
Rintik hujan mengandung air namun semua itu tidak menghalangi semangat Karlina untuk mendapatkan selembar rupiah dari mengantarkan makanan senyum ceria tidak pernah luntur dari wajahnya, walaupun dia terkadang mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari orang-orang namun itu tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan bekerja.
Sementara itu Alexa yang sudah selesai degan mata kuliah nya hari ini, kembali bergegas pulang ke rumah dengan santainya. Biarpun Karlina sudah selesai dengan mata kuliahnya namun dia tidak bisa langsung pulang karena mesti lanjut mengantar makanan.
Alexa seperti biasanya dengan beberapa buah buku di tangannya dia membuka pintu rumah itu, namun belum sempat dia masuk ke dalam rumah dia mendengar ibunya tengah menelfon seseorang dan sedang tawar menawar harga.
“Tenang saja tuan Will, putri angkat ku dijamin masih perawan. Berapa harga yang anda bisa berikan untuk keperawanannya?”
Deg, mendengar hal itu Alexa serasa jantungnya berhenti berdetak. Bagaimana bisa ibunya mau menjual Karlina bukankah itu terlalu kejam. Tidak berhenti sampai situ Alexa terus mendengarkan percakapan antara ibunya dan orang yang di panggil tuan Will itu. Alexa berharap ini Cuma mimpi ibunya tidak perlu melakukan tindakan keji dan tercela seperti itu.
“250 Juta, aku akan memberikan uang sebanyak itu ketika gadis itu sudah sampai di kamarku.” Ucap laki-laki tersebut.
“baiklah tuan William, sepakat. Besok malam aku akan membawa gadis itu ke kamarmu.”
Rencana yang di lakukan oleh Jihan sangatlah keji, dia menjual Karlina demi 250 juta. Bagaimana bisa itu terjadi, bukankah ayahnya selalu memberikan ibunya kartu tanpa limit jadi mengapa masih harus menjual Karlina demi menghasilkan uang.
Tuan William yang dimaksud oleh Jihan tentu sudah tidak asing lagi di telinga Alexa, laki-laki tua pendek bertubuh gendut dan perut buncit serta kepala botak itu adalah si mesum yang terkenal di kalangan kaum bisnis. Orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas dalam bisnis kebanyakan memang melempar wanita ke ranjang laki-laki tua itu, namun Alexa tak menyangka ibunya juga akan melempar Karlina ke ranjang orang tua bedebah itu.
Tak... tak... tak... Alexa sengaja mengeraskan bunyi sepatunya, kemudian dia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Alexa, kamu sudah pulang? Kamu tidak mendengarkan ibu mengobrol kan?" tanya Jihan rada panik.
"Ibu sejak kapan aku jadi tukang menguping, lagian apa yang ibu bicarakan hingga panik seperti itu? Ibu aku lapar, bisakah ibu membuatkan aku nasi goreng keju."
Alexa melepas heels yang dia pakai dia menghela nafas, hari ini sangat berat mata kuliah yang dia lalui juga seakan-akan sangat sulit, ketika pulang sampai rumah dia masih harus mendengarkan rencana busuk ibunya.
"Apa kita perlu memanggil Karlina pulang? Biarkan dia memasak." jawab Jihan dengan senyuman.
"Ibu dia masih bekerja, jika dia tidak bekerja ibu harus memberinya uang. Apa ibu mau memberinya uang?" tanya Alexa sambil menatap ibunya.
"Haah iya juga, ya sudahlah tunggu sebentar ibu akan memasak nasi goreng keju kesukaanmu."
Jihan meninggalkan Alexa, wanita setengah tua itu hendak memasak nasi goreng untuk putri tercintanya. Sementara Alexa dia memainkan ponselnya, dia hendak memberitahu Karlina tentang rencana ibunya namun niatnya itu di urungkannya karena jika Karlina tahu, ibunya juga masih tidak akan melepaskan Karlina jadi sama saja tidak ada gunanya.
Sesaat kemudian, ibunya kembali dengan sepiring nasi goreng di tangannya. Jihan menaruh piring berisi nasi itu di meja tepat di depan Alexa.
"Ngomong-ngomong sudah lama juga ya tidak makan masakan ibu. Biasanya tiap kali aku minta ibu masak, ibu akan marah-marah sambil menelpon Karlina. Sepertinya jika Karlina tidak ada di sini, itu justru bagus. Aku bisa makan masakan ibu setiap hari." ucap Alexa sambil menyendok nasi tersebut.
Jihan mendengar celoteh anak gadisnya itu sambil tersenyum dan juga menghela nafas, dia tidak pernah marah atau membentak Alexa sementara Karlina setiap hari dia mendapat perlakuan yang sebaliknya.
__ADS_1
Sementara itu Karlina masih bekerja sana sini untuk mengantar makanan, Walaupun agak gerimis tetapi dia masih tetap bersemangat untuk bekerja. Jam sudah menunjukkan Pukul 21.00 namun belum ada tanda-tanda pekerjaannya akan selesai, kelihatannya hari ini dia akan bekerja lebih keras lagi.
Ting, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Sebuah ponsel butut yang tidak tahu kapan rilisnya, ponsel bekas dari Alexa yang sengaja Alexa berikan kepadanya jika tidak bagaimana dia bisa lolos dari ibunya jika Memiliki sebuah ponsel.
"Karlina besok tidak usah bekerja, ibu ingin membawamu ke suatu tempat. Sudah waktunya kamu mengenal beberapa rekan bisnis."
Isi dari pesan itu, pesan yang dikirim oleh ibunya. Terlihat lembut namun pasti ada sesuatu di dalam pesan tersebut. Karlina membalas pesan itu dengan baik, dia tidak pernah berkata kasar atau mempertanyakan semua perlakuan ibu angkatnya.
Karlina duduk di dapur tempat dia bekerja, beberapa orang masih berkutat dengan alat-alat dapur.
"Karlina kamu belum ingin pulang?" tanya seorang karyawan toko makanan itu.
"Belum masih ada banyak yang harus ku antar," jawab Karlina dengan senyuman.
"Jangan bekerja terlalu keras, tubuhmu bukan robot."
Karlina mengangguk dan tersenyum, sementara orang tersebut kembali untuk bekerja.
.
__ADS_1
.
.