Harga Untuk Satu Malam

Harga Untuk Satu Malam
Gadis Pengantar Makanan.


__ADS_3

"Karlina bangun, sampai kapan kamu hendak tidur. Bangun, kamu bahkan belum memasak. Aku sudah lapar."


Terdengar teriakan dari seorang wanita, wanita itu tak lain adalah Alexa yang tak lain adalah saudari Karlina. Kedudukan status antara Karlina dan Alexa sangat berbeda, Alexa adalah putri kandung dari Jihan dan Bram sementara Karlina hanya putri angkat yang di bawa dari panti asuhan sebagai alat untuk merangsang kehamilan Jihan.


Karlina yang baru saja pulang pukul 04.00 WIB mulai membuka matanya, dia menatap jam berbentuk katak yang ada di atas meja kecil kamarnya. 'Astaga, sudah pukul enam. Ibu bisa marah kalau aku kesiangan.'


Karlina menggosok-gosok matanya kemudian dia bergegas untuk menemui Alexa yang sudah berteriak-teriak memanggilnya dari tadi, Alexa tidak sekejam ibunya. Ya, setidaknya Alexa hanya suka berteriak dan tidak suka memukul seperti ibunya.


"Maaf Alexa, aku pulang pukul 04.00 tadi pagi. Jadi maaf tolong jangan bilang ibu, aku akan segera bergegas untuk memasak." ucap Karlina dengan menggenggam erat tangannya.


"Kamu kira ibuku bude* dia pasti mendengar ketika aku berteriak."


Dengan secepat kilat Karlina pergi ke kamar mandi, dia membasuh muka nya sebelum akhirnya dia bergelut dengan panci dan penggorengan.


Alexa menyaksikan hal itu, sebenarnya dia merasa sedikit kasihan dengan kakak angkatnya itu namun dia tidak bisa bersikap terlalu baik karena ibunya pasti akan memarahinya setiap kali dia bersikap baik kepada Karlina, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah tidak terlalu jahat kepada wanita itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Karlina yang sudah selesai dengan masakan-masakan sederhana itu Karlina memang tidak pernah kursus memasak, jadi dia hanya menguasai berapa jenis makanan itu saja.


Jihan yang baru saja selesai membantu Bram untuk bersiap pergi bekerja, dia langsung ikut duduk dengan suaminya itu di meja makan. Nampak disana juga ada Alexa yang tengah memainkan telepon genggam miliknya.


"Alexa, dimana Karlina? ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Bisakah kamu memanggilnya?" ucap Bram kepada putri kandungnya itu, hal itu tentu saja membuat istrinya sedikit tidak suka.


"Apa sih yang perlu di bahas dengan gadis luar itu?" tanya Jihan dengan ambigu.


Bram mendengus dia tetap menyuruh Alexa untuk memanggil Karlina tanpa mengidahkan ucapan istrinya, tentu saja itu membuat Jihan kesal namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena di rumah itu ucapan suaminya sama dengan perintah.

__ADS_1


Tak lama kemudian Alexa kembali dengan di ikuti oleh Karlina di belakang nya, dia enggan untuk duduk karena takut ibu angkatnya akan marah namun Bram dengan sengaja menyuruh dirinya untuk duduk.


"Karlina duduk."


"Ba-ik ayah."


Karlina duduk tepat di samping Alexa, gadis yang berusia dua tahun lebih tua daripada Alexa itu menunduk karena tepat di depan matanya adalah ibu angkatnya, dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya di depan wanita itu.


"Karlina, bagaimana dengan pendidikanmu? apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus s1?" tanya Bram dengan tenang sambil sesekali dia menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Anu yah, aku daftar beasiswa untuk S2 di Inggris. Jika lolos aku ingin menjadi arsitektur yah." ucap Karlina menunduk.


"Untuk apa orang sepertimu memiliki pendidikan yang setinggi itu, paling habis sekolah juga nikah dan punya anak. Aku tidak setuju." ucap Jihan dengan ketus.


Bram berkata panjang kali lebar, hal itu tentu saja membuat Jihan menciut. Jika Karlina kembali ke panti, siapa yang akan beberes rumah siapa yang akan menyiapkan makanan dan siapa yang akan mencuci semua pakaian. Jika membayar pembantu sudah berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan.


Gugur sudah daun yang ada di pekarangan rumah itu, suasana pagi itu menjadi hening Bram setuju untuk membiarkan Karlina pergi jika gadis itu mendapatkan beasiswa.


Karlina telah berkemas, dia harus berangkat untuk bekerja sekalian pergi kuliah siang hari. Dia berangkat bersama Alexa, walaupun Alexa masuk siang namun ada setumpuk tugas yang mengharuskan dia mengerjakan di perpustakaan karena buku yang dia miliki di rumah tentu saja tidak sebanyak dan selengkap yang ada di perpustakaan.


"Bagus kalau kamu mendapatkan beasiswa, jadi lumayan aku tidak perlu melihatmu setiap hari." ucap Alexa saat mereka berjalan beriringan di jalan raya.


"Terima kasih Alexa, kamu selalu mendukungku." ucap Karlina.


"Ih siapa juga yang mendukungmu."

__ADS_1


Alexa melengos kemudian pergi melenggang dengan santainya meninggalkan Karlina yang masih tersenyum di pinggir jalan, sebenarnya sifat Alexa sangat menurun dari Ayahnya. Walaupun kata-katanya juga kasar seperti ibunya tapi hatinya lembut seperti Ayahnya, mungkin dia harus bersyukur memiliki saudari angkat seperti Alexa.


Karlina tersenyum, dia pergi ke kedai tempat dia bekerja disana dia bekerja sebagai gadis pengantar makanan di tempat itu.


"Kamu datang terlalu siang Karlina, sudah banyak orderan yang menunggu kamu. Oh iya, kenapa kamu mengambil orderan terlalu banyak. Tubuhmu mungkin tidak akan kuat untuk menahan semua rasa lelah." ucap Sifa yang tak lain adalah teman kerja Karlina.


"Tidak apa-apa, aku sedang berusaha mendapatkan beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Jika aku lolos aku pasti butuh uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jadi mulai dari sekarang aku mengumpulkan uang itu." jawab Karlina sambil bergegas menggunakan jaket Khusus untuk pengantar makanan.


"Baiklah jika seperti itu semangat." jawab Sifa dengan lembut.


Berbekal dengan motor listrik yang di sediakan toko, Karlina bekerja sebagai gadis pengantar makanan di toko itu. Awalnya bos nya sudah menyuruh Karlina hanya untuk menjadi pelayan, namun karena gaji pengantar makanan lebih tinggi belum lagi jika rezeki dapat bonus dari pelanggan makannya Karlina memilih untuk menjadi pengantar makanan saja.


Daya motor sudah terisi Dengan penuh, box box makanan beserta alamat penerima sudah tersedia dengan semangat Karlina menata semua itu, dia adalah pekerja yang sangat rajin. Walaupun kadang mendapat perlakuan kurang enak dari pelanggannya namun tidak sedikit juga pelanggan yang sangat baik kepadanya. walaupun usia Karlina baru 20 tahun namun dia sangat bekerja keras untuk menjadi Seorang desainer bangunan atau yang lebih kita kenal dengan nama arsitektur tersebut. Setelah semuanya siap, Karlina mengendarai motor listrik itu pergi mengantarkan makanan dari satu tempat ke tempat lain demi mengais rezeki untuk dirinya sendiri.


.


.


.


.


Bismillah Hadir Lagi Novel Baru Septhy Bharata


Jangan Lupa Tinggalkan Like, Komen Dan Favoritkan.

__ADS_1


__ADS_2