Gersang

Gersang
Part 1.


__ADS_3

💣Mature content. Take it or leave it.💣



...Milan Arangga...



...Rima Elsinta...


••••••••••


"Milan.." wajah Rima pucat tak berdarah.


Milan tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk tanpa meminta persetujuan dari kakak iparnya itu.


"A-apa yang kau lakukan disini?" suara Rima terketar tidak menyangka jika Milan akan menemukannya ditempat ini.


Milan lantas mendudukkan dirinya ditepi kasur. Rima mondar-mandir dengan gelisah diruang kamar yang berukuran sempit itu.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan ditempat ini dan mengapa kau meninggalkan rumah Joel begitu saja?"


"Tolong jangan beritahu Joel jika aku ada disini. Aku mohon!" pinta Rima serba-salah.


"Joel suamimu dan dia harus tahu!"


Rima memainkan jemarinya gelisah.


"Aku akan menelepon Joel dan memintanya untuk menjemputmu sekarang!" putus Milan meraih ponselnya namun Rima sontak mencegah.


"Milan, please..!" Rima bersimpuh dan meneteskan air mata dihadapan Milan.


Milan mendengus napas beratnya. Bukan dia tidak tahu apa yang terjadi di antara Rima dan juga kakaknya. Hanya saja Milan menginginkan agar Rima mendapatkan yang terbaik dari Joel dan laki-laki itu wajib memberikannya.


"Jadi kau ngontrak disini?" Milan memperhatikan seisi kamar yang terlihat kurang layak itu.


"Hanya ini yang aku mampu. Setidaknya disini aku tidak perlu lagi bertemu dengan Joel apalagi kekasihnya itu!" suara Rima melirih.


"Ikut aku ke tempat yang lebih bagus!" tanpa menunggu persetujuan Rima, Milan langsung mengemasi barang-barang milik Rima yang tak seberapa itu dan disumbatkannya kedalam tas.


Rima tercengang melihat perbuatan Milan.

__ADS_1


"Kau mahu bawa aku kemana?"


"Dengar, kau kakak iparku dan aku punya kewajiban untuk melindungi serta memastikan segala kondisimu baik-baik saja!" Milan menaikkan suaranya.


Rima masih berdiam membuat Milan sedikit berkasar dan menarik tangannya.


"Milan, tunggu.. aku belum berganti pakaian!"


Tatapan Milan jatuh ke tubuh Rima yang hanya mengenakan gaun tidur paras paha tanpa celana.


"Tidak apa, mobilku ada diluar," ucap Milan sebelum berlalu dan menemui pemilik kontrakan untuk melakukan pembayaran.


••••••••••


"Ini apartemen siapa?" tanya Rima dengan tatapan teruja.


"Milan Arangga. Kemarikan tas-mu itu!" Milan meletakkan tas Rima diatas meja disudut rumah.


"Raline?"


"Aku tidak pernah membawa perempuan manapun kesini. Kau adalah yang pertama."


"Tapi bagaimana jika kekasihmu itu tahu aku tinggal disini?"


Milan memberikan sehelai bathrobe kepada Rima dan menunjukkan arah kamar mandinya.


"Sekarang kau boleh membersihkan tubuhmu."


Rima mengangguk dan meraih bathrobe itu.


Milan menghempas tubuhnya dikasur seraya memejamkan kedua matanya.


'This is wrong. Tidak seharusnya aku mencampuri urusan rumahtangga Joel dan juga Rima dengan bertindak sejauh ini. Tapi aku sudah lebih dari separuh langkah dan rasanya mustahil untuk mundur sekarang. It is too late, man. You have to face it. This is your fate!'


Milan tersentak ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Rima telah selesai mandi dan turut mengkeramasi rambutnya. Tubuhnya berbungkus bathrobe selutut menampakkan betisnya yang putih jenjang.


"Aku tidur dimana?"


"Here," Milan menepuk-nepuk bantal disisinya dengan raut datar.


"Jangan bercanda!"

__ADS_1


"No argue. Ini sudah malam dan aku sangat lelah!" putus Milan seraya menutup matanya dan tertidur.


•••••••••


"Hwaa, aku terlambat!" pekik Rima dan spontan melompat dari kasur.


Milan mengkerut dahi melihat Rima yang terburu-buru masuk kekamar mandi.


"Ini salahmu, Mile! Harusnya tadi kau membangunkanku!" protes Rima dari balik pintu.


Milan sekadar menggeleng kepala geli dengan polah Rima. Dia melanjutkan tugasnya menyiapkan sarapan berupa roti bakar dan telur mata sapi, juga satu mug kopi sambil menantikan Rima selesai.


Tidak lama Rima muncul dengan hanya mengenakan handuk sebatas dada.


"Hari ini kau tidak usah bekerja. Tinggal dirumah dan tunggu sampai aku pulang. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan."


"Tapi--"


"Ikuti perintahku atau aku akan memberitahukan Joel tentang keberadaanmu!"


Rima menarik wajahnya masam. Selanjutnya dia menghempaskan pinggulnya berat disamping Milan.


"Makanlah," Milan menyodorkan sepiring roti kehadapan Rima yang masih mengerucutkan bibirnya.


"Rima Elsinta.."


Rima menoleh dengan berat ke arah Milan. Kesal karena hari ini tidak dibolehkan untuk bekerja.


"Makan atau..."


Milan tidak lagi mampu menahan. Dagu Rima diraih lalu meletakkan kecupannya disana. Bibir Milan naik menyentuh bibir merah Rima yang sangat menggoda. Kedua tangan Milan turut merangkul kemas pinggang Rima.


Perlahan handuk yang membungkus tubuh Rima tak lagi berada ditempatnya. Milan mendaratkan tangannya dikedua gunduk*an padat Rima dan memainkannya dengan gemas disana.


Rima membuka mulutnya dan mendesah. Spontan Milan melesatkan lidahnya dan menjelajahi setiap rongga mulut Rima. Kaget ketika Rima turut melakukan hal yang sama sebagaimana dirinya.


Jemari Rima diselipkan ke balik kaos yang dipakai Milan, menyentuh abs laki-laki itu dan menjalar ke kedua pucuknya. Milan mengerang ketika Rima berhasil menemukan titik kelemahannya.


Milan melepas tautan bibir mereka, menjilati leher Rima lalu singgah dikedua pucuk Rima yang kemerahan. Tangan Rima bermain-main dirambut Milan dan menekan tengkuknya.


Keduanya beralih ke tempat tidur sembari terus meraba dan mengecup satu sama lain. Rima terlentang dibawahnya, sementara Milan mendaratkan semula bibirnya dibibir Rima.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2