
Milan berdecak kesal ketika wanita itu terus saja memanggilnya bahkan mengekorinya keruang kerja.
Siapa lagi jika bukan Raline mantan kekasih Milan yang dia putuskan setelah mengetahui wanita itu berselingkuh dengan pria lain.
"Apa yang kau inginkan, huh?" tanya Milan berusaha lembut pada Raline. Milan tersadar dia harus menjaga imejnya agar tetap terlihat baik diperusahaan.
"Sudah lama kita tidak makan siang bersama, Mile!" Raline merengek meski telah berkali-kali Milan menolak ajakan makan bersamanya. Wanita itu masih tidak dapat menerima kenyataan jika dia dan Milan harus berpisah.
"Maaf, aku sangat sibuk. Silakan kau ajak yang lainnya saja!" tepis Milan jengah dan secepatnya meloloskan diri dari hadapan Raline.
Milan menghempaskan tubuhnya di kursi kerja. Ingatannya seketika tertuju pada wanita pujaannya iaitu Rima. Seingatnya ketika berangkat kerja tadi pagi, Rima masih tidur dan Milan tidak tega untuk membangunkannya. Wanita itu lemas setelah serangan bertubi-tubi yang didapatkan dari Milan ke atas tubuhnya.
•••••••
"Rima, kau kemana saja huh? Apa kau tahu Joel sedang mencarimu?" berondong pertanyaan dari Tere sesaat Rima meneleponnya pada siang itu.
Tere adalah rekan sekerja Rima sebagai cashier disebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.
"Tolong jangan katakan apapun pada Joel, aku mohon padamu Re! Kau tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan Joel bukan?"
"Ya sudah, kau hati-hati saja dan jangan ragu untuk menelponku jika kau butuh sesuatu," ucap Tere sebelum panggilan mereka berakhir.
Rima melirik jam yang menunjukkan sudah pukul 07.00 malam. Sore tadi Milan meneleponnya jika dia akan terlambat pulang karena pekerjaan yang menumpuk diperusahaan.
Ide nakal bermunculan dikepala Rima. Serta-merta dia mengambil ponselnya lalu mensasarkan fokus kamera itu tepat ke arah dapur. Rima melanjutkan aktivitasnya memasak sesaat panggilan videocallnya diterima oleh Milan.
"Sheet!" decak Milan ketika wajah Rima muncul dilayar ponselnya.
Rima sedang mengiris sayuran didapur dan tubuh gadis itu hanya mengenakan dalaman seksi yang pernah dibelikan oleh Milan sebelumnya.
"Makan malam sedang menunggumu, Mile!" ucap Rima dengan nada yang dibuat sensual.
"Dinner.. or you?" usik Milan tersenyum.
"Both."
Selanjutnya Rima mengambil sebiji wortel lalu menjilatinya dari bawah sampai atas sebelum kemudian memasukkan wortel itu kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Gosh, you drove me crazy, Rima! Wait for me and I'll catch you after this!" Milan mendengus merasakan miliknya yang mulai berontak disana.
"I can't wait! Muach!" Rima menghadiahkan flying kissnya ke arah layar.
Selanjutnya Rima mematikan panggilan itu dan tersenyum nakal.
••••••••
Milan menggerutu dan dengan tidak sabar dia meraih kunci mobilnya lalu bergerak meninggalkan perusahaan.
Pikirannya tidak lagi fokus pada pekerjaan karena baru saja diporak-porandakan oleh Rima. Gadis itu semakin liar sekarang dan Milan tidak ragu-ragu untuk memberinya pelajaran.
"Rima.." panggil Milan sedikit resah ketika mendapati suasana apartemennya yang gelap-gelita.
Tidak lama tatapan Milan tertancap pada sebuah cahaya lilin dari arah kamar. Langkahnya diatur perlahan dan terlihat banyak lilin yang menghiasi disepanjang jendela.
