HADIAH DARI TUHAN

HADIAH DARI TUHAN
BAB 9


__ADS_3

Arin saat ini sedang sibuk mengurus Bintang setelah selesai membersihkan Bintang ia mulai menyuapinya.


"Tuan makan yang banyak ya biar cepat sembuh,agar tuan bisa bebas melakukan apapun yang tuan suka",ia selalu mengajak Bintang bicara meski hanya ditanggapi oleh ekspresi datar Bintang.


Selesai dengan sarapannya Bintang , Arin lalu membereskan meja yang sedikit berantakan dengan tempat makan Bintang,ketika Arin selesai menumbuk bekas makan saat hendak berdiri terdengar pintu kamar terbuka,terlihat nyonya Santi dan anaknya masuk kedalam kamar dan menghampiri mereka.


"Nyonya." Sapa Arin sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan terlalu sungkan Arin,sebentar lagi juga kan kamu akan jadi bagian dari keluarga ini," Santi berkata sambil tersenyum.


Bintang yang mendengar penuturan Santi memasang wajah datarnya ia belum tahu maksud dari perkataan Santi.


Santi menghampiri Bintang ia memandang wajah Bintang dan mengusap kepalanya,seolah - olah ia adalah orang yang paling peduli pada Bintang.


"Sayang Tante sudah putuskan bahwa kamu akan menikah dengan Arin biar ada yang mengurus mu secara penuh,kamu pasti senang kan?" Santi berucap sambil tersenyum sinis. Bintang yang mendengarkan ucapan Santi tetap dengan ekspresi datarnya,saat Bintang memutar bola matanya menatap Dev ia melihat Dev mengepalkan tangannya lalu ia mengikuti arah pandang Dev yang sedang menatap Arin dengan tatapan yang tak bisa dimengerti entah apa yang dipikirkan Dev tapi Bintang yang melihat ekspresi Dev hanya bisa tersenyum dalam hati.


Sedangkan Dev sendiri tidak tahu kenapa,sejak semalam Santi mengatakan bahwa Arin bersedia menikah dengan Bintang,dadanya terasa begitu sesak ada amarah ketika ia mendengarnya,ia pun tak tahu apa alasannya.


Santi berbalik menghampiri Arin.


"Arin apakah obatnya Bintang sudah kamu berikan?" Tanyanya.


"Belum Nyonya",


"Kamu ambilkan saja obatnya biar saya saja yang memberikannya,saya ingin memberikan dia obat untuk terakhir kali,karena jika kamu sudah menikah dengannya maka kamu yang akan bertanggung jawab penuh atas dirinya".


Arin lalu berjalan mengambil obat dan memberikannya pada Santi.

__ADS_1


"syukurlah obatnya sudah saya ganti,mudah - mudahan nyonya kej*m ini tak menyadarinya", batin Arin


FLASHBACK ON


Arin yang tidak sengaja bertemu dengan pemilik apotek yang diketahui bernama Kenzo itu akhirnya memutuskan makan siang bersama.


"Oh ya gimana kabar adik kamu?",tanya Kenzo basa basi.


"Dia masih sama saja mas,saya tidak tahu harus bagaimana lagi",jawab Arin dengan wajah sendu.Arin kini memanggilnya dengan sebutan mas karena Kenzo yang meminta,katanya biar mereka tambah akrab,apa lagi sejak pertemuan pertama Kenzo melihat ada keistimewaan dalam diri Arin.


"Kira-kira sudah berapa lama adikmu sakit? sebenarnya saya memiliki obat penawarnya jika memang hanya ketidak sengajaan dalam memberikan obat dia bisa sembuh,tapi jika dia telah menggunakan obat itu dalam waktu yang lama maka obat itu akan bersifat permanen",ucapnya,dia sedikit curiga sebenarnya mana ada orang yang akan meminum obat berbahaya kecuali orang itu memang dijebak,apa lagi obat itu juga lumayan susah didapat. Dia ingin bertanya pada Arin tapi mengurungkan niatnya karena menurutnya itu bukan urusannya.


Arin yang mendengar perkataan Kenzo pun berbinar.


"Benarkah mas? Jika begitu saya ingin obat itu,bisakah saya mendapatkannya?".


