Gersang

Gersang
Part 5.


__ADS_3

"Milan, no please.." Rima mengeluh kelelahan sesaat merasakan ada jilatan didaerah kewanitaannya.


"One more round, okay?" Milan kembali meratah bagian itu dengan lahap dan juga rakusnya.


Sesi terakhir ini membuat Rima sangat kelelahan sehingga tertidur nyenyak sampai siang harinya. Rima baru terbangun sesaat mendengar ada panggilan masuk dari ponselnya.


"Maaf, aku baru bangun!" suara Rima dibuat lemas agar Milan prihatin mendengarkannya.


"Aku tahu kau sangat lelah. Maka sebab itu aku baru membangunkanmu karena aku khawatir kau belum bersarapan!"


"Dasar pria jahat! Memangnya kau mengkomsumsi obat apa, huh? Setelah ini kita harus break sebentar karena rasanya anuku hampir robek!" cibir Rima terdengar manja.


Suara Milan terkekeh. "Tapi rasanya sangat nikmat bukan?"


"Nikmat bagimu tapi sakit bagiku!" tukas Rima dengan kesal.


"Go and get your rest, and food!"


"Oke, bye."


•••••••


Rima beranjak turun dari kasur setelah Milan menamatkan panggilan mereka. Usia mandi dan mengeringkan rambutnya, ponsel Rima kembali berbunyi. Rima langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa pemanggilnya.


"Hai sweety?"


"Siapa ini?" Rima kaget dan baru menyadari jika nomor itu tidak ada dalam penyimpanan kontaknya.


"Pengagummu, sayang."


"Jangan bercanda. Teleponnya akan aku matikan sekarang!"


"Hold on, Rima. Don't you remember me?"


"Aku tidak suka pengganggu. Bye!"


"Ini aku Karl! Apa kau baru saja mandi huh?"


Rima membelalak bagaimana Karl mengetahuinya?


"Ha ha, jangan cemas sayang. Aku hanya menduganya!"


"Apa mahumu, Karl?"


"Keluar bersamaku."

__ADS_1


"Itu tidak akan!"


"Kalau begitu aku yang akan masuk ke apartemenmu."


"Jangan harap!"


"Ayolah, Rima. Kita bertemu diluar atau aku akan memberitahu Joel dimana tempatmu sekarang!"


Joel? Astaga!


"Aku menunggumu diluar. See you later, sweety!"


•••••••••


Pintu lift terbuka dan Karl langsung menarik Rima masuk kedalam apartemennya. Rima terpaksa menuruti keinginan Karl sampailah nanti Milan sudah pulang dan Rima akan segera mengadukannya.


"Hot or cold drink?" tanya Karl merenung dalam ke arah Rima.


"Tidak usah," geleng Rima.


"Kau terlihat takut padaku, sweety!" Karl menarik Rima ke pangkuannya. Napasnya memburu laju dan hangat.


Rima berusaha melerai pelukan Karl namun sangat kuat.


"Karl, lepaskan aku!"


"Lepaskan, Karl!" bentak Rima menaikkan suaranya.


"Aku akan menelepon Joel sekarang. Dia akan segera menghabisimu dan juga Milan!"


Serta-merta wajah Rima menciut dan ketakutan.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengancammu. Aku menginginkanmu dan aku sangat mencintaimu. Milan hanya mempermainkanmu dan menganggapmu simpanannya. Dia seorang casanova. Aku sangat mengenalinya!"


Rima terdiam kaku dan tidak sadar ketika Karl sudah mengecup bibirnya.


"Karl, jangan!" berontak Rima ketika tangan Karl mulai meremas dadanya perlahan-lahan.


"Tenang, sayang. Aku tidak akan memperlakukanmu sebagaimana Milan. Tentu saja aku ingin kita menikah terlebih dahulu. Aku akan menguruskan surat penceraianmu dengan Joel dan setelah itu kita akan segera menikah. Bagaimana menurutmu?"