"Rima, where are you?" panggil Milan lagi ketika tidak menemukan kelibat Rima didalam kamar.
Tiba-tiba Rima muncul dan memeluk Milan dari belakang.
"Happy birthday, Milan!" ucap Rima seraya mengecup mesra pipi Milan yang spontan terkekeh dengan kejutannya.
"Buat permintaan lalu tiup lilinnya," Rima mengulurkan sepiring kek kecil beserta lilin ke hadapan Milan.
Dengan cepat Milan membuat permintaan dalam hati dan meniup lilin. Selanjutnya Milan menaruh piring kek itu ke atas nakas lalu dengan tidak sabar menarik Rima ke atas tempat tidur.
"Kau mengingatnya, huh?" desis Milan seraya mencium wajah Rima bertubi-tubi. Jujur Milan merasakan sangat terharu karena Rima mampu mengingat tanggal lahirnya yang bahkan dia sendiri tidak pernah mengingatnya.
Tatapan Rima meredup membuat Milan semakin menggila. Selanjutnya Rima menjerit kecil ketika Milan meraih piring kek lalu melumurkan kek itu ke atas tubuhnya.
"Taste nicer." Lidah Milan mulai menyapu tubuh Rima yang berlumuran kek itu hingga habis tak bersisa.
Kedua tangan Rima terulur dan melepas pakaian Milan dengan satu persatu.
"Thanks for the surprise, cake, kisses and everything!" bisik Milan lalu melesatkan lidahnya masuk kedalam mulut Rima.
••••••••
Pagi ini Rima harus keluar dan berbelanja sendirian untuk mengisi stok kulkas. Milan harus keluar kota demi mengikuti rapat bersama dengan beberapa perusahaan termasuk perusahaan milik Joel kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Hi, sweety." Rima menoleh ke arah suara itu yang menyapanya sesaat keluar dari pintu lift.
Seorang laki-laki muda berpenampilan rapi selayaknya anak kuliahan atau barangkali dia adalah dosen disebuah universitas.
"Kau yang menempati unit disebelah bukan?" tanya laki-laki itu dengan ramah ke arah Rima.
"Benar," angguk Rima singkat.
"Aku Karl Aquino, penghuni unit sebelah." Karl mengulurkan tangannya yang kemudian disambut dengan ragu oleh Rima.
"Rima Elsinta."
"Jadi kau adalah istrinya Milan Arangga?" selidik Karl berpura-pura sesaat.
"Bukan, aku adalah.. emh aku dan juga Milan kami hanya berteman," jujur Rima bingung dengan statusnya.
"I see.."
"Maaf, Karl. Aku harus pergi!"
"Nice meeting you, and see you next time!"
Rima berlalu pergi meninggalkan Karl yang masih menatap kagum pada dirinya.
••••••••
Karl tersenyum sesaat kelibat Rima telah pulang dari berbelanja. Dia tahu jika saat ini Milan sedang keluar kota dan kesempatan baginya untuk mendekati Rima.
"Hai Rima, bisakah aku meminta nomor ponselmu?" Rima mendengus risih ketika Karl menghalanginya dari memasuki pintu lift.
"Maaf, aku tidak bisa. Tolong jangan menghalangiku!" tepis Rima sedikit menaikkan suaranya.
"Tidak sebelum aku mendapatkan nomermu, sweety." Karl mendepakan kedua tangannya menghalangi Rima dari menekan tombol lift.
"Karl, aku mohon jangan seperti ini! Jika Milan melihatmu maka--"
"Milan akan apa, huh?" Karl semakin beringas dan memeluk Rima sehingga mahu tidak mahu Rima memberikan nomor ponselnya.
"Jangan berharap aku akan mengangkat teleponmu apalagi meneleponmu!" ucap Rima kesal ke arah Karl yang tersenyum puas telah berhasil mendapatkan nomor ponselnya.
__ADS_1
Bersambung...