Gersang

Gersang
Part 6.


__ADS_3

"Kau sudah tidur?"


Rima yang baru ingin melelapkan mata terbangun seketika sesaat mendapatkan telepon dari Karl.


Disebelahnya Milan sudah tertidur pulas. Rima tidak sempat mengadukan tentang Karl kepada Milan karena laki-laki itu sedang mabuk ketika pulang. Dan lagi dia dipapah oleh seseorang yang tidak Rima kenal.


"A-aku baru mahu tidur," sahut Rima pelan nyaris berbisik.


"Wish you sleep with me tonight."


"Karl.."


"Yeah, I know. Milan sedang bersamamu bukan?"


Rima menekan emosinya agar tidak meledak. Untuk saat ini keselamatan Rima ada ditangan Karl dan mahu tidak mahu Rima harus berusaha merayunya.


"Besok kau jangan lupa."


"Lupa apa?"


"Kita ketemuan. Ada yang ingin aku bicarakan padamu mengenai surat perceraianmu dengan Joel."


Rima mendengus usai mematikan teleponnya. Sebelumnya Milan juga pernah mengatakan hal yang sama bahwa dia akan segera menguruskan surat perceraian Rima namun sampai saat ini ucapan Milan hanya sebatas kata-kata tanpa sebarang bukti yang nyata.


••••••••


Milan terbangun ketika mencium aroma roti bakar dan telur kocok. Rima tidak ada disampingnya. Milan melihat ada secercah cahaya yang berasal dari ruang dapur.


Selimut diselak kepinggir dan Milan dapati tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa. Milan teringat jika tadi malam dia mabuk berat setelah menemani kliennya minum disebuah klub.


Milan menyarungkan bathrobe ketubuhnya sebelum mengayunkan langkah ke dapur.


"Kau mahu kopi?" tanya Rima yang sedang mengenakan kemeja tidur Milan ditubuhnya.


Milan mengambil kopi yang diulurkan Rima lalu menarik wanita itu kepangkuan.


"Kau sangat merindukankanku hingga sengaja memakai bajuku ini humh?" bisik Milan seraya mencium dagu Rima.


"Semalam aku menunggumu tapi kau terlambat pulang!" protes Rima membiarkan ciuman Milan menjelajah ditubuhnya.


"Sorry. Tadi malam aku harus menemani klienku minum disebuah klub."


"Ayo makan, nanti dingin tidak enak!" Rima meraih piring berisi roti bakar kehadapan mereka.

__ADS_1


Milan meraba celah ************ Rima yang tidak mengenakan apa-apa.


"I want this."


••••••••


Tubuh Rima turun naik dihadapan Milan. Kedua tangannya ditelungkupkan ke atas meja demi mempermudah pergerakan. Untuk sesaat dia mengurungkan niat untuk memberitahu Milan mengenai Karl.


Tatapan Milan memandangi keindahan dan erotisme Rima yang bergerak tidak karuan. Tiba-tiba kedua tangan Rima memaut pundak Milan dan menambah lajunya sehingga membuat Milan semakin menggila. Milan mencium dan menggigit leher Rima tidak tahan.


"Push harder, please!" desis Milan sebelum keduanya tewas bersama-sama kemudian.


"Mandi bersamaku."


"Aku baru saja mandi."


Milan merenung tepat ke anak mata Rima seakan memelas.


"Baiklah, aku temani!" Rima menarik Milan kekamar mandi meninggalkan pakaian mereka yang berselerakan dilantai.


Didalam tab mandi, Milan menyandarkan tubuhnya pada Rima. Wangian dari lilin aromaterapi menenangkan hati keduanya. Tiada pembicaraan melainkan pijatan Rima ditubuh Milan dengan perlahan-lahan.


"Kau tertidur?" suara Rima bergemerisik ditelinga Milan.


Selanjutnya tangan Rima mulai bermain didada Milan.


•••••••••


Milan sudah berangkat kerja dan Rima dengan sekelip mata sudah berada diapartemen Karl.


"Kau bahagia menjadi simpanan Milan?"


"Aku bukan simpanannya!"


Karl tersenyum sinikal.


"Open your eyes, Rima. Setiap malam kau memberinya kenikmatan diranjang sementara dia mencukupi segala kebutuhan yang kau inginkan. Kecuali pernikahan. Don't be so naive!"


