
Alex membuka ponsel tersebut dan menyalakannya, sebelum itu Alex mengeluarkan sebuah benda kecil yang ternyata sudah disimpan oleh Alex selama dua minggu ini dibelakang giginya.
Itu adalah sebuah memory card ponsel yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah data yang dia curi ketika dia meretas sistem komputer di lembaga ini.
Ketika Alex menyalakan ponsel tersebut, ternyata ada sinyal yang cukup untuk bisa membuat Alex mendapatkan akses internet.
Dia dengan segera menekan dial ponsel dan menghubungi seseorang, "Halo?" sapa dari si penerima telepon.
"Hm! Jika Kamu mau anakmu selamat, maka dengarkanlah Aku!" ancam Alex setelahnya.
"Anakku? Apa yang akan Kamu lakukan terhadap anakku? Lalu, dimana dia sekarang? Bukankah dia sedang—" kata si penerima yang percaya dengan ancaman Alex, namun sebelum selesai dia berbicara, Alex telah memotongnya terlebih dahulu.
"Benar! Anakmu saat ini memang sedang mendapatkan sebuah beasiswa! Tapi, yang Anda tidak ketahui adalah fakta bahwa lembaga ini bukanlah lembaga pemerintah! Melainkan lembaga ilegal untuk menciptakan seorang monster!" seru Alex.
"Itu tidak mungkin!" kata si penerima yang tidak percaya dengan kata-kata Alex.
"Tidak apa jika Anda tidak mempercayainya, Aku akan memberikanmu sebuah bukti kecil padamu dan setelah itu, Aku ingin Kau menyimpannya untukku dan pergi ke toko coklat di ... " perkataan Alex terus berlanjut hingga sampai pulsanya habis tak tersisa.
Tit Tiit
"Ah! Ini tidak seperti yang ku harapkan! Bagaimana mungkin Aku tidak memiliki cukup pulsa untuk ini? Si*l!" gumam Alex kesal, lalu dia kembali menekan angka yang ada pada ponselnya.
Setelah sejumlah angka ditekan, telepon pun tersambung, "Halo?" sapa dari si penerima.
"Halo! Lapor! Saya memiliki sebuah bukti dalam sebuah kasus lembaga ilegal!" seru Alex.
"Hahaha! Suaramu masih terdengar muda! Mungkin Kamu mau menipu ya? Sudahlah, Nak! Aku sudah sering mendapatkan tipuan seperti ini!" ujarnya dan langsung memutuskan sambungan telepon.
"Si*l! Memang benar, aku harus melakukannya tanpa bantuan kepolisian!" gumamnya, dia langsung kembali ke bawah tanah dan menutup lubang itu sebelum benar-benar masuk ke dalamnya.
Dari kejauhan terdengar suara pintu terbuka, "Si*l! Kenapa dia kemari pada malam hari seperti ini?" panik Alex bergumam.
__ADS_1
Iya, hari ini sudah menjelang tengah malam. Lebih tepatnya dua jam sebelum tengah malam, Alex berlari dengan cepat dan setelah sampai di ruang bawah tanah dia dengan segera menutup lubang itu dan menjatuhkan dirinya tidak jauh dari sana.
"Ehem? Kamu tidak tidur?" tanya Edward yang baru saja datang kesana.
"Saya belum mengantuk, Tuan!" jawab Alex dengan masih mengumpulkan nafasnya karena kelelahan.
Edward mengernyitkan keningnya, dia merasa seperti ada sebuah kejanggalan di dalam sini.
Edward langsung menyapu pandangannya dan melihat ke segala arah dan sudut ruangan, namun apa yang dia curigai tidak dia temui.
"Tidurlah! Tapi, jangan disini karena masa hukumanmu sudah habis! Kembali saja ke kamarmu!" ujar Edward, lalu dia pergi berlalu menaiki anak tangga dan diikuti oleh Alex di belakangnya tentunya.
Pintu terbuka, Alex diperintahkan untuk kembali ke kamarnya seorang diri sedangkan Edward berlalu ke arah yang berlawanan.
Alex menyadari ada sesuatu yang aneh, "Mungkin, dia mencurigai ku? Baiklah, aku akan patuh! Tenang saja!" kata Alex di dalam batinnya.
