
Alexa dengan langkah kaki tergesa-gesa mencari kamar yang di katakan Karlina melalui pesan singkat itu, dia bertanya kepada resepsionis dan di katakan kamar itu adalah presiden suite di lantai 20.
"Maaf Nyonya saya ingin mencari ruangan dengan nomor ini. Saya harus menjemput kakak saya di sana." ucap Alexa sambil menunjukkan pesan text di ponselnya.
"Kamar itu di lantai 20 nona." jawabnya dengan lembut.
"Baiklah terima kasih."
Setelah mengatakan itu Alexa bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 20 namun belum sampai di sana dia sudah melihat ibunya dengan pakaian acak-acakan sedang keluar dari lift.
"Ibu kenapa kamu di sini? dan ada apa denganmu kenapa mukamu lesu dan bajumu kusut? Apa kamu habis kalah judi?" tanya Alexa dia tidak tahu apa yang terjadi dengan ibunya, tidak mungkin senjata makan tuan kan.
"Tidak apa-apa tidak ada yang terjadi. Kenapa kamu disini? Apa yang kamu lakukan?." Jihan berbohong, dia malah balik bertanya apa yang dilakukan oleh Alexa.
"Aku menjemput Karlina, katanya dia terjebak semalam dengan pria asing. Sungguh ironis, laki-laki tua mana yang menggambil mahkotanya." ucap Alexa dengan nada datar.
"Pulang saja, kenapa kamu perduli dengan wanita itu?" ucap Jihan dengan kasar.
"Ibu lupa? bagaimana dengan gaun ratusan ribu dolar milikku. Bagaimana jika gaun itu rusak? Semua ini gara-gara kamu ibu jika kamu tidak menyuruhku untuk meminjamkan gaun itu kepadanya aku tidak perlu habiskan uang untuk pesan taxi, apalagi mendengar omelan ayah sepanjang malam. Ibu sebaiknya cepat pulang, ayah sudah sangat marah."
Alexa mengatakan itu, tanpa mendengar jawaban lebih lanjut dari ibunya dia bergegas masuk ke dalam lift. Sementara Jihan sedang berpikir bagaimana caranya dia menjelaskan kepada suaminya tentang kejadian malam itu, jika saja dia jujur mungkin dia akan di ceraikan oleh Bram.
Alexa sudah berada di dalam lift dengan beberapa orang yang memiliki tujuan lantai berbeda -beda, tidak ada obrolan dalam lift, semuanya diam seakan-akan fokus pada urusannya masing-masing.
Alexa berhenti tepat di lantai 20, lantai tempat Karlina menghabiskan malam di salah satu kamarnya. Gedung tinggi menjulang itu seakan-akan menjadi saksi bisu dimana mereka merahasiakan semua kejadian itu.
Kamar 1122, kenapa angka itu harus 1122 bukankah banyak kamar dengan nomor yang berbeda di sana. Alexa terus berjalan menyusuri lorong-lorong, sepanjang jalan yang dia tempuh ada banyak sekali pintu dengan nomor yang berbeda-beda.
__ADS_1
Saat itu dia juga sempat berpapasan dengan orang yang dia tabrak kemarin namun Alexa bahkan tidak menoleh untuk orang itu.
"Daniel ada apa?" tanya tuan R saat asisten pribadinya itu menoleh ke arah lain.
"Seperti melihat wanita yang tidak asing tuan." ucap Daniel jujur.
Tuan R tidak lagi menanggapi ucapan Daniel, menurut nya dalam satu hari tidak terhitung jumlah orang atau wanita yang dia temui. Mulai dari rekan bisnis, karyawan perusahaan dll pasti banyak wanita yang di temui jadi apa istimewa nya bertemu wanita sama dengan wanita kemarin.
Bicara tentang wanita kemarin, wajah halus Karlina teringat jelas di mata nya wajah yang hampir tidak pernah membuka mata itu. Desa*an yang nyaring juga terdengar jelas di telinganya, bahkan wanita itu juga sempat meninggalkan beberapa tanda cinta di tubuhnya.
