
Memperhatikan keadaan yang aman, dengan gesit James masuk ke dalam dan menutup mulut si wanita dengan kain yang ternyata sudah dilumuri obat bius sehingga hanya membutuhkan beberapa saat, wanita itu pingsan dibuat James.
William terkejut aksi seorang pemuda asing yang tidak dia kenali itu.
William tanpa sadar mundur dan terjatuh, "Si-siapa Kamu?" tanya William dengan ketakutan.
"Aku mendapatkan perintah untuk membunuhmu!" seru William dengan dingin.
"Si-siapa yang memerintahmu? A-aku bisa membayar dua kali lipat darinya!"
"Dua kali lipat?" batin James bingung, "Dua kali lipat? Memangnya aku dibayar berapa untuk membunuh pria ini? Sebenarnya apa yang ku lakukan?" pikir James kebingungan.
Pikirannya perlahan bercampur dengan ingatannya tentang masalah hutang, "Segera lunasi hutangmu atau Kami akan membunuhnya!"
"Ini adalah pekerjaan yang mulia!"
"Hutang!"
"... Pekerjaan ayahmu—"
"Cepat lunasi hutangmu!"
"Ini—"
"Argh!" teriak James pasrah.
Doorr !!
Tanpa James sadari, William sudah mati karena terkena tembakan peluru James yang tepat mengenai bagian otaknya.
"A-aku baru saja membunuhnya?" gumamnya.
James terjatuh, lututnya menghantam lantai dengan kuat. Namun, James tidak merasakan itu karena saat ini dia baru saja membunuh seseorang, ini adalah pertama kalinya dia membunuh.
Tok Tok!
"Buka pintunya Tuan William? Ada apa di dalam sana! Kami mendengar suara tembakan?" teriak seseorang yang berada di luar ruangan.
Teriakan itu membuyarkan diri James, dia masih harus menyelamatkan ibunya. Jadi, James langsung berlari setelah dia melihat ada jendela kabin yang terbuka. Langsung melompat begitu saja hingga terjatuh ke dalam lautan.
Dia langsung menyelam di bawah kapal pesiar tersebut dan mulai menjauh dari sana.
Sedangkan di dalam kapal pesiar, "Tidak ada jawaban? Dobrak saja!" seru para keamanan.
__ADS_1
Brukk
Setelah pintu terbuka, ada sosok seorang wanita yang pingsan dan William yang sudah tewas mengenaskan.
Tidak ada jejak apapun disana, tidak ada siapapun yang menyadari James memasuki ruangan William.
"Misinya selesai! Kita meraup keuntungan yang besar! Segera tangkap James dan tawari dia kesepakatan! Setelah itu, tentu saja kita ubah dia untuk menjadi alat kita!" kata seorang tamu undangan lainnya yang ternyata sedang menikmati bir dari kejauhan memandang ruangan dimana tempat kejadian perkara.
Tidak lama kemudian, James sudah berada di pesisir pantai. Baru saja dia sampai di pesisir pantai, James terkejut karena tiba-tiba ada banyak sekali mobil hitam disana.
"A-apa ini? Aku tertangkap?" gumam James.
"James Hetfield! Benar itu namamu?" tanya seorang wanita misterius yang baru saja turun dari mobilnya.
"Uhm iya?" jawab James bingung.
"Kamu diduga telah membunuh seorang politi berpengaruh! Dan Kamu akan dimasukkan ke dalam penjara!" seru wanita itu.
"Ah! Aku mengerti!" lirih James, dia pasrah.
"Tapi, aku akan menyelamatkanmu!" ujarnya memberikan sebuah pertolongan kepada James.
"Eh? Ke-kenapa?" tanya James penasaran.
"Benarkah?" tanya James tidak percaya.
Wanita itu menyalakan ponselnya, menghubungi seseorang dan, "Halo? Halo ini anakku, James?" tanya suara seorang wanita dari ujung telepon.
Ketika mendengar suara yang tak asing, James langsung menjawabnya, "Mah? Iya mah ini James!"
"James! Terima penawaran dari mereka, Nak! Itu adalah kesempatan untukmu!" kata ibu James yang terdengar seperti sedang menahan tangisannya.
