Garis Waktu

Garis Waktu
Rantai yang Putus


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu sebelum ujian nasional dan dua belas hari sebelum pengumuman SNMPTN. Jadwal hari ini dirancang sedemikian rupa untuk mempersiapkan ujian. Persiapan ujian sudah dilakukan jauh-jauh hari. Kini semua siswa kelas XII harus meningkatkan kesiapan mental mereka untuk menghadapi ujian nasional dan ujian masuk universitas.


Jadwal hari ini tidak terlalu padat. Siswa kelas XII pulang lebih awal daripada biasanya. Anne hendak langsung pulang. Ia bergegas keluar dari kelas. Ia harus sudah sampai rumah sebelum hujan deras mengguyur membasahi kota.


Awan kelabu sangat jenuh seperti ingin memuntahkan air yang ada di dalamnya. Anne semakin cemas menatap langit. Ia tidak membawa jas hujan. Ia segera mengambil sepeda di parkiran. Pedal sepeda ia kayuh dengan kekuatan ekstra. Anne tak ingin tubuhnya basah kuyup kedinginan akibat kehujanan. Buku yang ada di dalam ranselnya juga pasti akan basah jika ia kehujanan.


Di tengah jalan, kesabarannya diuji. Tiba-tiba ada masalah pada sepedanya. Anne mengira rantai sepedanya lepas. Ia segera menepi dan mencoba membenahi rantai sepedanya. Rantai yang memutarkan roda sepedanya ternyata putus. Anne tidak dapat memperbaikinya. Ia harus mencari bengkel terdekat.


"Duh.. Bengkel terdekat dari sini kan lumayan jauh. Mana langit mendung banget lagi," gumam Anne cemas.


Ketika Anne sedang berjalan menuntun sepedanya, datanglah Dion yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Ne.. Anne.. Sepeda kamu kenapa?"


"Rantai putus."


"Gini deh. Kamu bonceng aku, sepedanya ditarik. Gimana?" tanya Dion.


"Makasih, Yon. Aku bisa sendiri kok."


"Yuk, biar cepet."


"Terima kasih, tapi itu membahayakan. Aku juga pakai rok panjang, pasti nanti susah. Aku gak apa-apa kok."


"Ya udah, aku temani kamu ke bengkel. Nanti sepedanya ditinggal, aku antar kamu pulang. Sepedanya bisa diambil besok, aku janji akan mengantarkanmu."


Setelah dipikir-pikir akhirnya Anne menerima tawaran Dion. Anne menuntun sepedanya diiringi Dion yang juga menuntun motornya. Mereka tak banyak berbicara. Mereka tampak begitu canggung. Dion terlihat berbeda dari biasanya. Dion terlihat lebih kalem. Baru kali ini Anne tidak merasa risih bercakap-cakap dengan Dion walau hanya sebentar saja.


Sesampainya di bengkel, sepeda Anne tidak langsung diperbaiki. Karyawan bengkel hendak pulang. Waktu sudah terlalu sore. Sepeda Anne ditinggal di bengkel. Untungnya ada Dion. Anne pulang bersama Dion.


"Ne, kamu mau langsung pulang atau pengen ke mana dulu gitu?" tanya Dion sedikit gugup.


"Oh, kesempatan dalam kesempitan ya," ucap Anne.


"Engga.. Enggak, Ne. Maksud aku, kalau kamu ada perlu ke suatu tempat, aku siap mengantar."

__ADS_1


Anne tersenyum manis.


"Hmm.. Karena kamu udah nolong aku, aku mau traktir kamu. Ke tempat Bakso Pak Edi dulu yuk," ajak Anne.


Mendengar ajakan Anne, Dion bahagia bukan main. Mereka pun langsung menuju ke warung langganan Anne yang menyediakan bakso sapi lezat. Sembari menikmati bakso, mereka saling bercakap.


"Ne, aku boleh tanya sesuatu nggak?"


Anne mengangguk.


"Ne, kenapa kamu selalu menjauh ketika aku mencoba mendekatimu? Apa aku kurang tampan, kurang baik?"


Anne meringis mendengar pertanyaan Dion, lalu berkata, "Dion, kamu itu baik, baik banget malah. Ketampanan juga gak usah diragukan. Kalau pakai nafsu, aku bisa aja menerima kamu, tapi aku punya seribu alasan untuk memilih berteman baik denganmu, bukan dengan berpacaran."