"Tapi harganya lumayan mahal karena itu termasuk obat langka".


akhirnya hari itu juga Arin mendapatkan obatnya walau harus kehilangan banyak uang dan obat yang dari Santi ia buang dengan hati - hati agar tidak ada yang curiga,untung saja obat penawarnya hampir sama dengan racun itu jadi saat Santi menggunakannya pada Bintang ia tidak tahu kalau obat itu sudah Arin ganti.


FLASHBACK OFF


Setelah selesai memberikan obat Santi lalu berbalik dan berkata pada Arin


"Setelah selesai urus Bintang,kamu langsung turun ada yang ingin saya sampaikan sama kamu".


"Baik nyonya".

__ADS_1


"Oh ya mulai sekarang kamu panggil saya Tante kan sebentar lagi kamu akan menikah dengan ponakan saya",tutur Santi lembut sambil memeluk Arin "terbang lah dulu sekarang,karena setelah ini mungkin kamu akan lebih susah lagi" Batin Santi dengan seringai licik dibibirnya.


"Baik nyo....eh Ta..n..te",Arin berkata dengan terbata " mungkin dia sekarang sedang tertawa dalam hati,sekarang aku harus menjadi bunglon untuk ngadepin kadal senior" Batin Arin.


Setelah selesai berpelukan Santi langsung keluar,sedangkan Dev masih menatap Arin. Arin yang ditatap merasa risih dan berbalik,tapi tiba - tiba Dev memeluknya dari belakang dan berbisik.


"Kamu bisa datang pada ku jika membutuhkan sesuatu". Setelah itu Dev pergi berlalu seolah tidak terjadi apa - apa,sedangkan Arin mengepalkan tangannya,ia merasa geram dengan Dev,belum lupa saat kejadian di dapur sekarang harus menerima perilaku Dev yang menurutnya sudah Melawati batas dengan memeluknya.


...********...


Selesai dengan Bintang,Arin menuju kelantai bawah untuk menemui Santi,saat sampai diruang tamu ia melihat ada pria paruh baya yang sedang berbincang dengan Santi,Arin menghampiri mereka. Santi yang melihat kedatangan Arin langsung menyambutnya.


"Pak Jaya perkenalkan ini Arin calon istri Bintang,Arin ini pak Jaya pengacara dan orang kepercayaan keluarga ini", kata Santi memperkenalkan mereka,Arin hanya tersenyum kecut. Sedangkan pak Jaya ia sedikit familiar dengan wajah Arin tapi ia tak terlalu memperdulikannya dan kembali duduk.


"Apakah nak Arin yakin akan menikah dengan tuan Bintang?",tanya pak Jaya penuh selidik.


"Dia sudah memutuskannya sendiri". Santi menjawab pertanyaan pak jaya dengan sedikit kesal.


"Baiklah aku akan urus semua,dalam waktu beberapa hari kalian akan menikah". Putus pak Jaya,dia memandang wajah Arin sambil mengingat dimana ia pernah melihat Arin.


...*****...


Malam semakin larut,Arin tidak bisa tidur memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti,ia tahu setelah menikah hidupnya akan runyam,bagaimana ia akan hidup bersama Bintang. "ya Tuhan,apakah sudah benar dengan keputusan ku ini?",gumamnya.


Karena ia tak bisa tidur,ia memutuskan untuk menghampiri Bintang.Karena kamar pelayan berada di belakang jadi harus melewati dapur untuk masuk ke rumah utama,tapi saat Arin melihat ruang keluarga tampak lampu belum juga dimatikan,itu tandanya nyonya Santi atau Dev masih di ruangan itu.


Saat Arin hendak mengurungkan niatnya ke kamar Bintang,ia mendengar suara Santi samar dan itu membuat jiwa keponya Arin memberontak.

__ADS_1


"Sepertinya disini pekerjaanku bukan hanya mengurus tuan Bintang tapi menguping juga". Gumamnya,lalu ia mengendap - endap dibalik tembok mendengarkan apa yang mereka katakan.


Kira-kira apa ya yang akan Arin dengar?yuk ikutin terus ceritanya gaess...


__ADS_2