
Malam ini adalah malam yang sangat penting, Alex sudah mempersiapkan rencana pelarian dengan cukup matang.
Dengan sebuah sidik jari tiruan yang telah dibuat olehnya, Alex dengan mudahnya keluar dari kamar yang terkunci oleh sistem keamanan sidik jari itu dengan mudah.
Memakai sidik jari tiruannya di ibu jarinya, Alex menoleh ke kanan dan melihat pintu kamarnya yang benar-benar terbuka.
Setelah pintu terbuka, tentu saja Alex berjalan keluar dengan cara mengendap-endap, hanya saja, "Benar sesuai yang aku perkirakan, aku sedang diawasi! Mereka pasti sedang memperhatikanku bukan?" pikir Alex.
Alex berjalan ke arah kamar milik Tasya yang letaknya cukup jauh karena letak asrama perempuan ada di gedung yang berbeda.
Setelah sampai di asrama perempuan, Alex membuka pintu kamar milik Tasya dengan menempelkan sidik jari tiruan dari Edward si pengawas.
Pintu pun terbuka, Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Tasya. Namun, apa yang dia duga ternyata tidak ada.
Tasya tidak ada di kamarnya, dengan kondisi kamar yang cukup berantakan itu membuat Alex berpikiran jauh.
"Hmph! Sesuai dengan apa yang telah diprediksikan! Kamu akan mengeluarkan wanita itu terlebih dahulu!" gumam seseorang yang berada di sebuah ruangan dengan banyak layar monitor yang ternyata sedang memperhatikan Alex.
"Yah, meskipun Kami sama-sama kembali ke masa lalu, hanya saja takdir tetap akan berjalan seperti itu! Tidak ada yang bisa mengubah takdir yang aku ciptakan!" kata seorang misterius itu dengan senyum penuh kemenangan.
Dia percaya diri bahwa Alex tidak mungkin bisa merubah jalannya takdir, "Sudahlah! Lebih baik aku kembali sebelum dia datang!" gumamnya lagi.
Alex merasa kebingungan, setelah menutup kembali pintu kamar Tasya, Alex berjalan memasuki lorong gelap. Dia masuk ke ruangan dengan pintu berwarna merah.
"Saat ini, pasti dia sudah kembali bukan?" gumam Alex.
Alex lalu, berjalan dengan santainya melewati banyak pintu-pintu setelah dia memasuki ruangan dari pintu merah yang sangat misterius.
Alex mengabaikan keberadaan pintu lainnya, dia tidak peduli karena yang dia ketahui bahwa pintu-pintu tersebut tidak ada gunanya bagi dirinya.
Setelah melihat pintu dengan angka sepuluh di depannya, Alex membuka pintu tersebut.
Dan benar saja, ada sosok wanita yang terlihat olehnya. Itu adalah Tasya, dia tertidur disana.
"Si*lan! Aku terlambat! Aku tidak bisa menyelamatkanmu lagi untuk yang kedua kalinya!" teriak Alex.
Ketika sedang merasa bersalah, Alex menangis hanya saja. Tangisan air mata Alex bukan benar-benar berasal dari matanya. Alex tetap menangis dan terus mencuri pandangan dengan sambil menyapu pandangannya ke segala arah untuk memastikan bahwa ada atau tidaknya CCTV di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Karena setelah diperhatikan dengan teliti, Alex yakin bahwa di dalam ruangan itu tidak ada CCTV. Dia berdiri dengan tetap menangis, karena setelah Alex perhatikan hanya ada alat penyadap suara yang terpasang di pojok ruangan, dekat dengan langit-langit ruangan ini.
"Aku sangat Bod*h! Padahal seharusnya aku bisa menyelamatkanmu, tapi kenapa?" teriak Alex menangis.
Tetap dengan dirinya yang sedang membuka lemari untuk mencari sesuatu, setelah melihat ada sebuah kumpulan chip dengan tertata rapih dan memperlihatkan bahwa di setiap chip memiliki sebuah angka yang berbeda-beda.