Rima terdiam.


"Dia sangat beruntung bisa merasakanmu tanpa harus bersusah payah menikahimu. Kau pikir kenapa Milan belum juga menikah sampai sekarang? Tentu saja karena dia tidak ingin terikat komitmen dengan wanita manapun termasuk dirimu."


"Sebaiknya kita membicarakan tentang surat perceraianku saja, Karl!" tuntut Rima sesuai ucapan Karl terhadapnya.

__ADS_1


"Surat perceraianmu sama sekali tidak akan berguna karena Joel tidak pernah mahu melepaskanmu sampai kapan pun!" Karl merapatkan tubuhnya dan tangannya menyentuh paha Rima yang terbuka.


Rima melirik kesal. "Lalu untuk apa kau memintaku datang dengan alasan ingin membahas tentang surat perceraian?!"


"Menikahlah denganku dan aku akan membawamu pergi dari tempat ini sejauh mungkin yang tidak terdeteksi oleh Joel. Uangku sangat cukup untuk kita berkeliling dunia bahkan tinggal diluar negeri, Rima. Aku mohon sweety, menikahlah denganku!" ucap Karl seraya mencuri ciuman dari bibir Rima.


Karl sangat terkejut ketika sebelumnya dia mendapatkan kiriman foto Rima dari Joel yang menyuruhnya untuk mencari wanita itu. Kala itu Karl benar-benar tidak percaya jika wajah Rima sangat mirip dengan bekas kekasihnya yang telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan.




Semenjak itu Karl tidak pernah berhenti membayangkan wajah Rima dan selalu merindukan wanita itu seperti merindukan Lustri kekasihnya.


Kini Karl tidak mampu lagi kehilangan Rima dan bertekad akan menjadikan Rima sebagai istrinya dengan cara apapun.


Karl bahkan sangat bersedia jika harus melenyapkan Joel dan juga Milan sekaligus.


••••••••••


Rima mendengus berat dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Jauh disudut hatinya sangat mencintai Milan, dia memberikan sepenuh jiwanya kepada Milan dan menuruti segala apa yang diinginkan oleh laki-laki itu.


Disisi lain Karl laki-laki yang terlihat tulus menyayangi Rima dan bersungguh-sungguh untuk menikahinya. Tatapannya penuh nafsu namun tidak pernah memaksakan Rima untuk bercinta sebelum menikah.


Haish, memangnya kau ingin menjadi wanita seperti apa huh? Kau mencintai Milan tapi kau juga mengharapkan keseriusan dari Karl!


Threesome? No way!


Rima bukan pelac*r. Dia hanya tidak pasti akan statusnya. Milan memberikan segalanya pada Rima dan layanan Rima adalah bentuk harga yang harus dia bayar.


Sementara Karl, laki-laki itu datang terlambat disaat hati Rima telah terpatri sepenuhnya pada Milan. Rima akui sangat tersentuh dengan kesungguhan Karl yang ingin menikahinya tanpa memperdulikan status Rima dan segala risiko yang bisa terjadi dikemudian hari.


Sememangnya Rima sangat memerlukan laki-laki seperti Karl dalam hidupnya.


Rima bermenung sambil membuat segelas minuman coklat panas. Tiba-tiba pintu utama terbuka dari luar. Milan melangkah masuk dengan dua kancing atas kemejanya telah terbuka.


Milan memang sangat menggoda dipandangan Rima. Matanya tajam, kulit cerah dan hidungnya mancung sementara bibirnya sangat enak untuk berciuman. Tubuhnya menghangatkan dan menjadi bantal peluk Rima disetiap malam.


Rima menyambut Milan seperti selalu dan menghadiahkannya dengan sejumlah kecupan.Tatapan Milan sangat mampu memikat Rima bak mata seorang casanova. Rima sangat menyadari kebenaran kata-kata Karl jika perlakuan Milan adalah semata-mata karena nafsu dan ingin bersenang-senang.


Tapi sampai kapan Rima terus hidup yang seperti ini bersama Milan? Dulu dia menikahi Joel dan nyatanya tidak bahagia karena tidak saling mencintai. Kini Rima mencintai Milan tapi dia tidak tahu apakah Milan juga sama mencintai dirinya. Karl pula datang terlambat namun dia tulus dan bersungguh-sungguh ingin menjadikan Rima sebagai istrinya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2