HADIAH DARI TUHAN

HADIAH DARI TUHAN
bab 2


__ADS_3

Deg


"kenapa perasaan ku jadi enggak enak ya?" batin Arin,"ah mungkin hanya perasaan ku saja,"batinya lagi. Tak ingin berfikir macam-macam Arin lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Di dapur,ia melihat nyonya Santi dengan seorang pemuda saling berhadapan menikmati sarapanya.Santi yang melihat Arin langsung memanggilnya.


"Arin," Arin yang merasa namanya dipanggil langsung menghampirinya.


"nyonya panggil saya?,"jawab Arin sambil menundukkan kepala.Sedangkan pemuda yang duduk didepan Sinta hanya melirik sekilas kearah Arin.


"kamu mau menyiapkan sarapan untuk Bintang?


" iya nyonya,"


"kamu rawat Bintang dengan baik ya?jangan sampai ada kesalahan,dan saya harap kamu bisa betah bekerja disini",kata Santi halus.


Saat ini Arin sedang menyuapi Bintang,ia begitu sabar dan telaten dalam mengurus Bintang.


"tuan,apa kah suka dengan makanan nya?",Arin memang sengaja mengajak ngobrol dengan tuanya sesekali ia juga memandang wajah pria itu.


"kalau dilihat-lihat ganteng banget sih bayi tua ku,andai jadi suami ku,wah pasti heboh nih orang - orang kampung kalau pulang-pulang bawa yang bening beginian." Batin Arin sambil membayangkan kehaluan nya sambil senyum-senyum sendiri,


"haish,mikirin apa sih aku ini?",Gumam Arin sambil menggelengkan kepalanya,Bintang yang melihat tingkah Arin,hanya bisa menatapnya dengan wajah yang tak bisa dimengerti.


Setelah selesai menyuapi Bintang,dia lalu meletakan piringnya dimeja lalu berjalan mengambil obat yang ada di laci meja.Dia melihat ada beberapa botol obat dan jarum suntik di sana.


Ya,obat yang akan dia berikan ke Bintang itu berupa suntikan.

__ADS_1


Arin sebenarnya tidak seberani itu untuk memasukan jarum suntik ke kulit tuanya,ditambah lagi ia tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia medis. Tapi saat ini,itu memang sudah jadi tugasnya,takut?itu sudah pasti.


Ini pertama kalinya Arin akan melakukan penyuntikan ke Bintang,yang ia pelajari sebelumnya dari Desi.


Arin sebenarnya bingung,kenapa keluarga kaya raya seperti tuanya mempekerjakan perawat abal-abal seperti dirinya. Sedangkan mereka mampu untuk membayar perawat yang profesional.


Dengan berat hati si mengambil botol obat dan jarum suntik,lalu ia memasukan obat itu ke jarum suntik,ia menoleh kearah tuanya dan menghampirinya.


"tuan,suntik dulu ya biar cepat sembuh,"


Saat Arin hendak menyuntikan obat ke lengan tuanya,ia melihat wajah tuanya yang seperti ketakutan,matanya mengeluarkan air mata,membuat Arin sedikit panik dan tak tega.


"tuan kenapa?apa tuan takut dengan jarum suntik?",


Arin mencoba berbicara pada Bintang sambil memeluk menenangkannya,karena Arin tidak tau harus berbuat apa lagi.


setelah Bintang tertidur,Arin memutuskan untuk turun kebawah,ia ingin menenangkan pikiran nya sejenak,entah kenapa ia selalu teringat reaksi tuanya saat hendak ia berikan obat. "kenapa aku merasa ada yang aneh ya?kenapa tuan sangat ketakutan dan mata itu,tatapan nya seperti ora yang sedang membutuhkan pertolongan?"batin Arin,kini pikiran nya dalam kekalutan.


Tak mau terlalu memikirkan nya,Arin memutuskan untuk kehalaman belakang,ia ingin menenangkan pikiran nya sejenak.


Dihalaman belakang,ia melihat Desi sedang menyapu,Arin berinisiatif untuk membantunya,


"boleh saya bantu mba Desi?"tanya Arin


Desi menoleh kearah Arin,"tidak usah ini juga sudah selesai."


