
Rintik hujan tak menghalangi semangat Anne untuk tetap berjualan. Walaupun libur sekolah, hari Minggu adalah waktu yang tepat untuk membantu ibunya mencari rezeki. Pedal sepeda ia kayuh. Tetes keringatnya terhapus oleh tetes hujan yang membasahi kota.
Rupanya hujan semakin deras. Anne tidak bisa melanjutkan berjualan. Terlihat sekelibat kilat, disusul suara guntur yang mengerikan. Anne menepikan sepedanya di tempat yang cukup baginya untuk berteduh.
Hujan tak kunjung reda. Petir juga masih bergemuruh di langit yang gelap gulita. Anne terjebak. Sudah berjam-jam Anne duduk di pinggiran toko roti yang tutup.
"Duh, gimana ini, dagangan belum laku, aku ga bisa pulang. Semoga ada jalan paling tidak aku bisa pulang dengan aman," batinnya.
Tak lama kemudian, berhentilah mobil mewah berwarna hitam di depan toko roti. Seorang wanita keluar dari mobil itu dan segera memekarkan payung berwarna merah muda. Wanita berjilbab dengan muka blasteran itu kemudian bertanya kepada Anne.
"Permisi Dik, mau tanya. Toko ini buka jam berapa ya? Biasanya jam segini udah buka loh."
"Maaf Bu, saya tidak tahu. Saya di sini hanya berteduh. Dari awal saya di sini, tokonya tutup."
"Oh, ya sudah. Terima kasih ya, Dik," kata wanita itu.
"Maaf, Bu. Ibu cari roti?"
"Iya, Dik. Saya ada tamu. Keponakan saya dari luar kota datang. Dia suka banget sama donat. Bagi saya, donat di toko ini paling enak."
"Saya jualan donat, Bu. Ibu bisa coba dulu, gratis. Kalau Ibu suka, Ibu bisa beli di tempat saya."
__ADS_1
Wanita itu setuju dengan tawaran Anne. Sebelum membeli, wanita itu mencicipi donat dagangannya terlebih dahulu. Setelah dirasa pas rasanya, wanita itu membeli semua donat yang Anne bawa.
"Donatmu lumayan enak, tidak jauh beda dengan buatan toko roti ini," ucap wanita itu sembari membayar donat yang ia beli.
"Bu, saya tidak punya kembalian, baru Ibu yang membeli dagangan saya. Apa Ibu punya uang pas?"
"Gak ada, Dik. Gini saja, dagangan kamu saya beli semua, dihitung totalnya berapa."
Mendengar perkataan wanita itu, Anne terkejut. Bagaimana tidak, dagangannya langsung ludes sekejap saja. Anne merasa sangat bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Mungkin inilah balasan bagi orang yang bersabar dan ikhlas.
Wanita itu kemudian kembali ke mobilnya dan pergi dari tempat itu, sementara Anne masih duduk diam di emperan toko roti itu. Ia menunggu hujan sedikit mereda, paling tidak setelah petir tak menyambar. Hanya sekelumit dzikir yang mampu menenangkan hatinya kala rasa takut menghantui dirinya.
Setelah beberapa jam menunggu, hujan pun berhenti. Anne harus bergegas kembali ke rumah sebelum hujan turun lagi. Ibu menyambutnya. Secangkir teh panas dan sepiring pisang goreng sudah tersaji di meja makan.
Anne menyerahkan uang hasil dagangannya kepada Ibu.
"Bu, tadi dagangan langsung habis diborong."
"Alhamdulillah, An. Nih, tehnya diminum dulu."
Anne menyeruput secangkir teh panas buatan Ibu. Anne menceritakan pengalamannya berjualan tadi. Selanjutnya, Ibu memberikan tanggapan.
__ADS_1
"An, kamu ini udah kelas 3, bentar lagi ujian, kamu juga harus memikirkan mau kuliah di mana."
Anne mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya.
"Minggu depan kamu gak usah jualan ya," ucap Ibu kembali.
Anne berhenti mengunyah.
"Terus kita dapat tambahan uang dari mana, Bu? Kalau Anne gak jualan, kita hanya bergantung pada penjualan salad buah dan kue kering yang tidak pasti, Bu."
"Kamu jualan kue dan jajanan pasar seperti itu juga tidak tentu, kan? Rezeki udah diatur. Nanti kalau kita butuh, pasti ada."
***
Di kamar, Anne termenung sendirian. Ia membayangkan garis waktu. Ia teringat akan masa lalu, tentang cinta pertama pada seorang teman yang susah dilupakan, kemudian garis waktu terus mengantarkannya pada titik sekarang. Sekarang ia sudah lupa bagaimana rasanya mencintai. Mencintai hanya membuatnya ingin dicintai. Ketika perasaannya tak terbalas, hanyalah hati yang terluka. Untung ia punya Tuhan yang selalu mencintai dirinya walau kadang dirinya belum sempurna imannya. Tuhan sudah mengirimkan bidadari tanpa sayap yaitu ibunda yang selalu memberikan kasih sayang tiada tara. Dulu, Tuhan juga telah menghadirkan sosok ayah yang bijaksana, tetapi mungkin ini cara Tuhan mencintai keluarga Anne. Ayah sudah lebih dahulu pergi menghadap Sang Pencipta. Tuhan ingin Anne dan Ibu bersabar dan berjuang bersama menghadapi kerasnya hidup.
Lantas apa yang akan terjadi pada masa mendatang? Entah, garis waktu sering kali memberi kejutan. Tak jarang pula garis waktu menyajikan lelucon tentang kehidupan. Dulu, sehari sebelum Ayah pergi, Ayah terlihat baik-baik saja. Beliau mengajak Anne dan Ibu berlibur ke Paris selama berhari-hari, tetapi keadaan berubah begitu saja. Dalam perjalanan menuju salah satu bandara di Perancis, Ayah tertidur lelap duduk di dalam mobil. Sesampainya di bandara, Ibu membangunkan Ayah, tetapi Ayah tidak memberikan tanggapan. Setelah dicek, tidak menunjukkan tanda kehidupan pada diri Ayah. Anne dan Ibu panik dan langsung membawa Ayah ke rumah sakit terdekat. Bayangkan saja, beberapa jam lagi pesawat hendak take off. Namun, keluarga Anne harus menunda kepulangannya. Yang benar saja, tim medis memastikan bahwa Ayah benar-benar meninggalkan Anne dan Ibu.
Dunia yang fana ini memang kadang sebercanda itu. Namun, semua yang terjadi telah ditakdirkan Tuhan secara pasti. Biarkan takdir bekerja, mengantarkan seseorang pada titik-titik tujuan di atas garis kehidupan hingga sampai pada titik akhir kehidupan yang kemudian berlanjut pada dunia yang kekal.
Terlalu rumit untuk dipikirkan. Anne hanya bisa berbuat baik ketika melangkah di atas garis kehidupan. Ia harus memperbaiki diri. Ia harus lebih baik dalam berhubungan dengan Sang Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya. Hanya itu yang dapat Anne lakukan. Anne akan terus berjalan untuk menemukan titik temu itu. Entah, kejutan apa saja yang akan terjadi?
__ADS_1