
Hari memang begitu cepat berlalu hinga tak terasa sudah satu bulan Arin bekerja.Ia pun sudah mendapatkan upahnya.
"mah,Arin sudah transfer".Pesan Arin pada mamah nya.
mamah Arin yang mendengar notifikasi dari ponselnya pun segera membuka isi pesannya,
"iya nak,terima kasih.Tapi,apa ini tidak terlalu banyak nak?kamu juga harus punya pegangan di sana,seenggaknya untuk kebutuhan mu sendiri". Balas mamah Arin.
"Arin udah sisain disini mah,jangan khawatir. Ya sudah Arin mau lanjut kerja lagi mah,salam untuk Sena". Setelah membalas Arin langsung mematikan obrolan mereka.
Arin memang sengaja mengirim 90% dari gajinya. Karena ia pikir mamahnya akan lebih membutuhkan uang itu. Meski perekonomian Arin tidak baik,tapi ia tak pernah memiliki hutang. Karena baginya hutang akan menambah beban nya saja.
Selama satu bulan ini ia juga merawat tuanya dengan baik,bahkan ia slalu mengajaknya untuk berbincang,meskipun hanya dijawab dengan tatapan.
Pagi ini saat Arin sedang menaiki tangga kelantai atas untuk menyiapkan sarapan,ia berpapasan dengan Devan,Arin hanya menundukkan kepalanya. Devan yang melihatnya tersenyum "cantik",batin nya.
Santi yang memperhatikan dari bawah,hanya melirik anaknya,ia tidak suka dengan cara Devan yang menatap Arin. Sebagai seorang ibu,dia tau apa yang dipikirkan anaknya itu.
"ayo mah kita berangkat". Ajak Devan sambil melangkah keluar.
Sampai di depan mobil,Devan membukakan pintu untuk mamahnya,sebelum masuk Santi berkata, " mamah harap kamu tidak macam - macam Devan". Devan yang tau maksud dari perkataan mamahnya hanya diam tak peduli.
Rencananya,mereka akan menemui pengacara keluarga Bintang. Tujuannya agar bisa menguasai perusahaan Baraya Group. Sebenarnya,tanpa mereka kuasai pun,Bintang telah memberikan yang terbaik untuk mereka,Devan pun diberi jabatan tinggi dengan upah bahkan 2 kali lipat lebih besar. Tapi saat ini, keserakahan telah merasuk jiwa mereka hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Mengingat bahwa perusahaan Baraya Group adalah perusahaan terbesar di kota nya,menjadikan mereka semakin rakus. Bahkan Santi melupakan siapa dirinya sebelum dibantu oleh orang tua Bintang.
Dengan keadaan Bintang yang seperti sekarang, mereka yakin bahwa akan semakin mudah bagi mereka untuk menguasai semua.
"Kira - kira apa rencana kita akan berjalan dengan mudah mah?".Tanya Devan ragu,mengingat bahwa orang yang akan mereka temui adalah orang kepercayaan keluarga Bintang dan orang yang paling dekat dengan Bintang.
"kamu tenang saja,mamah sudah ada rencana,lagi pula siapa lagi yang berhak atas harta Bintang selain kita?".
__ADS_1
"ya,mamah memang benar."
Tak lama mereka sampai ditempat tujuan.Setelah memarkirkan mobilnya,mereka langsung masuk menuju resepsionis.
"Kami ingin bertemu dengan pak Jaya",kata Santi pada resepsionis,sedang Devan berdiri dibelakang Santi sambil memainkan handphone nya.
"Apa nyonya sudah membuat janji?".
"Apa saya harus membuat janji pada pengacara saya sendiri?",dengan sombong Santi lalu pergi meninggalkan resepsionis,disusul Devan yang mengekor dibelakangnya,mereka menuju lift untuk segera keruangan pak Jaya.
Penjaga resepsionis yang melihat itu hanya menggelengkan kepala,"kenapa sombong sekali". Batin nya,lalu mengambil telepon untuk memberi tahukan kepada pak Jaya.
Sesampai di depan ruangan pak Jaya,mereka melihat sekretarisnya.
