
"Habis menelepon siapa huh?" tanya Milan seusai mandi dan mengambil pakaiannya didalam wardrobe.
"B-bukan sesiapa!" sahut Rima cepat-cepat mengancingkan baju Milan dan memakaikannya tali leher.
"Berikan ponselmu padaku," Milan memberatkan suaranya dan merenung Rima tajam.
Rima ragu sesaat membuat Milan merampas ponselnya dengan tidak sabar.
"Kembalikan, Mile!" Rima berusaha meraih kembali ponselnya namun Milan sangat cepat mengelak. Akibat tidak stabil, keduanya lalu terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi wajah Rima mengambang di bawah pusar Milan yang belum mengenakan apa-apa.
Tangan Milan menahan belakang kepala Rima agar tidak bangun dari miliknya.
"Milan, lepaskan!"
"Lick it first!"
Rima meronta dan akhirnya berhasil meloloskan diri.
"Aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup seperti ini denganmu, Milan!" cetus Rima menahan emosinya.
"Hei, ada apa denganmu?"
Rima meraih ponselnya lalu masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya dengan kasar.
Milan menyadari Rima sedikit berubah. Meskipun Rima masih melayani kebutuhannya diranjang namun tetap saja Milan merasakan ada yang berbeda.
__ADS_1
••••••••••
"Ku harap kau sudah mengemasi seluruh barang-barangmu dan siap untuk ikut bersamaku, sweety," ucap Karl diseberang telepon.
Rima terdiam sejenak memikirkan tindakan yang harus diambilnya. Joel, Milan dan juga Karl adalah seperti tiga ekor kuda liar yang harus ditaklukkan Rima dengan cara yang berbeda-beda. Pecutan ada ditangan Rima dan dia hanya perlu memainkan triknya maka ketiga ekor kuda itu akan tunduk patuh padanya.
"Bagaimana dengan surat perceraianku? Aku tidak mungkin bisa menikah denganmu sementara kau pernah berkata bahwa Joel tidak akan pernah melepaskanku sampai kapanpun?" cetus Rima kemudian.
"Tenang saja, sweety. Serahkan Joel padaku dan sebaiknya kau bersiap untuk meninggalkan Milan atau aku juga akan segera menghabisinya! Joel dan juga Milan mereka hanya sepasang kakak-beradik yang sama-sama tidak tahu menghargai perempuan. Kau tidak akan pernah bahagia bersama mereka!"
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan pada Joel?" tanya Rima sedikit cemas namun penasaran.
"Aku akan melenyapkan laki-laki itu selamanya dari kehidupanmu, sweety. Siapapun yang menghalangiku maka dia adalah musuhku. Kau tahu aku sangat menginginkanmu dan aku akan melindungimu dari siapapun. Aku pun tidak peduli jika harus kehilangan nyawaku!"
"Dasar bodoh. Jika kau kehilangan nyawamu lalu bagaimana kau ingin hidup bersamaku?"
Suara Karl terkekeh. "Itu tidak akan terjadi, sweety. Kita akan segera menikah dan kau akan menjadi milikku satu-satunya. Hanya aku yang bisa mendapatkanmu, Rima Elsinta!"
Spontan Rima menepuk jidadnya ketika melihat banyak notifikasi tanda panggilan tak terjawab yang berasal dari Milan didalam ponselnya.
"Mile, ada apa?" tanya Rima sesaat membuat panggilan video.
"Harusnya aku yang menanyakan itu padamu, Rima Elsinta. Siapa yang sedang kau hubungi sehingga nomormu sangat sibuk and fucking hard to get thru?!" Milan menunjukkan kemarahan diwajahnya.
Rima berusaha mendinginkan kemarahan Milan itu dengan sengaja membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Maafkan aku, Mile. Tadi aku sedang menelepon Tere sahabat lamaku. Kau tahu apa yang dia katakan padaku?" pancing Rima sengaja membuka kancing blousenya dengan satu persatu.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan, Rima?!"
"Kata Tere, aku tidak sepatutnya percaya pada laki-laki manapun didunia. Mereka hanya menginginkan kepuasan dan kenikmatan secara konstan tanpa pernah melibatkan perasaan. Mereka tidak seperti kami para wanita yang ingin dicintai dengan tulus, diikat dengan tali pernikahan, memiliki sebuah keluarga kecil yang harmonis, lalu kami akan menjalani proses menua bersama-sama selamanya. Kau tahu berapa purata usia bagi seorang wanita sekarang? 65 yang berarti aku sudah hampir memasuki setengahnya. Aku tidak ingin lagi menjadi wanita simpananmu, Mile. Jika kau tidak mencintaiku sebaiknya kau lepaskan saja aku pada pria lain!" Rima tersenyum melihat wajah Milan yang sedang keresahan. Sengaja Rima memainkan kedua pucuknya yang kemerahan dan mengeluarkan suara desahan. Milan semakin tidak tenang duduk dibuatnya.
Tidak lama terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Milan. Layar ponsel disasarkan ke bawah. Terlihat kedua kaki Milan yang berdiri menyambut seorang perempuan sebelum kemudian suara manja perempuan itu masuk ke telinga Rima melalui ponselnya.
"I miss you so much, Milan!"
••••••••••
"What the hell, Raline?!" Milan mendorong tubuh Raline sehingga wanita itu jatuh terduduk diatas lantai. Beruntung Milan sempat mengarahkan ponselnya ke bawah karena jika tidak sudah pastilah Rima dapat melihat Raline yang mencium bibirnya sesaat tadi.
Raline menangis tersedu-sedu. Barangkali dia sakit hati dengan penolakan Milan yang sekaligus mendorongnya sangat kuat sehingga jatuh ke lantai.
Milan tidak berinisiatif menolong Raline untuk bangkit. Dia tidak lagi ingin terlibat dalam permainan emosi yang diciptakan oleh wanita pengkhianat ini.
Ponsel digapai setelahnya namun panggilan Rima sudah dimatikan. Milan mencoba untuk menghubungi Rima kembali namun sial karena tidak diangkat. Milan menghembuskan napasnya kasar sebelum berlalu pergi dan membanting pintunya dengan keras. Tidak peduli dengan Raline yang masih saja terisak dan menjerit marah diruangannya.
Milan meninggalkan perusahaan dan menuju pulang ke apartemen. Dia sangat yakin jika Rima menginginkan penjelasan darinya. Sesaat akan memasuki pintu lift tiba-tiba Milan dikagetkan dengan Raline yang ternyata mengekorinya.
"Aku tahu kau memiliki wanita lain, Milan! Tapi aku juga tahu bahwa kau tidak serius dengannya terbukti sampai sekarang kau belum mengajaknya untuk menikah! Aku mohon, kembalilah padaku! Aku sangat mencintaimu dan aku sangat menyesal karena dulu telah mengkhianatimu! Please forgive me, I love you and I need you more than everything!" Raline mencoba untuk memeluk Milan namun Milan segera menepisnya.
"Raline, please behave! Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi! Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita huh?!" tegas Milan dan berlalu masuk kedalam lift meninggalkan Raline.
Pintu apartemen terbuka. Milan mencari keberadaan Rima namun tidak dia temukan. Sesaat memasuki kamar tidur Milan menemukan pintu lemari yang terbuka dan seluruh pakaian Rima sudah tidak ada disana.
"How dare you, Rima!" Milan menggeram dan meremas rambutnya kasar.
__ADS_1
Bersambung...