"Mamah menangis? Kenapa?" tanya James penasaran.
"Ti-tidak! Tentu tidak! Mamah sedang memotong bawang!" jawabnya.
"Baik Mah! Kalo begitu, sampai jumpa mah?" ujar Alex, dia pamit kepada ibunya dikarenakan wanita yang memberikan ponsel itu sudah memberikan isyarat dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah jam tangannya.
Itu menandakan bahwa James harus cepat, ketika ponsel kembali di berikan ke wanita itu, "Beri dia hadiah!" ujar wanita itu dan telepon pun langsung diputuskan.
Disisi lain, di tempat Ibu James, "Baiklah! Itu artinya Kamu sudah tidak berguna lagi, Nyonya?" ujar salah seorang pria.
"Sudahlah! Cepat bunuh aku!" kata Ibu James.
__ADS_1
"Kenapa harus terburu-buru? Aku lihat sepertinya tubuhmu lumayan juga!" kata pria itu dan dia langsung membuka pakaian dari Ibunya James.
Setelah pakaian terbuka dan menyisakan daleman, pria tadi sudah membuka celananya dan terlihatlah jagung besar Afrika di bagian bawah dari si pria itu.
Bagian itu sangat besar, hingga membuat Ibunya Alex merasa mual dan sesak seketika itu.
"Baiklah! Sekarang patuhlah! Jilat ini!" kata pria itu dan menyodorkan jagung besar Afrika itu ke depan mulut Ibunya James.
Tanpa diduga, bukannya dijilat. Ibunya James menggigit dengan keras jagungnya itu dan teriakan seorang pria itu tidak terelakkan.
Dooorr!!
Ibunya James mati ditembak olehnya, "Si-sialan! Aku jadi Kasim! Padahal aku berniat membebaskan dirinya!"
"Hmph! Dasar bod*h!" ujar pria lainnya yang berada disana.
"Tuan Besar! James sudah dibawa pergi oleh Katrina! Kalo begitu, aku akan pergi ke Indonesia!" katanya yang ternyata dia baru saja mendapatkan telepon dari bosnya.
"Hm, baik! Lakukan tugasmu selanjutnya!" jawab seorang pria di ujung telepon.
"Baik, Tuan!"
Flashback OFF
James mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri tapi apa yang dia baca dari pesan Alex dia sedikit percaya diri meskipun dia agak ragu.
"James! Kamu harus bisa! Kamu harus bisa!" gumam James yang menyemangati dirinya sendiri.
James melakukan aktifitasnya seperti biasa, hari ini adalah hari dimana James akan menjalani pelatihannya bersama dengan mentornya.
"Entah kenapa, aku sangat mempercayai Alex? Padahal jelas-jelas lembaga inilah yang telah menyelamatkanku! Tapi, kenapa pada saat aku ingin menghubungi ibuku mereka berkata ibu sedang sibuk dan Aku hanya bisa menelpon bibiku? Dan lagi, kenapa bibiku menjadi lebih perhatian seperti itu kepadaku?"
James bermonolog seorang diri sembari dirinya yang sedang berjalan untuk menuju ke ruang pelatihannya.
Omong-omong mentor pribadi James sendiri adalah Edward si pengawas.
"Dan lagi, kenapa semua orang berpakaian hitam yang mereka sebut sebagai pakar itu terlihat sangat aneh? Dan apa-apaan dengan dinding besar diluar sana? Ini benar-benar sangat aneh! Pertama, setelah aku keluar dari sini, aku akan mencari ibuku!" gumam James dengan mantap.
Pelatihan pun berlangsung hingga sampai siang harinya semua peserta makan siang seperti biasa di kantin.
James bingung karena ternyata ada salah seorang peserta tidak terlihat keberadaannya.
Dia ingin bertanya kepada Alex, tapi Alex bersikap acuh tak acuh layaknya seorang robot yang hanya menerima perintah dari Edward si pengawas, bukan hanya Alex seorang sebenarnya yang terlihat seperti seorang robot.
__ADS_1
Setiap orang yang berpakaian hitam yang disebut sebagai pakarlah yang terlihat seperti seorang robot.