
Walaupun menurut ku saran itu berlebihan,tapi aku tidak keberatan.Karena aku sangat yakin bahwa hanya Amira yang akan menjadi istri ku,dan aku sudah sangat percaya padanya.
Sesampainya di rumah,aku langsung ke dapur untuk makan malam. Ternyata sudah ada Dev dan Tante Santi yang menunggu.
"Bintang kamu sudah pulang?kami sudah menunggu mu untuk makan malam bersama". Ajak Tante sambil menarik kursi untuk aku duduki,lalu mulai mengambilkan nasi serta lauk kedalam piring ku.
"Ini semua mamah masak spesial untuk kamu". Sambung Dev
Memang selama ini yang ku tahu mereka sangat perhatian dan sayang pada ku,hanya mereka keluarga yang aku miliki Sekarang.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil menyuapkan nasi ke mulut ku. Setelah beberapa suap aku makan,tenggorokan ku terasa panas,tubuh ku terasa sangat sakit,hingga aku pun tak sadarkan diri .
...***********************...
Mata ku mulai terbuka,cahaya lampu begitu menyilaukan. Otak terus berfikir mengingat apa yang terjadi.
Ceklek
Mendengar suara pintu dibuka Bintang menoleh ke arah pintu. Terlihat Tante dan Dev berjalan kearahnya.
"Wah udah sadar ternyata ponakan Tante." Santi berbicara berjalan mendekat ke sisi ranjang Bintang,sedangkan Dev hanya menatapnya sambil tersenyum sinis.
Saat aku hendak berkata,tenggorokan ku terasa sakit. Suara ku seakan tertahan. Yang lebih membuat ku bingung semua tubuh ku seakan tidak bisa digerakkan walaupun aku berusaha tapi tidak bisa. Ya Tuhan,apa yang sebenarnya terjadi padaku?
__ADS_1
Dev yang memperhatikan Bintang seakan tahu apa yang Bintang pikirkan.
"Kamu tenang aja setelah urusan kita selesai,kita akan segera akhiri penderitaan mu kok." Ucap Dev sambil tersenyum jahat
Aku masih bingung dengan apa yang diucapkan Dev. Urusan apa? aku bahkan belum bisa mencerna perkataanya.
"Setelah kami berhasil mengambil semua harta mu tentunya. Ini tidak akan lama,jadi bersabar lah. Tenang kita akan cari pengasuh buat kamu". Lanjut Dev.
Aku mulai paham,jadi mereka membuat ku sakit agar mereka bisa menguasai semua harta ku. Satu - satunya keluarga yang aku miliki tapi ternyata mereka musuh ku. Sungguh miris sekali nasib ku.
...***********************...
Sudah dua bulan lebih semenjak keluar dari rumah sakit. Sudah beberapa kali juga ganti perawat karena mereka tidak betah dengan ku. Bahkan kekasih yang aku cintai pun meninggalkan aku,mereka yang dulu memuji ku kini semua menjauhi ku,seakan duniaku hilang dalam sekejap. Entah dosa apa yang telah ku perbuat hingga Tuhan memberiku ujian yang begitu berat.
Dia bekerja begitu gesit,merawat ku dengan lembut berbeda dengan perawat - perawat sebelumnya yang sangat kasar pada ku. Hingga aku berfikir bisa percaya padanya,meminta bantuannya,beberapa kali ku coba memberinya isyarat lewat tatapan,tapi semua sia -sia.
Aku menatap Arin yang sedang sibuk mempersiapkan baju ganti untukku,lalu ia pergi ke kamar mandi menyiapkan air untuk mandi,saat ia hendak membuka celana ku,mungkin karena sulit dia menundukkan badannya hingga wajah cantiknya terasa begitu dekat dengan wajah ku,dia sedikit tersenyum dan entah kenapa jantungku berdetak begitu cepat hingga ku berusaha memalingkan pandangan ku dari wajahnya,saat mata ku menatap kebawah,"ya Tuhan",batin ku, pemandangan gunung yang begitu indah tampak dibalik baju nya,susah payah aku menelan savila ku,tanpa aku sadari sesuatu dalam tubuhku sudah terbangun dengan sendirinya " ah,ku kira kamu sudah tidak berfungsi,kamu bangun disaat yang tidak tepat,sial sial sial". Dalam hati merutuki kesialan ku.
Pagi ini seperti biasa Arin merawat ku dengan telatennya setelah selesai sarapan,ia meletakan piringnya dimeja dan berkata " tuan suntik dulu ya?".
Setiap mendengar kata suntik aku selalu gemetar,bukan karena aku takut dengan jarumnya,tapi aku takut dengan isi dari obat itu,setiap kali ia menyuntikan Obat itu,tubuh ku sakit,tulang - tulang ku terasa remuk,tapi apa daya ku?.
Setelah ia menyuntik ku,ia pun selalu mendoakan ku,itu terdengar sangat tulus.
__ADS_1
Saat aku sedang memperhatikan balkon tiba - tiba suara pintu terbuka,Devan datang menghampiri.
"Wow,lihat lah saudara laki -laki ku yang malang ini,sungguh menyedihkan". Umpatnya.
"Seorang Bintang yang sangat dihormati kini duduk tak berdaya di kursi roda,bagaimana rasanya Hem?". Aku hanya bisa menahan amarah dari setiap kata - kata yang dia lontarkan
"Aku benar - benar tidak tau dengan jalan pikiran mu,kenapa kamu membuat wasiat yang tidak berguna itu?dan apa? isteri?ayo lah Bintang kau belum memiliki isteri tapi semua harta mu kau akan berikan pada isteri mu,bahkan aku sebagai saudara mu tidak kamu masukkan dalam ahli waris mu,kau pikir kau siapa?". Aku benar - benar ingin tertawa mendengar ucapannya.
"Kamu lihat ini Bintang?",ia menunjukkan botol obat,aku tau itu adalah obat yang membuat aku sakit.
"Lihat ini baik - baik,jika ini sampai masuk ke tubuhmu maka kau akan lumpuh untuk selamanya bahkan bisa membunuhmu secara perlahan,tapi jangan khawatir sebelum kau pergi untuk selamanya aku akan mencarikan gadis yang akan menikahi mu,bagaimana apa kamu senang?". Bahkan mereka akan menikahkan ku agar bisa memiliki semua harta ku,sungguh licik.
Setelah Dev pergi aku menoleh kearah balkon,saat gorden terhempas angin aku melihat Arin yang sedang berdiri dengan tatapan yang tidak ku mengerti,dia menghampiri ku dengan air mata yang masih menitik di pipinya,"apa dia mendengarkan Dev tadi?".Ia membaringkan ku di ranjang,aku mencoba untuk memejamkan mata.
Setelah Arin pergi dari kamar ku,aku masih belum bisa tidur,memikirkan nasib ku yang tak tahu bagaimana.
"Tuhan,jangan biarkan aku menderita begitu lama,aku tahu Engkau tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan ku,beri aku perlindungan mu Tuhan".
Air mata terasa jatuh begitu derasnya,sungguh ini ujian yang berat baginya.
PROF BINTANG ****OFF****
Hai sahabat ini karya pertama aku,maaf masih banyak kekurangannya.
__ADS_1