
"Baiklah kalau begitu,Bapak akan membacanya secara perlahan agar kalian semua dapak menulisnya" ucap Pak Saad dengan senyumannya yang manis.
"Ayo dilanjutkan,judulnya E.Pentingnya Integrasi Nasional,garis baru! Beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk membangun integrasi nasional yang kokoh di Indonesia yaitu: a.Adanya kemampuan untuk mencegah penyebaran ideologi asing. b.Mampu berperan aktif dalam era globalisasi yang menjuru di pelosok negeri. c.Nama nama dan nilai sosial dijadikan aturan dalam proses integrasi. d.Membangunkan rasa keadilan rakyat. e.Melaksanakan kegiatan pembangunan yang adil sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat yang merata. Bla... Bla... Bla... " lanjutnya.
sampai pelajaran berakhir mereka semua belajar dengan gembira apalagi bagi seluruh siswi siswi dikarenakan Pak Saad itu guru muda dan sekaligus memiliki paras yang rupawan,Merra yang saat itu melihat Pak Saad ia merasa biasa saja karna baginya saat ini lebih baik mengejar impian nya untuk menjadi seorang guru dari pada mengurusi masalah percintaan yang menurut nya tidak penting dan membosankan,kenapa dia bilang tidak penting? Dikarenakan ia pernah berhubungan dengan lawan jenis tapi hanya sebatas pacaran.pacaran nya saat itu masih LDR tidak pernah bertemu secara langsung karna berbeda sekolah mereka hanya sesekali melakukan panggilan vidio dan telfonan saja tak lebih dari itu.
Malamnya Merra izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi latihan bela diri pencak silat.
"Mak! Pak! Merra izin pergi ya? mau latihan niii! " ucap Merra meminta izin.
"Latihan dimana?" tanya sang Bapak dengan wajah yang terlihat sedikit galak.
"kayak biasanya Pak di dusun sebelah" jawab Merra dengan wajah tersenyum dan memelas.
"yaudah hati hati dijalan ya!" ucap Bapak mengijinkan.
"ehhh Merra tunggu nak!" panggil Sang Mamak.
Merra menoleh kearah sang Mamak yang memegang botol minum dan cemilan ringan di kantong kresek hitam.
"Ni awas ketinggalan botol minumnya sama cemilannya nih" ucap sang Mamak dengan wajah tersenyum.
"hehe iya mak hampir lupa, yaudah deh kalau gitu Merra pergi dulu ya Mak Pak! Assalamu'alaikum" pamit Merra.
"iya hati hati Wa'alaikumussalam" ucap kedua orang tua Merra sekaligus menjawab salam.
Merra pun pergi dengan berjalan kedepan gang rumah untuk bertemu dengan teman silatnya sekaligus teman masa kecilnya yang bernama Azman sekaligus ingin meminta tumpangan alias nebeng.
"Azman! numpang oi!" teriak Merra
"kebiasaan kamu mah numpang terus sekali kali sendiri gitu perginya, lagian kan kamu juga bisa bawa motor, kenapa harus numpang sama aku?" tanya Azman
"pingin nya sih gitu bawa motor sendiri tapi aku gak bisa gak dibolehin Bapak apalagi malam malam gini,lagian kamu juga kan udah dipercaya sama Bapak aku jadi ya gak apa apa kalau aku numpang sama kamu" ucap Merra dengan wajah datarnya.
"huff... " Azman hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban dari Merra.
Seperti itulah Merra dia akan selalu menunjukan wajah datarnya kepada teman ataupun orang lain tapi berbeda jika ia sedang berada didepan keluarganya ia bahkan bisa tertawa terbahak-bahak dan memiliki rasa humor yang tak dapat diduga-duga.
"iya deh iya,naik cepetan kalau gak kutinggal nih!" ucap Azman mengancam dengan wajah cengengesan.
__ADS_1
Mereka pun pergi berdua menggunakan motornya Azman membelah jalanan menuju tempat latihan dengan mengebut,mungkin jika perempuan selain Merra pasti akan teriak ketakutan kalau dibonceng Azman dengan mengebut tapi Merra sudah terbiasa walau Azman membawa motor seperti akan membawanya berpindah alam.
Azman adalah teman masa kecil Merra itulah sebabnya mereka terlihat akrab kadang Merra juga bisa tertawa saat bersama dengan Azman,Azman juga sudah diberi kepercayaan oleh Bapak nya Merra jika Merra berada diluar bersamanya.
Setelah 10 menit perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat latihan. Tempat latihan itu juga tempat yang biasa digunakan untuk bermain bola voli saat siang namun saat malam tempat itu akan digunakan untuk latihan pencak silat.
"Assalamu'alaikum Mas! Mbak! " salam Merra dan Azman serentak.
"Wa'alaikumussalam" jawab Mas dan Mbak pelatih.
"kenapa lama sekali datangnya?" tanya salah satu Mas pelatih.
"iya nih Mas,Merra ni yang bikin lama (menunjuk ke arah Merra) udah ditungguin juga,ampe berjamur nih nungguin nya" seru Azman.
