
Ujian nasional dilaksanakan selama empat hari. Tak terasa semuanya telah terlewati. Anne merasa sedikit lega, setidaknya satu beban berkurang. Anne hanya tinggal menunggu pengumuman SNMPTN. Anne tidak terlalu berharap banyak, tetapi Anne yakin bahwa apapun hasilnya, itulah yang terbaik.
Karena ujian nasional dilaksanakan secara computer based, ujian nasional dibagi menjadi tiga sesi. Anne mendapatkan sesi pertama. Ia mendapatkan sesi pagi. Pukul 12.00 WIB, Anne dan teman-temannya satu sesi telah selesai. Semuanya merasa lega walaupun soal yang muncul tidak sesuai dengan ekspektasi para siswa.
Anne harus segera pulang. Ia berjalan menuju parkiran. Matanya tertuju pada Reyhan yang sedang berada di atas motornya sambil memakai helm. Anne berlari mempercepat langkahnya, lalu mendekati Reyhan.
"Hai. Gimana ujiannya?" sapa Anne sembari bertanya kepada Reyhan.
"Alhamdulillah."
"Dari raut muka, sepertinya lancar nih?"
"Kamu juga, kan?"
"Hmm.. Entah, soal yang muncul di luar dugaanku, tapi setidaknya ujian udah selesai."
"Belum. Hidup ini banyak ujiannya. Ujian masih akan terus berlanjut."
Anne hanya meringis mendengarnya. "Maksud aku, ujian di sekolah."
"Ya udah, aku pulang dulu ya."
"Tunggu sebentar, Rey. Kita belum berbicara banyak. Habis ini kamu free? Aku pengen bicara banyak sama kamu."
"Penting banget?"
"Iya, ada yang mengganjal di dalam hati dan pikiran aku. Mungkin perlu waktu yang cukup lama."
"Oke. Aku free sekarang. Mau ke mana?"
"Terserah kamu saja. Senyaman kamu."
Reyhan tersenyum, lalu berkata, "Perempuan banget ya kamu."
Anne tertunduk dan diam.
"Ya udah, di rumah aku gimana? Ada keluarga di sana, biar tidak timbul fitnah." Reyhan memberikan pilihan.
Anne mengangguk tanpa sepatah kata.
__ADS_1
"Kamu tau warung makan 'Hani', kan? Keluargaku tinggal di belakang situ. Maaf ya, aku tidak bisa terlalu dekat dengan perempuan. Maaf, kita tidak bisa berboncengan. Kalau sudah sampai depan warung, hubungi aku. Aku mau naruh motorku dulu."
Setelah Reyhan pergi dari wilayah sekolah, Anne tersenyum dengan pipi memerah. Reyhan tidak terlalu dingin seperti biasanya. Ia lebih ramah dibanding sebelumnya.
Anne mengambil sepedanya. Ia mengayuh pedalnya menuju rumah Reyhan. Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi jika ditempuh dengan sepeda, rasa lelah muncul juga. Akhirnya, Anne sampai di depan warung makan "Hani".
Anne mengambil gawai dari tasnya. Ia segera menghubungi Reyhan via whatsapp.
"Rey, udah sampai," tulis Anne dalam pesan singkat itu.
Tak lama kemudian, Reyhan keluar menemui Anne. Anne dipersilakan masuk. Anne sedikit bingung ketika ia masuk dari pintu warung makan yang sedang buka itu.
"Jadi ini warung makan milik kamu?" tanya Anne.
"Orang tuaku lebih tepatnya," jawab Reyhan.
Di belakang warung makan tersebut, berdirilah rumah dengan desain mediteran yang sangat mewah dan megah. Anne dipersilakan masuk. Anne berdecak kagum. Matanya melotot seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak seperti tampilan dari luar warung makan yang hampir tak terlihat, rumah Reyhan nyatanya sangat luas. Lantai marmer yang benar-benar bersih menambah orang yang ada di dalamnya merasa nyaman dan betah. Di ruang tamu, Anne disambut oleh adik Reyhan, kemudian ia duduk di sofa berwarna cokelat yang ada di sana.
"Silakan duduk dulu, Mbak. Aku buatkan minum sama makanan seadanya ya," ucap adik Reyhan.
"Tidak usah repot-repot."
