HADIAH DARI TUHAN

HADIAH DARI TUHAN
bab 1


__ADS_3

"ma,Arin berangkat dulu ya?titip Sena",kata Arin pada ibunya,


"iya kamu hati-hati ya di jalan,setelah sampai langsung kabari mamah",ucap Nia mamah Arina,wanita yang hampir berusia setengah abad itu sebenarnya tidak tega melihat anaknya yang harus banting tulang sendiri untuk menghidupinya dan cucu nya,tapi mau bagaimana lagi?,


lalu Arin menatap anaknya,"mamah berangkat dulu ya sayang,tolong jagain nenek dan jangan nakal ya?harus nurut sama nenek,dan jangan lupa shalat."ucap Arin pada anaknya yang baru duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar,walaupun Sena masih berusia 9 tahun tapi ia sudah bisa berfikir lebih dewasa dari usianya,"iya mah,Sena akan selalu ingat pesan mamah,Sena janji,"kata Sena sambil memeluk mamahnya,sebenarnya Sena juga tidak rela jika harus berjauhan dengan mamahnya,tapi Sena juga tahu kalau itu demi dia juga.


Mobil yang akan Arin naiki sudah tiba di halaman,"Arin berangkat ya,assalamu'alaikum".


"wa'alaikum sallam",jawab ibu Nia dan Sena barengan.


Disepanjang perjalan ia hanya diam,pikiranya melayang entah kemana,tak terasa butiran bening menetes di pipinya,teringat akan luka lama,dikhianati dan disakiti berkali-kali membuatnya enggan untuk membuka hati kembali,bahkan untuk berumah tangga kembali ia sudah tak memikirkanya lagi.


Setelah bergulat dengan pikiranya,Arin merasa lelah,ia pun tertidur. Butuh waktu kurang lebih 12 jam dari kota Arin untuk sampai ke ibu kota.


"mba,mba,bangun kita sudah sampai",kata pak sopir membangunkan,


"eh,iya pak udah sampai ya?",jawab Arin asal,,nyawanya masih belum terkumpul,


"ayo mba kita masuk",ajak pak sopir,Arin lalu menggeliat dan keluar mobil,untuk sementara dia sangat kagum dengan bangunan yang ada didepannya,bagaimana tidak?bangunan yang menurutnya bak istana di TV-TV sekarang berada didepannya dan sekarang ia akan bekerja disitu,sungguh tak terbayangkan ia akan mendapatkan majikan yang sangat kaya.


"kalau rumah ini dijual pasti bisa untuk buat rumah orang satu kampung," batin Arin yang jiwa misquinya kini sedang meronta -ronta.


"mari lewat sini mba", ajak sopir membuyarkan lamunan Arin.


Kini meraka sudah diruang tamu,


"tunggu disini,saya akan panggilkan nyonya,"ucap Ani seorang kepala pelayan dirumah itu,Arin hanya mengangguk Sementara pak sopir pergi keluar.


Tak tak tak


suara langkah kaki membuat Arin menoleh,ia melihat seorang wanita yang berpenampilan sedikit glamor,meski ia seumuran ibunya,tapi ia terlihat begitu cantik.


"oh jadi ini calon perawat ponakan saya?",kata Santi pelan,

__ADS_1


"iya nyonya,"jawab sang pelayan,Santi melihat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki,"nama kamu siapa?"tanya Santi pada Arin,


"saya Arina nyonya",jawab Arina,Santi hanya menganggukkan kepala,"Ani,kamu bawa barang - barangnya kekamarnya,dan kamu Arin ikut saya",


"baik nyonya,saya permisi",Ani lalu pergi membawa barang - barang Arin,


Arin dan Santi saat ini sudah dilantai 2,mereka berhenti didepan kamar,Santi membuka pintu kamar dan mereka pun masuk kedalam.Terlihat sesosok pria yang duduk di kursi roda yang terlihat kurang terurus,


lama ia memperhatikan dan tanpa sengaja ia menatap matanya


deg ,


"tatapan itu",


ceklek


Terdengar pintu kamar mandi terbuka,membuat Arin sedikit tersentak,ia melihat seorang wanita keluar dari kamar mandi


"nyonya,"kata Desi,ia adalah pelayan yang membantu merawat pria itu,karena sebenarnya banyak perawat yang sudah keluar masuk entah kenapa mereka tidak ada yang betah, sementara belum ada yang merawat jadilah Desi yang mengambil alih untuk merawatnya.


