
Rima mengesat kedua matanya yang sejak tadi tidak berhenti menangis. Untuk apa dia harus menangisi seseorang yang tidak memiliki perasaan terhadap dirinya? Rima menyadari sepenuh hatinya sangat mencintai Milan meski dia tahu bahwa laki-laki itu sudah memiliki kekasih iaitu Raline.
"Tenanglah Rima, sementara kau aman disini. Joel atau siapapun itu tidak akan bisa menemukanmu!" bujuk Tere menenangkan Rima.
"Terima kasih sudah mengizinkanku tinggal dirumah orang tuamu ini, Re! Aku sangat terhutang budi padamu! Hanya kau satu-satunya sahabat yang aku miliki didunia!" ucap Rima terus meneteskan air matanya.
"Sebenarnya masalah apa yang sedang kau hadapi sekarang, Rima? Ceritalah denganku, aku pasti akan membantumu!" desak Tere kemudian.
Rima menarik napasnya dalam sebelum menceritakan kepada Tere.
"Re, apa yang akan kau lakukan ketika kau mencintai seorang lelaki tapi lelaki itu tidak mencintaimu, sementara disisi lain ada seorang lelaki yang mencintaimu tapi kau tidak mencintainya?"
"Wow, jadi itu sebabnya kau bersedih seperti ini huh?!" lama Tere terdiam dan berpikir.
Rima sangat yakin jika Tere juga bingung sebagaimana dirinya.
"Aku lebih memilih pergi pada seseorang yang mencintaiku walaupun aku tidak mencintainya. Aku teringat sebuah quotes dari seorang penulis favoritku yang mengatakan; teman hidup yang baik itu bukan ketika dia memenuhi seluruh kriteria yang kita inginkan dan memiliki segalanya. Akan tetapi teman hidup yang baik itu adalah si dia yang sangat jelas menginginkan kita sebagaimana kita sangat menginginkannya. Jika dia sangat sempurna tapi dia tidak menginginkanmu, sama saja kau bermimpi jadinya!" jelas Tere membuat hati Rima semakin luluh mendengarkan.
Jadi maksud Tere, Rima harus meninggalkan Milan dan pergi kepada Karl?
••••••••
"Aku harap kau sudah melihat breaking news hari ini, Rima. Joel suamimu itu menjadi trending topic sekarang!"
__ADS_1
"A-apa maksudmu Re?"
"Joel Arungga pemilik hotel dan pusat hiburan malam terbesar di ibu kota telah dinyatakan tewas usai terkena tembakan dari seseorang yang tak dikenal! Pihak kepolisian menduga sementara jika pelaku mungkin berasal dari musuh sesama bisnisnya!"
"Jadi J-Joel sudah meninggal? S-secepat itu?! " Rima menelan salivanya gusar. Ternyata Karl tidak bermain-main dengan kata-katanya.
Seketika Rima merasakan cemas karena sudah satu minggu dia menon-aktifkan ponselnya. Rima sama sekali belum memberi kabar pada Karl jika saat ini dia sudah pergi meninggalkan Milan dan juga apartemen. Rima khawatir jika Karl mensasarkan Milan sebagai target korban laki-laki itu yang seterusnya.
Rima ingin meraih ponselnya didalam kamar untuk menghubungi Karl namun sesaat akan bangkit dari sofa tiba-tiba saja dia merasakan kepalanya pusing dan berkunang-kunang.
Sejak pagi Rima tidak bisa menelan apapun hatta ia sekadar air putih apalagi nasi. Dia baru teringat jika bulan yang lepas menstruasinya terasa singkat dan pengeluaran darahnya sangat minimal. Dengan segera Rima meminta jasa baik Tere untuk ke apotik dan membelikannya segala obat-obatan maupun alat yang dia butuhkan.
Kekhawatiran Rima kini menjadi mimpi buruk yang nyata baginya. Kepalanya berat, dadanya seketika menjadi sesak ketika melihat hasil test kehamilan yang menunjukkan garis dua berwarna merah.
•••••••••
Kepergian Joel mungkin akan sedikit memudahkan Milan untuk mendapatkan Rima secara sah melalui hukum negara namun dengan menghilangnya wanita itu dari kehidupannya saat ini membuat Milan sangat kalut dan tak tentu arah.
Milan pulang ke apartemennya setelah memberikan penghormatan terakhirnya di atas pusara Joel. Tatapan Milan seketika terkejut sesaat mengecek rekaman cctv depan lift apartemennya di pos sekuriti yang tersedia. Milan baru mengetahui jika Rima bermain cinta dengan Karl Aquino, pemilik apartemen mewah unit sebelah yang sering Rima temui dibelakangnya selama ini.