Lalu Desi membereskan alat kerjanya. Melihat Arin yang sedang murung Desi mengajak nya untuk duduk di teras belakang.

__ADS_1


"Apa tuan sudah istirahat?",tanya Desi membuka percakapan,ia melihat wajah Arin yang sedikit murung,Arin hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"apa tuan tadi mengeluarkan air mata saat kamu memberinya obat?"tanya Desi lagi,


"iya,bahkan tuan terlihat sangat ketakutan,entah lah mba,aku jadi tidak tega melihat tuan seperti itu,"Arin menatap Desi dengan tatap sedih,


"tidak apa-apa,kata nyonya,tuan seperti itu karena beliau memang takut pada jarum suntik,karena tidak ada yang bisa beliau lakukan untuk menolak,jadi hanya bisa mengeluarkan air mata",memang masuk akal alasannya,tapi alasan yang sesungguhnya bukan seperti itu.


"tuan adalah orang baik,beliau orang yang sangat ramah,bahkan pelayan disini pun diperlakukan dengan baik,"Desi mulai bercerita.


"tiga bulan yang lalu, entah kenapa saat hendak berangkat kerja,beliau mengeluh pusing,beliau meminta saya untuk mengambil obat,tapi ketika saya kembali,beliau sudah tak sadarkan diri,lalu beliau di bawa ke rumah sakit,dan semenjak saat itu beliau dinyatakan lumpuh",


Arin hanya diam mendengarkan cerita Desi,


"lalu pemuda tadi yang bersama nyonya Santi itu siapa?"


"dia anak nyonya Santi,namanya tuan Devan Delindro, dia sedikit kasar,jadi kalau ada tuan Devan sebaiknya kamu hati-hati,karena sedikit kesalahan dia akan menghukum mu".


Siang kini telah berganti malam,dikamar yang megah,Arin sedang membaringkan tuanya,entah kenapa Arin selalu merasa kalau tuanya sedang membutuhkan perlindungan.Dia mengusap kepala tuanya "tidurlah tuan,saya berharap agar tuan lekas sembuh,saya selalu berdoa agar Tuhan mengangkat penyakit tuan,dan saya yakin tuan pasti akan sembuh".ucap Arin dengan suara yang lembut.


Disisi lain,Bintang yang merasakan sentuhan lembut dari Arin,membuat jantungnya berdetak lebih cepat,ia menatap wajah cantik Arin terlihat begitu menenangkan,ketika Arin tau tuanya menatapnya,Arin menyuguhkan senyum manisnya,dan tanpa Arin sadari itu membuat jantung tuanya berdetak lebih cepat lagi.Bintang berusaha memejamkan matanya agar tak melihat senyum Arin lagi.Arin yang melihat tuanya sudah terlelap,dia memutuskan untuk segera turun dan beristirahat.


Merasa bahwa Arin sudah pergi,Bintang lalu membuka mata, "Tuhan,takdir seperti inikah yang Engkau berikan?beri aku kekuatan untuk menjalaninya,beri aku sebuah pertolongan Tuhan".dalam diam Bintang berdoa,berharap akan pertolongan Tuhan.


Dikamar yang berbeda,Arin yang baru saja video call dengan anaknya merasakan sesak di dada,ia begitu merindukan putrinya,karena perekonomian nya yang sulit,ia harus rela meninggalkan anaknya,teringat bagaimana putrinya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,membuat dadanya semakin sesak,mengingat semua perlakuan kasar dan penghianatan mantan suaminya,membuat ia seakan enggan untuk membina rumah tangga kembali,meski ia sadar tidak semua laki - laki seperti itu,tapi mengingat apa yang telah ia alami,membuatnya menutup hati agar tidak terluka kembali.Air mata mengalir deras,ia mencoba memejamkan mata menikmati rasa sesak yang bergejolak.


Tak ada yang tau,di kamar yang berbeda dua insan sedang meratapi takdir mereka dalam kemelutnya malam.

__ADS_1


__ADS_2