
Happy Reading 🙏
"kamu benar Rara kita memang harus lebih berhati-hati mulai saat ini" ucap Dani membenarkan.
.
.
.
Mereka pun menganggukkan kepalanya bersama setelah mendengar ucapan dari Dani.
"Memang benar tapi aku tak masalah, jika mereka benar-benar ingin menyerang silahkan saja aku tak masalah" ujar Merra dengan wajah yang kembali datar.
"Hah!! emangnya lu gak takut? gimana kalau mereka manggil seluruh temennya buat ngeroyok elu? " tanya Salwa
"Gak aku gak takut, pelatih ku pernah bilang berani karna benar takut karna salah selagi kita gak salah dan gak nyari masalah duluan maka jangan takut" ujar Merra dan mendapat anggukan dari keempat temannya.
Tanpa mereka sadari secara tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundak Dani dan membuat Dani seketika merinding ketakutan dengan adanya tangan yang ia rasakan berada di atas pundaknya.
Dani pun membalikkan badannya dengan badan yang terasa gemetar saat ia berbalik ternyata nyatater jebuleee...
"Neng ini jadi gak beli baksonya udah mamang buatin ini, jadi gak sih neng? " tanya seorang lelaki berkaos hijau bertopi coklat dengan handuk kecil dilehernya yang ternyata si mamang tukang bakso.
"Maa syaa Allah manggg, kaget saya kalau dateng itu mbok yo kasih tanda gitu lohh mang kaget saya, saya kira siapa tadi mang, " ujar Dani membuat mamang tukang bakso cengengesan sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Hei Dani ngomong apa sih kadak mangarti aku" tanya Salwa
"Jawa Salwa itu tadi bahasa Jawa" jawab dani
"hehe maaf ya neng, soalnya dari tadi udah mamang panggilin tapi si eneng gak nyaut"
"Iya mang gak apa apa, jadi kok beli nya mang oya mang sausnya banyak kan mang? " tanya Dani dengan mata yang berbinar binar.
"Iya neng ini sausnya banyak sesuai pesenan si eneng "
"Cakep mang (sambil menunjukan ibu jarinya👍) oya mang, ini uangnya makasih ya mang" ucap Dani dengan senyuman diwajahnya.
"Iya neng sami-sami mamang juga Terima kasih ya neng" Dani hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah menerima uangnya mamang tukang bakso itu pun kembali ke gerobak dagangannya,Dani menyerahkan bungkusan bakso itu kepada teman-teman nya, mereka mulai memakannya tetapi Merra tampak ragu untuk memakannya karna ia merasa asing dengan makanan yang ada di genggaman nya.
"Merra! kenapa tidak dimakan? " tanya Dani
"Aku masih merasa asing dengan makanan ini, biasanya bentuk bakso itu bulat sedangkan ini memanjang seperti sosis" ujar Merra.
"Coba aja rasanya enak kok kamu pasti bakal ketagihan" ucap Dani menawari.
Merra yang ragu pun memakan baksonya sedikit ia terkejut dan melebarkan matanya, saat ia mulai mencicipi bakso stik itu.
__ADS_1
"Gimana rasanya? enak? " tanya Dani penasaran.
"ini enak, baksonya lembut dan gurih karna dilumuri dengan adonan telur sausnya juga enak seperti mamang itu membuat sausnya sendiri, rasanya berbeda dengan bakso yang lainnya ini sangat enak aku jadi ingin memakannya lagi" ucap Merra.
Dani hanya menganggukkan kepalanya ia tak sadar kalau Merra saat ini menyunggingkan senyum nya. Hal itupun tak lepas dari pandangan Salwa dan Asyifa seakan Merra yang berada didepannya ini seperti bukan Merra yang biasanya.
"Hei apa kau liat itu" bisik Asyifa kepada Salwa.
"Tentu saja aku liat lu kira aku buta hah" ujar Salwa.
"Adegan langkah ini cepat keluarkan ponselmu ambil gambar Merra yang sedang tersenyum jarang jarang kita lihat dia tersenyum cepetan! " pinta Asyifa.
"Iya iya bentar sabar gih" Salwa mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mengarahkan nya kedepan Merra tetapi hal itu tak luput dari penglihatan Dani, Dani pun bertanya kepada Salwa.
"Salwa apa yang kau lakukan? " tanya Dani membuat Salwa terkejut dan yang lainnya pun menatap kearah Salwa dengan heran, Merra juga ikut melihat kearah Salwa dengan wajah yang kembali datar.
"ish apa yang kau lakukan Dani! liat sekarang Merra sudah tak tersenyum lagi padahal tadi ada adegan langkah Merra yang sedang tersenyum tapi sekarang senyumnya menghilang dan kau mengagetkan ku sampai aku tak sempat mengambil gambarnya" lesu Salwa karna tak sempat mengambil gambar, Merra yang melihat Salwa hanya bisa menggeleng geleng kan kepalanya.