Ternyata Rima dan juga Raline sama-sama wanita pengkhianat dan perempuan murahan. Milan rasakan darahnya sedang mendidih dan ingin segera meletup seperti lava gunung berapi.
•••••••••••
Rima melangkahkan kakinya masuk kesebuah kafe dengan berhati-hati. Rasanya kedua kaki Rima sangat rapuh semenjak mengetahui tentang kehamilannya pada tempo hari. Karl melambaikan tangannya dan tampak laki-laki itu sedang memakai sebuah hoodie yang menutup keseluruhan kepalanya.
__ADS_1
Sengaja Karl memilih meja yang sedikit tersembunyi dengan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang. Minuman panas kesukaan Rima sudah siap dipesan Karl ketika wanita itu mengisi tempat kosong dihadapannya.
"Kita harus bergerak sekarang dan bahkan secepatnya. Saat ini aku sedang menjadi buronan polisi atas kasus kematian Joel. Aku harap kau cukup bersedia untuk ikut denganku karena aku sudah memesankan tiket untuk kita ke Manila!" ucap Karl yang membuat perasaan Rima semakin sakit dan ingin pingsan.
Tiket ke Manila? Ingin apa mereka disana? Dengan kondisi Rima yang sedang hamil seperti sekarang?
"Karl, aku ingin meminta maaf. Aku tidak bisa ikut apalagi untuk menikah denganmu!"
"Why? Bukankah aku sudah melenyapkan Joel yang secara otomatis menggugurkan ikatan pernikahan diantara kalian? Apalagi yang menjadi alasanmu sekarang? Apa kerna kau tidak mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu? Itu tidak mengapa, Rima. Aku tidak akan memaksakanmu dan kau bisa belajar sedikit demi sedikit nanti setelah kita menikah!" Karl menarik sebelah tangan Rima dan menggenggamnya dengan kemas.
Tiba-tiba hati Rima dipenuhi serba-salah. Dia ketakutan nyawanya dan juga Milan akan terancam sesaat Karl mengetahui hal yang sebenar.
"A-aku.. saat ini sedang h-hamil, Karl! M-mana mungkin kau ingin menikah dengan seorang wanita hamil sepertiku?" ungkap Rima terbata-bata namun dia sangat terpaksa mengatakannya.
Karl terpana seketika dan tidak percaya dengan pengakuan Rima.
"Kenapa kau melakukan itu, Rima?! Kenapa kau bisa sampai hamil?! Kenapa kau begitu bodoh membiarkan Milan menghamilimu sedangkan dia sama sekali tidak berniat menikahimu?! Kau pikir seorang casanova seperti Milan akan bertanggungjawab?! In your dream, Rima!" marah Karl menatap kecewa ke arah Rima.
Rima mengakui kebenaran kata-kata Karl tentang Milan. Terbukti setelah hampir dua minggu dia meninggalkan apartemen namun Milan belum ada tanda-tanda saat ini sedang mencarinya. Mungkinkah laki-laki itu masih terpukul dengan kematian Joel? Rima sangat yakin Milan bukan laki-laki selemah itu.
"Aku sangat kecewa padamu, Rima! Sebaiknya kau pikirkan saja bagaimana nasibmu dan juga bayimu itu sekarang! Aku tidak terima jika harus bertanggungjawab pada sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang lain! Aku tidak sudi untuk merawat benih dari laki-laki manapun didalam perut wanita yang akan menjadi istriku! Dan sebelum itu terjadi, aku harus pergi meninggalkanmu! Take care yourself. Jangan khawatir karena aku tidak akan mencelakakanmu dan juga ayah dari anakmu itu! Bagaimanapun reaksi Milan setelahnya, aku harap kau tidak pernah berpikir untuk menggugurkannya karena dia adalah bayi yang sama sekali tidak berdosa!" Karl berucap datar sebelum meninggalkan kafe mengejar penerbangannya ke Manila yang sesaat lagi.
Rima merenung dalam. Dia tidak tahu sama ada harus mendenguskan napas lega atau sebaliknya merasa cemas. Satu demi satu penghalang sudah tersingkir. Tapi akankah Rima mampu mengecap kebahagiaan yang diinginkannya? Bagaimana jika ternyata Milan pun ingin menyingkir dari kehidupan Rima?
__ADS_1
Bersambung...