HADIAH DARI TUHAN

HADIAH DARI TUHAN
BAB 4


__ADS_3

Mendengar kata Santi,membuat Jaya geram. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Untung saja sebelum Bintang sakit,ia sudah lebih dulu membuat surat wasiat. Entah mengapa ia tiba - tiba ingin membuat surat wasiat nya.


Jaya lalu berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Dia membuka laci mengambil map coklat,lalu kembali menghampiri Santi.


"Sebelum tuan Bintang sakit,beliau menulis surat wasiat ini." Kata Jaya sambil membuka isi map itu kepada Santi. Santi dan Dev langsung melihat isi surat itu dan membuat mereka terkejut.


"Kapan dia membuatnya?".Tanya Dev menahan amarah.


"Sehari sebelum beliau sakit,beliau kesini dan membuat surat itu. Disitu tertulis bahwa semua aset dan perusahaan akan menjadi istri tuan Bintang,siapapun istrinya. Dan jika beliau meninggal sebelum memiliki istri,maka semuanya akan didonasikan." terang Jaya.


FLASHBACK OF


"Aku sangat kesal mah,bahkan kita sebagai keluarganya tidak tertulis dalam surat wasiat itu,yang artinya kita tidak dianggap mah!". Teriak Dev sangat yang kesal mengingat isi wasiat tadi.


"iya mamah tau Dev,sekarang kita pikirkan bagaimana caranya". Kata Santi yang sedang berjalan mondar mandir hingga ia menemukan sebuah ide.


"Bagaimana kalau kita suruh Amara jadi istrinya Bintang,setelah itu kita suruh dia mengubah semua aset menjadi atas nama mu."


"Mah,Amara itu bukan gadis bodoh. Jika dia sampai menikah dengan Bintang,yang ada kita yang ditendang keluar mah."


"iya juga benar kata kamu,mamah benar - benar pusing sekarang." Santi lalu duduk di sisi ranjang sambil memijat pelipisnya.


"Dev ada ide mah,bagaimana kalau kita Carikan dia gadis kampung,secarakan gadis kampung pasti tidak berani dengan kita,setelah rencana kita berhasil,kita buang mereka". Kata Dev sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Benar katamu Dev,mamah akan cari secepatnya,sekarang sudah malam sebaiknya kita istirahat saja".Ucap Santi sambil berjalan keluar.


Arin yang menyadari Santi akan keluar,buru - buru dia lari bersembunyi,setelah melihat Santi masuk kedalam kamarnya Arin pun segera turun.


Didalam kamar,Arin terus memikirkan pembicaraan mereka. Arin menyadari ada yang tidak beres dengan keluarga ini.


"Apa yang harus ku lakukan?,ish harusnya tadi aku tak mendengarkan mereka,nih kuping dosa banget sih". gumam Arin. Karena hari semakin larut ia pun memutuskan untuk segera tidur.


...******************...


Sudah satu Minggu semenjak Arin menguping,Arin bersikap seperti biasa.Jangan salah ia memang pandai menyembunyikan ekspresi.


Semenjak saat itu juga dia jarang bertemu dengan Santi dan anaknya.


Arin segera turun dan mencuci piring bekas sarapan Bintang tadi,lalu segera naik ke kamar Bintang lagi.


"Tuan,sekarang waktunya suntik ya?", kata Arin setelah masuk kamar . Arin sebenarnya tidak tega jika harus memasukan obat dengan suntikan,sebenarnya dia juga heran,kenapa setiap kali akan diberi obat,Bintang seolah - olah merasa takut dan tertekan. Tapi karena itu memang harus dilakukan jadi Arin menepis semua pikiran negatifnya.


"Nah sudah selesai,semoga tuan cepat sembuh ya?",doa Arin tulus sambil mengusap lembut kepala Bintang,dan Bintang hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Arin pergi ke kamar mandi mengambil handuk untuk dijemur,saat Arin sedang menjemur handuk di balkon kamar Bintang,Dev masuk ke kamar.