Merra membalas ucapan Azman dengan tatapan yang sedikit memelototkan matanya.
"Kalau begitu tunjukkan padaku bagian mananya yang berjamur?" tanya Merra dengan wajah datarnya.
Hal itu membuat semua orang disitu melongo heran dan membuat Azman kesulitan untuk menjawab
"woi Merra! pertanyaan mu itu loh astaghfirullah aku tuh cuma bercanda tau! dasar b*d*h!!" teriak Azman.
"punya temen kok ya kayak gini banget sih gak bisa diajak bercanda ya Allah... " Azman membatin sambil menepuk jidatnya.
"baiklah kalau begitu buat barisan sekarang setelah itu kita berdoa lalu pemanasan seperti biasa lanjut maraton,hapalan materi,dan kalau masih ada waktu kita sambung." seru salah satu Mas pelatih.
Dipagi hari yang indah dan cerah didalam sebuah kamar bernuansa biru muda dan abu abu,seorang gadis yang masih terlelap didalam selimut nya itu,yang masih di bawah alam mimpi indahnya namun mimpi itu tak bertahan lama ketika sang Mamak membangun kan nya dengan suara yang menggelegar kan.
"ya Allah... Merra!! ayo bangun nak ini sudah subuh bangun!! cepetan bangun nanti bisa ketinggian waktu subuh!! ayo bangun Merra!! " teriak Mamak membangun kan Merra.
"iya Mak,Merra bangun nih, eughhh... hoamm... jam berapa ya ini? " tanya Merra kepada dirinya sendiri sambil berusaha untuk membuka matanya.
Merra beranjak mengambil benda pipih yang berada di atas nakas lalu melihat layarnya, setelah itu ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya menuju kearah kamar mandi yang tempat nya berada disamping dapur.
"eh eh eh putri tidur udah bangun? " kata Arsita kakak Merra satu satunya dengan wajah meledeknya.
Arsita Humaira kakak perempuan Merra satu satunya yang saat ini bekerja di klinik anak karena kakaknya yang seorang Bidan,ia sudah menempuh pendidikan D3 dan masih ingin melanjutkan kuliahnya ke S1 tapi karena belum mempunyai uang ia pun memutuskan bekerja terlebih dahulu. Arsita adalah anak pertama dikeluarga Merra sedangkan Merra adalah anak kedua sekaligus anak terakhir.
"apaansih ganggu banget! Baru bangun juga udah ngeledek aja.Kapan pulang kok udah disini aja sih gak bilang bilang? " tanya Merra penasaran.
__ADS_1
"tadi malam abis kamu pergi latihan beberapa menit kemudian kakak pulang" jawab Arsita.
"owh" ucap Merra ber o ria.
"udah sana cepet ke kamar mandi bersih bersih jorok ih masih ada belek nya itu di mata! " seru Arsita.
"iya iya kakak resek nan bawel hihi" ucap Merra dengan senyum meledek Arsita yang mendengar nya mendengus kesal.
setelah selesai mandi dan beribadah ia langsung menuju meja makan untuk menyantap sarapannya.
"sini duduk,sarapan pake telur dadar, sayur bening sama sambal teri! " seru sang Mamak.
"Beuhhh sambel teri mantap ni pake telur dadar ditambah kuah sayur bening mana nasi nya masih anget anget lagi uenak poll iki!! " seru Merra dengan semangat dan mengambil nasi dan memasukkannya kedalam piringnya.
"eh dek! tadi malam pulang jam berapa dari latihannya? " tanya Arsita kepada Merra.
"owh kayak biasanya jam 12 malam aja kok" jawab Merra dengan wajah santainya sambil menyuapkan nasi beserta lauk kedalam mulut nya dengan nikmat.
"anak gadis kok pulang malam sama laki laki lagi mainnya! " seru Arsita membuat wajah Merra yang awalnya ceria menjadi datar.
"ya emangnya kenapa? kan aku gak ngapa ngapain, aku juga kan gak dolan dolan setelah selesai latihan aku juga langsung pulang lalu apa masalah nya" tanya Merra yang wajahnya sudah terlihat menahan amarah nya.
"tapi kan... " belum selesai Arsita mengucapkan kalimat nya sudah dipotong dengan ucapan sang Bapak.
"udah udah kalian ini lagi makan juga,kalau gaduh tak kenal tempat" lerai sang Bapak.
Seketika aura di meja makan itu berubah yang tadinya secerah matahari didunia tabi menjadi gelap karena kekesalan kedua Saudara itu.
"aku sudah selesai makan, sekarang mau berangkat sekolah dulu" ucap Merra dengan wajah datarnya.
"Mak Pak Merra pamit ya mau berangkat assalamualaikum" ucap Merra sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam, hati hati bawa motor nya! "
"jangan lupa isi bensin nya yaaa" seru Arsita
"iya iya dasar bawel" ucap Merra dengan wajah datarnya.
Bersambung...
__ADS_1