru itu kepadanya.
"Kembaliannya buat kamu."
"Jangan gitu dong. Kembalian kan juga hak kamu."
"Aku ikhlas. Ambil aja," kata lelaki itu dengan tatapan dinginnya.
"Ya udah, nanti kalau sudah ada kembalian, aku ke sini lagi," ucap Anne. "By the way, aku baru lihat kamu di sekolah ini, tapi sepertinya aku pernah lihat kamu di tempat lain deh. Mmm, di mana ya?"
"Aku memang baru di sini. Baru kemarin aku pindah ke Jogja."
"Oh.. Pindah dari mana?"
"Bandung."
Anne menyodorkan tangannya, mengisyaratkan hendak bersalaman mengajaknya berkenalan. "Aku Dianne, panggil saja Anne. XII MIPA 1."
Lelaki itu tak membalas sodoran tangan Anne. "Namaku Reyhan, MIPA 6."
"Maaf jika aku terlalu lancang untuk menawarkan jabat tangan," kata Anne lirih.
"Perempuan berjilbab seperti kamu, tak layak untuk disentuh lelaki yang tiada hak baginya untuk dirimu karena setiap perempuan adalah permata, perhiasan dunia."
Anne pun pergi meninggalkannya. Ia melanjutkan berdagang sebelum bel masuk berbunyi. Tiba-tiba, datanglah segerombolan siswi mendekati Anne yang sedang menawarkan dagangan.
"An, kamu mau sekolah apa jualan?" tanya Erlin.
Erlin dan gengnya sering berbuat rusuh di sekolah. Geng mereka terbilang nekat jika melakukan sebuah aksi. Geng itu merupakan perkumpulan anak orang kaya bergelimang harta. Bukannya menjadi orang-orang dermawan, malah tak jarang mereka menindas siswa yang tak selevel dengan mereka. Mereka sering melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan.
"Sekolah ini, bukan tempat berdagang. Kalau kamu jualan, kasihan ibu-ibu yang jualan di kantin dan koperasi sekolah. Bisa tersaingi. Itu artinya kamu sama saja merusak sumber rezeki mereka."
"Rezeki udah diatur. Kalau kamu mau beli, silakan. Kalau nggak, mungkin cukup dengan tutup mulut dan pergi dari sini. Sekolah ini bukan milik kamu, jadi kamu gak ada hak untuk melarangku berjualan di sini."
__ADS_1
"Nggak sudi beli makanan gak hiegenis seperti itu," ucap Erlin, lalu pergi bersama kawan-kawan gengnya.
"Lin, hati-hati kalau bercakap. Lidah kamu tajam seperti pisau," teriak Anne.