Tuan R masuk dan keluar dari lift khusus, tidak ada orang yang bisa memakai lift tersebut kecuali tamu vvip sepertinya. Sedangkan Alexa sudah berada di depan pintu 1122, dia menghela nafas pelan kemudian mengetuk pintu perlahan.
Tok.. tok.. tok...
tok.. tok... tok..
"Karlina ini aku." panggil Alexa, Alexa juga membunyikan bel yang ada di sana supaya Karlina lebih cepat mendengarnya karena tidak mustahil hotel mewah menggunakan dinding kedap suara.
"Alexa, aku." ucap Karlina berhenti dia menangis dengan sangat keras di pelukan Alexa.
"Karlina masuk dulu, jika disini tidak enak buat dilihat orang." ucap Alexa.
Alexa menggandeng tangan Karlina untuk masuk ke dalam kamar, Karlina masih saja menangis jika mengingat kejadian yang dia alami.
"Laki-laki itu bahkan tidak meninggalkan tanda pengenal sedikitpun, dia benar-benar habis pakai langsung ditinggal." ucap Karlina di sela isak tangisnya.
"Jangan banyak berfikir Karlina, kita sudah dewasa. Bukankah di jaman sekarang sudah biasa melakukan hal itu." ucap Alexa menenangkan.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah melakukannya Alexa?" tanya Karlina dengan terbata-bata.
"Bagaimana mungkin, aku bahkan tidak punya pacar." Jawab Alexa serius.
Alexa masih dalam posisi menghibur Karlina, walaupun dia sendiri tidak tahu mesti berbuat
apa. Pengalaman percintaannya masih sangat minim sehingga dia juga tidak terlalu tahu dari apa itu seks biasanya dia hanya sedikit mendengar dari teman-teman kampusnya menceritakan tentang gairah mendebarkan itu, dia tidak tahu bagaimana cara menghibur karlina namun dia berusaha untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Karlina dan alexa berada di dalam kamar itu mereka saling menguatkan sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Entah
bagaimana yang terjadi di rumah karena ayah mereka sudah marah dan mengomel hampir semalaman.
"Kita harus pulang Karlina, entahlah apa yang terjadi di rumah. Ayah marah dan mengomel semalaman karena ibu tidak pulang." ucap Alexa dengan panik.
"Apa? Kenapa ibu tidak pulang. Bahkan dia tidak datang ke kamar ini." ucap Karlina kebingungan.
"Mungkin ibu menginap di tempat lain setelah menggirimkan kamu ke kamar ini. Ibu memang tidak masuk akal, dia bahkan sampe hati melakukan ini. Karlina aku tidak meminta kamu untuk tidak membenci ibu, kamu boleh membencinya kamu juga boleh membenciku tapi aku minta maaf karena tidak bisa mencegah hal ini terjadi." ucap Alexa sambil memeluk Karlina, air matanya ikut mengalir andaikan saja dia mencegah semua ini terjadi.
"Bagaimana mungkin aku menyalahkan kamu, dari kecil kamu selalu baik padaku. Terima kasih Alexa, jadi aku butuh bantuanmu untuk secepatnya pergi ke luar negeri karena aku sudah di terima." ucap Karlina dengan samar-samar.
Karlina sungguh berhati besar, dia tidak dendam bahkan kepada ibu yang sudah menjebak dirinya di ranjang pria asing. Namun Alexa sangat menyesal karena tidak mencegah hal itu terjadi. Alexa akhirnya mengajak Karlina untuk pergi dari tempat itu, mereka harus kembali dan menyusun strategi karena tidak mungkin hanya beralasan lolos Karlina bisa pergi dari kediaman itu.
Alexa menyanggupi keinginan Karlina, bagaimanapun mungkin bagi Karlina lebih baik tinggal terpisah dari ibunya daripada tinggal bersama dan memendam kecewa dan rasa sakit selamanya.
Karlina ingin pergi dan Alexa rela membantunya, kini Alexa sudah memanggil taxi online untuk menjemput mereka dari hotel mewah itu rasanya sangat tidak masuk akal, baru saja kemarin mendapatkan kasih sayang ternyata di dalamnya terdapat pukulan rasa sakit yang luar biasa.
.
.
__ADS_1
.
.