Bintang yang sedang duduk di kursi roda,menatap tidak suka akan kedatangan Dev.Sedang Dev yang saat itu tidak menyadari Arin ada di balkon,dengan leluasa membuka kebusukannya sendiri.


"Wow,lihat lah saudara laki - laki ku yang malang ini,sungguh menyedihkan". Umpatnya. "Seorang Bintang yang sangat di hormati kini duduk tak berdaya dikursi roda,bagaimana rasanya Hem?" ,Bintang hanya bisa memandang Dev dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Aku benar - benar tidak tau jalan pikiran mu,kenapa kau membuat surat wasiat yang tidak berguna itu?dan apa?istri? ayo lah Bintang kau bahkan belum memiliki istri tapi semua hartamu kau akan berikan pada istri mu?bahkan aku sebagai saudara mu,tak kamu masukan dalam ahli waris mu?kau pikir kau siapa?!!",bentak Dev dengan amarah yang membuncah. Lalu dia mengeluarkan beberapa botol obat.


"Kamu lihat ini Bintang", sambil menunjukan salah satu botol obat ke wajah Bintang."Lihat ini baik - baik,jika ini sampai ketubuh mu,maka kamu akan lumpuh selamanya,bahkan bisa membunuh mu dengan perlahan,tapi jangan khawatir,sebelum kamu pergi untuk selamanya,aku akan mencarikan gadis yang akan menikahi mu,bagaimana apa kamu senang?".Dev tersenyum dengan senyuman mengejek.Bintang tau betul apa yang di katakan Dev. Dia hanya bisa menatap dengan penuh kebencian disana.Dev yang melihat tatapan benci dari Bintang hanya tersenyum sinis lalu pergi.


Setelah kepergian Dev,Bintang menatap kearah pintu balkon, angin bertiup kencang hingga membuka korden pintu terbuka,Bintang melihat Arini yang berdiri di pintu balkon menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan,ia melihat Air mata Arin yang membasahi pipinya,Bintang pun tak kuasa lagi mempertahankan air matanya,hidupnya kini benar - benar menyedihkan. Arin perlahan menghampiri Bintang,mendorong kursi roda kesamping ranjang.


"Tuan,istirahat siang dulu ya?",Arin lalu membantu Bintang untuk beralih keranjang,setelah membaringkan Bintang ke ranjang,dia tersenyum sambil menyelimuti Bintang. Tak berapa lama Bintang pun terlelap.Arin lalu turun kelantai bawah.


...**********************...


Malam ini Arin tak bisa tidur ia memikirkan kejadian tadi siang,kini ia merasa sangat bersalah dan berdosa.Bagaimana tidak?setelah ia mengetahui bahwa obat yang ia berikan adalah racun,ia sungguh sangat menyesal.


"Bagaimana bisa aku menyakiti orang yang tidak bersalah?aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang,Tuhan bantu aku."Arin bergumam dalam isakan.


...***************...


Prof Bintang on


Aku tak tau mengapa hati ku sangat gelisah,untuk menghilangkan kegelisahan aku berniat untuk menemui Amira kekasih ku,aku pun menceritakan tentang kegelisahan ku pada Amira.


"Sudah sayang jangan terlalu dikhawatirkan,semua akan baik - baik saja". Amira mencoba untuk menenangkan ku,membuat hati ku sedikit tenang.


Setelah pertemuan ku dengan Amira,aku menemui pak Jaya,dia adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan almarhum papah dulu.Aku kesana untuk membuat surat wasiat,aku berfikir jika semua aset ku akan ku berikan pada istri ku kelak,karena saat itu aku sangat yakin jika Amira akan selalu mencintai ku dan tak pernah meninggalkan ku.

__ADS_1


Tapi pak Jaya memberikan saran,yang isi nya bahwa semua aset akan menjadi milik istri ku (tanpa disebutkan nama jelas),dan jika aku meninggal sebelum memiliki istri,maka semua akan didonasikan.


__ADS_2