"Apa pak Jaya ada didalam?",ia berbicara dibuat sesopan mungkin,tentunya agar menjaga imagenya didepan pak Jaya.
Meli langsung berdiri dan membukakan pintu,"silahkan nyonya,pak Jaya sudah menunggu". Merekapun langsung masuk.
"Selamat pagi nyonya Santi,pak Devan,silahkan duduk".
Kini mereka duduk di sofa. Meli,sekertaris Jaya masuk sambil membawa minuman.
...*********************...
Di kamar,Arin sedang menyiapkan air untuk mandi Bintang.Setelah semua siap ia pun membawa Bintang ke kamar mandi.
Satu persatu Arin membuka baju Bintang. Kini Arin hendak membuka celana Bintang,karena posisi Bintang yang masih di kursi roda,Arin sedikit kesusahan untuk membukanya.
Lalu dia pun membungkuk,membuat jarak wajah keduanya begitu dekat. Tanpa Arin sadari jika Bintang sedang menatapnya.
Saat Bintang menurunkan penglihatannya,,tak sengaja dia melihat pemandangan gunung dibalik baju Arin,dan itu sontak membuat Bintang menelan savilanya. Tanpa Arin sadari dia telah membangunkan seekor burung yang telah lama bersemedi di sangkarnya. (Walaupun Bintang lumpuh,tapi kejantanannya masih berfungsi ya). Itu membuat wajah Bintang memerah karena malu. Arin yang masih belum menyadari itu,masih berusaha untuk membuka nya,saat ia sudah berhasil membukanya,ia terkejut ada sesuatu yang besar menjulang di balik celana d*lam Bintang.Sontak membuat Arin kaget dan bingung.Dia melihat kearah wajah Bintang dan melihat wajah Bintang yang sudah memerah.
__ADS_1
...***********************...
Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam. Setelah ia melihat Bintang terlelap,ia pun lantas keluar dari kamar.
Saat Arin akan turun,ia mendengar seperti ada barang yang jatuh. Dia pun mengurungkan niatnya untuk turun dan segera mencari ke arah sumber suara,ia pun menelusuri tiap sudut ruangan lantai dua itu.Saat sampai di kamar paling ujung,tepatnya dikamar Devan,ia mendengar suara seperti orang yang sedang marah.
"Mungkin tuan Dev sedang kesal".batin Arin.
Tapi saat ia akan melangkah menjauh,ia mendengar suara nyonya Santi dan yang lebih membuat Arin penasaran saat nyonya Santi menyebutkan nama Bintang,dan itu membuat pikiran Arin berperang.
"Apa yang mereka bicarakan tentang tuan Bintang?ah,jadi penasaran. Kalo nguping boleh gak ya?kalo ketahuan si nggak boleh,tapi kalo gak ketahuan kan boleh-boleh aja."
Arin tersenyum sambil melangkah mengendap-endap,kearah kamar Dev lalu berjongkok.
"Sial! sekarang kita harus bagaimana ma?!!" . Tanya Dev sambil membanting barang yang ada didepannya. Sontak membuat Arin terkejut sampai terjengkang hingga kepalanya membentur tembok.
"Aduh,sialan nih tembok,bikin kepala aku benjol aja".gumam Arin sambil terus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tenang Dev,kita cari rencana lain",Santi mencoba untuk menenangkan anaknya .
"Bagaimana caranya ma?apa mama tidak dengar apa yang dibicarakan oleh si Jaya brengsek tadi?!".
Flashback
Setelah Meli meletakan minuman,lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan Jaya.
"Apa yang membuat nyonya Santi datang kemari?". Tanya Jaya.
Walaupun sebenarnya Jaya tau apa tujuan mereka tapi dia tetap menanyakannya.
"Kedatangan kami kesini untuk membicarakan soal perusahaan. Yang mana bapak ketahui bahwa Bintang sekarang sudah tidak bisa untuk mengelola perusahaan lagi,jadi bagaimana jika Dev yang akan menggantikanya? Dan berhubung dokter juga mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh,jadi bagaimana jika semua aset serta perusahaan dibalik atas namakan Dev saja pak?".kata Santi panjang lebar,dan itu membuat Jaya menahan amarahnya .
__ADS_1