"Benarkah si beruang kutub yang dingin nan datar kek triplek ini tersenyum? sejak kapan kenapa kau gak bilang sama ku ihh"kesal Dani melewatkan adegan Merra yang tersenyum.
" Tadi!!, lu aja yang gak tau dan gak sadar hisss"sebal Salwa, Dani dan temannya terkekeh melihat Salwa yang menghenta hentakkan kakinya dan memanyunkan bibirnya.
"Heh, jangan manyun gitu, itu bibir apa bibir ikan koi haha... " usil Rara, setelah itu pun mereka menghabiskan jajanan merekah dan kembali pulang kerumah mereka masing masing.
* * *
Hari demi hari pun berlalu begitu pun dengan bulan ujian semester pun telah mereka lewati tanpa mereka sadari mereka sudah berada di akhir semester dua saja.
Merra terlihat ragu tangan sebelah kirinya memegang benda berwarna hitam ia terus melirik kebenda itu.
"Apa tak masalah jika aku mengenakan ini ya, aku sangat ingin mengenakannya, apa ku tanyakan saja pada Mas Ibnu ya? " gumam Merra.
Mas Ibnu adalah sepupu Merra dari keluarga mamaknya, entah mengapa ia lebih dekat dengan keluarga mamaknya daripada keluarga bapaknya.
Dan Mas Ibnu adalah sepupu yang paling dekat diantara sepupu sepupu yang lainnya, padahal tempat tinggal mereka terpisah sangat jauh, saat ini Merra tinggal di kota M sedangkan Mas Ibnu tinggi dikota P tentu jarak mereka sangat jauh.
Mas Ibnu saat ini menjalani pendidikan nya di sebuah pondok pesantren di daerah nya dan sudah pasti akan jarang sekali untuk pulang kerumah dan jarang memegang ponsel untuk berkomunikasi.
Sedangkan di pondok sangat dilarang keras santri nya membawa ponsel dan alat komunikasi lainnya. Merra pun menekan aplikasi berwarna hijau yang ada pada ponselnya ia pun menyekrol dan mencari kontak masnya.
Hingga akhirnya ia menemukannya dan menekannya. Merra mulai memainkan jari jarinya dengan lincah diatas layar ponsel ia mengetik apa yang ingin dia sampai kan.
Merra
~"Assalamu'alaikum Mas, Mas udah pulang dari pondok kan? "~
" Eh yakin nih Mas udah pulang kalau belum gimana? percuma dong aku ngechat tapi Mas belum pulang gak bakal dibalas"lesu Merra.
Ting!!!
__ADS_1
Suara ponsel mengagetkan Merra yang sedari tadi bergumam sendiri dan pikiran nya sudah kemana mana hingga akhirnya ia tersenyum karna mendapat balasan dari Masnya.
Mas Ibnu
~"Waalaikumussalam dek, Mas udah pulang kok kenapa ngechat Mas hm.. "~
Merra
~"Emangnya gak boleh ya ngechat Mas nya sendiri"~
Mas Ibnu
~" Boleh,tapi kenapa kok ngechat Mas kan gak mungkin tanpa sesuatu alasan, pasti ada alasannya kan? "~
Merra
~" Hehe tau aja Mas ni kalau ada sesuatu, jadi gini Mas boleh gak sih kalau Merra pake ini? "~
Merra mengirimkan sebuah foto dengan gambar sebuah benda berwarna hitam yang ada di genggaman tangan kirinya yang sangat ingin ia kenalan.
Mas Ibnu
~" Kamu yakin memangnya kamu udah izin sama orang tua kamu kalau kamu mau pake ini hm? "~
Merra
~" Eum belum Mas, Merra belum izin. tapi menurut Mas gimana"~
Mas Ibnu
~" Kalau Mas sih ngijinin kamu pake itu, itu bagus kok. Mas malah seneng kalau kamu pake itu Mas jadi gak akan khawatir lagi sama kamu, tapi kalau emang kamu yakin sangat ingin pake itu jangan dibuka copot buka copot harus bener bener makenya paham adek ku sayang hm.. "~
Merra
~" iya Mas Merra paham, Merra yakin sangat ingin pake ini sampai kapanpun Merra akan tetap memakainya"~
Mas Ibnu
~"Bagus, Mas jadi seneng semoga tetap istiqomah ya adekku sayang, inget yang Mas bilang tadi ya. Kalau ada apa apa bilang sama Mas hm.. Yaudah kalau gitu Mas mau istirahat dulu Mas capek baru pulang ni udah ya Assalamu'alaikum adekku"~
Merra
~"Iya Mas Merra akan ingat, Wa'alaikumussalam "~
Merra pun mengakhiri chatan nya dengan Mas nya ia pun membaringkan badannya untuk beristirahat dan meletakkan ponselnya diatas nakas.
" Aku sangat ingin memakai ini di sekolah besok, aku sangat tidak sabar melihat ekspresi wajah mereka nanti hihi.. "gumam Merra mengangkat tangan kanannya yang menggenggam benda berwarna hitam itu.
(Kira kira benda hitam apakah itu ya🤔)
__ADS_1
Bersambung....