"Lalu apa alasannya?"


"Pacaran hanya menghabiskan uang, padahal uang dari orang tua. Pacaran juga hanya menghabiskan waktu sia-sia, padahal masa depan sudah menunggu di depan sana. Aku tidak mau terjebak pada cinta yang belum seharusnya dibangun. Kalau ternyata bukan jodohnya, kecewa kan jadinya."


"Aku hanya ingin serius sama kamu, Ne.."


"Asal kamu tau, Ne. Kalau aku sudah membiarkan seseorang masuk di dalam hati aku, aku tidak akan membiarkannya keluar."


"Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku tidak suka dengan cara kamu yang berlebihan. Menyatakan cinta di depan umum dan mengejar diriku setiap saat. It's annoying and I don't like it."


"Oke, aku minta maaf. Aku menyerah sekarang. Jadi kita best friend aja nih?" tanya Dion tersenyum.


Anne membalas senyum Dion.


"Sementara ini iya," jawab Anne.


Anne bukan tipe orang yang hanya memandang fisik saja. Ia perlu mengetahui dan memahami seseorang yang mencintainya dari dalam. Anne tidak tahu persis bagaimana perasaannya kepada Dion. Ia bimbang. Ketampanan Dion kadang mengalahkan prinsip yang sudah ia pegang erat dalam genggamannya, tetapi bagaimanapun juga Anne harus teguh. Rasa sesal sempat hadir seketika setelah ia mengatakan kepada Dion bahwa ia tak suka jika Dion mencoba mendekatinya.


Entah, ia hanya sedang berjalan di atas garis waktu. Biarkan waktu yang akan menjawab. Biarkan garis waktu mengantarkannya pada titik temu yang tepat. Apakah seseorang yang akan Anne temui pada titik temu kelak itu Dion? atau bahkan orang lain yang tidak pernah ia duga sebelumnya?


Setelah menyantap semangkuk bakso sapi yang lezat, Dion mengantarkan Anne pulang. Rintik kecil gerimis turun membasahi kota. Dion menawarkan Anne untuk berhenti memakai jas hujan. Namun, Anne menolaknya. Sebentar lagi sampai. Menurut Anne, akan lebih baik jika Dion mempercepat laju motornya sebelum hujan deras mengguyur.

__ADS_1


Sebelum hujan deras turun, Anne sudah sampai di rumahnya. Anne mengkhawatirkan Dion jika hujan mengguyur sebelum Dion sampai rumah.


"Dion, terima kasih banyak ya."


"Aku juga berterima kasih atas gratisan baksonya. Aku pamit dulu."


"Hati-hati, Yon. Pakai jas hujan sekarang aja."


"Nanggung. Aku langsung pulang aja. Kalau nanti hujan deras di jalan, aku berhenti kok."


Dion pulang. Anne masuk ke dalam rumah. Ibu sudah menyiapkan secangkir teh hangat.


"Tadi temen kamu?"


"Iya, Bu. Dia kelas sebelah. Sepeda Anne di bengkel. Untung ada dia."


"An, Ibu berpesan sama kamu. Kalau bergaul sama lawan jenis, jangan terlalu dekat. Kamu harus jaga jarak dengan laki-laki."


"Iya, Bu. Anne sudah tahu. Anne pulang sama temen laki karena kepepet. Anne tadi sempat nolak, tapi gimana lagi, waktu juga udah terlalu sore."


"An, pasti kamu mampir ke tempat lain, kan? Kok mau magrib gini baru pulang?"


"Ibu, tadi Anne ajak Dion makan bakso sebagai ucapan terima kasih Anne."


"Pantes saja, jam segini baru pulang. An, lain kali kamu jangan ambil atau memberi kesempatan dalam kesempitan ya. Ibu takut kamu salah gaul."


"Ibu.. Anne hanya pengen membalas kebaikan Dion kok."


"Kamu gak ngabarin Ibu. Kamu lupa, kan? Ibu kan juga khawatir sama kamu."


"Bu, maaf banget ya. HP Anne lowbat. Anne minta maaf ya, udah buat Ibu khawatir."


"Buruan. Habis ini mandi, salat, makan, belajar."


"Iya iya, Bu," kata Anne.

__ADS_1


__ADS_2