"baik nyonya,"lalu Santi pun pergi,Arin menatap kepergian Santi dengan pandangan yang aneh.


"Baiklah mari saya ajari kamu cara merawat tuan," kata Desi, Arin hanya mengangguk dan mengikuti arahan Desi,


"oh ya,sebelumnya kenalkan ini adalah tuan muda Satriya Bintang Baraya,beliau ponakan dari nyonya Santi," jelas Desi,


"tuan,mulai hari ini,dia adalah perawat tuan," kata Desi yang mencoba berkomunikasi dengan tuanya,


" oh ya nama kamu siapa?"tanya Desi pada Arin


"saya Arin mba",jawab Arin.


Desi pun mulai menerangkan bagaimana cara merawat Bintang satu persatu,Desi juga memberi tahu apa saja kesukaan dan yang tidak disukai tuanya,Arin hanya mengangguk paham.

__ADS_1


Kini sudah larut malam,setelah selesai makan malam kini Arin berada di kamarnya,seharian ini ia belajar dengan Desi.


Tiba-tiba Arin merasa ada sesuatu dengan tatapan tuanya,


"kenapa aku selalu kepikiran dengan tatapan matanya ya?seperti seorang yang sedang membutuhkan perlindungan",guman Arin tapi ia langsung menepis pikiran nya."Hem lebih baik aku video call dulu dengan Sena,masih jam sembilan dia pasti belum tidur",gumamnya lagi,lalu ia memegang benda pipih itu dan mulai video call dengan anaknya,


"assalamu'alaikum mah"


"wa'alaikum salam Sena,sudah makan belum?dimana nenek?"tanya Arin,


"Sena udah makan mah,nenek sedang dikamar mandi mah,"


"oh ya sudah,kamu tidur dulu sana sudah malam,besok mamah telpon lagi",


"iya mah,dadah mamah,Sena sayang mamah",


"mamah juga,"


sambungan telpon pun terputus


Arin yang memang lelah langsung tertidur dengan pulas .


Keesokan paginya,Arin bangun pukul empat pagi,ia langsung mandi dan melaksanakan shalat subuh,pukul 6 pagi ia ke lantai dua,mulai hari ini ia yang urus segala keperluan tuanya,sebenarnya ia masih ragu kalau harus sendiri.


Ditatapnya pintu kamar,ia menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan,"semangat Arin,kamu pasti bisa",gumam Arin menyemangati diri sendiri,lalu ia pun membuka pintu kamarnya,ia membuka gorden dan menyapa tuanya,


"pagi tuan,mulai hari ini,aku yang akan merawat tuan,oh ya nama ku Arin tuan,"kata Arin sambil mengulurkan tangannya lalu menyalaminya.


Arin mulai membersihkan badan tuanya,sebenarnya ia merasa geli saat membuka pampers nya,tapi mau bagaimana lagi. Dengan cekatan Arin membersihkan tuanya,ia juga mencukur rambut - rambut halus di wajah pria itu,kini lelaki itu terlihat lebih rapi."nah tuan coba lihat,tuan sangat tampan sekali,pasti banyak wanita yang mengejar - ngejar tuan",kata Arin tersenyum sambil memperlihatkan cermin ke tuanya,tapi saat ia menatap tuanya,ia terkejut karena tuanya menangis,ia pun bingung,"apa mungkin dia tersinggung dengan ucapan ku tadi ya?",batin Arin,lalu ia pun mencoba untuk meminta maaf,"tuan,apa ada salah kata saya,jika iya saya minta maaf tuan,jangan nangis ya?",setelah dirasa tuanya sudah tenang ia berniat untuk mengambil sarapan untuk tuanya,saat ia melewati kamar nyonya nya,dia mendengar Santi sedang berbicara di telepon,karena pintu kamarnya sedikit terbuka,jadi Arin bisa mendengarnya


.....


"iya,jangan sampai lupa kamu bawa obatnya,karena hanya dengan obat itu kita bisa menguasai harta Bintang",

__ADS_1


Deg


__ADS_2