Adik Reyhan masuk untuk membuatkannya minuman dan menyiapkan sajian makanan untuk Anne. Sembari menunggu seseorang keluar ke ruang tamu, Anne melihat-lihat sekitarnya. Matanya melirik ke sana kemari. Ia teringat dengan suasana rumahnya dulu sebelum ayah Anne meninggal. Setelah Ayah meninggal, perusahaan milik Ayah gulung tikar. Semua aset peninggalan Ayah dijual. Rumah indekos yang dikelola ibu Anne pun turut habis tak bersisa, hanya tersisa satu rumah yang seharusnya dikontrakkan. Akhirnya, Anne dan ibunya tinggal di rumah itu. Rumah Anne yang sekarang jauh lebih sempit dan jauh lebih sederhana, tetapi Anne sangat bersyukur memiliki ibu yang kuat sehingga mereka berdua bisa bangkit dari keterpurukan.
Tak lama berselang, adik Reyhan datang.
"Mbak, maaf ya jika menunggu lama," ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak mengapa. Aku malah berterima kasih banyak sudah dijamu seperti ini."
"Silakan dinikmati," ujar adik Reyhan. "Mbak ini teman sekelas Mas Reyhan?"
Anne menggelengkan kepalanya. "Reyhan itu pelanggan setiaku waktu aku jualan kue. Hampir setiap hari dia beli. Belinya juga lumayan banyak. Sejak saat itu, kami sering bertemu dan aku sering pinjam buku-buku menarik miliknya."
"Oh, begitu. Omong-omong, kita belum kenalan. Namaku Reyhani, panggil saja Hani."
"Oh, jadi nama warung makan itu nama kamu toh.. Lucu juga ya, namanya sama-sama ada Reyhan-nya," ujar Anne sambil tertawa.
"Iya, Mbak. Reyhan dan Reyhani itu sebenarnya singkatan nama Papa-Mama. Nama papaku Reynaldi, sedangkan mamaku bernama Hanin."
__ADS_1
"Papa-mama kalian kreatif sekali," ucap Anne. "Oh, ya, usaha tempat makan orang tua kamu kan cukup besar, kenapa masih disebut warung makan?" tanya Anne.
"Itu hanya branding, Mbak. Warung makan tidak melulu dikonotasikan tempat makan yang kecil, kan? Dari dulu sampai sekarang, mulai dari warung makan kami masih kecil, sampai sudah besar seperti sekarang, Papa tidak mau mengubah istilah tempat makan ini karena masakan yang kami sajikan masih sama," jawab Hani.
"Menarik juga ya. By the way, kamu kelas berapa?"
"Kelas XI."
"SMA 1 juga?"
"Nggak, Mbak. Sekolah aku di SMA Islam yang dekat Toko Ijo."
"Oh.. ya.. ya," ujar Anne sambil mengangguk. "Besok kamu berangkat dong?" lanjut Anne menanyai Hani.
"Iya dong, Mbak. Ujian kelas XII kan udah selesai hari ini. Nanti ketagihan kalau libur terus."
Keduanya saling tertawa lepas dalam perbincangan mereka. Tak lama kemudian, Reyhan keluar ke ruang tamu.
"Han, kamu temani Mas di sini," perintah Reyhan kepada Hani.
"Maaf ya, An, kalau kamu nunggu terlalu lama. Terima kasih sudah mau menunggu. Eh, iya, mau bicara apa?" Reyhan langsung menuju ke poin penting yang diperlukan Anne.
"Rey, aku kemarin baca tulisan kamu yang dimuat dalam buku 'The Story of My Love' karyamu."
"Terus?"
"Aku suka gaya bahasamu. Aku tertarik belajar di bidang kepenulisan untuk mengisi waktu kosong sebelum pengumuman SNMPTN."
"Kalau mau belajar, boleh saja. Akan tetapi, apa tidak salah jika kamu bertanya kepadaku? Mungkin ada baiknya jika kamu bertanya kepada teman perempuan yang lain, yang lebih mumpuni dibanding aku. Dina, teman sekelasmu, pandai menulis juga, kan?"
"Tapi buku ini karya kamu, Rey."
Akhirnya, Reyhan bersedia menjadi mentor Anne selama waktu kosong sebelum masuk perguruan tinggi. Namun, Reyhan memiliki satu syarat, tutorial kepenulisan akan dilaksanakan jika salah satu di antara mereka membawa minimal satu orang untuk menjadi penengah agar tidak timbul fitnah di antara keduanya.
"Jadi, pesan apa yang akan kamu sampaikan sebelum aku pergi dari rumah ini?" tanya Anne.
"Ujian akan tetap ada selama roda kehidupan masih berputar dan rantainya belum putus. Kamu harus mengayuhnya lebih kuat," ucap Reyhan.
"Demi mencapai suatu titik di atas garis waktu yang telah ditentukan," lanjut Anne.
__ADS_1