Alex mengambil sebuah chip dari tempat yang berbeda, di lemari bagian bawah yang hanya terlihat bahwa chip-chip itu hanya chip yang tidak terpakai.
Setelah menukar chip dengan angka sebelas dan angka empat belas dan ditukar dengan chip kosong tadi, Alex kembali berteriak dan menangis karena telah kehilangan Tasya.
Tiba-tiba saja, Edward dan orang-orangnya sudah membuka pintu tersebut dan melihat sosok Alex yang sedang menangis.
"Kau telah membuat kesalahan karena telah berani memasuki ruangan ini!" seru Edward dengan kesal.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Tuan!" pikirnya.
Edward menaikkan tangannya dan menyentuh sebuah earphone yang terpasang di telinganya, "Tuan! Alex telah melihat semuanya, apa perlu kita percepat saja pengoperasiannya?"
"Iya!"
Alex berteriak, "Apa yang mau Kalian lakukan?"
Orang-orang Edward mengepung Alex di dalam ruangan itu dan tentu Alex membela dirinya, menangkis segala serangan yang ada dan juga menghindarinya.
Namun, setiap Alex memukul para pengawal berpakaian hitam itu mereka semua tidak merasakan sakit sama sekali, berbeda dengan Alex yang mulai merasakan kesakitan karena terus beradu pukulan dengan mereka.
Tiba-tiba saja, Edward sudah berada di belakang Alex.
Clussh
Sebuah suntikan telah menusuk leher Alex yang disuntikkan oleh Edward.
"Ubah dia sekarang juga!" perintah Edward kemudian kepada pria-pria berpakaian putih yang ternyata ada di luar ruangan.
"Baik!"
Alex dibaringkan di sebuah kasur di sebelah Tasya, lampu di atas tubuh Alex dinyalakan.
__ADS_1
"Siapa namanya?" tanya salah seorang berpakaian putih.
"Alex!" jawab Edward.
"Hm, Alex ya? Oh dia nomor sebelas!" gumamnya yang sedang melihat data para peserta pelatihan di lembaga tersebut.
Dia berdiri dan membuka lemari yang sebelumnya dibuka oleh Alex tidak lama dari itu. Setelah mendapatkan kotak dengan babyaknya chip dan melihat angka sebelas dia langsung mengambil chip tersebut.
Alex yang tak sadarkan diri karena disuntik bius oleh Edward dia tidak bisa merasakan apapun, meski saat ini leher bagian belakang miliknya sedang di robek menggunakan pisau bedah milik salah satu dokter.
Setelah terbuka, chip yang berada di tangan salah seorang dokter itu di masukkan dengan hati-hati, melihat saraf-saraf di leher Alex yang menghubungkan ke bagian otaknya.
Setelah menemukan saraf yang cocok, dengan segera operasi penyatuan chip tersebut dengan saraf itu di belakang leher Alex dilakukan.
Tiga jam penuh pengoperasian berlangsung, Alex sudah merasakan sakit di bagian lehernya.
Tapi, dia tidak memperlihatkan hal itu. Alex membuka matanya dengan tetap menahan rasa sakit itu.
"Dia sudah sadar!" teriak salah satu pria berpakaian putih.
"Benarkah? Ayo, dicoba Tuan Edward!" seru seorang dokter itu.
"Hmph! Baiklah!" jawab Edward.
"Alex! Bangunlah!" pinta Edward.
Alex membangunkan dirinya dengan secara memberdirikan tubuhnya langsung dengan tanpa bantuan tangannya layaknya seperti robot.
Setelah bangun, Alex menatap datar ke arah Edward.
"Bagus!" puji Edward dengan dirinya yang senang karena percobaan operasi Alex ternyata sukses.
"Sekarang! Kembalilah ke kamarmu!" pinta Edward yang berlanjut.
Alex tidak menjawabnya, dia turun dari tempat tidur itu dan langsung berjalan, melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Tidak memperdulikan apapun lagi, layaknya seorang robot Alex berjalan dengan tanpa ekspresi apapun yang terlihat, ya hanya ada ekspresi datarnya di sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Alex memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tidurnya, dia pun langsung tertidur.