Rima bermain dengan pikirannya. Karl baru saja mengenalnya tapi laki-laki itu sudah mengajaknya untuk menikah. Sedangkan Milan, laki-laki itu bahkan tidak pernah mengatakan cintanya kepada Rima. Apalagi ingin menikahinya.


"A-aku akan memberimu jawabanku nanti!" sengaja Rima mengatakan seperti itu untuk mengelak dari terus berduaan dengan Karl.


"Aku menantikanmu, sweety." Karl mencium bibir Rima sekali lagi sebelum melepaskannya untuk pergi.

__ADS_1



...Karl Aquino...


•••••••••


"Joel, kapan lagi huh?" Carla merengek sambil menarik-narik lengan kemeja Joel yang sedang mengendarai mobilnya menuju klub malam, port biasa tongkrongan mereka.


"Kapan apanya?!" bentak Joel risih.


"Kenapa belakangan ini kau sering marah-marah? Ditelepon kau marah, saat berjumpa kau juga marah! Aku malas bicara denganmu!" Carla membuang mukanya ke luar jendela dan berpeluk tubuh.


Joel mendiamkan Carla. Dalam pikirannya sedang kalut memikirkan banyak hal. Sudah dua bulan Joel belum menemukan jejak Rima. Orang suruhan Joel iaitu Karl juga sama sekali belum mengiriminya kabar. Apa sesulit itu menemukan Rima?


Dimana Rima bersembunyi dan dengan siapa wanita itu sekarang?


Kepala Joel sudah sakit. Ditambah lagi ketika Carla terus merengek dan mengajaknya keluar. Wanita itu tidak akan berhenti selama Joel belum mengikuti rentaknya.


Sesekali Joel melirik ke arah Carla yang masih saja memayunkan bibirnya pura-pura cemberut. Gaun biru muda paras lutut sangat pas ditubuh Carla. Hampir keseluruhan pahanya terekspos dengan jelas. Sepatu indigo setinggi lima senti tersarung apik dikakinya. Jika sedang berdiri Carla terlihat sangat seksi dengan kedua bokongnya yang berbentuk bulat dan sintal.


Joel menelan salivanya sesaat. Jika dibandingkan dengan Rima, Carla memang jauh lebih modis tentang penampilan. Joel hanya mampu menggelengkan kepalanya secara dia sendiri belum pernah merasakan senikmat apa tubuh Rima.


Suasana bising memenuhi ruang klub ditambah dengan cahaya lampu yang berputar-putar namun anehnya tidak membuat pusing kepala manusia yang ada didalamnya.


Carla sedang meliukkan kepalanya dan menghentak-hentakkan tubuhnya dilantai dansa, sementara Joel duduk ditempat biasa sambil menyesap minuman beralkohol.


"Joel, is that you?" sapa seorang wanita yang seperti mengenal Joel begitupun sebaliknya.


"Milan's bitc*h huh?" desis Joel ketika Raline mengisi tempat disisinya.


"We are over. He has someone else!"


"He did?"


Raline mengangguk lesu. Tanpa aba-aba, Raline meraih gelas Joel dan langsung meneguk sisa minumannya begitu saja.


Joel sempat tercengang namun membiarkan. Dia mengenal Raline karena Milan pernah beberapa kali membawa wanita itu pulang kerumah jauh sebelum dia dan Rima menikah.


Namun setelah Rima menjadi isteri Joel, Milan terlihat sering menyendiri bahkan memutuskan tinggal diapartemennya sendiri.


Sejak dulu adik laki-laki Joel itu sangat sulit ditebak dan tidak suka memamerkan kehidupannya pada siapapun. Milan juga memiliki watak mengintimidasi dan terkadang mematikan, ahli judo dan menguasai jurus jiujitsu sehingga Joel tidak berani mencampuri urusan Milan apalagi membuat masalah dengannya.


"Lalu bagaimana istrimu?" tanya Raline spontan membuat Joel meringis.


Joel masih mencarinya dan tidak akan melepaskannya sampai kapanpun.

__ADS_1


"Aku harap kau segera menemukannya, atau dia akan ditemukan oleh orang lain!"


Bersambung...


__ADS_2