Gersang

Gersang
Part 2.


__ADS_3

Sementara menantikan Milan pulang dari kantor, Rima memberesi apartemen dan juga beberapa peralatannya.


Baju dari dalam tas dikeluarkan lalu digantungnya didalam lemari. Rima belum tahu berapa lama dia akan tinggal bersama adik iparnya.


Terdengar pintu dibuka. Rima langsung berlari dan mendapatkan Milan yang sedang dipapah oleh seseorang.


"Pak Milan mabuk berat!" ucap pria yang memapah Milan dan Rima sama sekali tidak mengenalnya.


Rima bergegas membaringkan Milan diatas kasur. Kemeja Milan dilepas satu persatu. Aroma alkohol menyeruak seketika namun tidak dihiraukan oleh Rima. Dia tahu toleransi Milan terhadap alkohol sangat rendah. Entah apa yang membuat laki-laki itu mencecoki dirinya dengan alkohol sehingga mabuk sebegitu.


Seluruh pakaian Milan telah berhasil dilepas menyisakan boxer hitam ditubuhnya. Rima menarik selimut untuk menutupi tubuh Milan akan tetapi sebelah tangan Milan meraihnya hingga terjatuh diatas tubuh laki-laki itu.


Rima menggeliat ketika napas beraroma alkohol menyesaki wajahnya. Tenaganya bukan apa-apa jika dibandingkan Milan sehingga Rima tidak mampu meloloskan tubuhnya.


"Milan, jangan!" pekik Rima ketika tangan Milan sudah berhasil merobek bajunya. Tubuh Rima didorong hingga terlentang dan seketika Milan sudah berada diatasnya.


Rima membiarkan saja mengingat laki-laki itu sedang mabuk berat dan tidak sadar apa yang dilakukannya. Tidak lama Milan hanyut dalam dengkuran halusnya. Rima menolak tubuh Milan kesisi dan berusaha bangkit namun sebaliknya yang terjadi, Rima turut berbaring dan memeluk Milan sampai hari pagi.


•••••••••


Rima merasa kedinginan. Tangan meraba sampingnya namun dia tidak menemukan Milan disana. Rima mencelikkan mata dan mendapati ada secercah cahaya dari ruang pantri. Perlahan Rima bangkit menggapai handuknya dan melangkah ke kamar mandi.


Handuk dililitkan ketubuhnya sebelum keluar. Selanjutnya Rima membuka lemari untuk mengambil baju. Seketika Rima merasakan ada tangan kekar yang merangkul pinggangnya.


Milan hanya bertelanjang dada dan mulai memagut pelan bibir Rima. Dia kembali mencicipi tubuh Rima dan menariknya ke atas kasur. Rima hanyut dalam kecupan dan juga sentuhan Milan dengan sekelip mata. Milan benar-benar tahu cara membahagiakan dan memperlakukan Rima seperti ratunya.


"Bersiaplah sore ini. Kita keluar."


Milan mengecup bibir Rima sekilas lalu membuka pintu dan berlalu.


••••••••••


"Kenapa kau membeli semua ini?" protes Rima sesaat mengeluarkan isi belanjaan dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja perantara TV dan sofa. Ada beberapa pakaian dan beraneka jenis makanan disana.


Milan melepaskan kaos atasannya yang sedikit membuatnya gerah.


"Karena aku ingin kau memakai dan memakan semua itu."


"But mine is still nice. Bra dan juga panties-ku masih sangat bagus. Aku belum membutuhkan semua ini!" cicit Rima mengasingkan bra dan cd yang baru dibeli tadi. Semuanya terlihat seksi dimata Rima.


"Karena aku ingin melihatmu didalamnya!" sahut Milan datar.

__ADS_1


"Jangan menggodaku terus, Mile!"


"Kamu pikir aku sedang menggodamu dengan menghabis-habiskan uang seperti ini?!" Milan menatap Rima tajam. Tidak suka ketika Rima selalu mencurigai keseriusannya.


"Tapi aku tidak menginginkan semua ini!" tukas Rima dengan nada pelan.


"Sit here," perintah Milan menyuruh Rima duduk didekatnya.


Rima menurut dan menantikan Milan bicara.