Alex berjalan kembali ke kamarnya dengan tidak memperdulikan Edward yang ternyata secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti Alex.
Setengah jam berlalu, Alex sudah tertidur setidaknya itulah penampakan yang terlihat oleh Edward yang baru saja memasuki ruang kamar milik Alex.
"Apa aku terlalu mencurigainya?" pikir Edward, dia langsung menutup pintu dan pergi meninggalkan Alex.
Sedangkan Alex, dia membuka matanya dengan senyuman yang berada di mulutnya mulai terbentuk dan menyeringai bahagia karena dia sudah menipu si pengawas, Edward.
Alex pun mengambil selimut yang sebelumnya dia telah sembunyikan di toilet. Ketika setelah ditemukan, itu adalah selimut yang tipis dan ternyata Alex menyentuhnya dengan sangat hati-hati.
"Hehe! Aku mendapatkan sidik jarimu dasar Eddy! Hehe... " gumam Alex.
"Dengan ini Aku bisa keluar dari sini dengan menggunakan sidik jarimu!" lanjutnya bergumam.
Untuk membuat sidik jari palsu, Anda memerlukan sidik jari aslinya. Di rumah, Anda dapat melakukan proses ini diawali dengan menekan satu jari ke dalam segumpal dempul. Sidik jari laten, yaitu bekas minyak tak terlihat yang ditinggalkan oleh jari-jari, juga dapat Anda pakai untuk membuat sidik jari tiruan, namun dibutuhkan ketelatenan untuk menyiapkan beberapa peralatan dan melakukan langkah-langkahnya.
__ADS_1
Alex memasukkan potongan kain itu ke dalam kulkas dan dibiarkan begitu saja, setelahnya Alex kembali merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai tertidur tidak lama dari itu.
Seperti biasanya, setiap hari Alex mengikuti pelatihan dan bimbingan dengan mentornya, Alice. Selain itu hanya ketika makan di kantin saja dia bisa menyapa orang lain.
Tidak terasa, sudah beberapa minggu telah berlalu, Alex bahkan sudah membuat sidik jari tiruan karena saat ini Alex sedang mengeluarkan sebuah gel dari sebuah kotak yang memang sudah dipersiapkannya.
Gel kental yang mengeras itulah yang merupakan sebuah tiruan sidik jadi Edward si pengawas yang telah dibuat oleh Alex.
Di siang harinya, di kantin.
Alex seperti biasa seperti teman-temannya yang lain yaitu untuk makan siang di kantin bersama-sama, hanya saja kali ini ada yang berbeda dengan sikap dari Tasya.
"Uhm, teman-teman! Hari ini adalah hari terakhir kita untuk keluar dari tempat ini!" bisik Alex yang perkataannya hanya terdengar oleh Tasya, James dan Charles saja.
"Benar saja! Ternyata dia lah yang membuat ruang waktu mengalami kerusakan! Itu artinya dia lah yang harus ku lenyapkan! Entah apa yang akan terjadi jika takdir ini berubah?" pikir Charles dalam keheningan.
"Aku sudah mempersiapkan rencana dengan matang! Jadi, malam ini Kita pasti bisa keluar dari tempat aneh ini!" bisik Alex yang percaya diri.
Setelah makan siang selesai, mereka pun bubar karena semuanya akan mendapatkan bimbingan dari masing-masing mentornya.
Di sebuah ruangan, "Rencana diubah! Hari ini, Aku menginginkan Tasya untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan yang ke sepuluh! Baru besok giliran Alex!" serunya memerintahkan perintah itu kepada Edward si pengawas.
"Siap Tuan! Kami akan dengan senang hati mematuhi perintahmu! Jika seperti itu, saya akan menyiapkan operasi untuk malam ini terlebih dahulu, Tuan!" ujar Edward.
"Hm, baiklah! Lakukan tugasmu! Dan ingat untuk memperhatikan Alex! Dia akan membuat sebuah keributan malam ini!"
"Baik Tuan!" jawab Edward.
"Membuat keributan? Kenapa Tuan begitu percaya diri? Seolah-olah dia sudah bisa memprediksi masa depan saja!" lanjutnya membatin.
"Tapi ingat! Jangan mengganggu rencana Alex!" lanjutnya.
__ADS_1