Gersang

Gersang
Part 9.


__ADS_3

"Gugurkan anak itu!" ucap Milan tegas.


Rima tergamam. Kepalanya menggeleng tidak percaya.


"Atau kau boleh meminta Karl kekasihmu itu untuk bertanggungjawab!" Milan memberikan penyelesaian mudah.


"Tapi dia anakmu, Mile! Bagaimana mungkin Karl yang bertanggungjawab?!" jerit Rima.


Milan mendengus sinikal.


"Bagaimana kau bisa yakin jika dia adalah anakku? Bisa jadi dia adalah anakmu dengan laki-laki itu!" tukas Milan membuat Rima membeliakkan mata.


"Jadi seperti itu kau menganggapku selama ini?!" Rima terisak kuat.


"Jika kau masih ingin tinggal disini bersamaku, maka kau harus menggugurkan anak itu dengan secepatnya!" Milan menggeram merasakan kemarahannya yang belum hilang sejak kemarin.


Rima mendudukkan tubuhnya lemah diatas kasur.


"Kau benar-benar wanita tidak tahu diri, Rima! Selama ini aku yang sudah menjagamu dan membiayai segala keperluanmu! Tapi ini balasan yang kau berikan padaku?! Kau sama saja seperti Raline dan semua wanita yang ada didunia! Pengkhianat, wanita jala*ng dan sangat murahan!" Milan mengambil beberapa setelan kerja beserta pakaian sehari-harinya dan berjalan keluar dari rumah.


"Milan, dengarkan penjelasanku! Aku tidak dengan sengaja menemui laki-laki itu! Aku--"


"Waktumu hanya satu minggu untuk menggugurkan anak itu, atau kau boleh pergi dari hidupku untuk selamanya!"


Rima menekan dadanya yang terasa sesak. Dia tahu dirinya sangat hina karena melarikan diri dari Joel suaminya. Tapi Rima bukanlah wanita jala*ng sebagaimana yang baru saja dituduhkan Milan. Justru laki-laki itulah yang telah menjadikannya seorang jala*ng dan sekaligus perempuan simpanan. Laki-laki itu juga yang telah membuat Rima harus menyimpan benihnya dan kini dia malah pergi meninggalkan Rima. Bagaimana mungkin Milan tega menyuruhnya untuk mencabut nyawa seorang bayi yang tidak berdosa?


Mengenai Karl pula, tahu apa Milan tentangnya? Rima mendekati Karl hanya demi memastikan hubungan mereka berdua agar tetap selamat. Kini sosok laki-laki baik itupun sudah pergi menjauh dari kehidupan mereka.

__ADS_1


Ingin sekali Rima meluahkan semuanya namun tidak berdaya. Dia bahkan tidak mampu untuk menatap dirinya apalagi untuk berhadapan dengan Milan.


•••••••••


Milan menghempaskan tubuhnya dikursi kerja. Sungguh dia sangat menyesal dengan segala ucapan yang telah dilemparkannya terhadap Rima. Milan akui dia telah gagal mengawal kemarahannya.


"Milan, sudah malam. Kau belum pulang?" suara itu membuat Milan terjaga, ditambah lagi dengan elusan dipipinya. Rupanya Milan tertidur diruang kerja.


Wajah Raline sangat dekat diwajah Milan dan spontan Milan pun mendorongnya.


"Menyingkirlah, aku ingin pulang!" Milan ingin bangkit namun Raline dengan cepat naik ke pangkuannya.


"Aku sangat merindukanmu, Milan!" desah Raline sambil membuka kancing kemeja Milan satu persatu.


"Raline, stop it! Aku tidak merindukanmu dan sama sekali tidak menginginkanmu!" kata Milan menahan tangan Raline.


Milan akui tubuh Raline amat sempurna dan sangat menggoda. Namun tetap saja Milan tidak lagi berselera setelah apa yang dilakukan Raline ditambah dengan apa yang baru saja dilakukan Rima terhadap dirinya.


Sudah banyak pelajaran yang Milan dapatkan dalam hidupnya. Milan tidak sanggup lagi merasa ketulusan dan kasih sayangnya dipermainkan oleh wanita.


••••••••


Cahaya matahari memanah tepat ke wajah Rima. Ternyata hari sudah siang. Rima meraba disampingnya namun tidak menemukan Milan. Laki-laki itu benar-benar tidak pulang tadi malam.


Rima melangkah ke kamar mandi dengan perlahan-lahan. Tangannya berpaut pada apapun yang dapat dia pegang. Kehamilannya baru memasuki enam minggu namun Rima rasakan tubuhnya sangat lelah dan sulit untuk digerakkan.


Hari ini Rima memutuskan keluar dari apartemen Milan dan kembali menumpang dirumah peninggalan kedua orang tua Tere untuk beberapa waktu. Rima tidak menyangka apa yang dilakukan Milan terhadapnya akan jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah dilakukan oleh Joel.

__ADS_1


Milan menuduhnya sebagai wanita jala*ng secara terang-terangan. Bahkan tidak sedikitpun laki-laki itu memberi kesempatan pada Rima untuk menjelaskan semuanya. Dan kini Milan meminta Rima agar menggugurkan bayinya!


Sesosok tubuh datang disisi Rima lalu duduk dan memeluknya yang terlihat rapuh.


"Menangislah jika kau ingin menangis, Rima!" ucap Tere menguatkan Rima.


"Aku tidak akan menggugurkan bayiku. Biarlah aku berpisah dengan Milan dan harus merawat bayiku sendirian!" Rima terisak sambil mengusap perutnya.


"Rima kau tidak boleh stress. Kau harus tetap sehat dan ceria demi bayimu. Kau ingin mendengarkan satu quotes dari penulis favoritku? Dia mengatakan; mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian diantara kabut pagi disebuah padang rumput yang megah dan indah. Dan meski tidak tersampaikan dan terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta. Semoga besok lusa bisa menari bersama dalam ikatan yang direstui agama, dicatat oleh negara."



Rima tidak menafikan dirinya sedikit terhibur dengan kata-kata motivasi dari Tere yang lebih tepatnya kata-kata dari penulis favorit sahabatnya itu.


Doa Rima semoga suatu hari nanti Milan akan mencintainya dan hubungan mereka dapat bersatu dalam sebuah ikatan yang direstui agama dan dicatat pula oleh negara.


"Terima kasih, Re. Kau adalah sahabat baikku!" ucap Rima sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Tere disaat-saat dia membutuhkan pendamping seperti sekarang.


•••••••••


Milan memerhatikan sebuah rumah berukuran sederhana besar yang saat ini ditempati oleh Rima dari balik mobilnya.


Sengaja dia tidak ingin membujuk Rima maupun meneleponnya karena Milan masih lagi merasakan sakit hati padanya.


Apa kelebihan yang dimiliki Karl sehingga Rima berani bermain cinta dengan laki-laki itu dibelakangnya? Semudah itukah Rima menyerahkan dirinya kepada Karl, atau justru laki-laki itulah yang telah merebut Rima darinya?


Setengah hati Milan percaya jika anak yang dikandung dalam perut Rima adalah benihnya. Milan tidak benar-benar berniat untuk menyuruh Rima menggugurkan kandungannya. Saat itu Milan hanya sedang dikuasai amarah. Milan menyadari sangat memerlukan Rima dalam hidupnya. Meksipun Milan tidak pernah menyatakan cintanya secara langsung kepada Rima, namun perbuatan Milan sudah cukup menunjukkan semuanya. Apa Rima masih tidak menyadarinya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2