"Tinggal bersamaku, dan aku berjanji akan menjagamu!"


"A-apa maksudmu?"


"Stay with me, forever," ucap Milan tegas.


"Milan, berhenti bercan--"


"I'm serious!" pangkas Milan mencium gemas wajah Rima.


Rima menggigit bibir sesaat.


"Dia urusanku, bukan urusanmu!"


"Bagaimana jika aku tidak mahu?"


"Itu berarti kau memilih tinggal bersama Joel. Diduakan, diabaikan, bahkan dianggap bayang-bayang!"


Hati Rima spontan mengecut sesaat mendengarkan nama Joel.


"Be my side by all the time. Not only for this delicious thing.." Milan menarik Rima kedalam pelukannya dan mulai menciumi lehernya.


"Milan, stop.." tepis Rima menolak kepala Milan dengan manja.


"Aku akan memberi semua yang kamu inginkan. Uang, sentuhan, apa saja!" janji Milan.


"Kenapa harus aku? Kenapa bukan Raline atau--"


"Dia hipokrit. Bukan tipeku!"


"Apa bedanya denganku? Aku istri kepada Joel Arungga tapi saat ini aku justru bemesraan dengan adiknya iaitu Milan Arangga!" desah Rima disela-sela kecupan Milan diwajahnya.

__ADS_1


"Tentu saja kau berbeda. Dan setidaknya kau akan merasa aman dan nyaman disampingku, percayalah!"


••••••••••


Tangan Carla menyelinap masuk dan mengusap perut Joel lalu turun kebawah didalam boxernya. Joel yang sudah melelapkan mata sontak mendesah merasakan miliknya yang bertindak balas dengan cepat seiring pijatan Carla disana.


"Bangunlah, Joel. Aku belum puas!" rengek Carla membuat Joel mendengus gerah dan membuka mata.


"Kau baru saja mendapatkannya, Carla!"


"Tapi aku masih mahu!" desak Carla dan langsung memposisikan dirinya diatas Joel.


"Fu*k yourself then!"


Joel mengetatkan rahangnya kesal. Rasa marahnya karena ditinggalkan Rima belum lagi hilang. Terlebih ketika puas mencari seharian namun belum juga menemukan bayangan Rima yang seolah hilang entah kemana.


Meskipun Joel terpaksa menikahi Rima karena dijodohkan oleh orang tua mereka, akan tetapi jauh dilubuk hati Joel sudah lama tergoda akan kecantikan Rima hanya saja Joel terlalu ego untuk mengakuinya.


Sengaja Joel memamerkan kemesraannya dengan Carla berharap Rima akan cemburu namun yang terjadi Rima justru memilih kabur dan pergi meninggalkannya.


Tidak terima dengan Rima, Joel menarik tubuh Carla dengan kasar ke pelukannya lalu menciumi bibir Carla dan menggigitnya hingga berdarah.


Napas Carla disedot habis membuat wanita itu menggeliat meminta lepas dari kungkungan Joel dengan segera.


'Bukankah ini yang kau inginkan, huh?!' desis Joel sedikit puas setelah melempiaskan kemarahannya pada Carla.


Selanjutnya Joel menarik Carla untuk bangun lalu membenturkannya ke tembok. Rambut panjang Carla dijambak dan ditarik kuat sehingga kepalanya condong ke sisi.


Wajah Carla diratakan ke tembok lalu sebelah kakinya diangkat separas pinggang Joel sebelum Joel menancapkan senjatanya dengan sekuat tenaga disana.


Sebanyak hentakan yang didapatkannya dari Joel maka sebanyak itulah wajah Carla harus menghentak tembok membuat desahannya nyaris tak terdengar.


"Kau puas sekarang?! Ayo, nikmati sampai kau benar-benar puas!" desis Joel puas melihat Carla yang kesakitan seakan mengurangi sakit yang dirasakan olehnya.


Joel meninggalkan Carla yang terduduk lemah ditepi tembok itu dan beralih dengan cepat ke kasur. Rambut Carla sudah kusut selayaknya gagal eksperimen. Joel berbaring kembali dan memejamkan matanya seolah semua permasalahannya telah selesai begitu saja.



...Joel Arungga...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2