
Rasa canggung tak dapat disembunyikan dari raut muka Anne dan Dion. Anne duduk persis di sebelah Dion. Dion berpakaian rapi dengan celana jeans dan kemeja biru, sebiru samudera. Entah kebetulan atau bagaimana, Anne memakai atasan dengan warna yang sama. Rok jeans yang dikenakannya juga memiliki warna yang sama. Hanya kerudung sebagai pembeda antara keduanya. Kesamaan tersebut dijadikan topik untuk memulai pembicaraan.
"Warna baju kita sama," ucap Dion sambil menatap wajah Anne.
"Memangnya kenapa kalau sama? Bapak-bapak yang sedang duduk di pinggiran kolam juga pakai baju biru," kata Anne sambil menunjuk ke arah seorang lelaki.
"Ne, mungkin ini saatnya aku bicara sama kamu. Kamu tahu sendiri kan kalau aku suka kamu sejak kelas X. Aku udah gila, terserah orang-orang mau berkata apa. Tapi memang begitu adanya, aku hanya suka sama kamu," kata Dion langsung menuju poin yang hendak ia sampaikan.
Anne tidak memberikan tanggapan. Matanya hanya menatap ke arah kolam.
"Ne, tolong terima cincin ini sebagai pengikat, sebagai tanda jika kelak aku akan datang untuk menikahimu. Tiga tahun aku menabung hingga akhirnya aku bisa membeli cincin ini. Aku janji setelah ini aku akan menjauh dari kamu. Aku tidak akan menghubungimu sampai waktu yang tepat akan datang. Aku sudah pernah bilang ke kamu jika seseorang sudah terperangkap di lubuk hatiku yang paling dalam, aku akan sulit mengeluarkannya. Tolong, kamu terima cincin ini." Dion berkata sambil menyerahkan kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin emas.
"Dion, aku hanya tak mau memberimu harapan. Aku takut jika takdir berkata lain. Aku takut jika kelak kamu kecewa hanya karena harapan yang telah kamu ikat erat kepada diriku, sedangkan aku mungkin saja memutuskan harapan itu. Aku tidak mau menggantung perasaan kamu, Dion. Maaf."
"Ya, aku paham itu. Aku akan terima apapun risikonya. Tolong, terima cincin ini."
"Lebih baik cincin itu kamu simpan dan kamu berikan kepada perempuan yang tepat suatu hari nanti," ucap Anne.
__ADS_1
"Aku sudah menemukan perempuan yang tepat, Ne. Perempuan itu kamu."
"Garis waktu ada, tetapi tidak nyata. Kita sedang berjalan di atasnya dan kita tidak tahu kapan kita akan berhenti di suatu titiknya. Aku hanya khawatir jika titik yang aku temui itu bukan kamu. Aku hanya tak ingin menyakitimu, Dion," kata Anne.
"Ne, tapi gak ada salahnya kan kalau aku usaha dulu? Kamu boleh memintaku untuk mendayung sampan di tengah luasnya samudera, mengelilingi dunia, mendaki tingginya gunung, menyusuri hutan lebat. Semuanya itu tampak tak mungkin bagiku. Namun, jika itu mau kamu, aku akan berjuang untuk itu."
"Dion, bukan itu mau aku. Biarkan takdir bekerja."
"Ne, takdir memang sudah diatur, tetapi kita tidak bisa hanya berharap tanpa adanya usaha."
Mata Dion berkaca-kaca. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan Anne dengan kotak kecil berwarna merah yang ada di atas bangku itu juga. Dion pergi tanpa sepatah kata apapun. Batin Anne bergejolak. Jika ia meninggalkan cincin itu, sama saja Anne tidak menghargai usaha yang dilakukan Dion. Namun, jika Anne membawa cincin itu, Anne mungkin saja memberikan harapan kepada Dion.
Anne pergi dari taman. Ia berjalan tanpa tujuan. Ia ingin mengeluarkan isi hatinya dan segala pikiran. Entah mengapa pikirannya membawa dirinya ke rumah Reyhan. Tanpa pikir panjang, ia bertanya kepada pegawai warung makan.
"Permisi, Mbak. Reyhan di rumah?"
"Kalau tidak salah, ada di dalam," jawab karyawati itu.
__ADS_1
"Boleh minta tolong dipanggilkan?"
"Mari saya antar masuk saja. Mas Reyhan pasti mau menemui Mbak kok," kata perempuan itu.
Perempuan yang bekerja di warung makan milik orang tua Reyhan mengetuk pintu rumah Reyhan. Tak perlu lama menunggu, Reyhan keluar. Perempuan itu kembali bekerja setelah Reyhan menemui Anne.
"Ada perlu apa ke sini? Mengapa tidak berkabar dulu?"
"Maaf jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin bercerita."
"An, rumah lagi sepi. Aku hubungi kamu nanti gimana? Lebih baik kamu pulang."
"Aku cuma ingin minta pendapat kamu saja. Bicara langsung akan lebih jelas. Misalnya kamu terlahir sebagai perempuan. Kalau kamu jadi aku, apa yang kamu lakukan jika seseorang melamarmu padahal kamu tahu bahwa seseorang itu melamarmu bukan pada waktu yang tepat?"
"Kalau aku cinta, aku tunda. Kalau tidak, akan kutolak langsung," jawab Reyhan sederhana.
Setelah mendengar jawaban Reyhan, Anne melangkahkan kaki keluar dari rumah Reyhan. Reyhan tampak bingung dengan Anne yang tiba-tiba datang dan bertanya tentang hal yang bukan menjadi urusannya. Hanya ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Anne sebelum ia angkat kaki dari rumah Reyhan. Entah apa sebenarnya maksud Anne datang dan bertanya kepada Reyhan. Mengapa harus Reyhan, bukan yang lain?
__ADS_1